
Setelah makan siang romantis beberapa waktu yang lalu, kini William sudah aktif menggantikan papanya. Walaupun belum secara resmi Tuan Darius menyerahkan jabatan CEO pada putra sulungnya itu.
Pagi ini, suasana hati William sangat bahagia. Dia bisa bekerja hanya berdua saja dengan Caroline. Tuan Darius dan Jack ada urusan ke luar kota.
"Rasanya aku bahagia, sayang. Bekerja berdua denganmu ternyata bukan perkara yang sulit," ucap William.
"Aku sudah terbiasa, Will. Tuan Darius membimbingku dengan sangat baik." Caroline berdiri hendak mengambil berkas, namun tangannya dicegah oleh William.
"Disini saja, jangan kemana-mana," ucap William.
"Will, aku hanya mengambil berkas saja. Aku tidak kemana-mana." Caroline melepaskan tangan William darinya.
"Sayang, coba kamu memanggilku seperti itu," pinta William.
"Hemm, untuk apa? Bukankah aku selalu sayang padamu tanpa memanggilmu seperti itu?" Caroline fokus pada berkasnya.
"Hanya sekali saja, please!" pinta William lagi.
"Kamu ini aneh, Will. Lima tahun berpisah darimu, sepertinya sekarang kamu banyak berubah," ucap Caroline.
Aku berubah karena sesuatu hal, Caroline. Aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah kamu bertemu dengan Roseanne.
"Hanya perasaanmu saja, Carol. Aku masih sama seperti dulu," jawab William. Pria itu berdiri kemudian memeluk Caroline dari belakang. "Kamu selalu menarik untukku, Carol. Cintaku padamu terus bertambah setiap hari."
"Jangan seperti ini, Will. Nanti ada orang yang curiga dengan hubungan kita." Caroline meronta.
William mengalah kemudian melepaskan pelukannya. Dia kembali ke meja kerja papanya.
"Kamu tidak ingin menikah, Carol?" tanya William.
"Aku ingin menikah jika kamu yang melamarku," jawab Caroline.
Deg!
William hatinya terluka seperti tertampar mendengar jawaban Caroline. Gadis itu belum tau jika William menjadikannya orang ketiga dalam pernikahannya.
"Kamu masih mau menungguku?" tanya William.
"Tentu saja, Will. Aku selalu menunggumu."
Obrolan mereka terhenti manakala seseorang mengetuk pintu.
Tok tok tok.
__ADS_1
"Masuk!" teriak William.
Caroline masih fokus pada berkasnya, sementara William dibuat kelabakan karena kehadiran orang itu.
"Sayang, maaf aku baru sempat mampir ke tempat kerjamu," ucap wanita itu.
Caroline menoleh sekilas. Dia mendengar ucapan wanita itu langsung membuatnya marah dan cemburu. Dia perlu penjelasan dari William.
Wanita itu langsung mendekati William kemudian mengecup bibir pria itu. Pandangan mata Caroline tertuju pada keduanya tanpa berkomentar apapun.
Aku butuh penjelasan darimu, Will.
"Rose, kenapa kamu kemari?" tanya William. Sudah bisa dipastikan sebentar lagi hubungannya dengan Caroline akan menjadi kenangan untuk yang kedua kalinya.
"Oh, maaf ada orang. Aku pikir suamiku bekerja seorang diri," ucap Roseanne yang membuat tatapan aneh wanita yang berada di ruangan suaminya.
Deg!
Perasaan Caroline seperti terjatuh ke dalam dasar jurang. Dia merasa dipermainkan oleh William.
"Ti-tidak apa-apa, Nyonya. Perkenalkan, saya Car__"
Belum selesai dengan ucapannya, Will menyela terlebih dahulu.
"Aku hanya ingin agar Austin Group tau jika pengganti CEO nya sudah beristri," ucap Roseanne tanpa sadar membuat Caroline semakin bersedih. Rose tidak tau apapun yang terjadi pada suami dan sekretaris papa mertuanya itu.
"Maaf, Nyonya, Tuan. Jika masih ada pembicaraan penting, aku kembali saja ke ruanganku. Nanti kalau Tuan sudah membutuhkan saya lagi, bisa dipanggil melalui interkom." Caroline merasa patah hati untuk yang kedua kalinya. William kejam. Dia mempermainkan perasaannya seperti itu.
"Tunggu! Tetaplah disini. Istriku hanya mampir sebentar," ucap William.
Penekanan kata istriku membuat Caroline semakin sakit hati. Tetapi, mau bagaimanapun ini harus dihadapinya.
"Kamu mengusirku, sayang?" tanya Rose yang mulai mengalungkan tangannya di leher suaminya.
"Rose, pulanglah! Aku masih banyak pekerjaan." William berusaha mengusir istrinya secara halus.
"Baiklah, lain kali aku akan mampir lagi," ucap Roseanne.
Ketika melewati sekretaris mertuanya, Roseanne berbisik kecil namun masih bisa di dengar oleh Caroline maupun William.
"Jadi sekretaris jangan gatal. Apalagi merayu suami orang!" bisik Roseanne.
Deg!
__ADS_1
Sekali lagi, perasaan Caroline seperti dicabik-cabik karena hinaan dari orang yang mengaku sebagai istri William. Caroline masih tidak percaya jika mantan kekasihnya itu punya istri.
Setelah wanita itu pergi, Caroline berkaca-kaca.
"Jangan dengarkan ucapan wanita itu! Dia tidak tau apapun tentang hubungan kita," ucap William. Pria itu berdiri dan mendekati Caroline.
"Will, katakan apa yang kamu sembunyikan dariku? Dia istrimu, 'kan?" tanya Caroline. "Kita akhiri saja hubungan yang belum terlalu jauh ini."
"Tidak! Aku tidak akan pernah melepasmu," ucap William.
"Kamu egois, Will. Kamu sudah menikah dan sekarang kamu malah mengejarku. Maaf, Will. Aku tidak bisa. Hubungan kita berakhir sampai di sini," ucap Caroline.
Gadis itu secepatnya keluar dari ruangan William, tetapi pria itu selalu saja lebih cepat darinya. William hapal betul siapa Caroline.
"Kamu tidak boleh melangkah sedikitpun dari ruanganku! Kita perlu banyak bicara. Pernikahanku dengannya adalah sebuah kesalahan, Carol. Kamu tidak tau perasaanku bagaimana tiba-tiba harus bertanggung jawab dengan orang yang baru saja kukenal," ucapan William untuk menghalangi keputusan Caroline meninggalkannya untuk kedua kalinya.
"Salah atau tidak, orang lain akan menganggapku pihak yang paling bersalah, Will. Aku orang ketiga dalam pernikahan kalian. Aku tidak mau! Lepaskan aku, Will!" bentak Caroline. Walaupun dia sangat mencintainya, Caroline akan melepasnya dengan sangat mudah. Apalagi William mendekatinya karena sebuah kebohongan yang diciptakan demi menutup kebohongan lainnya.
William tanpa pikir panjang, dia memeluk Caroline dengan sangat erat. Gadis itu memberontak dan mendorong dengan sekuat tenaganya. Kalah, Caroline tidak bisa melepasnya. Tenaga William terlalu kuat dibandingkan dirinya.
"Aku mencintaimu, Carol. Sangat mencintaimu. Tolong dengarkan penjelasanku. Aku dan Rose__"
"Cukup, Will. Lepaskan aku! Aku tidak mau tau dan tidak ingin tau bagaimana pernikahan kalian berlangsung. Aku menjadi orang yang terlalu bodoh telah percaya padamu. Kamu pembohong, Will," ucap Caroline.
Pria itu tidak bisa menahannya terlalu lama. William berada dipihak yang salah dalam hal ini.
"Kamu pikir, aku tidak sakit hati melihat kenyataannya kamu telah menikah. Bahkan, bayangan tentang dirimu telah tidur dengan wanita itu menari dipelupuk mataku." Caroline berusaha menahan air matanya. William telah membuatnya sakit untuk yang kedua kalinya. Kali ini, Caroline tidak akan menyerah. Dia tetap akan melupakan William dan membuka hatinya untuk orang lain.
"Dia yang menjebakku," ucap William.
"Aku tidak perlu tau itu, Will. Dijebak atau tidak, kamu pasti punya perasaan lebih padanya. Bahkan, wanita itu selalu bersikap romantis padamu. Tuan William Austin, tolong hubungan kita ini hanya sebatas atasan dan bawahan. Aku tidak mau bersamamu lagi. Aku akan membuka hati untuk pria lain. Aku sadar, aku terlalu bodoh mengharapmu kembali. Sekarang, aku tidak akan pernah mau berdekatan denganmu!" ucap Caroline berapi-api.
Kemarahannya sungguh beralasan. Hubungan yang terlalu jauh akan membuat Caroline di cap sebagai seorang pelakor. Walaupun hatinya terlampau sakit menerima kenyataan ini, bagaimanapun dia tetap harus berjuang seorang diri.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บBersambung๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Sambil menunggu update selanjutnya, yuk mampir dikarya teman emak...
Pacar Sewaan Sang Idola, Author ria aisyah.
Terima kasih, Luv yu all... ๐๐๐๐
__ADS_1