
"Baguslah kalau begitu, Shirley. Ayo kuantar pulang. Sekalian bawa semua barangmu ke mobil. Kasihan kalau harus naik taksi." Caroline sengaja ingin mengantarkan rekan kerjanya itu karena tidak tega harus naik taksi yang lumayan jaraknya.
"Wah, kamu baik sekali, Carol," puji Shirley.
"Hemm, jangan seperti itu. Aku nanti bisa makin sombong," candanya.
Caroline lantas membantu Shirley memasukkan barangnya ke bagasi mobil.
"Sudah lengkap semuanya?" tanya Caroline.
"Sudah. Yuk langsung pulang saja," ajak Shirley.
Perbedaan usia yang tidak terlalu mencolok membuat Shirley bisa akrab dengan Caroline. Itulah yang menyebabkan Caroline betah berada di Austin Group sebelum kedatangan William.
...***...
Setelah Jack dipindahkan ke ruang rawat, Tuan Darius maupun William bisa pulang ke Mansion untuk sementara waktu. Tuan Darius berniat mengabari istrinya.
"Will, sebaiknya kamu mampir ke Mansion. Sudah lama kita tidak bertemu dan mengobrol banyak denganmu," ucap Tuan Darius ketika menuju parkiran.
Mengenai Tuan Hariz, jangan tanya lagi. Pria yang haus akan harta itu sudah tidak mempedulikan putrinya lagi setelah tidak mendapatkan apapun dari keluarga Austin. Dia lebih dulu pergi meninggalkan putrinya yang sedang sekarat itu.
"Baiklah, Pa. Hanya sebentar saja."
William bergegas masuk ke mobilnya. Bersamaan itu, Tuan Darius juga masuk ke mobil. William jalan terlebih dahulu.
Papa dan anak itu menikmati perjalanannya sambil memikirkan hari esok. William menunggu keputusan perceraiannya hanya kurang beberapa hari saja. Sementara Tuan Darius sibuk memikirkan kondisi Jack yang mengalami patah tulang itu. Jelas saja untuk awalnya, Jack akan merasa terluka. Mungkin saja bisa menurunkan rasa percaya dirinya. Selama ini dia terlalu sombong untuk mengakui ketampanannya di depan umum. Bahkan, dia juga sudah berani membuat skandal di Mansion Austin.
Mobil William lebih dulu sampai di Mansion kemudian di susul Papanya. Mereka berdua turun bersamaan.
__ADS_1
Tuan Darius meminta William untuk langsung masuk. Di ruang tengah rupanya sang istri, Lavina, sudah menunggu.
"Pa, dari mana saja? Kok tumben barengan dengan William. Jack mana?"
"Jack--"
"Jack kecelakaan, Ma," sahut William.
"Apa? Bagaimana bisa?" teriak Roseanne yang kebetulan baru saja keluar dari kamar tamu.
"Rose, diam dulu! Biar Papa yang menjelaskan," ucap Lavina.
Tuan Darius menjelaskan kecelakaan yang menimpa putra bungsunya itu. Polisi memang masih menyelidiki kasus kecelakaan itu karena menewaskan satu orang korban kecelakaan itu.
"Lalu, bagaimana kondisi Jack, Pa?" tanya Roseanne. Walaupun sebentar lagi dia akan bercerai dengan William dan akan menikah dengan Jack, Roseanne selalu memanggil Papa dan Mama pada mertuanya.
"Kakinya mengalami patah tulang," jawab Tuan Darius.
"Will, batalkan rencana perceraian kita!" perintah Roseanne.
"Apa-apaan kamu ini? Aku tidak akan mengubah rencananya. Enak saja. Putusan pengadilan sebentar lagi keluar," bentak William. Dia tidak mau diperalat Roseanne untuk yang kedua kalinya.
"Mama tidak setuju, Rose! William akan tetap berpisah denganmu dan kamu akan menikah dengan Jack. Itu tidak bisa ditawar lagi," sahut Lavina.
Keributan mulai terjadi di Mansion Austin.
"Aku tidak mau mempunyai suami cacat, Ma!" bentak Roseanne. Dia menerima Jack karena untuk bertahan di Mansion Austin. Mendengar ceritanya seperti itu, bukan malah akan membuatnya bahagia melainkan akan menjadi babu Jack seumur hidupnya. Roseanne tidak mau.
"Apa kamu pikir, aku sudi punya menantu sepertimu? Kupikir William menikahi wanita baik-baik, wanita sosialita, atau kaum yang selevel dengan kami. Kenyataannya sama saja dengan ja*ang! Lihatlah dirimu. Berkacalah. Jack sebenarnya juga tidak akan sudi menerimamu," kesal Lavina.
__ADS_1
Tuan Darius dan William membiarkan keributan itu terjadi. Mereka sengaja ingin tahu apa yang akan diputuskan kedua penghuni Mansion itu.
"Oke, Ma. Aku akan membawa anak ini pergi dari sini. Keturunan Austin akan kubawa!" balas Roseanne tidak mau kalah.
"Ck, silakan saja! Aku sudah tidak peduli lagi padamu. Kupikir kamu bisa menerima apapun keadaan Jack, nyatanya sama saja dengan wanita modus yang tidak pernah tulus. Pergi saja. Pintu Mansion ini terbuka lebar untukmu! Ingat, tidak ada kompensasi yang kamu dapatkan dari keputusanmu ini!" Lavina tidak mau putranya yang sakit itu diperlakukan tidak baik oleh Roseanne. Apapun kelakuan Jack, pria itu tetap putranya.
Baiklah, Lavina. Aku akan pergi dari keluarga ini. Kamu pikir aku tidak bisa hidup dengan anak ini dan hanya berdua saja? Kita lihat saja siapa yang akan lebih menyesal di sini. Kamu atau aku?
"Kenapa diam? Sedang memikirkan keputusan akhirnya? Takut tidak mendapatkan kompensasi? Wanita rendahan sepertimu sudah jelas selalu mengedepankan harta yang kamu incar." Lavina terus saja menyudutkan Roseanne.
"Sudah, Ma. Biarkan Roseanne menentukan keputusannya. Papa akan tetap memberikannya kompensasi untuk kelayakan kehidupan cucu kita. Bagaimanapun anak yang ada dalam kandungannya masih darah daging keluarga Austin." Tuan Darius berusaha memberikan keringanan pada wanita itu. Dia sangat tahu bagaimana susahnya wanita hamil yang tinggal sendirian.
"Tidak perlu, Tuan Darius. Aku masih bisa bekerja untuk menghidupi anak ini. Aku akan merawatnya sampai anak ini sanggup untuk membalas dendam pada Papanya dan neneknya!" tantang Roseanne. Dalam masalah ini, Roseanne memang sengaja mengedepankan nama Jack dan Lavina. Karena William sebenarnya pria baik yang sudah masuk dalam jebakannya. Dia tidak lagi akan membuat susah pria itu. Tujuannya sekarang adalah Jack dan Lavina. Dengan membawa pergi cucunya, bisa dipastikan Jack akan kelimpungan mencarinya.
"Kamu pikir aku akan terpengaruh dengan ucapanmu? Kamu tidak bisa menerimanya Jack dengan kekurangannya, tetapi kamu ingin balas dendam kepada kami, hah. Di mana kamu pakai otakmu itu? Dasar tidak waras!" balas Lavina.
"Cukup, Ma! Keluarga kita sudah berantakan seperti ini. Biarkan Roseanne pergi dan tidak membawa dendam pada keluarga kita. Kasihan anaknya, Ma," tegur William.
Roseanne benar. Nyatanya William pria yang sangat baik. Setidaknya untuk pria itu, dia pernah mencintainya dan hidup bersama walaupun hanya sesaat. Sekarang keputusannya sudah bulat. Roseanne akan membawa pergi bayinya dan membalas dendam seperti rencananya.
Roseanne masuk ke kamarnya. Dia mengambil beberapa barang yang paling penting. Beberapa baju dan sisa uang pemberian Jack. Itu lebih dari cukup.
Roseanne langsung keluar disaksikan Tuan Darius, William, dan Lavina.
"Rose, tunggu sebentar. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi tanpa uang sepeserpun. Setidaknya ini cukup untukmu dan sampai anak itu lahir," ucap Tuan Darius.
"Jangan, Pa. Bukankah dia sudah menolaknya?" balas Lavina.
"Ma, bagaimanapun juga wanita hamil butuh uang selama kehamilannya dan sampai melahirkan. Apa kamu tega membiarkannya seperti itu?"
__ADS_1
Roseanne akhirnya menyadari jika William memang baik seperti Papanya sedangkan Jack, sama brengseknya seperti mamanya. Roseanne tidak berhenti sedikitpun. Dia tetap keluar dari Mansion itu dan tidak akan pernah mau menerima sepeserpun kompensasi yang diberikan Tuan Darius. Dia membawa dendam dihatinya dan kelak akan datang kembali untuk membalasnya.