
"Lupakan masa lalu, masih ada masa depan yang sedang menanti. Jangan berhenti untuk__" Lewis memandang lekat ke arah Caroline.
"Untuk apa, Lewis?"
"Melepaskan mantan dengan ikhlas," ucapnya.
Caroline tertawa mendengar ucapan Lewis yang menurutnya sangat lucu. Untung saja pesanan mereka segera datang, jika tidak, Caroline akan terus tertawa dengan lelucon yang dilontarkan Lewis. Pria itu sangat menghiburnya. Sejenak dia melupakan mantan brengseknya itu.
"Makanlah dulu. Kita tidak punya waktu lama di sini. Sampai kota bisa sangat larut," ucap Lewis.
Mereka segera menghabiskan sepiring nasi goreng spesial dan secangkir Cappuccino. Tak lupa, Lewis memesankan dua botol air mineral.
Setelah semuanya selesai, Lewis meminta Caroline menunggunya di mobil, sementara dia akan membayar semua pesanannya.
"Tunggulah di mobil. Aku mau ke kasir dulu."
"Wah, aku sudah meminta tumpangan, diberi makan juga," canda Caroline. Senyum gadis itu selalu bisa menenangkan Lewis.
"Tak masalah, Nona."
Sekitar lima menit, Lewis sudah kembali ke mobilnya. Dia membukakan pintu untuk Caroline. Gadis itu merasa sangat dihormati ketika bersama Lewis.
"Langsung berangkat?" tanya Lewis.
"Iya, Lewis. Aku sudah rindu kamarku yang empuk. Aku ingin secepatnya tidur agar esok hari semua kenyataan mulai berubah," candanya.
Lewis sebenarnya sangat penasaran pada Caroline. Gadis itu sepertinya sedang menyimpan masalah yang sangat rumit. Tetapi, Lewis harus tetap menjaga sikapnya untuk tidak ikut campur urusan orang lain jika tidak dimintai pendapat. Walaupun sekilas bisa dilihat dari gelagat Caroline yang merasa tidak nyaman.
"Carol, perjalanan masih beberapa jam lagi. Bisa kamu sebutkan alamat rumahmu? Supaya aku bisa mengantarmu ke sana."
Aku tidak boleh mampir ke Austin Group untuk mengambil mobil. Besok saja aku mampir sekalian memberikan surat resign pada Tuan Darius.
"Perumahan KL, blok A, Nomor tujuh belas," jawabnya.
"Baiklah. Kalau kamu mengantuk, tidurlah. Jangan khawatir padaku. Aku pria baik-baik," ucapnya.
Ucapan Lewis benar, Caroline mulai mengantuk. Gadis itu mulai memejamkan matanya dan tidak menyadari jika sesekali Lewis mencuri pandang terhadapnya. Terlelap, hanya itu yang tidak disadarinya.
__ADS_1
Lewis membiarkan gadis itu tertidur. Sesuai waktu yang diperkirakan, mobilnya mulai memasuki perumahan yang dimaksud. Tepat di depan nomor tujuh belas A, Lewis menghentikan mobilnya. Dia keluar sesaat untuk memencet bel di rumah itu.
Sangat lama, barulah wanita paruh baya keluar dan melihat Lewis.
"Ada apa, Nak?" tanya wanita itu.
"Saya ke sini mengantar Caroline, Tante. Dia tertidur di dalam mobil," ucap Lewis.
Wanita paruh baya itu agak terkejut dengan putrinya. Dia menatap lekat pada manik mata pria itu.
Apa terjadi sesuatu dengan Caroline? Kenapa aku tidak mengenal pria ini? Tetapi, wajahnya sangat mirip dengan William. Lalu, di mana mobil Caroline?
"Bangunkan saja, Nak. Biarkan dia masuk sendiri," ucap wanita paruh baya itu.
"Baik, Tante." Lewis kembali ke mobil dan berusaha membangunkan gadis itu.
"Hei, bangun. Sudah sampai di depan rumahmu," ucap Lewis dengan sangat lembut.
Caroline perlahan membuka matanya. Dia terlalu lama tertidur di mobil Lewis.
"Mama?" Caroline sedikit terkejut. Dia tidak menyangka jika Lewis telah menekan bel rumahnya dan membuat Mamanya terbangun di malam yang sangat larut ini.
Lewis mengeluarkan koper dari bagasi mobilnya dan memberikan pada Caroline. Dia langsung pamit pada mereka.
"Maaf, Tante dan Caroline, aku langsung pamit," ucapnya.
"Terima kasih, Lewis," ucap Caroline.
"Terima kasih, Nak. Sudah mengantarkan putriku. Hati-hati di jalan," ucap Mama Veronica.
"Sama-sama, Tante."
Setelah kepergian Lewis, Veronica dan Caroline masuk ke rumahnya. Mamanya menyimpan segudang pertanyaan untuk putri tunggalnya.
Sampailah mereka di ruang tengah. Veronica menghentikan putrinya. Dia tidak mau rasa penasarannya membuat tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Siapa pria itu, Carol? Kamu tidak ada hubungan khusus dengannya, kan? Apa dia pria baik-baik?" tanya Mamanya.
__ADS_1
Veronica tahu, jika putrinya pergi ke puncak karena ada urusan pekerjaan. Dia tahu kalau Caroline pergi bersama William, pria yang selalu dicintainya sepanjang waktu. Tetapi, malam ini malah Veronica menemukan putrinya pulang di antar pria lain. Veronica semakin khawatir pada putrinya.
"Besok aku akan mengundurkan diri dari Austin Group, Ma," jawab Caroline. Wanita paruh baya itu sangat terkejut karena beberapa pertanyaannya tidak dijawab, malah putrinya mengatakan hal lainnya.
"Apa ini ada hubungannya dengan pria tadi?" selidik Mamanya.
"Tidak, Ma," jawab Caroline.
Mama tidak perlu tahu masalahku dengan William. Yang terpenting, aku bisa keluar dari perusahaannya terlebih dahulu.
"Apa ada sesuatu yang tidak Mama ketahui? Katakan! Jangan buat Mamamu ini penasaran," pinta Veronica.
"Ma, Caroline ingin pindah tempat kerja. Selama ini, Caroline sudah berjuang sangat keras di perusahaan Tuan Darius. Sekarang, Caroline ingin mencari suasana baru," ucapnya berbohong. Padahal sangat jelas jika William akan merenggut kesuciannya.
"Secepat ini?" Mamanya masih tidak percaya.
"Iya, Ma. Ada perusahaan baru yang lebih baik dari Austin Group dan aku akan masuk ke sana, tetapi aku menunggu persetujuan resign-ku diterima."
Sepertinya akan sangat sulit keluar dari Austin Group jika sudah berhadapan dengan Tuan Darius, tetapi Caroline tidak boleh menyerah. Keputusannya sudah bulat. Dia tidak mau pekerjaannya menjadi tidak nyaman karena keberadaan William.
"Kamu yakin dengan keputusan ini? Jangan sampai kamu menyesal karena mengambil keputusan secara terburu-buru. Itu pilihanmu dan Mama tidak akan melarangnya," ucap Veronica.
"Terima kasih, Ma. Aku akan tetap berjuang untuk membuat dapur kita terus mengebul seperti biasa. Mama jangan khawatir, ya?"
Caroline masuk ke kamarnya. Dia dibantu Mamanya untuk membawakan koper. Sebenarnya Caroline sudah menolaknya, tetapi wanita itu memaksa karena merasa kasihan melihat Caroline bekerja seorang diri sampai baru pulang selarut ini.
"Ma, doakan aku, ya?" ucap Caroline ketika sampai di kamarnya.
"Setiap hari Mama sudah mendoakanmu, Nak. Apa ada masalah yang kamu sembunyikan dari Mama? Jangan kamu pendam seorang diri, Nak. Berbagilah dengan Mama. Kita hadapi bersama," ucapnya.
Caroline enggan untuk menceritakan kelakuan William sore ini. Dia tidak ingin Mamanya semakin syok pada pria yang pernah membantu kehidupannya selama ini. Bagaimanapun, William pernah berjasa dalam kehidupannya.
"Tidak ada, Ma. Aku baik-baik saja." Caroline membuka lemari dan mengambil baju ganti untuk malam ini. Dia ingin secepatnya membakar baju yang dipakainya. Dia masih teringat perlakuan William yang sangat mendadak itu.
Wanita paruh baya itu melihat mata putrinya yang tersirat rasa kecewa mendalam. Entah, gadisnya itu sedang kecewa pada siapa? Sepertinya ada masalah pelik yang tidak ingin dibagi dengannya. Meskipun begitu, Veronica tidak berani memaksanya lagi. Biarkan Caroline menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri.
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴
__ADS_1