
Caroline sudah mulai bekerja lagi di Austin Group. Dia sangat bahagia. Permohonannya pada Tuan Darius sudah dikabulkan. Dia bisa bekerja dengan tenang. Selama itu pula, William tidak pernah muncul lagi di kantor.
"Rasanya aku sangat nyaman bekerja lagi denganmu, Carol. Kamu tahu tidak, kedua putra Tuan Darius tidak pernah muncul lagi sekarang. Aku kangen sama Tuan Jack," ucap Shirley.
Caroline tersenyum. Dia bahkan enggan untuk bertemu dengan Casanova tanggung itu. Pemikirannya tidak jauh dari kata wanita dan ranjang.
"Shirley, kamu menyukai Tuan Jack?"
Shirley mengangguk. Tentu saja dia menyukainya. Apalagi Tuan Jack belum menikah. Kalau boleh memilih, sebenarnya dia lebih suka pada Tuan William. Sayangnya menurut cerita Caroline, pria itu ternyata sudah menikah. Shirley tidak mau menyukai suami orang sepertinya.
"Bukan hanya suka, lebih tepatnya aku sudah mencintainya pada pandangan pertama," ucapnya dengan senyum malu dan pipi memerah.
Caroline tentu saja tidak bisa memprotes ucapan Shirley. Dia hanya menertawakan keadaan gadis itu. Cinta dan bodoh sangat tipis jaraknya. Shirley juga sudah tahu betul jika Jack adalah playboy kelas kakap. Apapun itu, yang namanya cinta maka akan menutup semua perbuatan buruk pria itu di mata Shirley.
"Kenapa kamu menertawakanku, Carol? Apakah ada yang salah dengan ucapanku?" imbuh Shirley.
"Tidak ada yang salah dengan ucapanmu. Kita berhak mengejar cinta pria single. Bukan begitu, Shirley?"
Shirley mengangguk pasrah. Walaupun dia mencintai Jack, untuk mendapatkan pria itu adalah nol persen alias tidak mungkin sama sekali. Shirley bukan selera Jack.
"Lupakan saja, Carol. Cintaku tidak akan pernah sampai pada Tuan Jack," keluhnya.
Sama seperti cintaku pada William, Shirley. Sampai kapanpun tidak akan pernah bertemu. Aku juga sudah lelah untuk bertahan. Saatnya aku melupakan dan memulai dengan kehidupan baru.
Caroline langsung ingat dokter Freddy. Dia belum memberikan jawaban apapun padanya. Dia juga tidak ingin terlalu lama menggantung orang lain seperti itu. Dokter Freddy pasti sedang menunggu jawabannya.
Hari ini, Caroline menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Dia juga sudah berinteraksi lagi dengan Tuan Darius. Caroline berusaha untuk tidak peduli pada keberadaan kedua putranya. Baginya, asal dia bisa bekerja dengan nyaman sudah lebih dari cukup.
Sebaiknya aku mengirim pesan pada dokter Freddy. Aku ingin membicarakan kelanjutan rencananya.
[Dokter, sepulang bekerja, bisa kita bertemu?]
Setelah mengirim pesan, Caroline menyimpan kembali ponselnya. Dia melanjutkan sedikit pekerjaanya.
"Carol, sepulang kerja kamu mau ke mana?" tanya Shirley.
"Aku ada urusan dengan seseorang. Kenapa?"
"Yah, padahal aku ingin mengajakmu jalan. Sudah lama aku merencanakan ini," ucapnya lesu.
"Maaf, Shirley. Mungkin lain kali kita bisa pergi bersama. Aku sudah terlanjur janji untuk bertemu dengan seseorang."
Shirley menengok ke arah Caroline. "Apakah dia orang yang sangat penting untukmu?" Rasa penasaran gadis itu mulai memuncak.
"Entahlah. Aku masih ragu, Shirley. Aku sedang berusaha membuka hati untuknya," jawab Caroline.
__ADS_1
"Baiklah. Apapun keputusanmu, aku akan mendukung," balas Shirley.
"Terima kasih, Shirley."
Caroline melihat ponselnya lagi. Dia sengaja mengatur mode silent agar tidak mengganggu pekerjaannya. Terdapat pesan balasan dari dokter Freddy.
[Tunggu saja di rumah. Aku akan datang ke sana.]
Nyatanya dokter Freddy bisa memahaminya sejauh ini. Memang semenjak kepergian Mamanya, Caroline enggan untuk keluar rumah walaupun hanya sekadar mencari hiburan.
"Shirley, aku pulang duluan, ya?" pamit Caroline. Ini memang sudah saatnya untuk pulang. Dia melihat Shirley masih membereskan sedikit pekerjaannya.
"Iya, Carol. Hati-hati di jalan, ya?" balas Shirley.
Caroline bergegas menuju mobilnya. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan dokter Freddy dan menyelesaikan masalahnya.
Semoga keputusan yang kubuat ini benar.
Sepanjang jalan, Caroline berusaha meyakinkan dirinya untuk menerima pinangan pria itu. Dia tidak tahu kedepannya akan seperti apa hidupnya. Untuk saat ini, dia juga butuh sandaran menghadapi rasa sepinya.
Ketika sampai di depan gerbang rumahnya, Caroline menekan klakson mobilnya. Hoshi bergegas membuka gerbangnya.
Caroline sangat senang mendapatkan pelayan dan penjaga seperti mereka. Semuanya sangat baik dan bisa di ajak bekerja sama.
"Iya, Bi. Tansy di mana?" Caroline selalu menanyakan keberadaan gadis itu.
"Ada di kamarnya, Non. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya," balas Bibi Fidela.
Pekerjaan Ibu dan anak itu selalu membuat Caroline senang. Keduanya sama-sama rajin.
"Bi, siapkan minuman, ya. Sebentar lagi dokter Freddy akan datang," ucapnya.
"Baik, Non." Bibi Fidela bergegas ke dapur. Tak lama, orang yang baru saja dibicarakan muncul.
Dokter Freddy baru saja masuk ke ruang tamu.
"Silakan duduk, dokter. Aku juga baru saja sampai," ucap Caroline.
Dokter Freddy nampak senang melihat sambutan Caroline yang sudah lebih hangat dari biasanya.
"Terima kasih. Kalau kamu perlu ke dalam dulu, silakan saja. Aku akan menunggunya di sini," balas dokter Freddy.
Caroline sebenarnya ingin masuk untuk sekadar membersihkan diri dan berganti baju. Sepulang kerja, dia belum menjangkau kamar mandinya sama sekali.
"Baiklah kalau begitu. Berikan aku waktu sepuluh menit. Setelah itu, aku akan kembali," ucap Caroline.
__ADS_1
"Silakan." Dokter Freddy merasa ingin sendirian. Dia sedang memantapkan hati untuk menerima penolakan gadis itu.
Rasanya aku ingin sendirian saja. Aku sudah terlanjur mengatakan dan aku harus siap dengan penolakannya.
Dokter Freddy menyandarkan badannya ke sofa. Dia memejamkan mata sejenak.
"Dokter," sapa Bibi Fidela.
Dokter Freddy mengganti posisinya untuk duduk tegap.
"Iya, Bi."
"Silakan di minum, dokter. Nona Caroline sebentar lagi kembali," ucapnya.
"Terima kasih."
Bibi Fidela kembali lagi ke dapur. Tak berapa lama, Caroline muncul dengan penampilan yang lebih segar. Dia juga sudah terlihat sangat santai sekali.
"Dokter, maaf telah membuatmu menunggu," ucapnya.
"Tak masalah, Carol. Sudah biasa aku menunggu seperti ini."
"Silakan diminum dulu."
Dokter Freddy mengambil cangkir yang berisi lemon tea hangat. Setelah meminumnya sedikit, dikembalikan lagi cangkir itu ke meja.
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya dokter Freddy dengan suara khas pria berkharisma.
Caroline menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Dia juga memejamkan matanya sejenak setelah itu baru membukanya. Kedua tangannya saling menggenggam. Dia butuh keyakinan kuat untuk mengatakannya.
"Aku menerima pinanganmu, dokter," ucapnya dengan suara yang lantang dan tidak terdapat keraguan sedikitpun.
Dokter Freddy terdiam sesaat. Dia masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Caroline barusan.
"Bisa diulang lagi? Aku masih tidak percaya ini, Carol," pintanya.
"Aku menerimamu, dokter," ucapnya sekali lagi. Walaupun perasaannya bertolak belakang, tetapi niatnya menerima pinangan dokter Freddy untuk melupakan masa lalunya.
Dokter Freddy nampak bahagia mendengarnya.
"Baiklah, Carol. Secepatnya aku akan meminangmu secara resmi. Aku akan memberikan cincin sebagai lambang pertunangan kita. Segera setelah ini," ucapnya antusias.
Caroline merasa telah lepas dari bebannya untuk menyimpan nama William di hatinya. Dia harus belajar menerima dokter Freddy dengan baik. Walaupun ini salah menurut Caroline, tetapi bertahan pada ketidak pastian membuat dia ragu untuk menjalani kehidupannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1