
Ceklek!
Roseanne membuka pintu kamarnya. Dia melihat William masih merebahkan tubuhnya di ranjang. Sepertinya pria itu sedang tertidur.
Roseanne segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menutupi bekas percintaannya dengan Jack. Adik William ternyata lebih luar biasa dari yang dibayangkan.
Roseanne dan Jack seumuran. Keduanya bisa seperti teman yang saling menguntungkan. Jack bisa membuat Rose menjadi wanita yang paling bahagia hanya dengan candaannya yang kadang tidak bermutu itu.
"Terima kasih, Jack." Roseanne mengoleskan foundation pada bekas tanda kepemilikan yang Jack tinggalkan.
Aku akan membicarakan hal ini dengan William. Secepatnya aku akan mengajak pria itu ke rumah sakit untuk memeriksakan kesuburannya. Kenapa sampai saat ini aku tak kunjung hamil? Padahal, malam itu aku sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang. Ini sangat aneh, bukan? Atau, jangan-jangan William mandul? Lalu, jika dia benar mandul dan ternyata aku hamil anak Jack, bagaimana? Ah, ini sangat rumit untukku.
Roseanne sudah membersihkan diri. Dia juga sudah mengganti pakaiannya dan terlihat lebih segar.
Roseanne kembali ke kamarnya untuk membangunkan William.
"Sayang, bangunlah! Ada yang ingin kubicarakan denganmu," ucap Roseanne. Dia menggoyang tubuh suaminya supaya pria itu lekas bangun.
"Hemm, ada apa, Rose?" tanya William. Dia membenarkan posisinya untuk bersandar pada headboard ranjangnya.
"Aku ingin konsultasi program kehamilan, sayang. Apa kamu setuju?" tanya Roseanne.
William nampak berpikir. Dia tidak terlalu terkejut dengan ucapan istrinya. Beberapa kali wanita itu mengucapkan hal yang sama, tetapi William enggan untuk meresponnya.
William tidak pernah kepikiran tentang hal itu. Dia bahkan tidak peduli dengan ajakan Rose karena pada dasarnya William tidak pernah mencintai wanita itu.
"Aku tidak mau! Kamu pergi saja sendiri," balas William.
Roseanne harus menahan emosi menghadapi suaminya saat ini. Dia tidak ingin semua rencananya berantakan.
"Sayang, bagaimana mungkin dokter akan memeriksaku tanpa suami? Yang benar saja. Kita kesana hanya untuk memeriksakan kesuburan masing-masing." Rose sedang merayu suaminya.
William tidak ingin mendengarnya lagi. Dia semakin pusing dengan ucapan istrinya itu. Permintaannya terlalu banyak, tetapi dia memikirkan satu hal. Kenapa sampai saat ini istrinya tak kunjung hamil? Apa karena William mandul?
__ADS_1
William semakin pusing. Bukan karena memikirkan Rose, melainkan memikirkan cara membuat Caroline kembali lagi ke perusahaannya. Jika tidak, Papanya akan terus berseteru dengannya.
Bagaimana caraku mendapatkan alamat gadis itu? Aku akan membujuknya lagi. Ck, sulit sekali merayunya.
"Sayang, kenapa kamu malah melamun seperti itu? Apakah kamu setuju?" Roseanne ingin memastikan jawabannya.
"Tanyakan saja pada Mama. Jika Mama setuju, aku akan mengikuti semua permintaanmu," ucap William. Dia beranjak dari ranjangnya kemudian masuk ke kamar mandi. Dia tidak ingin terlambat datang ke meja makan.
Roseanne menatap tidak percaya ditinggalkan begitu saja oleh suaminya yang masuk ke kamar mandi. Walaupun sudah mendapat jawaban, tetapi Rose masih ragu.
"Kamu mau kemana, sayang? Kita belum selesai bicaranya," protes Roseanne.
"Apa kamu tidak melihat jam berapa sekarang? Semua orang pasti sudah menunggu di meja makan," ucap William ketus. Masalahnya dengan Caroline belum selesai, ditambah dengan permintaan istrinya.
Roseanne hampir lupa. Ini jam makan malam keluarga Austin. Mungkin dia terlalu kelelahan setelah bertempur dengan Jack barusan. Hal itulah yang membuat Roseanne lupa waktu.
Rose tidak banyak bicara lagi. Dia mengikuti langkah suaminya menuju meja makan. Di sana, mertua dan adik iparnya sudah duduk manis. Mereka sengaja menunggu kedatangan William dan istrinya.
"Telat berapa menit saja, Ma," balas William. Dia langsung duduk di kursinya dan mulai mengambil piring makannya.
Biasanya Roseanne yang menyiapkan piring untuk William, tetapi kali ini ada pemandangan yang sangat berbeda.
William dan Tuan Darius tidak saling bicara. Itu juga yang membuat Mamanya heran.
"Pa, sebelum mulai makan. Mama ingin menanyakan sesuatu. Kenapa Papa dan William tidak saling bicara?" ucap Nyonya Lavina.
"Ajari putramu untuk bersikap sopan pada wanita!" ucap Tuan Darius. Setelah mengucapkan itu, Tuan Darius tidak melanjutkan makannya. Dia meninggalkan meja makan secara tiba-tiba.
Ya, William sudah mengakui kesalahannya. Tetapi dia memohon kepada Papanya untuk tidak mengatakan pengakuannya kepada Mamanya. Bisa-bisa Mamanya langsung marah dan membuatnya terusir dari Mansion. William juga mengaku jika Caroline adalah mantan kekasihnya. Dia masih mencintainya. Tuan Darius sangat terkejut, tetapi pria itu langsung memberikan sebuah syarat kepada putranya untuk meyakinkan Caroline kembali ke perusahaan.
"Will, apa yang terjadi padamu, Nak?" cecar Mamanya.
"Tidak ada, Ma. Kami hanya salah paham," jawab Will berbohong.
__ADS_1
Tentu saja hal itu juga yang membuat Jack meradang pada tingkah kakaknya. Usahanya untuk mengejar Caroline menjadi sia-sia jika orangnya saja sudah resign.
"Jangan bohong, Will! Katakan pada Mama apa yang sebenarnya terjadi," ucap Jack.
Secara tidak langsung, Jack merasa ada sesuatu yang terjadi antara William dan Caroline.
"Kamu jangan ikut campur urusanku!" bentak William.
Nyonya Lavina sangat terkejut. William sedang berseteru dengan suaminya. Sekarang, dia malah ribut dengan adiknya.
"Mama akan menyampaikan hal ini ke Papa. Salah satu dari kalian berdua akan dipindahkan ke anak cabang." Keputusan Mamanya bukan tanpa alasan. Dari dulu, William dan Jack selalu saja meributkan hal sepele menurutnya.
"Tidak, Ma! Aku tidak mau. Kalau Mama mau, silakan pindahkan Jack kesana. Itu akan lebih baik, bukan?" William tidak mau. Dia bersusah payah untuk kembali ke perusahaan Papanya untuk mendapatkan jabatan CEO kemudian dirinya akan kembali pada Caroline.
"Jack juga tidak mau, Ma. Enak saja William langsung masuk ke Austin Group dan menjabat CEO di sana. Kita bisa bersaing secara sehat untuk mendapatkan kepercayaan Papa dan memilih salah satu dari kita," balas Jack. Dia enggan untuk mengurus perusahaan kecil walaupun itu anak cabang perusahaan Papanya.
"Sudah cukup bicaranya. Lanjutkan makan dulu, baru kita bicara lagi." Lavina tidak tahu harus bersikap seperti apa pada kedua putranya.
"Ma, Rose minta maaf. Sebelum melanjutkan makan, ada yang ingin Rose sampaikan," ucap Roseanne.
"Katakan!" Kali ini, Lavina masih mentoleransi pembicaraan di meja makan. Biasanya dia sangat malas sekali berdebat dan membuat selera makan hilang.
"Apakah Mama setuju jika aku dan William pergi ke rumah sakit untuk mengecek kesuburan kami? Aku ingin memiliki keturunan, Ma," ucap Roseanne dengan memelas.
Jack tidak lagi menampakkan kekesalannya. Hanya saja, dirinya seperti tersisih jika Roseanne mengharapkan keturunan dari William. Jack rasanya ingin merebut semua yang dimiliki William.
Aku yang akan membuatmu hamil, Rose. Aku ingin membuat William semakin gusar karena istrinya hamil. Aku tidak tahu, apakah William normal atau mandul? Kenyataannya, Rose belum hamil sampai saat ini.
"Tentu saja, Sayang. Mama ingin segera menimang cucu keluarga Austin," balas Lavina.
Roseanne tidak perlu berbicara lagi pada William. Pria itu jelas sudah mendengar yang diucapkan Mamanya. William sepertinya sengaja untuk berpura-pura tidak mendengar atau memang dia sudah malas menjalani pernikahan ini.
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒
__ADS_1