Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Gelora Cinta


__ADS_3

Pagi ini Austin Group kedatangan paket komplit. Siapa lagi kalau bukan Tuan Darius dan kedua putranya. Beberapa karyawan semakin heboh karena hampir tujuh puluh lima persen fans berat Jack sebagai CEO tanggung itu beralih ke kakaknya.


Caroline sudah berada di ruang kerjanya sebelum menyerahkan beberapa berkas proyek yang telah disiapkannya.


Perasaannya lain dari biasanya. Seakan sedang menunggu seseorang untuk hadir di hadapannya.


Apakah Will akan ke kantor hari ini? Perasaanku padanya semakin besar. Aku sangat merindukan pria itu.


Hanya beberapa menit dari lamunannya, kini pria yang dicari sudah berada di dalam ruangan CEO. Caroline juga berada di tempat yang sama. Jantung dan hatinya seakan mau melompat bersamaan melihat pria itu tersenyum ke arahnya.


"Caroline, mulai hari ini putraku akan masuk ke bagian inti perusahaan. Tolong kamu bantu dan arahkan dia," ucap Tuan Darius.


Mata Jack langsung melotot ke arah Caroline seakan tidak terima jika gadis incarannya kini berdekatan lagi dengan kakaknya.


"Pa, mana bisa begitu. Kak Will 'kan sudah bisa segalanya. Harusnya aku yang terus dibimbing Caroline." Jack tidak terima.


"Jack, papa rasa Caroline dan William bisa memajukan perusahaan semakin luar biasa. Papa yakin itu," ucapan Tuan Darius semakin membuat Jack frustrasi.


"Tidak bisa begitu, pa. Selama lima tahun ini, kita sudah bekerja keras tanpa Kak Will. Wajar dong kalau aku minta Caroline sebagai pembimbing untukku," balas Jack lagi. Dia harus berjuang mendapatkan Caroline.


"Keputusan papa tidak bisa diganggu gugat, Jack. Caroline akan mendampingi Will kemanapun dia pergi." Tuan Darius kemudian duduk di kursi kebesarannya.


William tersenyum bahagia menatap mantan kekasihnya. Seakan ada secercah harapan untuk berdekatan lagi dengan gadis itu.


Caroline juga memiliki perasaan yang sama. Dia sangat bahagia mendengar keputusan Tuan Darius. Dia bisa berduaan dengan mantan kekasihnya dan memulai hubungan baru dengan pria itu.


"Bagaimana Carol? Apa kamu setuju?" tanya Tuan Darius.


"Iya, Tuan. Apapun pekerjaan yang Anda berikan akan saya jalankan dengan sebaik mungkin." Caroline tersenyum semringah pada atasannya.


Jack semakin dongkol pada William maupun Caroline. Dia bingung harus menggunakan cara apa untuk membuat mereka berpisah lagi.


"Carol, mumpung masih pagi, pergilah ke pantry dan buatkan kopi untuk kami bertiga." Tuan Darius selalu menyukai kopi buatan gadis itu.


"Baik, Tuan." Caroline keluar ruangan.

__ADS_1


Pantry masih sangat sepi di pagi hari. Beberapa karyawan akan masuk ke pantry jika sudah menunjukkan jam sepuluh. Itupun karena mereka bosan dengan pekerjaannya dan sekedar untuk mencari inspirasi agar pekerjaannya lekas selesai.


Caroline fokus menyiapkan tiga cangkir kopi. Dia merebus airnya sampai mendidih. Dia tidak menyangka jika William mengikutinya sampai kemari. Pria itu langsung memeluknya dari belakang membuat Caroline sangat terkejut.


"Will?" ucap Caroline. Pria itu selalu saja membuat perasaannya berbunga-bunga. Sesaat Caroline menikmatinya, tetapi dia lebih takut jika beberapa karyawan melihatnya sedang bermesraan dengan William. "Lepaskan!"


"Biarkan saja begini, Carol. Aku sangat merindukanmu," ucap William masih mengeratkan pelukannya.


"Will, karyawan papamu akan melihat kita," protes Caroline.


"Aku sudah mengunci pintunya. Jadi aman untuk kita berdua." William melepaskan pelukannya karena Caroline harus menuang air mendidih itu ke dalam cangkir. Wajahnya merah merona karena malu.


Caroline selesai menyeduh kopi. Dia berniat untuk lekas kembali ke ruangan Tuan Darius, namun dicegah oleh William.


"Tunggu sebentar, Carol. Aku masih merindukanmu." William maju ke hadapan Caroline. Pria itu mendorong Caroline hingga berakhir di tembok. William menciumnya untuk yang kedua kalinya. Kali ini, Caroline tidak memberontak. Bahkan dia sangat menikmatinya. Lumayan lama mereka melakukannya. Caroline secepatnya mendorong tubuh William.


"Will, cukup! Kamu merusak tatanan lipstikku," protesnya. Caroline bergegas mencari tisu di pantry untuk merapikan lipstiknya yang sedikit berantakan.


"Belilah lipstik yang mahal. Biar tidak belepotan seperti itu," goda William. Dia juga sedang membersihkan wajahnya agar terlihat segar kembali dan tidak tersisa bekas keromantisan mereka berdua.


Caroline segera membawa nampannya ke ruangan CEO. Dia tidak mau Tuan Darius curiga padanya.


Caroline hanya menanggapinya dengan senyuman. Dia tidak menolak setiap ciuman yang diberikan William. Ini yang kedua kalinya membuat Caroline juga merindukan hal yang sama setiap harinya.


Aku juga sama merindukannya, Will. Sentuhan bibirmu membuatku melayang. Aku semakin bersemangat lagi untuk bekerja di Austin Group.


Tok tok tok.


"Masuk!" jawab Tuan Darius.


Caroline membuka pintunya kemudian membawa nampannya kembali. Dia meletakkan tiga cangkir tersebut sesuai tempatnya. Satu di meja Tuan Darius, satu lagi di meja sebelahnya milik CEO tanggung dan satunya lagi di meja sofa.


Selesai meletakkan semuanya, Caroline pamit pada Tuan Darius untuk mengembalikan nampannya.


"Tuan, aku izin sebentar untuk mengembalikan nampan ini," ucapnya.

__ADS_1


"Silakan. Oh ya, kalau ketemu Will, tolong sampaikan suruh ke ruanganku sekarang. Aku ingin membahas proyek dengannya," ucap Tuan Darius.


Sementara Jack dengan tatapan playboy-nya menatap manik mata Caroline. Gadis ini paling anti dengan makhluk setengah aneh itu. Untung saja kakaknya tidak meniru gelagatnya. Bergegas dia keluar ruangan Tuan Darius menuju ke pantry.


Suasana pantry masih sepi. Caroline dikejutkan lagi oleh pelukan William yang mendadak itu. Pelukan dari belakang.


"Will, lepaskan! Tuan Darius mencarimu," ucapnya sembari membuka tangan William yang memeluknya itu.


"Untuk apa papa mencariku?" William melepaskan pelukan karena tangan Caroline yang membuatnya terlepas.


"Ada proyek yang ingin dibahas denganmu." Caroline mengambil air untuk membuat segelas kopi untuknya.


"Untuk apa membuat kopi lagi? Bukankah tadi sudah?" tanya William yang memperhatikan gerak-gerik mantan kekasihnya.


"Aku belum membuatnya untukku sendiri." Caroline hendak menuangkan kopi hitam ke cangkirnya namun dicegah William.


"Minumlah kopiku. Jangan terlalu sibuk di pantry. Ada pekerjaan yang harus kita selesaikan dengan papa," ajak William.


Pria itu menggenggam erat tangan Caroline dan membuat perasaannya semakin dalam untuk mencintai William. Pria yang lima tahun ini sangat dirindukannya.


"Will, apa kamu masih mencintaiku?" tanya Caroline. Dia wanita dewasa yang berhak tau perasaan lawan bicaranya kali ini.


William terdiam. Tidak bisa dipungkiri jika masih ada cinta yang paling dalam dihati William. Tetapi William bingung bagaimana harus mengatakannya. Dia takut Caroline akan semakin menjauhinya jika tau kebenaran tentangnya yang sudah beristri.


Gelora cinta yang dirasakan William sangat menggebu. Bahkan rasanya melebihi lima tahun yang lalu. Apalagi tingkat pertemuan mereka semakin sering.


"Iya, Carol. Aku masih sangat mencintaimu," ucap William. Dia bahkan melupakan Roseanne jika sedang bersama Caroline. Brengsek memang, tetapi kenyataan cinta dan perasaannya tidak bisa dibohongi pada gadis itu.


Setelah pengakuan cintanya, mereka segera kembali ke ruangan CEO dengan perasaan lega dan binar mata yang bahagia.


🍇🍇🍇🍇🍇TBC🍇🍇🍇🍇🍇


Kalau baca, tahan napas ya... Ada bagian-bagian yang mengejutkan 😁...


Sambil menunggu update selanjutnya, yuk kepoin karya teman emak tentang duda... Menggenggam Janji, Author Nittagiu

__ADS_1


Terima kasih... Luv yu all 😍😍😍😍



__ADS_2