
Hari yang telah ditentukan untuk pernikahan Caroline dan dokter Freddy. Hanya acara sederhana yang akan diselenggarakan di rumah Caroline. Prosesi pernikahan saja dan tidak ada resepsi.
Pagi itu, Caroline sudah ditemani Shirley. Gadis itu sengaja tidak masuk kerja dengan alasan untuk menjenguk keluarga yang sakit.
"Carol, apa kamu yakin dengan semua ini?" tanya Shirley.
Caroline sengaja mengepak kembali gaun pernikahan dan beberapa hadiah pemberian dokter Freddy selama ini. Dia juga mengembalikan cincin pemberian pria berumur itu. Caroline tidak yakin untuk melanjutkan pernikahannya. Dia akan menyakiti perasaan dokter Freddy setelah ini. Dia tidak siap untuk menikah dengan dokter itu.
"Aku yakin, Shirley," jawabnya. Dia hanya mengenakan gaun sederhana miliknya. Bukan untuk melanjutkan pernikahan melainkan untuk membatalkannya.
"Setelah ini, apakah kamu akan membuka hati untuk orang lain atau terus mengurung diri dengan cinta William?" tanya Shirley.
"Aku akan mengubur diri bersama cinta pria itu, Shirley. Aku tidak bisa menerima orang lain selain dirinya. Ini memang terasa tidak masuk akal, tetapi mau bagaimana lagi. Aku sudah terlanjur mencintainya. Walaupun sekarang dia sudah menikah, biarkan saja. Aku akan tetap mencintainya sampai kapanpun. Biarkan orang lain mengataiku bodoh, gila, dan bentuk ucapan lainnya yang menyudutkan aku. Kenyataannya memang seperti itu."
Shirley menghela nafas panjang. Caroline dengan dirinya tidak ada bedanya. Sama-sama mencintai pria keturunan Austin yang bentukannya seperti itu.
"Apapun keputusanmu, aku akan mendukungnya."
Masih berada di kamarnya sebelum Bibi Fidela memanggil.
"Non, dokter Freddy sudah datang," panggil Bibi Fidela.
Tansy dan Hoshi yang dipercaya untuk mendekorasi ruang tamu secara sederhana.
Ceklek!
Caroline keluar dan membuat Bibi Fidela terkejut.
"Loh, Non. Kok belum ganti gaun pengantinnya? Dokter Freddy sudah siap dengan tuxedo-nya. Dia terlihat gagah sekali," puji Bibi Fidela.
"Bi, minta tolong bawakan kotak yang ada di atas ranjang Nona Caroline, ya. Bawakan ke ruang tamu sekarang," pinta Shirley.
__ADS_1
Bibi Fidela sepertinya akan menyaksikan kejadian yang sangat tidak mengenakkan di ruang tamu majikannya kali ini.
Ada apa dengan Nona Caroline? Sepertinya dia tidak akan menikah dengan dokter Freddy. Ah, entahlah. Pilihan hidup memang sangat rumit sekali.
Bibi Fidela membawa kotak tersebut ke ruang tamu. Benar saja. Di sana, dokter Freddy menatap lekat wajah Caroline.
"Tolong jelaskan padaku. Ada apa dengan semua ini, Carol?" tanya dokter Freddy.
Caroline belum menjawab. Bibi Fidela masih membawa kotak tersebut ditangannya.
"Bi, berikan kotak itu pada dokter Freddy!" perintahnya.
"Letakkan di meja itu, Bi!" tunjuk dokter Freddy. "Aku butuh penjelasan darimu."
"Dokter, sebelumnya aku minta maaf. Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini karena suatu sebab," ucapnya.
"Apa karena kamu tidak pernah mencintaiku?"
"Maaf, dokter. Ini memang murni salahku. Aku terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Aku belum bisa mencintaimu, dokter. Kalaupun kupaksakan, aku pasti akan menyakitimu terlalu jauh." Beberapa kali Caroline berusaha menjelaskan alasannya, tetapi sepertinya dokter Freddy tidak mau menerima alasannya.
Semua orang yang berada di tempat itu tidak ada yang berani mengganggu pembicaraan dua orang ini. Mereka fokus mendengarkan saja.
"Berikan alasan yang logis kenapa mendadak seperti ini? Apa kamu sengaja ingin mempermalukan aku di depan semua orang ini?" protes dokter Freddy.
Sebenarnya tidak jadi menikah dengan Caroline pun tidak masalah. Lagi pula memaksakan kehendak pada gadis itu juga tidak baik. Itulah kenapa dokter Freddy menyetujuinya ketika Caroline mengutarakan pernikahan yang dilakukan secara tertutup. Dokter Freddy sudah mengantisipasi kejadian seperti ini.
"Maaf, dokter. Aku mencintai orang lain," ucapnya.
Dokter Freddy terdiam. Dia masih ingin membuat Caroline mengakui yang sebenarnya. Jika hanya mengatakan atas nama cinta pada orang lain, itu alasan klasik. Bukan berarti dokter Freddy ingin tahu masalah pribadi Caroline. Dia hanya ingin tahu bagaimana kelanjutan kehidupan gadis itu.
Dokter Freddy tidak akan memaksa jika Caroline ingin membatalkan pernikahannya. Walaupun dokter Freddy sudah menyukai gadis itu, tetapi keduanya tidak mempunyai tujuan yang sejalan. Lalu, untuk apa dipertahankan?
__ADS_1
"Baiklah. Aku bisa menerima kalau kamu mencintai orang lain. Apakah orang lain itu mencintaimu juga? Kalau memang iya, aku akan melepasmu dengan ikhlas. Tak jadi masalah untukku," jawab dokter Freddy.
Caroline terdiam. Tidak mungkin dia akan menceritakan kisah cintanya dengan William Austin. Sangat jelas jika pria itu sudah mempunyai istri. Mana mungkin dokter Freddy akan melepasnya begitu saja jika pria yang dicintainya adalah suami orang. Walaupun William masih mencintainya sampai detik ini. Kemungkinan untuk bersatu hanya angan dan sebuah mimpi pengantar tidur. Bangun pun kenyataannya dia sudah milik orang lain.
Lama gadis itu terdiam. Sampai akhirnya dia mau mengatakan walaupun itu banyak kebohongan di dalamnya.
"Maaf, Tuan. Aku memang mencintai orang itu. Dia juga mencintaiku. Kami sebenarnya ingin menikah, tetapi terhalang restu mamanya. Dia mengatakan padaku jika saat ini sedang berjuang untuk meyakinkan mamanya supaya bisa menerimaku kembali. Sekali lagi, aku minta maaf padamu, dokter," jelasnya. Walaupun itu kebohongan yang sengaja diciptakan oleh Caroline.
Maaf, Caroline. Aku memang tidak bisa memaksamu untuk menikah denganku. Kalaupun aku memaksa, kamu tidak akan seratus persen menjadi istriku seutuhnya. Aku menikah bukan untuk sekedar merasa terpaksa dengan pasangan kita, tetapi untuk melanjutkan keturunan. Untuk apa aku menikahi gadis yang hati dan pikirannya masih untuk orang lain. Dia pasti sangat tidak nyaman.
"Carol," panggil dokter Freddy.
Caroline baru berani menatap dokter yang sebenarnya sebentar lagi akan menjadi suaminya, tetapi diurungkannya pernikahan itu.
"Setelah kupikir ulang, memang sebaiknya pernikahan ini dibatalkan. Aku tahu, kamu pasti berat menjalani ini semua. Aku tidak akan memaksanya. Mengenai barang-barang yang sudah kuberikan padamu, simpan saja. Aku tidak akan keberatan," ucapnya.
"Dokter, tetapi--"
"Carol, sebaiknya ikuti saja apa kata dokter. Toh itu hanya barang-barang," sahut Shirley yang tidak tahan melihat mimik wajah rekan kerjanya yang sudah sembab itu.
"Temanmu benar, Carol. Simpan saja. Masalah cincin, tak masalah kamu simpan. Kalau kamu enggan menyimpannya, bisa kamu jual dan masukkan tabunganmu."
"Dokter tidak marah padaku? Aku telah mengecewakanmu, dokter. Aku minta maaf." Berulang kali Caroline ingin mendengar kata maaf dari dokter Freddy. Dia berharap setelah mendapatkan kata itu, kehidupan kedepannya akan semakin lancar tanpa bayang-bayang kesalahan telah mengecewakan orang sebaik dokter Freddy.
"Iya, Carol. Aku memaafkanmu," ucapnya dengan nada yang biasa saja.
"Terima kasih, dokter. Apakah setelah ini dokter akan membenciku?" tanya Caroline.
"Tidak, Carol. Aku akan menjadi orang yang selalu peduli pada kehidupanmu. Jangan sungkan untuk berbagi kesedihan padaku," ucap dokter Freddy.
Semua orang yang berada di ruangan itu merasa lega. Dokter Freddy bisa menerima penjelasan dan penolakan dari Caroline. Kegagalan pernikahannya bukan hanya sekali ini saja. Berulang kali dokter Freddy gagal menikah. Makanya, dia tidak pernah mempertemukan keluarganya dengan calon pengantin. Entah, siapa jodoh sebenarnya? Dokter Freddy tidak akan terkejut menghadapi kejadian yang sama dan berulang seperti ini dalam hidupnya.
__ADS_1