Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Bingung


__ADS_3

Kemarahan Tuan Darius pada William bukan tanpa alasan. Pekerjaannya di Austin Group semakin terhambat karena ketidakhadiran Caroline. Pria paruh baya itu memarahi putranya untuk yang kesekian kalinya.


"Lihat perbuatanmu! Austin Group sangat berantakan tanpa kehadiran Caroline. Kamu sudah menikah, harusnya kamu memikirkan apa yang akan terjadi pada gadis itu jika kamu terus mendekatinya. Kamu juga harus memikirkan istrimu. Wanita mana yang mau diduakan seperti itu? Kamu sudah tua, Will. Harusnya Papa tidak berkata kasar padamu, tetapi kamu sudah sangat keterlaluan kali ini."


Tuan Darius bebas memarahi putra sulungnya dikarenakan putra bungsunya itu mulai sering absen ke kantor. Entah alasan apalagi yang dibuatnya. Tuan Darius malas memikirkan putra bungsunya yang sangat sulit untuk diajak bekerja sama dalam memimpin perusahaan. Pikirannya tidak jauh dari kata wanita.


"Maafkan aku, Pa. Aku belum bisa melupakan gadis itu. Dia yang selalu ada dalam hidupku selama bertahun-tahun, Pa." William masih saja mengutarakan rasa cintanya pada Caroline di depan Papanya.


"Lupakan dia dan fokuslah pada istrimu! Jangan buat skandal di perusahaan Papa. Kalau kamu mau, harusnya kamu memilih salah satu. Melepaskan istrimu untuk Caroline atau melepaskan Caroline untuk mempertahankan istrimu. Jangan serakah!"


Ucapan Papanya benar. Dia harus memilih salah satu, tetapi bagaimana caranya menceraikan Roseanne? Dia belum punya bukti apapun tentang wanita itu.


Apa kucoba saja pulang seperti kapan hari? Apalagi sekarang Jack juga malas pergi ke perusahaan. Aku rasa memang sudah saatnya membuka skandal keduanya.


"Pa, kalau misalnya aku menceraikan Roseanne, apa Papa setuju?" tanya William.


Tuan Darius terdiam memandang putranya. Dari awal pertemuannya dengan menantunya itu terlihat tidak suka. Pria paruh baya itu tidak mau berkomentar apapun, toh itu menantu pilihan putranya.


"Itu terserah kamu, Will. Kamu yang berhak memutuskan kehidupanmu. Kalau kamu memang yakin dengan Caroline, lepaskan Roseanne."


William seperti mendapatkan angin segar. Papanya tidak melarang semua keputusannya. Dia tinggal meyakinkan diri untuk mendapatkan bukti yang diperlukan.


Tuan Darius berdiri dan mengambil jasnya yang barusan dilepas. Pria paruh baya itu harus pergi ke suatu tempat demi menyelesaikan masalahnya.


"Mau kemana, Pa?" tanya William.


"Menyelesaikan masalah, Will."


Tuan Darius bergegas ke mobilnya. Kali ini dia pergi tidak sendirian melainkan menggunakan sopir pribadinya, Dev.


"Dev, antarkan aku ke Perumahan KL, blok A, Nomor tujuh belas."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Dev adalah sopir baru yang berusia tiga puluh tahun. Sopir ini yang langsung mengurus keperluan Tuan Darius. Dia khusus melayani kemanapun pria paruh baya itu pergi.


Sepanjang perjalanan, Tuan Darius memikirkan cara yang tepat untuk menghadapi Caroline. Yang paling penting baginya adalah meminta maaf atas nama putranya karena gadis itu terlalu berharga untuk Austin Group.


Untuk pertama kalinya, aku juga akan bertemu dengan Veronica. Wanita itu pasti sangat menderita setelah ditinggal oleh Alex Ryder. Pria itu terlalu menuruti ambisinya. Untung saja Caroline tidak meniru kelakuannya. Gadis itu sangat pekerja keras. Aku tidak boleh jauh darinya agar bisa terus menjaga gadis itu. Walaupun Alex tidak pernah tahu bagaimana keadaan putrinya, beruntung William menemukan gadis itu dengan cepat. Kamu pasti sangat menyesal, Alex.


Darius dan Alex, Papanya Caroline bersahabat dekat. Sebelum menikah dengan Lavina, Darius pernah dekat dengan Veronica, Mamanya Caroline. Gadis itu sebenarnya yang mampu membuat Darius tergila-gila padanya. Sangat disayangkan, keluarga Darius telah menjodohkannya dengan Lavina. Mau tidak mau, Darius harus mengubur rasa cintanya pada Veronica. Hingga akhirnya Veronica dikenalkan dengan Alex, sahabat dekatnya. Pria itu setuju untuk menikahi Veronica yang hanya gadis biasa. Belum genap setahun pernikahan, Alex memutuskan untuk meninggalkannya tanpa pesan.


Tuan Darius terlalu lama memikirkan masa lalunya sehingga tidak menyadari jika mobil telah sampai di depan gerbang rumah yang dimaksud.


"Tuan, kita sudah sampai," ucap Dev.


"Tunggulah sebentar. Aku akan masuk ke dalam," pamitnya.


Tuan Darius menekan bel rumah itu. Beberapa kali, barulah pemilik rumah membukakan pintu gerbang kecil yang bisa dilewati untuk seorang saja.


"Boleh aku masuk? Aku ada urusan dengan putrimu."


"Masuklah! Apa Lavina tahu kedatanganmu kemari?" Veronica merasa tidak nyaman. Hubungan putrinya dengan wanita itu memang tidak baik sejak dulu.


"Tidak. Ini bukan urusan antara Lavina ataupun William. Ini murni urusanku dengan Caroline."


Tuan Darius berjalan dibelakang Veronica. Wanita paruh baya itu terlihat masih cantik diusianya yang tak lagi muda.


"Duduklah!" ucap Veronica ketika keduanya sampai ruang tamu.


"Kamu tidak memiliki pembantu?"


"Aku biasa bekerja sendiri, Darius. Aku panggilkan Caroline dulu."

__ADS_1


Tuan Darius merasa kasihan pada Veronica. Andai saja dia tidak terlambat untuk mengatakannya, mungkin sekarang sudah hidup bahagia bersamanya. Permainan takdir yang yang tidak bisa ditebak.


Caroline muncul di hadapannya. Dia merasa kesal pada William karena pria itu malah memanfaatkan Papanya untuk mendekatinya lagi.


"Carol, sebelumnya aku minta maaf atas nama putraku. Aku kesini bukan karena permintaannya. Ini murni keputusanku sendiri," ucap Tuan Darius.


"Maaf, Tuan. Saya tidak mau memperpanjang masalah itu. Lagipula, sekarang saya juga sudah resign dari perusahaan Anda." Caroline duduk berhadapan dengan Tuan Darius.


"Justru kedatanganku kemari untuk memintamu kembali bekerja di sana. Aku juga akan memastikan keadaanmu aman dari gangguan putraku." Tuan Darius tidak pernah main-main dengan ucapannya.


Caroline belum menjawab. Mamanya datang membawa nampan berisi dua gelas minuman kemudian disuguhkan langsung ke tamunya.


"Silakan, Tuan. Lanjutkan obrolannya." Veronica pamit ke belakang.


"Saya belum bisa memutuskan apapun, Tuan. Saya memang merasa nyaman bekerja di perusahaan Anda. Apalagi sikap Anda yang selalu royal terhadap saya dan keluarga membuat saya banyak berhutang budi pada Anda." Semua usaha Caroline memang atas campur tangan Tuan Darius.


"Aku tidak pernah memberikan hutang itu padamu, Carol. Kamu berhak mendapatkan kelayakan hidup. Itu semua atas kerja kerasmu."


Caroline terdiam. Pembicaraannya dengan Mamanya membuat dia berada di persimpangan. Dia sudah melamar di Augustine Group dan diterima, sekarang malah Tuan Darius sendiri yang datang kepadanya. Dia masih ragu tentang pilihannya.


"Maaf, Tuan. Berikan saya waktu satu minggu. Setelah itu, saya akan memutuskan untuk kembali ke perusahaan Tuan atau tidak." Caroline ingin meyakinkan dirinya terlebih dahulu.


"Kenapa selama Itu, Carol? Apa tidak bisa lebih cepat? Aku membutuhkanmu untuk menjalankan perusahaan." Tuan Darius memohon dengan amat sangat untuk dipertimbangkan lagi permintaannya.


Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar bingung.


"Kalau begitu, beri saya waktu tiga hari. Setelah itu, saya akan datang ke Austin Group dan memberikan keputusan. Bagaimana, Tuan?" balas Caroline.


Sebenarnya bagi Tuan Darius waktu selama tiga hari itu sangat melelahkan, tetapi mengingat ini karena kesalahan putranya, pria paruh baya itu harus mau mengalah sedikit saja.


🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒

__ADS_1


__ADS_2