
Caroline sudah merasa lega setelah izin sehari untuk tidak masuk bekerja. Dia sengaja menyempatkan waktu berkunjung ke makam mamanya.
Hari ini dia sudah kembali ke kantor. Orang yang paling bahagia dalam hal ini adalah Shirley. Gadis itu selalu menunggu kedatangan rekan kerjanya.
"Wah, aku sangat senang, Carol. Hari ini kamu masuk lagi. Duh, rasanya seperti lama tidak bertemu," ucapnya semringah.
"Hemm, sebenarnya apa yang kamu tunggu dariku?" selidik Caroline. "Apakah karena aku sering mentraktirmu?"
"Ck, kamu itu, Carol. Tentu saja aku menunggu dirimu. Mengenai traktiran itu bonus," balas Shirley.
"Ada gosip apa ketika aku tidak masuk bekerja?"
Caroline baru saja mendaratkan tubuhnya di kursinya. Sebelum itu, dia harus menjawab rentetan pertanyaan yang dilontarkan Shirley.
"Belum ada, Carol. Memangnya kamu mau membuat gosip baru untuk hari ini?" canda Shirley.
"Apa maksudmu, Shirley?"
Shirley bisa mengatakan hal itu karena sudah bertemu dengan Tuan William ketika dirinya baru turun dari taksi. Tuan William menanyakan perihal Caroline karena kemarin sekretaris Austin Group tidak masuk. Shirley tidak bisa memberikan jawaban pasti karena dia juga belum tahu apakah Caroline masuk atau tidak.
"Tuan Darius mencarimu," jawab Shirley. Dia berusaha mengalihkan pembicaraannya. Memang benar, setelah bertemu dengan William, Tuan Darius memberikan pesan kepadanya.
"Oh, kalau itu aku nanti akan menghadap padanya. Dia hanya meminta beberapa berkas untuk di kirim ke klien. Jangan lupa siapkan salinannya," balas Caroline.
"Siap, Nona sekretaris," canda Shirley.
Caroline selalu bisa tersenyum menghadapi tingkah konyol Shirley. Hiburan saat jenuh dengan pekerjaan juga canda gadis itu. Sambil menunggu berkas yang disiapkan Shirley, Caroline membaca beberapa berkas yang telah siap di mejanya. Sebenarnya tidak penting juga harus dibaca ulang karena itu hanya tugas tuan Darius. Setelah itu, kalau Tuan Darius tidak cocok pasti langsung meminta revisi.
"Bagaimana, Shirley? Apa sudah selesai? Aku tidak akan menghadap Tuan Darius dengan tangan kosong. Pasti pria paruh baya itu akan memintaku kembali dan membawa berkas itu lagi."
"Sabar, Nyonya Austin. Sebentar lagi selesai," canda Shirley.
"Ish, kamu ngomong apa barusan? Mana bisa begitu? Jangan buat gosip yang belum pasti seperti itu. Nanti kamu malah ditertawakan oleh orang-orang, loh," tegur Caroline.
"Iya, iya, aku hanya bercanda. Ini ada lima berkas yang dimintanya." Shirley menyerahkan berkas tersebut.
Caroline segera membawanya menghadap Tuan Darius.
"Terima kasih, Shirley. Aku ke ruangan Tuan Darius, ya," pamitnya.
"Silakan."
__ADS_1
Berbekal berkas, Caroline melangkah menuju ruangan CEO. Sampai di depan pintu, gadis itu mengetuknya.
Tok tok tok.
"Masuk!" jawab Tuan Darius.
Ceklek!
"Carol, kamu sudah masuk?" tanya Tuan Darius.
"Iya, Tuan." Perasaan Caroline bergetar hebat. Bukan karena ragu untuk menghadapi Tuan Darius, tetapi karena di ruangan itu ada William juga.
"Duduklah!" perintah Tuan Darius.
Caroline duduk dan langsung menyerahkan berkas yang diminta Tuan Darius. Pria itu langsung mengambil dan membacanya.
"Berkas ini secara keseluruhan sudah bagus. Hanya beberapa yang harus direvisi sebelum aku tanda tangani. Aku sudah memberikan tanda di mana saja harus revisi. Nanti saja kamu serahkan kepada Shirley. Oh ya, Carol. Tidak mengurangi rasa hormatku terhadapmu, aku meminta tolong untuk berbicara dengan William. Ada hal yang ingin disampaikannya. Jangan kamu pikir ini adalah paksaan dariku, aku hanya mengharap kerelaanmu untuk meluangkan waktu berbicara dengannya. Bagaimana, Carol?"
"Iya, Tuan. Aku akan berbicara padanya," jawabnya.
William yang mendengarnya merasa sangat lega. Rasanya ingin secepatnya menikahi gadis itu.
"Kemarilah!" perintah William.
Caroline berdiri dan mendekati William. Sebenarnya dia ingin langsung duduk, tetapi etikanya ketika belum dipersilakan, dia tidak akan duduk.
"Hemm, duduklah. Aku akan berbicara banyak hal padamu," ucap William.
Pria itu memandangi Caroline dari atas rambut sampai ujung kaki. Gadis yang dicintainya itu semakin hari semakin cantik.
"Aku belum mendapatkan restu dari mama," ucapnya.
Deg!
Sudah diduga. Pasti akan sangat sulit untuk membujuk wanita itu. Kebenciannya yang tak mendasar membuat Caroline semakin bingung.
"Sebenarnya apa yang membuat mamamu tidak pernah bisa menerimaku? Apa karena aku tidak selevel denganmu? Kalau memang alasannya masih masuk akal, aku akan mempertimbangkan untuk mundur, Will," ucapnya.
William menduga hal yang sama. Baik dirinya maupun Caroline sama-sama tidak mengetahui tentang masa lalu mereka yang ternyata saling terhubung.
"Itu tidak akan terjadi, Carol. Aku ataupun kamu, jangan pernah mundur lagi. Mamaku mempunyai masa lalu yang buruk dengan mamamu."
__ADS_1
Deg!
Bahkan Caroline tidak mengetahuinya sama sekali. Kalau soal Tuan Darius dan mamanya, yang Caroline tahu karena mamanya sengaja menitipkannya. Mendiang mamanya berharap kelak papa Caroline akan datang dan menemuinya melalui Tuan Darius.
"Apa maksudnya? Mama tidak pernah bercerita sama sekali," ucap Caroline sedih.
William kemudian menceritakan semua kejadian masa lalu kedua orang tuanya dan juga mamanya Caroline. Gadis itu terus mendengarkan sampai selesai.
Caroline menutup mulutnya. Dia tidak percaya jika sebelum dirinya, mamanya juga terhubung dengan keluarga Austin.
"Apakah kamu mau memaafkan mamaku?" tanya William.
Tak ada alasan lagi untuk tidak memaafkan wanita itu. Toh kejadian sebenarnya hanya hubungan Tuan Darius ingin membuat mamanya bahagia melalui orang lain, tetapi secara langsung telah menyakiti perasaan tante Lavina.
"Aku sudah memaafkan mamamu, tetapi mungkin mamaku juga sudah memaafkannya sejak dahulu. Mengenai Tuan Darius, sependek pengetahuanku, mama tidak pernah mengejarnya ataupun berharap ingin memilikinya. Dia bahkan rela menikah dengan papaku, tetapi mungkin ada suatu masalah sehingga membuat papaku meninggalkannya. Kalau soal ini, mungkin tidak ada lagi hubungannya dengan mamamu," balas Caroline.
Kalau menilik kesalahan yang dibuat Lavina, seharusnya Caroline tidak mudah memaafkannya. Namun, melihat William yang sudah berusaha menjelaskan duduk perkaranya di masa lalu membuat Caroline tidak tega. Intinya hanya kesalahan Tuan Darius, tetapi merembet pada mamanya.
"Terima kasih, Carol. Kamu memang gadis yang perlu aku perjuangkan dengan baik. Kamu masih menungguku, kan?"
Caroline mengangguk. Memang kenyataannya seperti itu.
William benar-benar lega. Usul papanya dijalankan dengan baik. Karena kesalahan orang tuanya, anak menanggung beban berkepanjangan. Andai saja Tuan Darius memperlakukan Lavina dengan baik sejak awal, mungkin tidak akan terjadi seperti sekarang ini.
William mendekati Caroline. Dia memegang kedua tangan gadis itu dan berusaha menyalurkan semangat untuknya.
"Aku masih berjuang mendapatkan restu mama. Aku harap kamu mau bersabar sedikit lagi. Tidak apa-apa, kan?"
Caroline tidak bisa membantah ucapan William. Bagaimana cintanya gadis itu padanya, tetap Caroline harus menunggu restu dari mamanya William. Caroline juga tidak akan merasa bisa hidup tentram apabila belum mendapatkan restu dari wanita itu.
...💟💟💟...
Hai kakak readers, pagi ini Emak mau rekomendasikan karya bestie Emak. Cus kepoin. Walaupun kita berada di tempat yang berbeda, tetapi masih di bumi yang sama.
Jangan lupa kasih bintang, masukkan favorit, baca dulu, terus tinggalkan like dan komentarnya...
Mendadak Menjadi Babysitter Anak Sang Duda by Author SyaSyi
Terima kasih. Salam sayang selalu untuk Emak Author pada kalian semuanya 💟💟💟
__ADS_1