
Setelah mengantarkan Bibi Fidela dan Tansy ke kamar tamu untuk beristirahat, Caroline menunjukkan kamar Hoshi. Penjaga itu akan beristirahat sejenak sebelum menjalankan tugasnya.
Kini, hanya ada dokter Freddy dan Caroline di ruang tamu. Mungkin ini saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya kepada Caroline. Pria itu bukan sekedar mengungkapkan, tetapi ingin memberikan komitmen yang jelas pada gadis itu.
"Carol, ada yang ingin dibicarakan denganmu. Apakah kamu ada waktu?" tanya dokter Freddy.
"Silakan, dokter. Sebelum dokter berbicara, izinkan aku mengucapkan rasa terima kasih karena telah mendapatkan pelayan dan penjaga dalam waktu yang sangat cepat. Aku merasa tidak kesepian lagi, dokter."
"Sama-sama, Carol. Bisa langsung mulai pembicaraannya?" tanya dokter Freddy.
"Silakan, dokter."
Dokter Freddy mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal yang sangat penting ini.
"Carol, kita sudah kenal sangat lama sekali. Kamu juga sudah tahu tentang kehidupanku dan aku juga paham betul siapa dirimu. Aku sebenarnya ragu untuk mengatakan ini, tetapi aku tidak mungkin kuat untuk memendamnya terlalu lama. Aku sudah menyukaimu sejak lama. Maukah kamu menjadi istriku?" Dokter Freddy bukan remaja lagi yang harus bermain-main soal urusan cinta ataupun perasaan apalah itu. Yang pasti, dia mengatakan ini untuk membuat Caroline menyadari masih ada pria yang ingin membangun komitmen bersamanya. Pria yang datang dengan cinta dan kasih sayang yang dipendam sudah sangat lama itu.
Deg!
Rasanya detak jantung Caroline berhenti. Dia tidak menyangka, seorang pria yang sudah dianggap seperti kakaknya itu kini telah mengungkapkan perasaannya. Tidak tanggung-tanggung, pria itu langsung memintanya menjadi istrinya.
Caroline merasa ragu untuk menerima pria itu, tetapi menunggu William adalah hal yang sangat mustahil. Pria itu sudah beristri dan Caroline harus melepaskannya.
"Dokter, apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Caroline.
"Tidak, Carol. Semakin lama, aku tidak sanggup memendam perasaan ini kepadamu. Apakah kamu mempunyai seorang kekasih?" Harapan dokter Freddy sangat besar kepadanya.
Caroline menggeleng. Memang untuk saat ini dia sebagai gadis yang bebas tidak memiliki hubungan dengan siapapun.
"Kalau begitu izinkan aku, dokter Freddy Edmund untuk meminangmu menjadi calon istriku," jelas dokter Freddy.
Caroline merasa terharu, tetapi perasaannya menjadi ragu. Menerima pinangan dokter Freddy sama saja harus mengubur dalam masa lalunya dengan William. Cinta pertama Caroline itu sangat kuat. Walaupun untuk saat ini Caroline sudah disakiti pria itu secara berulang, namanya masih bersemayam di hatinya. Tidak untuk saat ini, mungkin kelak dia bisa bersatu lagi dengan William.
"Dokter, beri aku waktu untuk menjawab semua ini. Jujur, aku tidak memiliki rasa cinta sedikitpun kepadamu. Aku takut untuk menyakiti ketulusanmu, dokter." Caroline akan menjadi orang yang sangat bersalah bila tidak jujur pada dokter Freddy sejak awal.
"Baiklah. Aku siap menunggunya. Jangan terlalu lama. Kamu tahu sendiri, kan. Aku sudah tidak muda lagi." Dokter Freddy sekedar mengingatkan.
__ADS_1
"Iya, dokter. Aku akan meyakinkan diriku terlebih dahulu untuk menjawab permintaanmu itu," ucapnya.
"Terima kasih, Carol."
Dokter Freddy jauh lebih tenang. Dia berharap secepatnya menikah dengan Caroline dan membangun rumah tangga bahagia dengannya.
Caroline sendiri ragu. Dia akan membuat dokter Freddy sebagai pelariannya. Dia akan menyakiti pria itu. Malaikat yang sudah menjaganya sejak lama. Caroline merasa bingung. Antara cintanya kepada William atau komitmen nyata yang ditawarkan dokter Freddy?
...***...
Mansion Austin terlihat sangat sepi. Tuan Darius baru saja pulang. Dia tidak melihat istri maupun anak-anaknya.
"William di mana?" tanya Tuan Darius pada pelayan yang kebetulan lewat.
"Sepertinya masih berada di kamar, Tuan. Kalau Nyonya Lavina belum pulang," jawabnya.
"Panggilkan William. Suruh dia ke ruang kerjaku," perintah Tuan Darius.
"Baik, Tuan."
William nampaknya sudah menunggu Papanya di depan pintu ruang kerjanya. Ruangan CCTV dan ruang kerja Papanya terpisah. Dia tidak bisa keluar masuk dengan bebas di ruang kerja Papanya. Kalau untuk ruang CCTV, dia masih mempunyai akses masuk.
"Pa, aku menunggumu," ucapnya ketika melihat Papanya baru muncul.
"Papa ke kamar dulu. Rasanya gerah kalau belum ganti baju," jawabnya.
Tuan Darius segera membuka pintunya dan meminta William untuk segera masuk.
"Ada apa Papa memanggilku?" tanya William yang langsung duduk di hadapan Papanya.
"Caroline sudah memutuskan untuk kembali bekerja. Mulai besok dia sudah masuk," ucapnya.
William sangat bahagia mendengarnya. Dia adalah orang pertama yang antusias untuk bertemu dengan Caroline.
"Kamu jangan keburu senang dulu. Papa tidak mau kamu ikut campur ataupun mendekatinya lagi. Dia meminta Papa untuk melarangmu mendekatinya. Kalau kamu melanggar, dia akan benar-benar pergi dari Austin Group," ancam Tuan Darius.
__ADS_1
Deg!
Inikah akhir dari hubungannya dengan Caroline? Disaat baru memulai untuk menyelesaikan masalahnya dengan Roseanne, gadis itu tidak mengizinkan untuk mendekatinya.
"Pa, aku punya berita penting untukmu. Aku tidak tahu apakah Papa akan mendukungku atau tidak."
Tuan Darius nampaknya penasaran dengan apa yang akan disampaikan padanya.
"Katakan!" perintahnya.
"Jack telah membuat skandal dengan istriku. Apakah Papa mengizinkanku untuk menceraikannya?"
Deg!
Tuan Darius sangat terkejut mendengar kabar ini. Dia tidak menyangka putra bungsunya berani berbuat kotor di dalam Mansionnya.
"Apa kamu yakin?"
William hanya bisa mengangguk.
Dasar anak tidak tahu diri. Kalau sampai publik tahu mengenai skandalnya, itu akan membuat Austin Group ditertawakan oleh Augustine Group. Pikiran anak itu selalu saja tentang wanita dan ranjang panasnya. Aku tidak menyangka pada kelakuannya itu. Entah menurun dari siapa?
Tuan Darius memiliki dua putra yang sangat bertolak belakang. Terkadang, William sama susahnya untuk diatur. Namun, sikap William masih bisa ditoleransi. Mengenai pernikahannya dengan Roseanne, Tuan Darius tidak mau ikut campur. Baginya, William sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Tuan Darius.
"Menceraikan Roseanne dan kembali lagi pada Caroline, Pa," ucapnya.
"Jangan ngaco, kamu! Setelah menceraikan Roseanne, jangan terburu-buru untuk mendekatinya. Kamu pikir akan baik hasilnya? Caroline akan disebut sebagai pelakor atas keretakan rumah tangga kalian. Jangan asal main kejar saja. Pikirkan akibat yang akan ditimbulkan terhadap gadis itu. Jangan kamu tambah lagi beban hidupnya. Ingat itu!"
William terdiam. Sepertinya untuk mengejar Caroline kembali harus mengumpulkan tenaga yang sangat besar. Dia tidak boleh terburu-buru, tetapi bagaimana kalau ada orang lain yang mendahuluinya?
Ingatan William kembali pada dokter Freddy. Pria yang hubungannya terlihat sangat dekat sekali dengan Caroline. Dia berharap tidak akan ada drama persaingan untuk mendapatkan gadis itu. William semakin pusing. Drama perceraiannya dengan Roseanne yang belum dimulai itu akan menjadi babak panjang dalam kehidupannya.
🍋🍋🍋🍋🍋🍋🍋🍋🍋🍋🍋🍋🍋🍋
__ADS_1