Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Adu Mulut


__ADS_3

Caroline kembali ke ruangannya dan disambut oleh Shirley. Gadis itu merasa cemas melihat wajah Caroline yang semakin ditekuk.


"Aku tidak yakin mampu bertahan di tempat ini, Shirley," ucapnya lesu. Dia duduk di tempatnya.


Shirley mendekati dan menanyakan kejadian yang sebenarnya.


"Apa ada kejadian aneh di dalam sana?"


"Tidak ada, hanya saja kedua putranya sama-sama aneh." Caroline memijit pelipisnya.


"Maksudmu?" tanya Shirley yang masih belum paham ucapan Caroline.


"Kedua putra Tuan Darius sangat menyebalkan."


"Hemm, cakep tapi menyebalkan. Sebaiknya kamu pergi ke pantry dan buatlah cappuccino dan hirup dalam-dalam sebelum di minum. Aku biasanya seperti itu biar cepat rileks."


Well, tak ada salahnya mengikuti ucapan Shirley.


Caroline bergegas pergi ke pantry mumpung masih sepi. Biasanya sebentar lagi akan banyak yang datang ke sana setelah melepas penat, walaupun Tuan Darius hanya memberikan waktu selama lima belas menit. Itu sudah lebih dari cukup.


Masuk ke pantry, Caroline melihat suasana benar-benar sepi.


"Rasanya lega bisa terbebas dari mereka," ucap Caroline sembari memasukkan bubuk cappuccino ke dalam cangkirnya.


"Kata siapa kamu bebas?" Suara bariton itu membuat Caroline terkejut.


William berada di tempat yang sama dan dalam waktu yang bersamaan. Sebelumnya, William hendak memanggil Caroline ke ruangan papanya karena semua berkas yang hendak dibawa telah selesai diperiksa, tetapi Shirley mengatakan jika Caroline baru saja ke pantry dan kemungkinan akan kembali dalam waktu lima belas menit lagi.


Kesempatan bagi William untuk menemui gadis itu. Tak sulit menjadi penguasa pantry. Tinggal menguncinya dari dalam maka semuanya aman.


"Apa yang kamu lakukan, Will?" ucap Caroline sembari menuangkan air panas ke cangkirnya.


"Aku hanya ingin bertemu denganmu. Apa kamu keberatan?" tanya William.


"Pergilah! Jangan ganggu aku!" Caroline sengaja tidak menggubris pria itu. Dia fokus dengan cappuccino yang harumnya mulai menyeruak memenuhi pantry.

__ADS_1


"Wow, kamu menyukai cappuccino juga? Ini luar biasa. Kita selalu menyukai hal yang sama." William mendekati Caroline. Gadis itu mundur satu langkah sampai posisinya berada di dekat kompor.


"Will, kamu salah paham. Aku hanya mengambilkan cappuccino ini untuk Shirley. Maaf, sepertinya aku harus kembali. Aku takut isi cangkir ini berubah menjadi dingin," ucapnya.


William sengaja melepaskan Caroline karena dia tau sebentar lagi gadis itu akan memanggil namanya.


Caroline hendak keluar, tetapi pintu pantry terkunci. Pelakunya sudah jelas William yang membawa kuncinya.


"Will, kamu mau buka pintu ini atau aku teriak?" Caroline tidak bisa terus bersama pria itu. Hatinya berusaha memberontak, tetapi Caroline takut jika William mendekatinya karena hati dan raganya tidak sejalan.


"Aku akan membuka pintu itu dengan sebuah syarat." William yakin perasaannya pada gadis itu tidak pernah salah. Pernikahannya dengan Roseanne-lah yang salah dan menjadi penghalang hubungannya dengan Caroline.


"Aku tidak peduli. Dengan atau tanpa syarat yang kamu ajukan, aku akan tetap keluar dengan caraku!" Caroline tidak bisa terus berdekatan dengan pria itu. Jantungnya tidak sejalan dengan perasaannya. Dia ingin move on, tetapi jantungnya selalu berdetak lebih cepat jika bersama William.


"Lihat, kunci ada ditanganku!" William memamerkan kunci yang dibawanya.


"Will, berikan kunci itu padaku! Aku khawatir jika Tuan Darius akan mencariku dan menemukan kita di sini." Caroline sengaja menakuti William agar melepaskan dirinya.


"Tidak, sebelum kamu menjawab semua pertanyaanku."


"Pertanyaan macam apa Tuan William yang terhormat?"


Caroline kesal. Niatnya untuk menikmati cappuccino hangat malah berujung ribut dengan William.


"Apakah benar jika Jack telah tidur denganmu? Dia menikmati setiap inci tubuhmu?" tanya William.


Caroline merasa terhina atas pertanyaan William barusan.


"Apa kamu pikir aku wanita murahan, Tuan? Kamu percaya padanya sehingga menanyakan pertanyaan yang tak perlu ada jawabannya itu."


"Ck, kamu menutupinya dariku. Tinggal jawab iya atau tidak, apa susahnya." William menanti kepastian dari mulut Caroline.


Kamu pikir aku wanita seperti itu, William. Baiklah, setidaknya kamu akan mendapatkan jawabannya.


"Iya, aku pernah tidur dengan Jack. Apa kamu puas, Tuan William? Sekarang sudah kujawab, tolong buka pintunya!" Caroline malas berdebat dengan pria itu.

__ADS_1


Deg!


Kekasih atau mantan kekasihnya yang selama ini selalu dijaga dan dirindukan ternyata telah tidur dengan adiknya sendiri. William seperti mendapatkan pukulan yang langsung mengenai jantungnya. Ucapan Jack ternyata benar.


"Kamu begitu murahan sekarang, Carol. Apa kurang puas aku membiayai kuliahmu? Hanya untuk menjaga diri saja tidak becus." William marah. Dia ingin suatu hari nanti menjadi orang pertama yang tidur dengannya. Sekarang harapan itu pupus sudah.


"Lebih baik aku menjadi wanita murahan daripada harus melanggar janji yang sudah dibuat." Caroline tidak mau mengalah. Dia terus menyerang William dengan ucapannya. William melanggar janjinya dengan menikahi orang lain.


"Aku merasa tidak pernah melanggar janji. Sekarang aku ingin menepatinya," ucapan William membuat Caroline semakin kesal.


"Jangan jadi pembohong, Tuan William. Status Anda sangat jelas sudah beristri dan masih ingin mendekati kekasih adiknya. Oh astaga, jangan serakah Tuan!"


Kekasih adiknya? Satu ucapan yang lolos begitu saja dari mulut Caroline. Niatnya hanya untuk membuat William berhenti mengejarnya malah menimbulkan masalah baru.


"Sejak kapan kamu menjalin hubungan dengan adikku?" William sudah tidak bisa menahan amarahnya. Dia berhak tau semuanya tentang Caroline karena dia yakin jika gadis itu berbohong padanya. Jack itu bukan tipe pria yang diinginkan Caroline.


"Apakah itu penting untuk Anda, Tuan? Sekarang tolong buka pintunya. Ini hampir lima belas menit dan Tuan Darius akan memberikan surat teguran untukku. Itu artinya, tinggal mengumpulkan beberapa surat teguran lagi dan aku akan terbebas dari Austin Group." Caroline sedang mengusahakan cara agar terbebas dari jeratan William.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Carol!" William berjalan menuju pintu kemudian membukanya.


"Terima kasih, Tuan William." Caroline melenggang pergi begitu saja tanpa mempedulikan lagi orang yang masih berada di dalam.


William mengusap kasar wajahnya. Dia masih tidak percaya dengan ucapan Caroline. Gadis itu pasti berbohong padanya. Dia selalu menjaga dengan baik dirinya.


Kamu pasti berbohong, Carol. Kamu tidak berani menatap mataku.


William bergegas kembali ke ruangan papanya untuk berbicara dengan Jack. Dia ingin memastikan jika Jack juga berbohong padanya.


Terlambat, sesampainya di sana ternyata papanya sudah berada di dalam ruangan bersama Jack dan Caroline. Gadis itu seakan enggan menatap matanya.


"Darimana saja kamu?" tanya papanya.


"Berkeliling, pa. Aku ingin mencari udara segar setelah berkutat dengan beberapa pekerjaan penting." William langsung bergabung dengan mereka.


Papanya menjelaskan bagaimana proyek itu akan berlangsung. William dan Caroline hanya akan datang selama tiga hari untuk melihat langsung proses yang sedang berjalan yaitu pembangunan villa di puncak.

__ADS_1


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“BersambungπŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


__ADS_2