
"Baiklah, Lewis. Hanya saat berdua saja. Usiaku juga tak lagi muda, tetapi semangatku tetap bergelora. Terima kasih sudah menerimaku bekerja dan aku tidak akan pernah mengecewakan Anda, Tuan," ucap Caroline.
"Panggil saja Lewis. Kita sedang berdua saja, Carol," ucapnya mengingatkan.
Caroline merasa malu diperhatikan seperti ini, tetapi masih ada yang mengganjal dipikirannya. Dia ingin menanyakan perihal kemiripan wajahnya dengan William, tetapi diurungkannya. Mungkin hanya kebetulan mirip.
"Lewis, sebaiknya aku pulang saja. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu. Rasanya sangat tidak etis kalau menunggumu bekerja seperti ini." Caroline lama-lama merasa risih juga jika berdua saja dengan atasanya. Tidak menutup kemungkinan, Lewis akan melakukan hal yang sama seperti William padanya.
"Hemm, jangan khawatir. Aku tidak merasa terganggu, Carol. Malah aku bisa sharing masalah pekerjaan denganmu."
Ini merupakan kesempatan Lewis untuk mengenal gadis itu lebih dalam. Niatnya untuk mempekerjakan di perusahaan karena penasaran pada gadis itu.
Caroline tidak bisa menolaknya. Mungkin ini saatnya dia membuka hati, apalagi mendengar Lewis belum menikah. Usianya juga sudah sangat matang untuk ukuran pria sepertinya.
"Lewis, boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?" Caroline berusaha menggali informasi tentangnya.
"Tanyakan saja apa yang ingin kamu ketahui? Jangan sungkan, bukankah kita berteman?" balas Lewis. Dia sedang membalas email dari relasi bisnisnya.
Kalau aku menanyakan alasannya kenapa belum menikah, kira-kira akan menyinggung perasaannya atau tidak, ya? Bukan maksudku terlalu ikut campur lebih jauh, mungkin dari sini aku bisa melupakan William dengan cepat. Ya, walaupun aku hanya menjadikan Lewis sebagai pelarian saja. Maafkan aku, Lewis. Kenapa cinta pria brengsek itu terlalu kuat dalam diriku?
"Hei, malah melamun. Tanyakan saja."
Caroline tersenyum dan berusaha meyakinkan dirinya agar pertanyaan ini tidak salah di mata Lewis.
"Lewis, sebelumnya aku minta maaf jika pertanyaanku ini akan membuatmu sedikit tersinggung. Aku hanya sekedar ingin tahu, kenapa sampai saat ini kamu belum menikah?" Caroline merasa tidak nyaman setelah menanyakannya.
Lewis yang melihat perubahan wajah gadis itu merasa ada gelenyar aneh yang dirasakan. Ini pertama kalinya ada seorang gadis yang peduli pada kehidupannya. Selama ini dia terlalu fokus untuk bekerja dan terus bekerja. Keluarganya tidak peduli padanya. Yang mereka butuhkan hanya uang dari Lewis.
"Tidak ada yang mau denganku dan aku terlalu sibuk bekerja."
Caroline terperanjat mendengar jawaban Lewis yang agak aneh. Mana mungkin seorang CEO tampan seperti Lewis tidak banyak yang menyukainya?
"Aku tidak percaya, Lewis."
Lewis menghentikan aktivitasnya. Dia sebenarnya enggan untuk membahas masalah ini, tetapi Caroline terlanjur penasaran pada dirinya.
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Kamu akan tahu seberapa besar dunia luar mengenalku." Tidak banyak yang tahu mengenai Lewis, karena setiap ada pekerjaan penting, pria itu lebih memilih orang kepercayaan yang berangkat. Dia hanya bekerja dibelakang layar.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan menemanimu makan siang," ucapnya.
Sesuai kesepakatan, Lewis dan Caroline akan makan siang berdua. Lewis yang menentukan tempatnya. Dia lebih memilih restoran besar yang tidak jauh dari kantornya. Tempatnya lumayan ramai apalagi jam makan siang. Selain makanannya yang enak, penyajiannya juga cepat. Tak perlu menunggu terlalu lama di sana.
Lewis sengaja mengajak Caroline untuk berjalan. Hanya melewati beberapa gedung perkantoran dan itu tidak terlalu jauh.
"Strategis yah," ucap Caroline.
"Apanya?" tanya Lewis.
Keduanya berjalan sambil menikmati hawa siang yang sangat panas itu.
"Kantor dan restorannya. Rasanya aku akan betah berada di sini," Ucap Caroline dengan senyuman semringah.
Tak lama, keduanya sudah sampai. Mereka memilih meja tepat di tengah ruangan karena diberbagai sudut sudah penuh. Lewis memanggil pelayan untuk memesan beberapa makanan. Caroline mengikuti saja apa yang dipesan oleh Lewis.
Selesai urusan Lewis dengan pelayan, sekarang urusannya dengan Caroline.
"Lihat, banyak wanita ataupun gadis disini. Mereka banyak yang tidak mengenalku," ucapnya.
"Hemm, baiklah. Aku percaya padamu, Tuan Lewis," canda Caroline.
"Maaf, kalau jalan tolong lebih hati-hati," tegurnya.
Wanita itu merasa kenal dengan orang yang menegurnya.
"Wah, rupanya benar ya. Kamu memang seorang pelakor!" ucap wanita itu dengan lantangnya membuat semua orang disekeliling mereka memandang ke arahnya.
Deg!
Rupanya wanita itu adalah istrinya William.
"Maaf, sepertinya ada salah orang, Nyonya! Tolong jaga sikap Anda." Kini giliran Lewis yang menegur wanita itu.
"Saya tidak mungkin salah, Tuan. Hati-hati jika bersama wanita ini. Dia itu ular berkepala dua. Dia sudah menggoda suami saya," tuduhnya.
Caroline tidak merasa pernah menggoda William. Pria itu yang terus saja mengejarnya. Andaikan Caroline tahu jika William sudah beristri, dia tidak akan mau didekatinya.
__ADS_1
"Cukup, Nyonya! Dia ini istri saya," balas Lewis. Dia tidak suka Caroline direndahkan seperti itu.
"Baguslah kalau sudah bersuami. Awas, jangan sampai menggoda suami orang lagi!" balas Roseanne. Wanita itu kemudian pergi meninggalkan eks sekretaris mertuanya dan pria yang tidak dikenalnya itu.
Setelah kepergian wanita itu, banyak pasang mata yang memandang rendah Caroline. Gadis itu merasa tidak nyaman berada di restoran tempatnya berada.
"Lewis, sebaiknya kita kembali ke kantor," ajaknya.
"Kita kan belum makan. Lihat, makanannya baru saja diantar." Tepat setelah kepergian wanita itu, pelayan mengantarkan pesanannya.
"Aku tidak berselera lagi, Lewis. Wanita itu keterlaluan," ucapnya.
"Baiklah. Biar aku minta mereka untuk membungkusnya saja," ucap Lewis memberikan solusi.
Setelah semuanya selesai, keduanya kembali ke ruangan Lewis. Walaupun sebelumnya mereka sempat mendengar ucapan yang sangat tidak nyaman yang menuduh Caroline adalah seorang pelakor.
"Siapa sebenarnya wanita itu?" tanya Lewis. Dia baru saja duduk di kursinya.
"Istrinya William Austin."
Deg!
Lewis sebagai sepupunya tidak mengetahui perihal pernikahan William.
"Lalu, apa hubungannya denganmu?" Rasa penasaran Lewis semakin tinggi pada gadis itu. Sepertinya Caroline mempunyai hubungan khusus dengan William.
"Aku mantan kekasihnya, tetapi istrinya telah salah paham padaku," balas Caroline sendu.
Astaga! Jadi, Caroline adalah mantan kekasih William.
"Sudahlah, lupakan saja wanita itu. Kalau kamu memang tidak merasa menjadi orang ketiga dalam hubungan pernikahan mereka, kenapa kamu harus khawatir?"
"Bukan begitu, Lewis. Lihat saja tingkahnya yang sengaja mempermalukan aku di depan umum." Caroline yang awalnya duduk di depan Lewis kemudian berdiri dan pindah ke sofa.
William, rasanya aku bisa menyakitimu melalui Caroline. Gadis ini pasti sangat kamu cintai. Lihat saja, kakek selalu memberikan tempat terbaik dan kepercayaan kepadamu. Aku selalu menjadi orang kedua setelahmu. Sekarang, aku memegang kendali atas dirimu melalui Caroline. Kamu adalah dewi keberuntungan untukku.
"Sudahlah. Jangan khawatir. Lagipula aku sudah membelamu," balas Lewis.
__ADS_1
Keberuntungan seperti berada di pihaknya. Dia mendapatkan eks sekretaris keluarga Austin yang ternyata juga mantan William. Rasanya untuk bermain-main dengan keluarga Austin bisa terwujud dengan baik.
🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓