
[Tuan, maafkan semua kesalahan Mama. Izinkanlah dia beristirahat dengan tenang.]
Caroline hanya bisa mengirimkan pesan seperti itu pada Tuan Darius. Pria itu akan sama syoknya dengan dirinya.
Tuan Darius yang baru saja sampai di Mansion dan belum sempat mengecek ponselnya. Dia langsung mencari keberadaan William.
"Ma, William di mana?" tanya Tuan Darius.
"Ada di kamarnya, Pa. Sedang bersama Roseanne," jawab Lavina.
"Panggilkan, Ma! Suruh dia datang ke ruang kerjaku sekarang. Jack di mana?" Tuan Darius sengaja mengabsen semua putranya.
"Jack juga di kamarnya. Sejak pagi tidak keluar sama sekali. Pelayan mengirimkan makanan setiap jam makan sedang berlangsung."
"Tumben sekali pria itu," gerutu Tuan Darius. Dia langsung meninggalkan istrinya untuk masuk ke ruang kerjanya.
Lavina segera memanggil William. Wanita itu mengetuk pintu kamar putranya.
Tok tok tok.
"Siapa?" tanya Roseanne.
"Mama, sayang. Boleh Mama masuk?" tanya Lavina.
Ceklek!
Roseanne membuka pintu. "Ada apa, Ma?"
"William, mana?"
"Sedang beristirahat, Ma. Apa perlu Rose panggilkan?"
"Iya, cepatlah! Katakan padanya, Papa menunggunya di ruang kerjanya. Sekarang, ya?" balas Lavina.
"Baik, Ma. Segera Rose sampaikan."
Roseanne menutup pintunya lalu memanggil William.
"Sayang, Papa mencarimu. Lekaslah ke ruang kerjanya."
William tidak membalas ucapan istrinya. Dia langsung keluar kamar begitu saja.
Tumben Papa memanggilku. Apa urusannya dengan Caroline sudah beres? Apa gadis itu mau masuk lagi ke perusahaan setelah apa yang kulakukan padanya?
William sedang menerka apa yang akan disampaikan padanya. Tidak biasanya dia dipanggil ke ruang kerjanya.
Tok tok tok.
"Masuk!" jawab Tuan Darius.
Ceklek!
William menutup pintunya kembali. Dia langsung duduk di hadapan Papanya.
__ADS_1
"Ada apa, Pa?"
"Aku sudah berbicara pada Caroline. Gadis itu akan memberikan keputusan maksimal tiga hari dari sekarang. Ingat, setelah dia kembali, kamu jangan macam-macam lagi padanya."
"Iya, Pa. Will minta maaf telah mengacaukan Austin Group."
Tuan Darius bersandar pada kursi kebesarannya. Dia berusaha mengingat pertemuannya dengan Veronica. Wanita yang pernah mengisi hatinya beberapa puluh tahun lalu.
Kasihan sekali kamu, Vero. Di usiamu yang tak lagi muda masih harus bekerja keras demi kebahagiaan putrimu. Caroline sama baiknya sepertimu. Jika saja William belum menikah, aku akan menjodohkan mereka.
Melihat Papanya sedang melamun, William penasaran apa yang sedang dipikirkan olehnya.
"Pa, kenapa melamun?" tanya William.
"Papa sedang memikirkanmu, Will. Andai saja kamu belum menikah. Papa punya rencana untuk menjodohkanmu dengan Caroline," ucap Papanya.
Deg!
Ternyata dukungan Papanya sangat kuat untuk Caroline. William tidak menyangka jika akan menjadi seperti ini.
Tuan Darius sebenarnya sangat mengantuk. Dia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Dia terlihat sangat lelah sekali.
"Pa, kenapa tidak beristirahat di kamar saja?" tanya William.
"Papa masih menunggu kabar dari relasi bisnis, Will. Dia sanggup atau tidak untuk menunggu kembalinya Caroline ke perusahaan. Papa jadi pusing."
"Kalau begitu Will kembali ke kamar, Pa," pamitnya.
Bersamaan dengan itu, Tuan Darius mencari keberadaan ponselnya.
William mengurungkan niatnya. Dia kembali duduk di hadapan Papanya.
Tuan Darius membuka ponsel dan kebetulan ada satu pesan yang masuk.
"Tumben kali ini ponsel Papa sepi," keluh Tuan Darius.
"Memangnya Papa mau menunggu pesan dari siapa?"
Tuan Darius tidak menjawab. Dia fokus membuka ponselnya dan menerima satu pesan dari seseorang yang sedang diharapkannya.
Mata Tuan Darius membulat sempurna manakala pesan dari Caroline baru saja dibacanya.
"Will, Papa mendapat pesan dari Caroline." Pria paruh baya itu seperti memberikan angin segar pada William.
Binar mata William tidak mampu berbohong jika dia sedang bahagia mendengar nama gadis itu.
"Apa dia menerimanya, Pa?" tanya William.
"Ini bukan masalah menerima atau tidak. Ini pesan yang sangat janggal menurut Papa." Tuan Darius memberikan ponselnya pada William.
"Apa terjadi sesuatu dengan Mamanya Caroline, Pa? Coba Papa telepon," pinta William.
Tuan Darius menerima kembali ponselnya dan mendial nomor Caroline. Berulang kali, tetapi tidak mendapatkan jawaban.
__ADS_1
"Will, sebaiknya kita pergi ke rumahnya sekarang. Papa khawatir dengan Caroline. Gadis itu tidak mengangkatnya."
William dan Tuan Darius bergegas keluar Mansion. Karena terburu-buru, keduanya tidak menyadari jika Lavina memanggil mereka.
"Kalian mau kemana?" teriak Lavina. Namun, tak satu pun dari mereka merespon ucapannya.
"Pa, biar aku yang mengemudikan. Kita pergi berdua saja," ucap William ketika sampai di garasi. Pria itu sengaja memakai mobilnya sendiri agar lebih cepat sampai.
Tuan Darius menurut saja apa kata putranya. Sepanjang perjalanan, ada pesan yang sangat janggal yang dikirimkan Caroline.
Suasana hati Tuan Darius semakin tidak menentu. Ada rasa yang berbeda di benaknya. Mobil William mendekati rumah Caroline, perasaan Tuan Darius sepertinya sudah berantakan semua.
William menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang. Suasananya terlihat lenggang. Tidak ada seorang pun yang lewat dan hendak ditanya oleh William.
"Pa, sebaiknya kita masuk. Kenapa sangat sepi sekali?"
William hendak menekan bel, tetapi melihat pintunya tidak di kunci, dia meminta izin Papanya untuk langsung masuk.
"Pa, sebaiknya kita masuk saja. Pintunya tidak terkunci."
"Baiklah, aku ikut denganmu." Tuan Darius menyetujui usul putranya.
Kini, perasaan William semakin tak menentu. Bayangan penolakan Caroline tergambar jelas di matanya. Dia takut kalau gadis itu enggan berdekatan dengannya lagi.
Deg!
Pemandangan pertama yang dilihat William adalah Caroline sedang berpelukan dengan seorang Pria yang terlihat lebih matang darinya. William hendak mundur, tetapi Papa mencegahnya.
"Kenapa kamu mau mundur? Biarkan Caroline bahagia dengan pilihannya. Sebaiknya kita tanyakan saja tentang pesannya tadi."
"Ehemm." Deheman William membuat gadis itu melepaskan pelukannya.
"Will? Tuan Darius?" Caroline terkejut dengan kedatangan mereka yang secara tiba-tiba.
"Maafkan kami, Tuan. Aku hanya berusaha menenangkan Caroline," ucap pria itu.
"Sebenarnya ini ada apa?" tanya Tuan Darius.
"Maaf, Tuan. Perkenalkan, dokter Freddy," ucap pria itu mengulurkan tangannya pada Tuan Darius.
"Darius dan ini putraku, William."
Dokter Freddy menjabat tangan Tuan Darius kemudian berganti kepada William. William merasa tidak suka dengan keberadaan dokter Freddy.
"Maaf, Tuan Darius. Nyonya Veronica meninggal," ucap dokter Freddy karena dia yakin kalau Caroline tidak sanggup mengatakannya.
Deg!
Tuan Darius rasanya lemas tak berdaya. Padahal baru saja dia mengobrol dengannya, kenapa tiba-tiba sekarang mendadak mendapatkan kabar duka seperti ini?
"Dokter tidak bercanda, kan?" tanya Tuan Darius.
"Tidak, Tuan. Pesan yang saya kirim benar adanya," terang Caroline. Matanya masih sembab bekas air mata yang entah menggenang terus menerus semenjak kehilangan Mamanya.
__ADS_1
Tuan Darius seperti mendapatkan pukulan tepat di jantungnya. Rasanya seperti tidak mungkin. Setelah ini, tanggung jawab Tuan Darius semakin bertambah. Dia harus menjaga Caroline dengan baik. Dia juga akan mencari keberadaan Alex Ryder dan menyerahkan putrinya kepadanya.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂