
"Kenapa mendadak sekali, Carol? Bisa kamu batalkan surat pengunduran diri ini? Saya tidak setuju jika kamu mengundurkan diri, jika alasan yang saya terima tidak logis. Kamu Karyawan terbaik, Carol. Tidak akan ada yang bisa sepertimu," ucap Tuan Darius penuh permohonan.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa membatalkannya." Caroline sebenarnya tidak rela untuk melepas pekerjaannya, tetapi ketika teringat kelakuan William, dia semakin yakin.
Caroline harus keluar dari zona nyaman untuk memperoleh kebahagiaan lainnya. Mungkin setelah ini, dia akan berada di rumah bersama Mamanya untuk beberapa hari ke depan sebelum memutuskan untuk melamar pekerjaan ke Augustine Group seperti penawaran Lewis.
Tuan Darius terdiam. Hari ini, setelah proyeknya di puncak berjalan lancar, dia harus mendapatkan kejutan pengajuan resign dari sekretaris handalnya.
"Maaf, Tuan Darius, saya harus pamit. Mohon maaf untuk semuanya," ucapnya.
Caroline keluar ruangan. Jack dan William terdiam di tempatnya. William ingin menyusul gadis itu, tetapi berusaha menahannya agar Jack tidak curiga.
Bukan Jack namanya jika tidak bisa membaca situasi.
"Ini pasti terjadi sesuatu, kan?" selidik Jack. Ucapannya tertuju pada kakaknya.
"Apa maksudmu?" tanya William.
"Aku tidak ada maksud apa-apa. Tetapi kenapa kamu yang tersinggung, Kak?" balas Jack.
"Cukup! Kalian jangan ribut. Bantu Papa untuk mempertahankan Caroline," pinta pria paruh baya itu.
William berdiri dan meminta izin Papanya.
"Pa, izinkan aku untuk berbicara padanya," pamitnya.
"Tunggu, Will. Kamu bisa membuatnya resign lebih cepat!" teriak Jack.
William tidak menggubris ucapan adiknya. Tujuannya saat ini adalah ruangan Caroline dan Shirley. Dia bisa meminta Shirley untuk keluar sebentar selama dia berbicara dengan Caroline dari hati ke hati.
Tok tok tok.
__ADS_1
Tak ada jawaban. William langsung masuk dan melihat Caroline masih mengemas beberapa barangnya. Di sana juga masih ada Shirley yang berkutat dengan pekerjaannya.
"Shirley, tolong kamu keluar sebentar! Saya ingin berbicara berdua dengan sekretaris Papa," ucapnya.
"Tetap di situ, Shirley!" pinta Caroline.
Caroline tidak ingin berbicara lagi dengan William. Dia juga tidak ingin memandang pria itu.
Shirley semakin bingung dengan ulah kedua manusia itu. Di sisi lain, dia tidak ingin Caroline ribut dengan William. Di lain pihak, William adalah anak dari atasannya. Serba salah menjadi Shirley saat ini.
"Shirley, keluar sekarang atau kuadukan kepada Papa!" bentak William. Pria itu banyak berubah menurut pendengaran Caroline.
Shirley akhirnya keluar menuruti Tuan William. Dia berharap semoga Caroline baik-baik saja berada di dalam.
"Kenapa kamu mau resign?" tanya William.
"Itu bukan urusanmu!" balas Caroline tanpa menoleh ke arahnya.
"Itu tidak penting, Tuan. Untuk apa Anda meminta maaf padaku?" cibir Caroline.
William merasa kelakuannya pada Caroline kemarin sore sudah melewati batasan. Bahkan, gadis itu sampai kabur dan pulang sendiri ke rumahnya. Untung saja dia selamat sampai rumah, jika terjadi sesuatu kepadanya, orang pertama yang paling menderita adalah William.
"Carol, tolong batalkan surat resign itu. Papa tidak setuju," ucapnya.
Caroline tetap tidak mau memandang William.
"Maaf, Tuan. Anda tidak berhak mengatur kehidupan saya."
"Carol, tatap mataku! Jika kamu tidak berani menatap mataku, aku pikir kamu memang masih mencintaiku," sindirnya. William sengaja agar gadis itu mau menatap matanya.
Caroline belum menyelesaikan aktivitasnya memasukkan beberapa barang. Dia berbalik arah dan menatap tajam mata William.
__ADS_1
"Maaf, sepertinya Anda salah paham kepada saya, Tuan. Saya sedang sibuk mengemasi beberapa barang pribadi. Jadi, Anda jangan terlalu kepedean."
"Carol, kita bisa bicara baik-baik, kan? Maksudku, aku masih mencintaimu dan aku berjanji akan menikahimu secepatnya," ucap William. Pria itu masih saja memberikan harapan palsu padanya di saat seperti ini.
"Maaf, Tuan. Saya akan segera menikah. Lebih baik kubur dalam cinta Anda kepada saya. Saya juga berhak bahagia." Caroline terpaksa berbohong untuk mengelabui pria itu.
"Jangan bohong! Tidak ada pria lain yang mampu membuatmu jatuh cinta, kan. Berikan aku waktu satu bulan. Aku akan segera menceraikan Roseanne. Setelah itu, aku akan menikahimu." Willim yakin, tenggang waktu satu bulan cukup untuk menyelesaikan masalahnya dan kembali pada Caroline.
Caroline menghentikan aktivitasnya. Dia menatap kasihan pada pria itu.
"Anda itu lucu sekali, Tuan William. Anda pikir menikah itu seperti sebuah drama yang dimainkan sesuka sutradara? Anda pikir mudah untuk mengucapkan kata cerai dan mengurusnya dalam waktu satu bulan. Itu hanya sebuah mimpi, Tuan! Tolong hentikan mimpi yang tidak akan berwujud nyata itu." Caroline melanjutkan aktivitasnya untuk menyelesaikan beberapa barang saja.
"Oh ya, tolong berhentilah berharap jika saya masih menyimpan cinta kepada Anda. Itu cukup menjadi halusinasi Anda, tetapi tidak dengan saya, Tuan." Caroline menambahkan.
William sepertinya harus gigit jari untuk membujuk gadis itu. Tidak mudah rupanya membuatnya kembali luluh seperti dulu. Entah, ucapannya benar atau salah. Yang pasti, William tidak rela melepaskannya untuk orang lain. Apalagi melihat Caroline meninggalkannya dan memilih menikahi orang lain.
"Aku akan terus mengejarmu dan merebutmu dari siapapun orang yang memilikimu. Itu janjiku!" ucap William.
Caroline meradang mendengar ucapan pria itu.
"Ck, Anda lebih cocok menjadi pria psikopat yang kasar daripada pria penyayang yang penuh cinta. Maaf, Tuan. Sepertinya aku sangat menyesal telah lama mencintaimu."
Caroline hendak mengangkat boxnya ke dalam mobil, namun dihalangi oleh William.
"Letakkan box itu. Kamu tidak akan pernah keluar dari kantor ini. Sekarang ataupun esok, kamu akan tetap bekerja di sini!" William sengaja memberikan penekanan pada ucapannya.
"Rupanya Anda sangat serakah, Tuan. Anda tidak ingin kehilangan saya, tetapi Anda menikah dengan orang lain. Sekarang, Anda sudah beristri dan masih mengejar saya. Anda pikir, saya akan tetap bertahan menjadi orang ketiga yang dibohongi oleh suami orang yang tidak pernah mengakui status pernikahannya? Anda terlalu hebat memainkan drama ini, Tuan William. Tolong jangan halangi saya!" Caroline nekat mengangkat boxnya menuju mobil. Dia tidak peduli lagi dengan William. Walaupun rasanya sakit sekali harus berakhir seperti ini. Dia sangat nyaman bekerja di Austin Group.
William terduduk lesu di lantai. Usahanya sia-sia dan sudah sangat terlambat. Pernikahannya dengan Roseanne adalah sebuah kesalahan yang orang lain tidak pernah tahu betapa merananya kehidupan William kala itu. Belum ada orang yang tahu rahasia besar pernikahan mendadaknya itu. Bahkan, Papanya sepertinya sangat tidak suka pada istrinya. Hanya Mamanya yang bisa menerima Roseanne dalam keluarganya. Papanya tidak pernah menganggap pernikahannya itu ada. Walaupun tidak secara langsung diucapkan, tetapi melihat gelagat Papanya yang lebih banyak diam membuat William harus berpikir ulang mengenai kelanjutan hubungannya dengan Roseanne.
🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅
__ADS_1