
Berpindah tempat dari Mansion ke apartemen bukan hal yang sulit untuk William ataupun Darius. Semua terlihat biasa saja. Mereka ke kantor seperti biasa.
"Pa, bagaimana kalau aku melamar Caroline?" tanya William disela sarapan paginya.
"Terserah kamu. Lagi pula, Papa juga sudah setuju."
"Aku tidak akan memberikan kejutan terlalu berlebihan, Pa. Aku ingin melamarnya di ruang kerjanya yang disaksikan Shirley saja. Caroline sangat dekat dengan gadis itu."
...❣️❣️❣️...
Ruang kerja Caroline dan Shirley di pagi hari sudah terlihat ramai. Pasalnya hari ini keduanya kompak berangkat bersama. Caroline sengaja menjemput gadis itu untuk menemaninya.
"Carol, terima kasih, ya? Kamu baik sekali," pujinya.
"Hemm, biasa saja, Shirley. Kamu kan teman terbaikku selama di Austin Group."
"Salah! Harusnya bukan seperti itu. Kamu yang terbaik untukku," balas Shirley.
"Aku ke pantry dulu, ya? Aku rindu aroma kopi," pamitnya.
"Carol, kamu rindu aroma kopi atau rindu pertemuanmu dengan Tuan Will?" goda Shirley. Dia tahu kalau hubungannya dengan William semakin baik. Dia juga mendengar perpisahan Tuan Darius dan mamanya yang selalu menentang hubungan Caroline dan William.
Shirley sibuk setelah membiarkan Caroline pergi ke pantry. Dia tidak menyadari kalau yang datang adalah William. Dia pikir kalau Caroline sudah kembali.
Tok tok tok.
"Masuk, Carol! Manja sekali harus mengetuk pintu seperti itu. Sudah seperti orang penting saja," balas Shirley.
"Shirley, ini aku!" ucap William yang sudah berada di ruangannya.
Shirley menoleh. Dia sudah terlanjur malu melihat Tuan William di ruangannya.
"Maaf, Tuan. Kupikir Caroline. Dia sedang ke pantry," ucapnya.
"Tak masalah. Bisakah aku menunggunya di sini?"
"Silakan, Tuan. Maaf, aku harus melanjutkan pekerjaanku," balas Shirley.
"Lanjutkan saja. Tak masalah untukku."
Lama menunggu tak membuat Caroline lekas datang. Kalau ke pantry, harusnya gadis itu cepat kembali. Ini hampir setengah jam menunggu, dia tidak kunjung datang.
"Shirley, apa kamu yakin kalau Caroline hanya ke pantry saja?" keluh William. Sudah hampir satu jam tak kunjung datang. William menyerah, sebaiknya dia kembali ke ruangan papanya.
__ADS_1
"Iya, Tuan. Pamitnya memang begitu. Tidak tahu kalau harus mampir ke mana dulu. Mungkin saja Tuan Darius mendadak memanggilnya."
Hampir lupa. Bisa saja papanya sengaja memanggil Caroline untuk membuatnya sedikit khawatir kalau gadis itu tak kunjung datang. Sebercanda ini kah papanya?
"Baiklah, Shirley. Aku kembali sekarang!"
William menuju ke ruangan papanya. Ingin segera melamar gadis dan merundingkan kapan pernikahan akan dilangsungkan. Semakin mundur, semuanya bisa tidak terkendali lagi.
Tok tok tok.
Ceklek!
William masuk dan melihat Caroline sedang berbincang dengan papanya.
"Will, katamu mencari Caroline?"
"Papa sengaja melakukan ini?" tuduhnya.
"Tidak ada unsur kesengajaan di sini. Papa hanya butuh Caroline untuk menyiapkan berkas rapat. Setelah itu, Caroline bebas. Menurutmu apa Papa sengaja?"
William tidak menanggapi lagi ucapan papanya. Bisa tidak selesai kalau terus berdebat dengannya. Dia berpindah duduk ke sofa untuk mengurangi rasa gugupnya bertemu Caroline. Ini pertama kalinya William merasa sangat gugup.
"Carol, terima kasih berkasnya. Tunggulah di sini, aku langsung ke ruang rapat. Putraku ingin berbicara denganmu."
"Sama-sama, Tuan Darius."
"Ada yang ingin kusampaikan padamu."
"Katakan, Will! Apa ini mengenai hubungan kita?" Sudah lama Caroline ingin memastikan kelanjutan hubungannya. Semakin hari, usianya sudah tak lagi muda.
"Maukah kamu menikah denganku?" William tak perlu menundanya lagi. Ini saat yang tepat untuk melamar kekasihnya.
"Kenapa hanya seperti ini, Will? Tidak adakah lamaran resmi supaya terlihat lebih sah lagi? Aku tidak mau hanya dipermainkan seperti film yang pernah kulihat. Melamar tanpa saksi, berujung ditinggal menikah dengan wanita lain. Aku tidak mau!" protesnya.
"Aku tidak seperti itu, Carol. Aku akan menepati janjiku padamu."
"Tidak mau! Kalau kamu mau, datanglah ke rumah malam ini. Berikan lamaran yang paling berkesan untukku!"
"Oke, setuju!"
...❣️❣️❣️...
Ruang makan di sulap menjadi tempat lamaran mendadak. Itu merupakan hasil kerja keras Bibi Fidela dan Tansy, putrinya. Caroline ditemani Shirley yang sedang bersiap di kamarnya.
__ADS_1
"Carol, akhirnya perjuangan panjangmu terbayar malam ini. Kenapa kamu bisa seyakin itu untuk mendapatkan Tuan William?"
"Aku tidak tahu, Shirley. Aku hanya tidak bisa mencintai orang lain selain dirinya," jawab Caroline.
"Serumit itu hatimu. Padahal membuka diri untuk orang lain akan lebih gampang. Apalagi kamu pernah disakiti."
Tentu saja itu mudah untuk wanita lain, tetapi tidak dengan Caroline. Hatinya sudah terpatri nama William sejak lama. Walaupun terkadang mendengarnya menikah adalah sesuatu yang sangat sulit dihadapinya.
Tok tok tok.
"Masuk!" jawab Caroline.
Ceklek!
"Non, Tuan Will sudah datang," ucap Tansy.
"Terima kasih, Tansy. Aku segera ke sana," jawab Caroline.
Caroline keluar kamar. Dia menggunakan gaun yang sangat anggun untuk malam ini. Rasanya seperti mimpi telah melewati perjalanan panjang. William melihat penampilan Caroline sangat cantik. Walaupun setiap hari bertemu, malam ini sangat berbeda.
"Selamat datang Tuan Darius dan Tuan Will," ucap Caroline menerima tamu spesialnya.
"Terima kasih, Carol. Kami datang bertujuan untuk meminangmu atas permintaan putraku. Dia ingin malam ini menjadi pertunangan resmi kalian. Apakah ini bisa diterima?" jelas Tuan Darius.
Caroline terdiam sesaat. Antara bahagia dan haru menjadi satu. Mendiang mamanya jelas ikut bahagia karena keyakinan wanita itu selalu menguatkan hati Caroline.
"Iya, Tuan. Aku menerima pinangan ini. Rasanya aku tidak mampu mengucapkan apapun lagi karena sangat bahagia," jawabnya.
"Will, sematkan cincin pertunangannya," pinta Tuan Darius.
William mendekati Caroline. Dia mengambil tangan kiri gadis itu untuk menyematkan cincinnya. Bergantian dengan Caroline yang menyematkan cincin di jari tangan William. Semua yang ada di ruangan itu turut bergembira atas pertunangan majikannya.
"Non, mari ke meja makan. Bibi sudah siapkan jamuan makan malam," ucap Bibi Fidela.
"Mari Tuan Darius dan Will. Shirley, ayo!" Caroline mengajak semua tamunya ke meja makan atas permintaan pelayan rumahnya.
Semua menikmati hidangan istimewa yang tersedia. Caroline dan William sesekali saling melirik. Tuan Darius terlihat sangat bahagia sudah mewujudkan harapan dan keinginan putranya.
"Will, kapan kalian akan menikah?" tanya Tuan Darius.
"Segera, Papa," jawabnya singkat.
"Jangan terlalu lama. Kasihan Caroline. Bertahun-tahun menunggu hari bahagia ini," ucap Tuan Darius melirik ke arah Caroline. Gadis itu tersenyum.
__ADS_1
"Shirley, makannya tambah lagi, jangan sungkan! Ini tidak akan membuatmu gendut," canda Caroline.
Semua ikut berbahagia. Tuan Darius memberikan dua pilihan pernikahan yang akan mereka gelar. Seminggu lagi menuju hari pernikahan. Bukan pernikahan mewah yang akan mereka gelar. Namun, pernikahan sederhana yang sangat sakral. Bahagia William dan Caroline terlihat jelas dalam pertunangan malam ini.