
Tak pernah terpikirkan dibenak Caroline bahwa pria yang pernah menolongnya tempo hari masih ada hubungan kekerabatan dengan mantan kekasihnya.
"Tidak mungkin. William tidak pernah menceritakan apapun padaku," ucap Caroline.
Shirley hanya bisa terdiam melihat drama di depannya. Rupanya lingkaran kehidupan Caroline tidak pernah jauh dari keluarga Austin.
"Tentu saja dia tidak pernah bercerita. Kehidupannya selalu terjamin. Berbeda denganku. Ah, tak perlu kalian tahu kehidupanku," ucapnya.
Caroline merasa tidak nyaman setelah bertemu dengannya. Ada firasat tidak enak mengenai Lewis. Dia teringat akan ucapan mendiang mamanya.
Inikah yang dimaksud mama tempo hari?
"Oh ya, aku cuman ingin tahu saja. Apa istimewanya William di matamu. Sepertinya kamu sulit sekali melepasnya." Lewis sengaja memancing gadis itu.
"Maaf, Tuan Lewis. Anda tidak perlu tahu urusanku," balasnya. "Shirley, ayo kita pulang! Sudah selesai kan makannya?"
"Iya, Carol."
"Ya sudah, ayo kita pergi!" ajak Caroline.
Sebenarnya Lewis ingin membalaskan dendamnya pada gadis itu. Namun, setelah dipikir ulang, gadis itu sudah tersakiti oleh keberadaan istrinya William. Dari situlah Lewis akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan rencananya. Lagi pula Caroline tidak ada urusan lagi dengan William.
Caroline baru saja keluar dari restoran itu merasa sangat terganggu setelah bertemu Lewis. Sementara Shirley tidak berani menanyakan apapun padanya.
"Shirley, selama ini aku tidak pernah memikirkan kalau kenyataannya Lewis Augustine adalah sepupunya William." Caroline mengemudikan kendaraannya tidak terlalu cepat.
"Ehm, memangnya kamu tidak menyadarinya?" tanya Shirley.
"Aku pikir, dia hanya kebetulan mirip saja. Sebenarnya ada hal yang pernah mengganjal di benakku mengenai dekorasi kantornya. Sekitar delapan puluh persen sangat mirip dengan ruangan Tuan Darius."
Caroline berusaha mengingatnya lagi. Apa saja yang terjadi pada saat itu? Akhirnya Caroline menemukan maksud Lewis menerimanya bekerja kala itu.
"Aku baru sadar, Shirley. Sepertinya dia mau membalaskan dendamnya pada William melalui aku, tetapi keburu mama memperingatkanku. Setelah itu, mama meninggal."
Shirley menutup mulutnya merasa tidak percaya. Dia melihat kehidupan Caroline yang menurutnya sudah sangat sempurna itu nampaknya hampir menjadi alat balas dendam oleh orang lain.
"Lalu, apa tujuanmu sekarang? Masihkah menunggu kepastian dari Tuan William dan menjerumuskanmu masuk ke dalam dendam Tuan Lewis?"
Rasanya ucapan Shirley ada benarnya. Dia semakin ragu untuk kembali lagi pada William. Selain belum mendapatkan restu mamanya, Caroline juga belum mendapatkan kepastian dari William.
"Aku tidak tahu, Shirley." Hanya itu yang bisa disampaikan.
"Carol, tolong pikirkan ulang. Apakah tidak semakin rumit jika kamu bersatu dengan William?"
Caroline menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Dia mulai mendata siapa saja yang akan menjadi penghalang bersatunya dengan William. Beberapa di antaranya Lavina, Roseanne, Jack, dan Lewis. Melawan Lavina membutuhkan kekuatan ekstra. Dia pasti menghalangi rencana putranya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa memutuskan apapun, Shirley. Aku harus berbicara lagi dengan William jika ada kesempatan."
"Mungkin itu keputusan terbaik. Jangan lupa ceritakan tentang pertemuanmu dengan Lewis," usul Shirley.
"Hemm, aku sebenarnya semakin curiga padamu, Shirley."
"Hah, curiga bagaimana? Memangnya aku melakukan kesalahan?"
Caroline tersenyum. "Bukan itu maksudnya, Shirley. Makin lama kamu cocok kalau jadi penasehat hubunganku dengan William."
"Ck, kamu bisa saja," canda Shirley.
Sepanjang perjalanan mereka bersenda gurau. Memikirkan kerumitan hidup tak akan pernah ada habisnya.
...***...
Mansion Austin sangat sepi. Lavina terus saja mengurus Jack, putranya yang sedang sakit. Wanita itu terus saja berada di sampingnya.
"Jack, bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Lavina.
"Lumayan, Ma. Kapan aku bisa berjalan seperti biasanya? Rasanya aku sangat jenuh sekali berada di kamar terus, Ma."
Semenjak Jack mengalami patah tulang dan harus selalu berada di atas kursi roda, kebebasannya mulai terbatas sekali. Dia tidak pernah keluar Mansion. Statusnya sebagai Casanova tanggung sudah tidak melekat lagi pada dirinya. Dia sekarang menjadi pria cacat yang menyusahkan.
"Tidak, Ma. Ma, boleh aku minta sesuatu padamu?"
"Katakan saja, sayang!"
"Ma, izinkan aku menikah dengan Caroline," ucap Jack.
Deg!
Lavina rasanya ingin terjun ke dasar jurang. Dia pusing harus memberikan alasan apalagi pada putranya itu.
"Jack, dengarkan Mama. Jangankan kamu, Mama juga tidak setuju kalau William menikahi Caroline. Kenapa sekarang kamu malah memaksa Mama untuk menyetujuinya?" jelas Lavina.
Ada alasan kuat penolakan Lavina untuk Caroline. Namun, belum saatnya mereka tahu kenyataan yang sebenarnya. Tidak untuk saat ini. Lavina benar-benar dilema harus memakai cara apalagi agar semua putranya tidak mengejar gadis itu.
"Ma, kalau alasannya tidak pernah jelas, baik aku maupun William akan terus mengejar gadis itu. Dengan atau tanpa persetujuan Mama," ancam Jack.
"Jack, tolong dengarkan Mama. William dan kamu adalah kekuatan Mama. Kalau salah satu dari kalian sampai menikah dengan Caroline, maka kalian akan kehilangan Mama untuk selamanya. Ingat itu!" ancamnya. Tak ada cara lain kecuali mengatakan hal yang paling menyiksa itu.
Jack terdiam. Dia sebenarnya paham ucapan Mamanya, tetapi dia ingin tahu alasan yang kuat dari Mamanya. Beberapa kali berusaha menyampaikan tentang rencana pernikahannya, Mamanya selalu saja tidak setuju.
Jack ingin bertanya kepada papanya, tetapi pria itu selalu saja sibuk dengan pekerjaannya. Semenjak kejadian Jack yang membuat skandal dengan Roseanne ketahuan, Lavina sekarang fokus menjaga putranya.
__ADS_1
"Mama mau keluar dulu. Jangan pikirkan lagi rencanamu itu. Mama tidak suka!" ucap Lavina.
Wanita itu keluar karena ingin bertemu dengan Tuan Darius. Kebetulan hari ini memang sedang tidak ke kantor. Pria paruh baya itu berada di ruang kerjanya. Setiap liburan, dia jarang sekali keluar dari ruangan itu.
Tok tok tok.
"Masuk!" jawab Tuan Darius.
Ceklek!
Lavina sengaja ingin menemui suaminya. Ada hal penting yang ingin dibicarakan.
"Ada apa, Ma?"
"Pa, sepertinya kita harus berbicara. Ini masalah kedua putra kita. Boleh aku duduk?"
"Hemm, silakan. Jangan terlalu formal padaku."
"Jack baru saja mengatakan padaku ingin menikah dengan Caroline dan aku tidak setuju."
Tuan Darius memandang istrinya dengan sangat lekat. Pria itu merasa ada rahasia yang disimpan rapat oleh istrinya.
"Ck, kamu aneh sekali. William dan Jack tidak mendapatkan dukungan darimu. Sebenarnya ada masalah apa antara kamu dan Caroline?"
"A-aku hanya ingin mereka menemukan jodohnya dengan orang lain."
"Kalau ternyata Caroline berjodoh dengan putra kita, bagaimana? Apa kamu akan menolak garis takdir itu?" cecar Tuan Darius.
"Aku orang pertama yang tidak pernah setuju. Silakan saja kalau mereka mau mempercepat kepergianku. Aku tidak akan mencegahnya lagi."
"Wah, aku tidak menyangka kamu seberani itu, Ma. Tumben kamu memberikan ancaman mengerikan seperti itu. Apa ada rahasia dibalik penolakanmu pada Caroline? Kalau soal Veronica, lupakan saja. Toh dia juga sudah meninggal," jelas Tuan Darius.
Deg!
Rupanya ancaman yang diberikan kepada putranya maupun suaminya tidak mempan. Dia malah mendapatkan kabar yang mengejutkan mengenai Veronica. Orang yang selalu dicemburui sepanjang hidupnya.
...🍓🍓🍓...
Hai Kakak readers di manapun berada. Yuk kepoin karya teman Emak. Jangan lupa berikan bintang, favoritkan, jangan lupa dibaca, terus berikan like dan tinggalkan jejak komentar.
Mawar Tak Bermahkota by Author Riena El Fairuz
Terima kasih. Luv yu All 😍😍😍
__ADS_1