Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Berikan Sebuah Alasan


__ADS_3

Hari ini, Caroline telah meyakinkan keputusannya untuk lepas dari Austin Group. Semalam, dia telah menyiapkan surat pengunduran dirinya yang dimasukkan ke dalam map. Dia datang ke Austin Group sedikit terlambat. Dia harus mencari taksi untuk menuju ke sana karena mobilnya masih diparkirkan di sana.


"Nak, apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Veronica sebelum Caroline meninggalkan rumah.


"Iya, Ma. Aku harus mengambil keputusan. Penawaran di tempat baru bisa memberikanku berbagai macam keuntungan dan bisa meningkatkan jabatanku," ucapnya berbohong.


Padahal Austin Group telah memberikan jabatan tertinggi padanya. Menjadi sekretaris Tuan Darius tidaklah mudah. Dia harus melewati berbagai ujian sampai dinyatakan lulus. Dia harus menyingkirkan ratusan pelamar kala itu.


Caroline berusaha melepaskan perasaannya pada William. Itu yang menjadi alasan sebenarnya untuk segera meninggalkan Austin Group. Dia berhak bahagia dan tidak terkekang dengan perasaan cintanya pada suami orang.


"Terserah kamu, Carol. Jika itu keputusan terbaik, Mama hanya bisa mendoakan semoga keputusanmu benar." Hanya itu ucapan Mamanya.


Caroline merasa bahagia memiliki Mama sepertinya. Dia bisa memberikan dukungan kepada putri tunggalnya yang tidak pernah mengetahui dimana Papanya berada. Andai saja waktu berpihak padanya, harapan Caroline cuma satu. Dia ingin bertemu dengan Papanya sebelum menemukan cinta sejatinya.


Caroline keluar gerbang rumahnya untuk menunggu taksi online yang telah dipesannya. Tak menunggu lama, dia masuk ke dalam taksi dan menuju ke kantor Austin Group.


Caroline merasa ada sesuatu yang akan hilang dari hidupnya. Tak masalah dia harus kehilangan cintanya untuk selamanya.


Maafkan aku, Will. Kita tidak bisa bersama lagi.


Taksi yang ditumpanginya telah memasuki area Austin Group. Caroline membayarnya dengan uang tunai karena untuk pertama kalinya dia naik taksi online. Biasanya menggunakan mobilnya sendiri.


"Ini kebanyakan, Nona," ucap sopir taksi itu.


"Kelebihannya untuk Anda." Caroline bergegas keluar dari taksi tersebut. Dia bahkan tidak sempat mendengar ucapan terima kasih dari sopir taksi itu.


Caroline langsung menuju ke ruangannya. Di sana Shirley sedang mengerjakan pekerjaan seperti biasa. Shirley terkejut melihat kedatangan Caroline yang terlihat buru-buru. Padahal yang dia tahu, rekan kerjanya itu masih beberapa hari berada di puncak.


"Carol? Bukankah seharusnya kamu masih berada di puncak dengan Tuan William?" tanya Shirley penasaran.


"Tidak, Shirley. Tuan Darius sudah merubah jadwalnya," balas Caroline.


"Oh, aku baru tahu. Ngomong-ngomong, barusan Tuan William ke sini untuk mencarimu. Dia bilang sejak semalam ponselmu tidak aktif, makanya dia bertanya padaku. Aku juga tidak tahu kabarmu. Kubilang saja aku tidak tahu. Memang kenyataannya begitu, kan?" ucap Shirley.


Deg!


Lagi-lagi, jantung Caroline tidak bisa dikondisikan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya hanya karena mendengar namanya saja. Andai dia langsung bertemu dengannya. Antara muak dan cinta beda tipis.

__ADS_1


Oh God, kenapa Engkau buat jantungku berdetak lebih cepat hanya karena mendengar namanya? Aku hanya ingin pergi jauh darinya. Kenapa Engkau buat aku seperti ini?


"Hei, apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Shirley.


"Tidak, Shirley. Tak ada masalah yang penting. Ponselku hanya lowbat." Caroline memang sengaja menyingkirkan ponselnya. Untuk memesan taksi online, dia menggunakan ponselnya yang lain. William tidak mengetahuinya.


Shirley melihat aktivitas Caroline yang tidak biasa. Dia mengambil box dan memasukkan beberapa barang pribadinya ke dalam box tersebut.


"Carol, apa yang kamu lakukan? Kenapa semua barang itu dimasukkan ke dalam box? Apa ada yang tidak kuketahui tentangmu? Ingat, aku sudah tidak berpikir lemot seperti sebelumnya," ucap Shirley.


Caroline memandang ke arah gadis itu. Sebenarnya dia tidak tega untuk berpisah dari Shirley. Gadis itu yang selama ini membantu semua pekerjaannya.


"Aku mengajukan surat resign hari ini," ucap Caroline membuat Shirley menghentikan aktivitasnya.


"Carol, apa yang terjadi padamu? Kenapa mendadak sekali? Boleh aku ikut denganmu? Tidak ada orang lain yang mampu menerimaku dengan baik seperti dirimu." Shirley terlihat bersedih.


"Doakan aku. Aku secepatnya akan membawamu. Kamu percaya padaku, kan? Beri aku waktu, ya?" ucap Caroline sembari terus mengemas beberapa barang pribadinya.


Belum selesai memasukkan beberapa barangnya, interkom berbunyi. Caroline meminta Shirley untuk menjawabnya. Dia tidak ingin mendengar suara William jika pria itu yang memanggilnya.


"Iya, Tuan?" tanya Shirley.


"Baik, Tuan," jawab Shirley.


Shirley memandang lekat Caroline. "Tuan Darius yang mencarimu."


Caroline terlihat sangat lega mendengarnya. Dia mempersiapkan map yang berisi surat pengunduran dirinya. Dengan langkah gontai, bukan karena dia enggan untuk mengajukan surat resign itu, melainkan dia akan sangat malas bertemu dengan William. Pria itu pasti berada di dalam ruangan Papanya.


Tok tok tok.


Sang pemilik hati sedang mempermainkan hidupnya. Dia hampir kehilangan mahkotanya karena orang yang sangat dicintainya terlalu berbuat nekat. Semoga di dalam ruangan ini, dia tidak bertemu. Itu yang menjadi harapan Caroline.


"Masuk!" jawab Tuan Darius.


Caroline lega mendengarnya.


Ceklek!

__ADS_1


Caroline masuk dan melihat sekelilingnya. Di sana ternyata formasi lengkap. Tuan Darius, Jack, dan William. Orang yang paling tidak ingin dilihatnya.


William terlihat lega ketika melihat kedatangan Caroline. Sejak semalam, dia kepikiran tentang gadis itu.


Caroline langsung duduk di hadapan Tuan Darius. Pria paruh baya itu sangat senang melihat kedatangannya.


"Aku senang, Nyonya Aline sangat puas dengan kerja kerasmu. Kamu berhak mendapatkan bonus kali ini. Kamu tidak pernah mengecewakanku," ucap Tuan Darius bangga.


"Tentu, Pa. Caroline sangat luar biasa. Aku juga bangga padamu," ucap Jack ikut memberikan pujian.


William terdiam. Bukan saat yang tepat untuk berbicara dengan gadis itu. Dia tidak ingin Papanya tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Caroline.


"Terima kasih, Tuan. Saya sangat berterima kasih jika Anda menghargai kerja keras saya selama ini. Sebelumnya saya minta maaf, ini berkas untuk Anda, Tuan," ucap Caroline. Dia menyerahkan map yang sejak tadi dipegangnya. Dia sengaja tidak mengatakan berkas resign agar Jack dan William tidak terkejut.


Tuan Darius membuka map tersebut. Seketika matanya langsung memandang lekat pada sekretaris kebanggaannya selama ini.


"Apa ini seperti prank untukku, Carol?" tanya Tuan Darius.


Caroline hendak menjawab, tetapi William lebih dulu bertanya pada Papanya.


"Memangnya itu berkas apa, Pa? Apakah berkas proyek baru Austin Group?" tanya William.


Jack diam karena dia juga tidak tahu berkas apa yang sedang dipegang Papanya.


"Itu bukan prank, Tuan. Saya serius dan sadar saat menyerahkannya," ucap Caroline dengan mantap.


Jack dan William semakin penasaran. Kedua orang di hadapannya seperti sedang memainkan teka-teki.


"Pa, berkas apa itu?" tanya Jack.


Tuan Darius tidak menjawabnya. Dia tetap fokus pada Caroline.


"Berikan sebuah alasan untuk ini semua, Carol?" tanya Tuan Darius.


Caroline terdiam. Tidak mungkin dia mengatakan jika putranya hampir memerkosa dirinya.


"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa memberikan alasan secara detail. Intinya, saya ingin berhenti bekerja di Austin Group," ucapnya.

__ADS_1


Jack dan William terkejut dengan ucapan Caroline. Itu artinya berkas yang dipegang Papanya adalah surat pengunduran diri.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2