
Empat bulan pasca perceraian, Lavina dan Alex membuat kesepakatan baru. Mereka akan menjalin hubungan baru demi kelanjutan hidupnya. Apalagi mengingat ada Jack yang tetap menjadi sumber kekuatan mereka.
Lavina menyewa apartemen yang tak jauh dari unit Alex. Itulah sebabnya, dia bisa terus memantau kondisi pria masa lalunya itu dan mengungkapkan segala keluh kesah yang dirasakannya.
Setiap pagi, Lavina akan menekan bel unit apartemen Alex sekadar untuk menyiapkan sarapan sebelum pria itu bekerja. Itu sudah dilakukan Lavina selama beberapa bulan terakhir ini.
"Lex, maaf aku datang terlalu pagi untuk hari ini," ucap Lavina meminta maaf. Dia melihat Alex yang baru saja bangun tidur dan keluar kamar untuk mengambil air minum. Alex juga yang membukakan pintu apartemennya.
"Tidak apa-apa Lavina. Apa ada hal penting yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Alex.
Lavina agak sulit untuk menyampaikan maksudnya, tetapi mengingat pembicaraannya dengan Jack beberapa waktu lalu kalau pria 30 tahun itu menyetujui keinginan mamanya untuk menikah lagi.
"Lex, sebelumnya aku minta maaf. Mungkin ini terlalu cepat untukmu. Aku dan Jack sudah membicarakan perihal pernikahan," ucap Lavina.
Lavina tidak bisa menjelaskan secara detail sebelum Alex memberikan jawaban apapun pertanyaan yang arahnya menuju ke sana.
"Ehm, maksudmu Jack meminta untuk menikah? Apakah dia sudah memiliki calon pengantinnya?" tanya Alex yang baru saja mengembalikan gelas ke wastafel cuci piring.
"Bukan Jack."
"Lalu, siapa yang kamu maksud?" Sepagi ini Alex sudah diajak main teka-teki.
"Kita, Lex."
Deg!
Mendengar kata kita, Alex akhirnya mengerti maksudnya. Tidak salah memang Lavina mengatakan hal itu. Lagi pula dia janda dan Alex duda. Tak ada salahnya mereka membicarakan hal serius itu. Apalagi ditengah keduanya ada Jack yang memang asli keturunan mereka.
"Apa kamu tidak menyesal memutuskan menikah denganku? Aku bukan Darius Austin yang kaya raya. Aku hanya orang biasa yang bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," ungkap Alex.
"Tidak, Lex. Aku. tidak peduli lagi. Hidup seorang diri nyatanya lebih sulit daripada hidup berdua. Sebentar lagi sewa apartemenku habis. Kalau aku terus bertahan di sana, bisa-bisa pemiliknya langsung mengusirku. Setelah menikah, kita bisa tinggal di unit apartemenmu," usul Lavina.
Apartemen yang ditempati Alex memang miliknya. Dia membelinya satu hari setelah sampai di sini. Kebetulan uang Alex masih cukup banyak kala itu. Sebelum mendapatkan pekerjaan, lambat laun uangnya mulai menipis. Mau tidak mau, Alex harus bekerja.
"Aku bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari kalian, tetapi untuk pengobatan Jack, aku belum mampu. Tapi aku usahakan untuk memenuhi semuanya. Apa kamu mau?" tawar Alex.
"Aku setuju, Alex. Demi putraku. Aku tidak mau dia merasa kesepian. Biasanya dia selalu mengandalkan Darius. Aku tidak mungkin membiarkan putraku mendekati pria itu."
__ADS_1
"Baiklah. Kapan kita bisa menikah?"
"Secepatnya, Alex."
...🍒🍒🍒...
Seperti keputusan Lavina dan Alex beberapa hari yang lalu, kali ini mereka akan menikah. Semua persyaratan pernikahan sudah dipenuhi. Sebentar lagi, prosesi pernikahan akan berlangsung. Tidak ada sesuatu yang mewah di sini. Hanya persiapan prosesi pernikahan yang dihadiri oleh sepasang calon pengantin dan Jack, putra mereka.
Lavina hanya memakai gaun pernikahan sederhana yang disewanya dari sebuah salon dekat apartemen Alex. Sedangkan Alex, dia memakai jas sederhana yang sudah dimiliki selama ini.
Tak butuh waktu lama, mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Jack ikut terharu menatap keduanya.
"Ma, terima kasih kalian telah bersatu untukku," ucap Jack memeluk Lavina.
"Sama-sama, Nak. Panggil Alex dengan sebutan Papa. Aku yakin, selama ini kamu berat untuk mengakuinya. Setidaknya untuk hari ini, berikan hadiah terbaik ini untuk Mama dan Papamu. Bagaimana? Apa kamu bisa melakukannya untukku?"
Jack sebenarnya berat untuk melakukannya. Namun, bagaimanapun juga Alex sudah menjadi orang tua yang baik untuknya. Dia mau menjadi pendengar yang baik untuk seorang Jack yang tidak pernah mengutarakan kesedihannya.
"Terima kasih, Pa," ucapnya.
Alex mendekati putranya dan memeluk pria itu. Dia mempunyai tanggung jawab baru dengan hadirnya seorang istri dan putranya yang sudah cukup dewasa.
"Mau kita rayakan pernikahan ini?" tanya Lavina.
"Perayaan apa maksudmu?" balas Alex.
"Kita makan bersama di apartemen. Aku akan menyiapkan makanan kecil spesial untuk kalian berdua. Bukankah kalian berangkat belum sarapan karena harus mengantarkanku ke salon?" ucap Lavina mengingatkan.
Tentu saja, selain Lavina belum menyiapkan sarapan pagi, mereka terburu-buru untuk mengejar waktu pernikahan mereka yang mendapatkan antrean pertama.
Ketiganya menunggu taksi online yang dipesan Jack. Tentu saja gaya hidup mereka berubah drastis. Jika biasanya Jack gonta-ganti mobil saat menjadi putra bungsu keluarga Austin, sekarang harus menjadi pria yang hidup dalam kesederhanaan. Ke mana-mana harus menggunakan taksi.
Taksi datang, Jack membiarkan sepasang suami istri itu untuk masuk lebih dulu.
"Jack, kamu tidak ikut bersama kami?" tanya Lavina.
"Mama dan Papa pulang saja dulu. Aku akan menyusul," ucap Jack yang kemudian menjauh dari keluarga barunya.
__ADS_1
Jack ingin pergi menemui Darius di kantor. Jelas saja saat ini pria itu pasti berada di sana. Tak butuh waktu lama, taksi kedua telah datang.
...🍊🍊🍊...
Ruangan CEO Darius Austin tidak terlihat ramai seperti biasanya. Darius kali ini bekerja seorang diri karena William sedang tidak berada di Mansion. Ada urusan penting yang harus diselesaikan pria itu untuk beberapa waktu. Darius juga sudah selesai bekerja bersama Caroline. Gadis itu sudah kembali ke ruangannya.
Tok tok tok.
Darius merasa tidak membuat janji dengan siapa pun. Tentu saja dia merasa heran.
Siapa yang datang?
"Masuk!" balas Darius.
Ceklek!
"Jack?" Darius berdiri kemudian mendekati putranya.
"Papa masih menganggapku?" selidik Jack. Hubungan darah dengan pria paruh baya itu jelas tidak ada. Hanya saja, Jack merasa perlu bertemu dengannya untuk sekadar menenangkan hatinya.
"Tentu saja, Jack. Kenapa kamu ke sini? Maksudku, kenapa kamu tidak datang ke Mansion saja. Kita bisa mengobrol di sana," jelas Darius.
"Mama dan Alex sudah menikah, Pa," ucap Jack.
"Hemm, aku tidak ada urusan lagi dengan mamamu, Jack. Kalau kamu membutuhkan Papa, kapan pun Papa akan siap untukmu," jelas Darius.
Tentu saja bukan perkara mudah untuk Darius menerima anak orang lain menjadi putranya. Bagaimana pun juga, Jack pernah menjadi bagian hidupnya cukup lama. Bahkan sekitar 30 tahun lamanya.
"Terima kasih, Pa. Apakah kamu masih mengizinkanku untuk memanggilmu Papa?" Jack butuh jawaban atas semua yang pernah terjadi.
Mamanya telah menyakiti pria paruh baya itu terlalu dalam. Namun, Darius tidak bisa menolak setiap kehadiran Jack dalam kehidupannya. Bagaimana pun buruknya mamanya, Jack pernah menjadi bayi kecil yang ditimang dan ditemani tidur kala itu. Darius tidak mungkin bisa mengabaikan Jack walaupun mantan istrinya sudah menikah lagi.
...🍎🍎🍎...
Halo kakak readers semuanya. Emak hadir lagi merekomendasikan karya keren. Cus kepoin
Aku Di Antara Mereka by Author Asyfa
__ADS_1
Terima kasih. Miss you all 😍😍😍