
Semalam, William merasa terjepit atas ulah istrinya. Dia sebenarnya enggan untuk pergi ke rumah sakit. Berhubung Mamanya sudah setuju, akhirnya William meminta Rose untuk membuat janji temu dengan dokter.
Pagi ini, William harus pergi ke kantor lebih awal. Bertanya pada Jack sama saja mencari ribut. Dia akan menemui Shirley dan menanyakan alamat Caroline. William yakin, gadis itu pasti sudah pindah dari rumah kontrakannya. Dia bahkan sudah memiliki sebuah mobil yang lumayan bagus.
Berseteru dengan Papanya ternyata sangat melelahkan. Dia harus secepatnya menemui Caroline di rumahnya.
Mobilnya telah memasuki area kantor lebih pagi dari biasanya. Dia bergegas turun dan mencari Shirley di ruangan yang pernah ditempati Caroline.
Tok tok tok.
Tidak ada jawaban dari dalam. Sepertinya Shirley belum datang atau memang William yang kepagian. Ketika William hendak berbalik arah, Shirley datang dari arah lain. Dia sedang menuju ke ruangannya. Langkah Shirley terhenti ketika melihat Tuan William yang sedang menunggu di depan pintu ruangannya.
"Shirley, kemarilah! Kenapa malah berhenti di sana?" ucap William sedikit berteriak.
Shirley tidak menjawab, tetapi malah mendekatinya.
"Apa saya terlambat?" Pertanyaan terbodoh yang sengaja dilontarkan oleh gadis ini membuat William berdecak kesal.
"Ck, jangan main teka-teki waktu denganku, Shirley. Aku tidak mengerti kenapa Papa bisa menerimamu bekerja di sini," protesnya.
Ucapan William membuat Shirley merasa tidak dihargai. Berbeda dengan Caroline. Rekan kerjanya itu selalu membuatnya semangat dan selalu memberikan dukungan untuk tetap maju apapun kendalanya.
"Anda sebenarnya tampan, Tuan. Namun, ketampanan Anda tidak selaras dengan ucapannya. Saya rasa, tak ada salahnya Nona Caroline kabur dari Austin Group," jawab Shirley.
Caroline selalu menekankan pada gadis itu untuk melawan ketika posisi terjepit. Jangan pedulikan siapapun kalau memang perlu membela diri.
"Ngomong apa, kamu? Aku tidak mau basa-basi lagi. Cepat katakan dimana tempat tinggal Caroline!" ucap William memaksa.
Ish, cakep tapi galaknya minta ampun. Untung saja Caroline sudah lepas darinya. Sekarang malah minta alamatnya. Dasar pria aneh. Nggak Jack ataupun dia, sama saja. Menyebalkan!
"Hei, kenapa diam? Aku sedang menunggu jawabannya. Cepatlah! Keburu Papa dan Jack datang," ucapnya.
"Perumahan KL, blok A, nomor tujuh belas," jawab Shirley.
Shirley tidak bisa menyembunyikan alamat rumah Caroline terlalu lama karena William pasti tidak mau dibohongi. Apalagi ini menyangkut Tuan Darius. CEO-nya itu pasti tidak mau tahu harus membawa kembali Caroline ke Austin Group.
Setelah mendapatkan alamat lengkap, William bergegas pergi ke rumah gadis itu. Rupanya sekarang dia sudah tinggal di perumahan elite.
William terlihat sangat senang akan bertemu pujaan hatinya. Bisa saja dia akan bertemu dengan Mama gadis itu jika William sedang beruntung.
__ADS_1
Hanya butuh beberapa menit saja untuk menjangkau rumahnya. William sudah tidak sabar untuk menemuinya. Mobilnya kini berhenti tepat di depan gerbang rumah itu. Dia menekan bel. Sepertinya penghuninya sedang sibuk. Tak lama, seorang wanita paruh baya membuka pintu gerbang kecilnya dan melihat siapa yang datang.
"William?" Veronica terkejut melihat kedatangan pria itu. Terakhir kali, Caroline pernah mengatakan bahwa dia masih mencintainya.
"Iya, tante. Caroline ada?" tanya William.
"Ada. Dia masih di kamarnya. Masuklah!"
Veronica membuka gerbang besarnya agar William bisa membawa masuk mobilnya. Perumahan di kawasan elite, tetapi tidak memakai pelayan atau penjaga sama sekali. Itu memang murni permintaan Mamanya. Ada alasan khusus yang tidak bisa disampaikan kepada orang lain. Mungkin untuk dirinya sendiri, alasannya simpel. Veronica dan Caroline memiliki privasi yang tidak setiap orang bisa tahu.
William memarkir mobilnya kemudian mengikuti Veronica masuk ke ruang tamu.
"Duduklah, Will! Mau minum apa?"
"Apa saja, Tante," jawab William.
Veronica masuk ke dapur dan mengambil beberapa soft drink. Dia tidak mungkin membuatkan minuman hangat karena hal itu akan membuat menunggu terlalu lama.
Veronica meletakkan nampan yang berisi botol kecil.
"Silakan diminum! Tante panggilkan Caroline dulu."
Veronica menuju ke kamar putrinya.
Tok tok tok.
"Ya, Ma?" teriak Caroline dari dalam. Dia sedang fokus dengan laptopnya karena sedang fokus membuat surat lamaran kerja untuk Augustine Group.
Veronica langsung masuk. "Sayang, ada tamu untukmu."
Caroline menghentikan sejenak aktivitasnya. Dia menoleh dan menatap penuh tanda tanya pada Mamanya.
"Siapa, Ma?"
"Temui saja. Dia mengenalmu, kok," jawab Veronica semringah.
Pasti Lewis. Pria itu sangat perhatian sekali.
Caroline turun dari ranjangnya. Dia masih memakai piyama tidurnya karena hari ini dia sangat malas sekali sebelum menyelesaikan surat lamaran pekerjaannya.
__ADS_1
Bergegas dia menuju ruang tamu. Betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat keberadaan William di sana. Pria itu senang sekali untuk menemuinya.
"Akhirnya kamu keluar juga," ucap William senang. Dia hampir saja menyerah.
"Will, Tante tinggal masuk dulu, ya. Lanjutkan ngobrolnya," ucap Veronica meninggalkan mereka.
"Duduklah!" perintah William.
"Tak perlu memberikan perhatian seperti itu! Ini rumahku dan terserah aku mau ngapain saja," balas Caroline lebih sengit.
"Ayolah. Kita bicarakan ini baik-baik," pinta William.
"Untuk apalagi, Will? Kamu sudah kurang ajar padaku!"
"Aku hanya ingin menyampaikan permintaan Papa padamu. Dia ingin agar kamu kembali ke perusahaan."
Caroline menggeleng. Keputusannya sudah final dan tidak bisa diganggu gugat.
"Maaf, Will. Lebih baik kamu cari orang lain saja. Aku sudah mendapatkan pekerjaan baru. Tolong pergilah dari sini!" Caroline sengaja mengusir pria itu. Dia malas berdebat dengannya. Dia juga tidak ingin Mamanya tahu masalah yang dihadapinya.
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu setuju untuk kembali ke perusahaan Papa."
Caroline sangat kesal pada pria pemaksa itu.
"Will, sudah kukatakan berulang kali. Aku tidak akan pernah kembali ka Austin Group walaupun Tuan Darius yang datang langsung kemari. Aku sudah memutuskannya. Jadi, jangan paksa lagi."
Caroline tidak bisa mengusir pria itu secara halus. Dia harus meninggalkannya. Biarlah dikatakan tidak sopan. Caroline tidak peduli lagi.
William sendirian di ruang tamu. Dia ingin menyusul Caroline, tetapi merasa tidak sopan karena berada di rumah orang. Usahanya untuk membujuk gadis itu gagal total. Apa yang akan dikatakan pada Papanya? William tidak punya alasan lain. Dia hendak berdiri dan keluar dari rumah itu terlihat tidak sopan sekali. William menunggu kedatangan Mamanya Caroline.
"Will, Carolinenya mana?" tanya Veronica.
"Oh, itu tante. Mungkin kembali ke kamarnya. Urusan kami sudah selesai, kok. Hanya masalah kantor saja," jawab William beralasan. Dia tidak mungkin membuka aibnya di depan wanita itu. Bisa jadi langsung diusir secara kasar. William merasa ngeri menghadapinya.
"Oh, tante pikir Caroline sedang ngambek," ucap Veronica.
Memang benar, Tante. Gadis itu sedang ngambek padaku dan dia sengaja resign dari perusahaan Papa.
🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎🍎
__ADS_1