
Mendenger penuturan Darius, Jack semakin lega. Pria itu tidak pernah sedikit pun membencinya.
"Tentu saja, Jack. Kamu tetap bisa memanggilku Papa. Sejak kecil, kamu sudah dekat denganku. Tak ada alasan lain aku menolak keberadaanmu."
Jack sangat beruntung. Walaupun bukan anak kandung, tetapi pria yang pernah menjadi papanya selama beberapa puluh tahun ini masih mau menganggapnya. Kesalahan fatal yang dilakukan mamanya membuat kehidupan Jack berantakan.
Tak hanya di situ saja. Akibat kecelakaannya bersama Elena, mantan kekasihnya beberapa bulan yang lalu, Jack masih terus saja mengunjungi gadis itu. Dia sudah terlalu lama berada di dalam keadaan koma.
"Terima kasih, Pa. Aku langsung pamit, ya," ucapnya pada Darius.
"Kamu mau ke mana?"
"Rumah sakit, Pa. Aku mau menjenguk Elena. Bagaimana pun buruknya gadis itu, nyawaku masih bisa diselamatkan. Dia masih koma sampai sekarang. Aku selalu berusaha memberikannya semangat agar gadis itu segera bangun dari tidur panjangnya. Papa juga tahu kan kalau selama ini Papanya Elena sudah membuang gadis itu begitu saja."
Jack benar. Selama ini biaya pengobatan Elena ditanggung olehnya. Itu sebenarnya bukan karena rasa tanggung jawab pada gadis itu, melainkan ada rasa syukur karena Jack masih selamat dan dalam kondisi sadar. Orang tua Elena melepaskan begitu saja putrinya.
"Maukah Papa temani? Kalau kamu naik taksi, akan sangat lama, Nak," bujuk Darius.
"Nanti Papa dan mama bakalan ribut lagi kalau melihatku bersama papa."
"Itu tidak akan pernah terjadi, Jack. Kamu akan aman bersamaku. Kalau kamu naik taksi, aku tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya dirimu untuk berpindah tempat dari taksi menuju ke dalam rumah sakit. Papa akan mengantarmu," jelas Darius.
"Pekerjaan Papa, bagaimana?" selidik Jack. Dia tidak ingin merepotkan pria itu terlalu jauh.
"Kamu jangan khawatir. Ada Will dan Caroline."
Ya, Caroline, nama itu yang membuat Jack jatuh cinta padanya. Sayang sekali, fakta telah terkuak kalau gadis itu adalah adiknya.
"Papa yakin?" Sekali lagi, Jack berusaha meyakinkan pria itu untuk mengantarkannya atau tidak.
"Tunggu sebentar, Jack! Papa akan ke ruang rapat. Mereka sedang berada di sana," pamitnya.
Darius tentu saja harus pamit pada William. Bagaimana pun juga, dia tidak bisa mengabaikan putranya yang lain.
__ADS_1
Sampai di depan ruang rapat, Darius mengetuk pintu.
Tok tok tok.
Darius langsung masuk dan memanggil William untuk berbicara sebentar.
"Maaf mengganggu. Aku hanya ingin berbicara sebentar dengan putraku," ucap Darius.
William mengikuti Papanya untuk keluar ruang rapat. Dia sebenarnya hampir selesai dengan rapat siang ini, tetapi kedatangan papanya membuat rapatnya terhenti.
"Ada apa, Pa?"
"Papa mau mengantarkan Jack ke rumah sakit. Aku harap, kamu bisa melanjutkan pekerjaan papa," ucapnya.
"Baiklah, Pa. Hati-hati di jalan. Salam untuk Jack."
William kembali ke ruang rapat, sedangkan Darius langsung mengajak Jack untuk ke tempat parkir.
...🍎🍎🍎...
"Pa, aku mau masuk sebentar. Aku ingin berbicara dengan Elena," pamitnya.
Jack memakai atribut lengkap untuk masuk ke ruangan itu. Setiap kunjungannya, Jack selalu berbicara dengan Elena walaupun hanya sekitar 10 menit.
"Ele, aku datang lagi," ucap Jack lirih. Dia duduk di kursi dekat brankar yang ditempati Elena. Sudah setengah tahun lebih gadis itu tak sadarkan diri. Pernah suatu hari pihak rumah sakit mengabari Tuan Darius untuk menghentikan perawatan gadis itu, tetapi tak diizinkan olehnya.
"Ele, aku sering datang ke sini, tetapi kamu tak kunjung bangun. Apa kamu tahu, Elena? Aku sudah berjanji untuk kembali padamu agar kamu senang. Aku patah hati pada adikku sendiri, Ele. Banyak kejadian yang tidak pernah kamu tahu selama ini. Aku mencintai Caroline, tetapi gadis itu ternyata anak dari papaku sendiri. Oh ya, aku ingin mengatakan ini padamu. Papa Darius itu ternyata bukan papaku, tetapi dia tetap sayang padaku dan juga dirimu. Kamu tahu, dia yang membuatmu bertahan sampai sejauh ini."
Kali ini Jack bisa bersikap halus ketika berhadapan dengan raga yang tak kunjung terbangun dari tidur panjangnya itu. Kesempatannya dengan Caroline sangat tipis dan Jack berusaha mengembalikan keadaan seperti semula.
"Elena, bangunlah! Aku berjanji padamu, jika kamu mau bangun, aku akan menjadi orang pertama yang akan membuatmu bahagia. Aku tidak mau kamu terpuruk seperti ini. Apakah kamu mau memiliki seorang kekasih yang sudah cacat sepertiku?"
Tidak ada respon dari Elena. Gadis itu masih terlelap dan bahkan tidak ada pergerakan sama sekali.
__ADS_1
"Elena, apa kamu tidak mau hidup bersamaku lagi? Kau minta maaf telah mengacuhkanmu waktu itu. Tolong bangunlah! Jangan buat aku seperti ini," keluh Jack.
Lelah karena tak mendapatkan respon, Jack segera pamit pada Elena.
"Ele, aku mau pulang. Kamu bahkan tak pernah merespon ucapanku sama sekali. Kalau kamu sudah tidak cinta lagi padaku, lebih baik kamu pergi saja dan jangan pernah kembali," ucap Jack mengakiri pembicaraannya. Dia kemudian keluar dari ruangan itu dan kembali ke papanya yang sedang menunggu di luar.
"Bagaimana kabar Elena?"
"Masih sama, Pa. Aku kesal padanya. Padahal aku selalu berusaha untuk membangunkannya, tetapi dia tidak pernah meresponnya. Aku katakan saja, kalau kamu sudah tidak menyukaiku, pergi saja dan jangan pernah kembali," keluhnya.
Bersanaan dengan itu, jam kunjungan dokter masuk ke ruangan itu. Darius berharap mendapat kabar baik setelah mereka keluar.
"Kita pulang setelah bertemu dengan dokter yang menangani Elena," ucap Darius. Dia bahkan tidak menanggapi ucapan putranya yang tak begitu penting itu. Harapan Darius, Elena lekas membaik.
Aneh, Darius melihat pergerakan tim kesehatan yang tidak biasa. Seperti telah terjadi sesuatu dengan pasien. Darius berusaha menanyakan pada siapapun yang sedang lewat.
"Ada apa ini?" tanyanya pada perawat yang kebetulan lewat.
"Maaf, Tuan. Kami buru-buru. Nanti saja dokter akan menjelaskan," jawab perawat itu kemudian meninggalkan Darius dan Jack.
"Pa, apa Papa merasa ada yang aneh dengan perawat itu?"
"Tidak, Jack. Dia hanya buru-buru. Selama ini, Elena tidak pernah mempunyai musuh. Kamu jangan khawatir, Elena pasti baik-baik saja."
Hampir dua puluh menit menunggu dokter keluar dari ruang rawat membuat Darius tidak tahan. Dia hendak masuk ke dalam ruangan itu, tetapi diurungkannya. Sangat tidak etis jika langsung meninggalkan rumah sakit tanpa menunggu kabar kesehatan Elena.
Tepat di menit ke 30, dokter baru saja keluar dari ruang rawat itu. Dia mencari keberadaan keluarga pasien atas nama Elena.
"Keluarga pasien Elena?" panggil dokter.
Darius dan Jack mendekat. Mereka ingin tahu kabar terbaru perkembangan Elena.
"Kami keluarganya, dokter," ucap Darius.
__ADS_1
Dokter itu terlihat nampak lesu. "Maaf, Tuan. Elena tidak bisa diselamatkan. Dia sudah tiada."
Dunianya Jack rasanya runtuh. Dia baru saja ingin memperbaiki keadaan, tetapi Elena membuktikan bahwa gadis itu sudah tidak mencintai Jack lagi seperti ucapannya barusan. Elena pergi untuk selama-lamanya menjadikan pukulan telak bagi Jack.