Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Kedatangan Alex


__ADS_3

Perbincangan antara William dan Caroline baru saja selesai. Gadis itu kembali ke ruangannya bersamaan kembalinya Tuan Darius.


"Sudah selesai, Carol?" tanya Tuan Darius yang kebetulan berpapasan di depan pintu ruangannya.


"Sudah, Tuan. Terima kasih," ucapnya.


William juga keluar. Entah pria itu akan ke mana? Tuan Darius seorang diri di ruangannya untuk menyelesaikan beberapa berkas yang belum disentuhnya sejak tadi.


Tok tok tok.


Baru saja Caroline dan William keluar, sekarang ruangannya diketuk lagi.


"Masuk!" jawab Tuan Darius. Dipikirannya, Caroline atau William yang akan masuk lagi.


Ceklek!


Deg!


Pandangan Tuan Darius seperti menyambut sesuatu yang selama ini ditunggunya. Masih tidak percaya dengan kedatangan orang yang ada di hadapannya saat ini. Tuan Darius seperti kembali ke masa lalunya. Namun, dia cukup sadar bahwa orang di hadapannya itu nyata.


"Alex?" Tuan Darius berdiri dan menyambut kedatangan pria itu.


"Halo, Darius. Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kabarmu?" tanya Alex. Pria itu langsung duduk di sofa.


Darius yang masih duduk di kursi kebesarannya kemudian berdiri untuk mendekati Alex. Darius beberapa kali mencoba untuk mencarinya, tetapi tidak pernah bertemu.


"Sepertinya kedatanganmu ini karena sesuatu hal. Benar begitu, Alex?" selidik Darius.


"Darius ... sudah lama kita tidak bertemu. Rupanya pikiranmu masih sama saja seperti dulu. Kamu selalu menyudutkanku. Benar begitu, kan?" balas Alex.

__ADS_1


Antara Alex dan Darius mempunyai masa lalu yang sedikit tidak baik. Hanya masalah Veronica saja yang membuat mereka sempat berseteru. Itu hanya sesaat sebelum kepergian Alex yang entah kemana.


"Tidak ada yang berhak menyudutkanmu, Alex. Aku hanya meminta pertanggungjawaban wanita yang pernah kamu jadikan istri. Apa kamu lupa kalau dia ditelantarkan begitu saja?" tuduh Darius.


Suasana ruangannya sepi. Untuk mengantisipasi agar orang lain tidak masuk ke sana, Darius segera mengabari resepsionis untuk melarang siapapun yang masuk ke ruangannya. Termasuk Caroline dan William. Mereka tidak boleh tahu mengenai keberadaan Alex untuk saat ini.


"Apa yang kamu lakukan, Darius? Apa kamu takut jika karyawanmu tahu siapa kamu sesungguhnya?" balas Alex. Pria paruh baya itu rupanya tidak mau mengalah.


Apapun yang dituduhkan Alex kepadanya, Darius tak pernah menanggapi. Memang bukan salahnya juga untuk meminta Alex kembali kepada Veronica. Toh mereka suami istri yang sah. Darius hanya ikut campur ketika Alex menyakiti Veronica. Rasanya sungguh tidak adil membiarkan orang yang sangat dicintainya disakiti.


"Cukup, Alex! Kamu tinggal membuktikan saja siapa bajingan sebenarnya di sini. Kamu atau aku?" balas Darius.


Alex selalu membalas perbuatan Darius dengan menyakiti orang-orang yang dicintainya. Namun, Darius tidak pernah lelah untuk membela Veronica. Walaupun sudah menjadi masa lalu, wanita itu tetap menjadi prioritasnya. Bukan dalam bentuk perhatian seperti kepada istrinya, melainkan pengawasan yang dilakukan oleh orang lain. Makanya Darius paham betul alasan Alex meninggalkannya.


"Itu salah Veronica sendiri. Dia memaksaku untuk memberikan anak padanya. Kamu tahu, Darius. Aku tidak ingin memiliki anak dari orang lain. Cukup satu kesalahan fatal yang kubuat, tetapi rupanya Veronica memaksa. Dia bilang tak masalah aku meninggalkannya. Terpaksa aku meninggalkannya ketika tahu kalau dia sedang hamil," ucapnya.


Darius berusaha mencerna ucapan Alex. Dia bukan pria bodoh yang begitu saja percaya pada ucapannya.


Alex berdiri. Dia menuju ke jendela dan memandang luas keluar. Pandangannya jatuh pada gedung-gedung pencakar langit yang berbanding dengan kantor sahabatnya. Tidak, tidak, tidak, lebih tepatnya rival dalam pertemanan. Bukan sahabat!


"Aku tidak pernah menyembunyikan apapun darimu, Darius. Salah Veronica sendiri kenapa dia memaksaku untuk membuatnya hamil," tuduhnya.


"Oh, rupanya kamu menyalahkan wanita itu. Dia benar kalau menginginkan anak darimu. Itu cukup wajar. Bukankah kalian melakukannya suka sama suka. Lalu, kenapa setelah wanita itu hamil kamu pergi begitu saja. Di mana letak tanggung jawabmu itu, Alex? Apa kamu tahu bagaimana susahnya kehidupan wanita itu setelah kepergianmu? Kamu tega, Alex!"


Alex tidak percaya kalau kedatangannya yang mencari seseorang rupanya membawa keributan antara dia dan Darius.


Tujuanku ke sini untuk mencari seseorang, bukan untuk ribut dengan Darius. Pria ini sama menyebalkannya seperti dulu.


"Itu bukan urusanmu, Darius! Aku ke sini bukan untuk membahas Veronica, tetapi--"

__ADS_1


"Cukup, Alex. Memang kenyataannya kamu harus tahu mengenai wanita itu!" bentak Darius. Pria itu kesal karena Alex terlalu mengabaikan pasangan sahnya.


"Sudahlah Darius! Veronica hanya masa lalu. Untuk apa aku memikirkannya lagi? Dia wanita mandiri dan aku tidak akan khawatir meninggalkannya sendirian."


Darius rasanya ingin mendekati pria itu kemudian menghajarnya. Biar dia puas untuk menyalurkan amarahnya.


"Setidaknya kunjungi makamnya dan temui putrinya!" balas Darius.


Deg!


Alex memutar tubuhnya dan melihat ke arah Darius. Pria itu membahas sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehnya.


"Apa maksudmu makam dan putrinya?" tanya Alex. Dia kembali ke sofa.


"Veronica sudah meninggal. Dia meninggalkan seorang putri yang seharusnya masih menjadi tanggung jawabmu, Alex," jawab Darius.


Deg!


Hampir dua puluh sembilan tahun Alex meninggalkan istrinya yang sedang hamil itu. Ketika kembali, rupanya dia mendapatkan kabar kalau mantan istrinya telah meninggal.


Alex memang meninggalkan Veronica, tetapi dia tidak langsung menceraikannya. Dia menunggu setahun lebih setelah kelahiran anak wanita itu, barulah Alex mengirim surat perceraiannya. Tepat setelah itu, Alex tidak lagi tahu kabarnya.


"Bukan urusanku, Darius. Sudah lama juga kan. Tujuanku kemari karena aku sedang mencari seseorang. Mungkin sekarang dia sudah berusia sekitar tiga puluh tahun," ucapnya.


"Siapa yang kamu cari sebenarnya?"


Alex mencari putranya yang dilahirkan dari rahim orang lain. Namun, wanita itu selalu menyembunyikannya. Kepergiannya bukan tanpa alasan karena wanita itu marah kepada Alex. Dia tidak terima kalau istri Alex juga hamil. Makanya wanita itu memintanya untuk memilih salah satu dari mereka. Kehilangan putranya atau meninggalkan istrinya. Wanita itu kejam sekali padanya. Itu yang membuat Alex berubah.


"Anakku, Darius. Dia juga darah dagingku. Kalau kamu bilang anak dari Veronica juga ada, sebaiknya kamu tutup mulut saja. Aku tidak perlu tahu siapa dia sebenarnya. Aku takut kalau anak lelakiku akan disakiti oleh wanita itu," balasnya.

__ADS_1


"Wanita mana yang kamu maksud, Alex? Aku akan berusaha membantumu. Tapi ingat, setidaknya tengoklah putrimu. Berikan tanggung jawab untuknya. Kasihan dia. Tidak ada kerabat yang dekat dengannya. Kamu satu-satunya orang yang tersisa setelah kepergian mamanya," jelas Darius.


Nampaknya Alex mengabaikan ucapan Darius. Dia berfikir untuk mencari keberadaan putranya. Wanita itu bilang, setelah tiga puluh tahun, maka datang dan temui dirinya. Alex benar-benar dilanda kebingungan. Sebenarnya apa tujuan wanita itu?


__ADS_2