Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Kejutan Lewis


__ADS_3

Hari ini merupakan hari libur. Caroline sudah berjanji untuk menjemput Shirley dan mengajaknya jalan-jalan. Walaupun tempat yang mereka kunjungi tak pernah berubah, mereka selalu menikmatinya. Ke mana lagi kalau bukan ke Mal.


"Wow, Carol. Tumben hari ini kamu mengajakku jalan-jalan!" seru Shirley.


"Aku hanya sedang bahagia, Shirley. Aku ingin membaginya bersamamu," jawabnya.


"Apakah ini mengenai restu mamanya Tuan Will?" tanya Shirley.


"Tidak, bukan soal itu. Wanita itu tidak akan mudah memberikan restunya."


Jangankan meminta restu, masa lalunya dengan William ketika masih menjalani hubungan sebagai seorang kekasih saja sudah dipersulit. Apalagi sekarang? Jelas wanita itu akan semakin menyusahkan putranya.


"Lalu, soal apa?" tanya Shirley penasaran.


"Hanya ingin jalan-jalan. Sudahlah, jangan terlalu banyak bertanya. Nikmati saja."


Mobilnya mulai memasuki basemen Mal. Caroline dan Shirley bergegas turun.


"Kamu mau ke mana dulu. Aku mau traktir kamu makan," ucapnya.


"Wah, benarkah?"


Shirley benar-benar bersyukur memiliki teman seperti Caroline. Keduanya langsung masuk ke Mal dan mulai berjalan. Caroline lebih dulu memilih masuk ke Supermarket untuk berbelanja kebutuhan bulanan terlebih dahulu.


"Carol, aku dorongkan trolimu saja, ya," ucap Shirley.


"Kenapa? Apa kamu tidak belanja?"


Shirley menggeleng. "Kan aku belum gajian."


"Hemm, jangan seperti itu, Shirley. Oh ya, ambilah troli dan mulailah belanja. Aku yang akan membayarnya," perintah Caroline.


"Jangan, Carol! Aku sudah banyak merepotkanmu."


"Please, jangan tolak! Kamu teman terbaikku. Setidaknya pilihlah sedikit saja dan belanjalah."


Shirley menuruti ucapan Caroline. Dia bergegas mengambil troli dan mulai memilih beberapa barang. Caroline pun sama sibuknya sekarang. Mereka berjalan menyusuri seluruh Supermarket untuk mengumpulkan barang belanjaannya. Setelah selesai, Caroline meminta Shirley menunggunya di kasir.


"Tunggu saja di kasir. Aku mau mencari satu barang lagi," ucapnya.


Tak lama, Caroline sudah berada di antrean belakangnya Shirley. Setelah kasir memberikan jumlah pembayaran untuk Shirley, Caroline memintanya untuk dijadikan satu dengan barang belanjaannya.


"Jadikan satu sama punyaku saja, Kak. Aku yang akan bayar," ucap Caroline.


"Baik, Nona," jawab kasir tersebut.


Setelah selesai belanja, Caroline mengajak Shirley untuk memasukkannya ke dalam mobil terlebih dahulu. Supaya ketika masuk ke restoran, mereka tidak ribet lagi membawa kantong belanjaannya.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai, Caroline mengajaknya kembali ke dalam.


"Kamu ingin makan apa? Aku ingin makan Steak," ucap Caroline.


"Aku ikut saja, Carol. Maklum, sudah lama aku tidak pernah makan Steak juga," canda Shirley.


"Baiklah, ayo. Aku punya langganan restoran enak yang menyediakan aneka macam Steak."


Restoran yang dituju memang khusus menyediakan aneka macam Steak. Di sana, Caroline memesan dua Steak dan minuman. Sambil menunggu makanannya datang, keduanya mengobrol terlebih dahulu.


"Carol, seandainya mamanya Tuan Will memberikan restu padamu, apakah kamu akan langsung menerima pinangannya?"


"Aku belum tahu, Shirley. Aku butuh penjelasan darinya dulu kenapa dia bisa bercerai dengan mantan istrinya. Aku harus mengantisipasi kejadian di masa mendatang. Bisa saja mantan istri William tiba-tiba datang dan membalaskan perbuatan William kepadaku."


Shirley memikirkan ucapan Caroline. Terdengar seperti menonton sinetron ikan melayang kalau mendengar cerita seperti itu. Biasanya, mantan istri suaminya akan bertindak nekat dan berusaha merebut kembali apa yang telah menjadi milik orang lain.


"Wah, ngeri juga ya. Apa kamu pernah bertemu dengan istri Tuan Will, eh maksudku mantan istrinya?"


Ingatan Caroline kembali pada saat makan siang bersama Lewis. Dia menceritakan semua kejadian pada hari itu. Dia juga menceritakan bagaimana Lewis menolongnya dan juga tentang bagaimana dia bertemu pertama kali dengan pria itu.


Ada dua hal yang membuat Shirley sangat terkejut. Pertama, Tuan William hampir saja membuat Caroline kehilangan kehormatannya. Untung saja rekan kerjanya itu sadar dengan cepat. Jika tidak, hari itu akan menjadi hari yang paling mengerikan seumur hidup Caroline karena gadis itu melakukannya dengan paksaan. Kedua, Shirley penasaran dengan Tuan Lewis yang katanya ada kemiripan dengan Tuan William itu. Kalau dia bisa bertemu dengan Tuan Lewis dan menjadikannya pelampiasan karena tidak berhasil mendapatkan Jack, tidak masalah, kan?


"Aku tertarik dengan Tuan Lewis, Carol," ucap Shirley.


Caroline terkejut. Ternyata Shirley malah tertarik dengan pria tampan yang diceritakannya itu. Padahal Caroline sendiri sudah diperingatkan mendiang mamanya.


Mereka menghentikan obrolannya. Steak yang sudah dipesan datang. Mereka menikmatinya dulu selagi masih panas. Rasanya luar biasa menikmati steak yang baru matang. Ada sensasi aneh dan sangat nikmat ketika memakannya. Tentunya tidak diragukan lagi mengenai rasanya.


Caroline lebih dulu menyelesaikan makannya. Dia langsung meminum lemon tea yang sudah dipesannya. Dia lekas mengembalikan gelas yang dipegangnya. Tatapan mata Caroline membulat sempurna manakala dia menemukan sosok yang baru saja dibicarakan.


"Lewis?" gerutunya.


Dari jauh, pria itu melihatnya dan mendekati tempat duduk Caroline. Sebenarnya gadis itu ingin menghindarinya, tetapi Shirley belum menyelesaikan makannya, dia tidak tega meninggalkannya seorang diri.


"Hai, Carol. Apa kabar? Lama kita tidak bertemu," sapa Lewis.


Shirley yang fokus pada makanannya, menoleh sejenak untuk melihat wujud pria yang menyapa rekan kerjanya itu.


Hah? Inikah yang dimaksud Caroline? Orang yang baru saja diceritakannya. Apa aku tidak salah lihat? Ini sih bukan sekedar mirip, tetapi mirip banget.


"Aku baik, Lewis. Bagaimana denganmu?"


"Boleh aku duduk di sini?" tanya Lewis meminta persetujuan.


Setelah keributan tempo hari, rasanya Caroline tidak nyaman bertemu dengannya lagi. Malah Lewis terlihat lebih kasar dari sebelumnya. Ingin mengusir pria itu, tetapi ini tempat umum.


"Silakan saja," jawab Caroline.

__ADS_1


Shirley baru saja menyelesaikan makannya dan langsung minum. Untuk sementara waktu, biarlah dia menjadi orang ketiga sebelum mendapatkan giliran untuk berbicara.


"Sudah makan?" tanya Lewis.


"Seperti yang kamu lihat. Ini piring bekas makanku," jawab Caroline ketus.


"Oh, maaf. Mungkin mau menemaniku untuk makan lagi?" tawar Lewis.


"Ehm, maaf Tuan. Temanku sudah makan," sahut Shirley yang mulai terlihat kesal.


"Oh, rupanya ada orang lain di sini," sindir Lewis.


Jika bukan karena Caroline rekan kerjanya, bisa saja Shirley bertindak nekat. Mengguyur pria itu dengan air, misalnya.


"Lewis, katakan ada apa? Aku harus pergi sekarang. Aku tidak banyak waktu," ucap Caroline.


"Tunggulah sebentar, Carol! Aku mau meminta maaf padamu. Aku telah berbuat salah dan seharusnya aku minta maaf."


Ck, dasar pria labil. Kapan hari ucapannya saja sudah menyakitkan seperti itu. Mana bisa aku percaya lagi padanya.


"Jangan buang-buang waktuku. Aku harus mengantar temanku pulang sekarang. Ayo Shirley, kita pergi dulu. Biarkan pria ini dengan dunianya sendiri," ajak Caroline.


"Apa kamu tidak ingin bertanya padaku, kenapa aku bisa mirip dengan William Austin?" tanya Lewis.


Deg!


Pertanyaan itu melayang-layang dipikiran Caroline semenjak pertemuan keduanya di kantor Lewis kala itu. Kemungkinan terbesar, Lewis masih bersaudara dengan William. Ingatannya kembali ke masa di mana susunan ruangan kerjanya menyerupai ruangan kerja Tuan Darius.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Caroline.


Lewis terdiam kemudian menatap gadis itu dengan tatapan tidak biasa. Sementara Shirley juga ikutan penasaran apa yang akan dikatakan oleh pria itu.


"Aku? Kamu mau tahu siapa aku sebenarnya?" Lewis seakan berusaha mempermainkan Caroline agar gadis itu tidak pergi dari hadapannya.


Caroline terdiam. Dia tidak peduli lagi apa yang akan diucapkan pria itu.


"Aku adalah sepupunya William Austin."


...🍓🍓🍓...


Hai hai hai Kakak Readers di mana pun berada. Emak mau rekomendasikan karya teman Emak yang keren ini. Yuk kepoin. Jangan lupa kasih bintang, favoritkan, terus baca, dan tinggalkan jejak berupa like dan komentar.


Mantan Terindah by Author rini sya


Terima kasih. Luv yu All... 😍😍😍


__ADS_1


__ADS_2