Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Bukan Suami Istri


__ADS_3

Mengenai surat semalam, Caroline tidak akan mengomentari apapun. Pagi ini, dia menyiapkan sarapan pagi untuknya dan William. Bukan maksud hati untuk memanjakan pria itu, tetapi mengingat pagi ini mereka harus segera bertemu klien membuat Caroline sedikit mengalah.


Aroma masakan harumnya menyeruak di dalam Villa yang ditempatinya membuat William bergegas keluar dari kamar. Ada rasa bahagia memandang Caroline yang sedang memasak di dapur.


"Carol, apakah pagi ini aku dibuatkan sarapan?" tanya William. Pria itu tidak ingin membuat kesalahan lagi demi kelangsungan proyek hari ini.


"Tunggulah di situ!" Caroline menunjuk meja makan. "Sebentar lagi makanannya siap."


William menuju meja makan dan duduk di sana. "Terima kasih, Carol."


William memandang lekat pada Caroline yang sangat cekatan di dapur.


Dia ini paket komplit. Sudah cantik, cerdas, dan pandai memasak pula. Rasanya semakin hari bersamanya aku semakin cinta. Tapi, tahan dulu Will. Jangan bangunkan macan tidur itu sampai proyek ini selesai. Setelah ini, pertempuranku dengan Jack akan berlanjut. Aku tidak boleh menyerahkan Caroline pada adikku itu.


"Will, halo...," panggil Caroline. Gadis itu meletakkan sepiring makanan di depannya. "Makanlah! Pagi-pagi sudah melamun saja. Kalau lagi kangen istri, tunggulah beberapa hari lagi juga selesai."


Pandangan William beralih menatap Caroline. Gadis itu semakin hari membuatnya semakin gila.


Kalau terus seperti ini, aku bisa gila. Dia sangat cantik!


"Will, makanlah. Kita bisa terlambat ke tempat pertemuan!" Caroline selalu mengingatkannya karena dia harus bersikap profesional selama bekerja. Dia tidak ingin mengecewakan Tuan Darius.


"Terima kasih, Carol." Barulah Will mengambil sendok dan garpunya. Sepiring nasi goreng yang aromanya harum, ditambah dengan irisan daging ayam yang tidak pelit dan beberapa sayuran menjadi menu sarapan William pagi ini. Tak lupa pula, Caroline menyiapkan secangkir kopi dan segelas air putih untuknya. William masih terpesona memandang gadis di hadapannya, sesekali sambil menyuapi diri sendiri dan mengunyah makanannya.


William tidak pernah mendapatkan pelayanan seperti ini dari Roseanne. Wanita itu selalu memesankan makanan Online ketika tinggal di apartemennya dulu. Dia juga sering mendapatkan pelayanan dari pembantu yang sengaja di sewanya.


Perbedaan Caroline dan Roseanne sungguh besar sekali. Walaupun dari usia lebih matang Roseanne, tetapi kenyataan hidup membuat Caroline bisa menguasai segalanya.


Sepiring nasi goreng tandas begitu saja sampai tak tersisa. Caroline secepatnya mengambil bekas piring kotor dan perlengkapan lainnya untuk dicucinya.


Setelah semua kegiatannya di dapur selesai, Caroline kembali kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti baju. Dua puluh menit waktu yang cukup untuk seorang Caroline. Dia langsung memakai high heels-nya.


William sudah menunggunya di dalam mobil. Melihat Caroline yang baru saja muncul, aura William semakin berseri-seri.

__ADS_1


Seharusnya kamu yang menjadi istriku, Carol.


Tanpa menunggu terlalu lama, Caroline segera masuk ke kursi penumpang. Dia enggan untuk duduk di samping William.


William segera mengemudikan mobilnya menuju Villa yang sedang mengalami proses pembangunan. Di sana, mereka akan bertemu dengan Nyonya Aline, klien dari perusahaan Austin Group.


"Terima kasih untuk pagi ini," ucap William.


"Sama-sama, Will."


Mobil memasuki area pembangunan Villa. Mereka memakai helm proyek untuk masuk ke areanya. Nyonya Aline baru saja tiba. William dan Caroline menyambutnya terlebih dahulu.


"Selamat datang, Nyonya Aline," sapa Caroline kemudian menjabat tangan wanita itu. Hal yang sama dilakukan William pada wanita itu.


"Wah, senang bertemu dengan kalian berdua. Tuan William dan Nona Caroline. Pasangan yang serasi. Cocok seperti suami istri," ucap Nyonya Aline.


"Tapi, kami bu__"


Caroline hendak menjelaskan sesuatu keburu dijawab oleh William.


"Ya, Anda benar, Tuan Will. Tuan Darius memiliki dua orang putra dan belum memiliki menantu. Jadi, kapan akan diresmikan?" tanya Nyonya Aline.


"Secepatnya, Nyonya," jawab Caroline.


"Wah, terkadang pihak perempuan sangat tidak sabaran, ya. Jangan khawatir Nona Caroline, saya dulu juga sama seperti Anda." Nyonya Aline dan Caroline sepertinya salah paham.


"Bukan itu, Nyonya. Maksudku, peresmian Villa ini. Mari masuk dulu dan melihat sampai berapa persen proses pembangunannya," ajak Caroline.


William seperti mendapatkan jackpot karena di dukung oleh Nyonya Aline. William mengikuti dua orang itu dari belakang. Benar kata papanya, Caroline sangat lincah menjelaskan semua detail proyek pembangunan ini dan membuat Nyonya Aline sangat puas dengan hasilnya.


"Wah, ini luar biasa, Nona. Austin Group memiliki orang handal seperti Anda. Saya merasa ini proyek pertama yang bekerja sama dengan perusahaan Tuan Darius dan memberikan kepuasan untuk saya."


Binar mata bahagia Nyonya Aline nampak jelas terlihat.

__ADS_1


"Bagaimana, Nyonya? Apakah Anda puas dengan pengerjaan dan penjelasan yang diberikan Nona Caroline?" tanya William.


"Wah, ini bukan lagi puas, Tuan Will. Bahkan, ini sangat memuaskan."


Ketiga orang itu perlahan mulai keluar dari area bangunan. William selalu berada di samping Caroline membuat Nyonya Aline mengomentarinya.


"Tuan Darius cocok kalau mempunyai menantu seperti Anda, Nona. Awalnya saya pikir, kalian berdua sepasang suami istri," ucap Nyonya Aline.


"Kami bukan suami istri, Nyonya." Caroline menegaskan agar Nyonya Aline tidak salah paham padanya. Bisa bernasib tragis jika Nyonya Aline sampai bertemu dengan Nyonya Lavina dan Tuan Darius.


"Baiklah, ini hanya salah paham, Nona. Tetapi, saya pikir kalau kalian sangat cocok. Ini menurut pengamatan saya pribadi. Saya minta maaf, Nona," ucap Nyonya Aline.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya hanya menghindari kesalahpahaman saja," balas Caroline.


William tiba-tiba menghilang entah kemana. Apapun alasan William menghilang, itu tidak dibenarkan.


"Kemana Tuan William? Bukankah ini seharusnya penandatanganan berkas kunjungan proyek yang sedang berlangsung?" tanya Nyonya Aline.


"Anda mencari saya, Nyonya?" tanya William yang muncul entah dari mana arahnya.


"Iya, Tuan. Berkas tandatangan apakah sudah siap?"


William menyodorkan satu map yang berisi daftar kehadiran dan cek list kondisi proyek. Setelah mereka semua menandatangani, William menyampaikan sesuatu hal.


"Karena sudah selesai untuk pertemuan pertama hari ini, mari ikut kami makan siang dulu, Nyonya," ajak William. "Kebetulan saya sudah reservasi. Jadi, kita bisa langsung ke sana."


"Mari, Nyonya," ajak Caroline.


Mereka bertiga naik mobil William. Nyonya Aline dan Caroline berada di kursi penumpang. Sepanjang jalan menuju restoran, William tak hentinya mencuri pandang pada Caroline.


Caroline tidak menyadari karena sedang asyik mengobrol dengan Nyonya Aline.


Kamu sungguh porsi yang luar biasa, Carol. Aku sangat mencintaimu. Semakin hari cinta ini semakin besar dan terus bertambah. Aku hanya mampu berharap semoga ada keajaiban yang bisa mempersatukan kita kembali.

__ADS_1


Mobil William mulai memasuki area parkir restoran. Mereka bertiga turun dan langsung masuk ke tempat yang sudah di pesan atas nama Austin Group.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“BersambungπŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


__ADS_2