GERHANA CINTA

GERHANA CINTA
penyesalan


__ADS_3

Juna terdiam terpaku "apa yang sudah aku katakan"


karena rasa cemburu buta dia sampai memaki istrinya sendiri menuduh hal yang tidak ada buktinya, ia sudah benar-benar keterlaluan Juna meremas rambutnya sendiri matanya merah seakan ingin menjerit sekuat tenaga rasa penyesalan bergelanyut di hati sanubarinya "apa yang sudah aku lakukan".


Ia menatap ke arah pintu kamar Rayna kamar yang dulu pernah Rayna tempati sewaktu dia menyakiti hati istrinya untuk pertama kalinya dan sekarangpun kamar itu kamar yang Rayna masuki di saat aku menyakiti hatinya untuk yang kedua kalinya. Laki-laki macam apa aku ini yang mementingkan ego sendiri kenapa aku tidak bisa lebih rasional melihat fakta bukan mengasumsikan sendiri menuduh istriku sendiri berbuat yang tidak-tidak.


Juna pun beranjak menghampiri kamar Rayna, ia ragu untuk mengetuk pintu kamar itu, samar terdengar suara tangisan Rayna yang sangat menyayat hati. Akhirnya Juna pun mengetuk pintu kamar itu.


"Sayang,,,, maafkan abang, tolong buka pintu kamarnya.


lama tidak ada jawaban dari Rayna


"Sayang abang mohon buka pintu kamarnya kita harus bicara, abang benar-benar minta maaf"


Dua jam sudah Juna berdiri di depan pintu kamar Rayna tidak ada sedikitpun tanda pintu itu akan terbuka.Junapun akhirnya masuk ke dalam kamarnya sendiri ia merasa menyesal benar-benar menyesal.


Masih terngiang di memorinya bagaimana siang tadi Rayna di cemooh teman-temanya membandingakanya dengan Manda tapi ia diam dan sekarang dia sendiri yang memakinya menuduhnya tidak sedikitpun ia membela dirinya sendiri, dia hanya meminta maaf atas kesalanya padahal semua ini salahku.


"Rayna maafkan aku, aku memang suami yang tidak berperasaan bagaimana mungkin aku menyakiti hati istriku sendiri".Tanpa terasa ia pun tertidur dengan rasa penyesalan hingga pada pagi hari ia terbangun di lihatnya waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi, ia bergegas ke kamar mandi biasanya Rayna akan membangunkan dia di subuh hari.Setelah selesai berpakaian ia keluar dari kamarnya ia melihat pintu kamar Rayna yang masih tertutup rapat.

__ADS_1


" BI ipah apa bibi melihat Rayna?"


"Tidak mas Juna, sedari tadi bibi ga ngeliat neng Rayna atau dia sudah pergi bekerja, soalnya bibi baru datang satu jam lalu"


"Oh ya sudah bi"


"Apa Rayna masih ada di kamar atau dia sudah pergi bekerja, tapi apa mungkin dia pergi bekerja di saat kondisi seperti ini, batin juna"


Rayna terbangun pada pukul sembilan pagi kepalanya terasa berat badanya terasa mengigil mungkin efek dari semalaman dia menangis, hari ini ia mengirim pesan untuk tidak masuk kerja kondisinya tidak memungkinkan apalagi ia harus beradaptasi dengan job barunya setidaknya ia harus menyiapkan otak yang segar.


Hatinya sedang tidak baik-baik saja rentetan kejadian yang menguras emosinya benar-benar membuat tubuhnya down. Saat ini ia ingin pulang ke rumah orang tuanya ia ingin menenangkan pikiranya tapi ia tidak ingin orangtuanya kecewa melihat keadaan rumah tangganya yang sedang tidak baik-baik aja. "Elma ya Elma aku butuh dia saat ini" tidak lama kemudian Rayna pun mencoba menghubungi adik iparnya itu.


"lu kenapa Jun perasaan hari ini lu kacau banget" Adi salah seorang teman dekat Juna masuk ke dalam ruangan Juna.


"Gw ga tau di,terlalu banyak masalah yang datang silih berganti semenjak gw menikah,ada aja masalah yang datang gw ngerasa kalo gw gagal menjadi suami yang baik buat Rayna"


"Kemarin gw mendengar anak-anak yang lain membicarakan tentang Rayna"


"Apa yang mereka bicarakan, apa mereka membandingkan Rayna dengan Manda"

__ADS_1


"Ya mereka ngerasa kalo lu ga pantas menikah dengan Rayna apalagi bella ia yang seperti patah hati sekali"


"Apa hak mereka dengan mencampuri urusan rumah tangga gw, mau gw menikah dengan siapa itu privasi gw mereka ga ada hak mengatur hidup gw" tegas juna.


"Jalan satu-satunya lu harus menunggu Manda kembali dan lu umumin perihal pernikahan lu dengan Rayna, kasian dia semakin lama lu sembunyikan statusnya semakin lama lu menyakiti perasaanya dia selalu saja jadi bahan perbandingan dengan Manda,,,lu juga harus tegas tunjukan kalo lu suami terbaik buat Rayna, jangan sampe lu menyesal di kemudian hari. Lu ingat bos dia yang tempo hari kita ketemu gw yakin dia ada perasaan lebih sama istri lu, cuma gw belum yakin seratus persen tapi dari sikapnya yang menurut gw ga wajar seorang atasan bersikap seperti itu kepada bawahanya. Lu harus lebih berhati-hati menjaga Rayna, dia memang tidak cantik dari diluar tapi dia cantik dari dalam, jangan sampe lu menyesal. karna di luar sana banyak yang ingin menjadikanya bunga di tamanya.Oke gw pergi dulu,, mending lu pulang selesaikan dulu masalah rumah tangga lu jangan masalah pribadi lu bawa ke pekerjaan.


Adi lun pergi meninggalkan Juna sendiri.


Juna terlihat diam tidak lama berselang ia pun beranjak pergi meninggalkan kantornya.Ia memutuskan untuk pulang lebih awal juna ingin meminta maaf dan menyelesaikan permasalahan rumah tangganya.


Sesampainya di rumah ia tidak menemuka Rayna saat memasuki kamar di lihatnya sebagian baju Rayna yang sudah tidak ada di lemari barang-barang pribadi Rayna pun tidak ada Juna begitu panik kemana istrinya itu pergi.


"Bi ipah,,, apa bibi tau Rayna pergi kemana"


"Bibi ga tau mas Juna tapi tadi bibi liat sepertinya neng Rayna sakit mukanya pucet banget trus tadi neng Rayna muntah-muntah terus,dia ga bilang apa-apa ga bilang mau kemana cuma yang bibi liat sepertinya neng Rayna bawa koper gitu".


Arjuna terduduk lemas kemana Rayna pergi pasti dia sakit akibat semalam bertengkar denganya.


"Kemana kamu pergi Rayna... "

__ADS_1


__ADS_2