GERHANA CINTA

GERHANA CINTA
kecewa


__ADS_3

Rayna tidak sanggup lagi melihat suaminya berpelukan mesra dengan Amanda, dia pun beranjak pergi meninggalkan ballroom hotel, hatinya amat sangat sakit. Dengan berjalan cepat Rayna meninggalkan area hotel, air matanya terus jatuh membasahi pipinya.


Rayna berjalan menyusuri trotoar kota,ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang ia hanya ingin pergi menjauh dari tempat itu.Andai Elma bukan adik dari Juna mungkin ia akan pergi menemuinya mencurahkan segala perasaanya kepada sahabatnya itu, ia merasa malu jika harus terus merepotkan keluarga Juna, kali ini biarlah ia tanggung sendiri rasa sakit ini.Di saat sedang berjalan tiba-tiba sebuah mobil CRV datang mendekati dirinya. Tidak lama kemudian turunlah seorang laki-laki tampan.


"Rayna.. "


"Pak Rio....kenapa ada disini"


"ikut aku.. "


"Tapi pakk.... "


Rio pun menarik tangan Rayna untuk masuk ke dalam mobilnya, ia pun berputar ke arah kemudi setelah itu ia melajukan mobilnya.


Rio melihat ke arah Rayna ia melihat wajah manis Rayna yang begitu kusut dengan sisa air mata.


"Di mana rumahmu aku antar pulang"


"pak Rio tidak usah repot-repot aku bisa pulang sendiri'


"ini sudah malam ray,, bahaya wanita berjalan sendiri"


Tiba-tiba HP Rayna berdering tapi ia abaikan saat ini Rayna tidak ingin bicara dengan suaminya itu. Hingga beberapa kali suara itu terus terdengar.


"Raya tolong angkat HP mu aku tidak konsen menyetir dengan suara deringan HP mu, ucap Rio"


Akhirnya Rayna memantikan HP nya,,, ia benar-benar tidak ingin bicara apapun dengan suaminya. Hatinya begitu sesak dan sakit, air matanya terus saja keluar berapa kalipun ia mengusap air matanya dengan tanganya tapi seperti tidak ada habisnya air mata itu keluar.


"Pak aku turun di depan saja, rumah ku tidak terlalu jauh dari gerbang komplek ini"


"Sudah aku antarkan kamu sampai depan rumah kamu"


Akhirnya Rio pun mengantar Rayna persis di depan rumahnya.


"maaf Pak aku ga bisa mengajak bapak masuk dulu suami saya tidak di rumah"


"ya tidak apa-apa sekarang kamu masuk udah malam"

__ADS_1


"Terima kasih pak atas tumpanganya, selamat malam"


Rayna pun masuk ke dalam rumahnya dengan langkah gontai,hatinya benar-benar kacau.


Di ballroom hotel suasana pesta reuni sedikit lebih lengang ada sebagian peserta reuni yang telah pulang.


Terlihat sikap Juna yang gelisah sesekali ia menatap ke HP miliknya, beberapa kali ia menghubungi Rayna tapi tlp nya tidak di angkat malah pada akhirnya HP Rayna seperti di non aktifkan.


"Juna ada apa kamu terlihat seperti gelisah seperti itu? tanya Amanda"


"Tidak ada apa-apa"


Di meja itu masih berkumpul Juna,Amanda dan teman-teman dekatnya yang lain.Mereka seperti tidak nada habisnya membicarakan kegiatan mereka masing-masing, Amanda masih menjadi pusat pembahasan teman-temanya di topang dari keluarga kaya wajahnya yang cantik karir yang gemilang seolah dialah wanita paling sempurna.


Juna melihat jjam di tanganya sudah menunjukan pukul 23.30 malam.


"Manda ini sudah malam aku harus pulang"


"Sebentar lagi sayang ini baru jam setengah dua belas aku masih kangen sama kamu"


"Tapi.... "


Juna merasa tidak tenang ia mengkhawatirkan istrinya yang pergi terlebih dahulu.


" Manda ayo aku antar pulang sekarang, tapi kalo kamu masih mau disini aku pulang duluan"


"Ahh kamu kok ga asik sihh yang, ya sudah antar aku pulang saja"


Akhirnya juna pun pulang, terlebih dahulu ia mengantarkan Amanda ke apartemenya. Di sepanjang jalan Manda bergelanyut manja di bahu Juna, sesekali ia mencium pipi Juna.


Ada perasaan bersalah yang berdenyut di hati Juna tapi ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Amanda saat ini.Ia butuh waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya.


"Sayang besok aku ingin kita pergi berdua menghabiskan waktu bersama, jemput aku ya"


"Ya.. cepat masuk sudah malam"


Juna hanya ingin cepat pulang ke rumahnya apapun yang dikatakan Manda di jawabnya dengan kata "Iya" biar cepat pikirnya.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Juna langsung masuk ke dalam kamar, ia melihat istrinya sudah tertidur dengan posisi menyamping membelakangi dirinya. Bergegas ia membersihkan diri dan mengganti pakaianya. Juna beranjak naik ke atas kasur di singkapnya selimut yang menutupi tubuh istrinya ia ikut masuk ke dalamnya.


Perlahan tangan Juna mulai memeluk tubuh Rayna.


"Sayang... "dengan penuh rasa sayang Juna mencium ubun-ubun kepala Rayna. Tidak ada respon sama sekali. Juna tahu Rayna belum tidur, helaan napas Rayna yang terdengar tersenggal menandakan kalo Rayna sedang menahan tangisnya.


" Sayang,, maafkan abang"lirih Juna


Semalaman Juna mengungkapkan kata maaf kepada Rayna walau tidak ada respon sama sekali dari istrinya itu., sampai ia tertidur pulas di samping Rayna.


Pukul 04,30 pagi Rayna terbangun ia melihat suaminya tertidur dengan memeluk dirinya, sekejap ia menatap wajah suaminya,kab teringat kembali kejadian semalam betapa Juna memeluk erat Amanda. Terlihat dari sorot matanya betapa ia merindukan Manda.


"Apakah harus sesakit ini bang aku mencintaimu, sanggupkah aku bertahan hidup bersamamu"


Di saat Rayna sedang menatap wajah suaminya tiba-tiba Juna membuka matanya, mata Rayna dan Juna saling menatap,campuran emosi amarah dan sakit hati menggelanyut di hati Rayna.


"sudah subuh sholat dulu"


"sebentar lagi maish ada waktu"Juna pun memeluk kembali tubuh Rayna. Rayna berusaha melepas pelukan Juna tapi semakin ia ingin melepas semakin Juna memeluknya dengan erat.


" Lepaskan"... Bentakan Rayna mengagetkan Juna.


"Tolong lepaskan".. Akhirnya Juna pun melepaskan pelukanya ia menatap ke arah Rayna,baru kali ini Rayna berani membentaknya.


Stelah selesai melaksanakan sholat subuh Rayna beranjak keluar dari kamarnya. Ia ingin mengalihkan perhatiannya dengan bekerja membersihan rumah, ia tidak ingin mengingat kejadian semalam. Juna melihat Rayna hikir mudik dari mulai menyapu mengepel lantai sampai beres-beres mencuci pakaian dan pekerjaan rumah lainya.Terakhir ia menuju dapur untuk membuatkan sarapan,di saat ia sedang memotong !sayuran tiba-tiba jarinya teriris pisau. Darah segar mengucur dari jarinya.


"Rayna.. kamu tidak apa-apa"Juna menghampiri Rayna di lihatnya darah yang terus keluar dari jari tangan Rayna.


Rayna tidak menjawab sepatah pun kata dari Arjuna


"Sini abang obati dulu tangan kamu"


Rayna pun menepis tangan Juna ia pergi berlalu ke kamarnya.


"Sayang kamu jangan seperti anak kecil dong, aku hanya khawatir"


Rayna tidak menanggapi semua kata-kata dari suaminya.ia seolah menutup mulut dan telinganya.

__ADS_1


Hatinya sudah terlalu kecewa dengan segala sikap Juna.


__ADS_2