
Waktu menujukan pukul 04.00 di saat Juna akan memeluk Rayna ia meraba di samping tempat tidurnya kosong samar ia mendengar suara orang yang muntah-muntah di kamar mandi.
Hoekkk.. hoekkk..
Juna pun segera menyusul ke kamar mandi tampak Rayna sedang berjongkok di depan toilet dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin membasahi.
Dengan sabar Juna mengurut punggung Rayna.
Rayna tampak lemas kakinya tidak bisa lagi menopang tubuhnya ia pun lalu terduduk di lantai kamar mandi.
Tanpa banyak tanya Juna langsung menggendong Rayna ke tempat tidur ia segera membuat teh manis hangat dan mengganti baju Rayna yang basah.
"gimana udah baikan?? kenapa ga bangunin abang sayang,,dari kapan muntah-muntah gini??tanya Juna dengan wajah khawatir
"dari jam tiga subuh tadinya cuma mau buang air kecil pas masuk ke kamar mandi tiba-tiba perut mual banget"
"ya udah sekarang istirahat, abang ambil air hangat dulu apa ada yang mau di makan abang siapin"
Rayna menggelengkan kepalanya ia lalu menutup matanya sesekali ia memijit kepalanya sendiri
"apa ada yang sakit"
"kepalaku pusing banget kaya muter-muter gitu mana ga ada tenaga buat berdiri pun kayanya aku ga sanggup"
"kita ke dokter aja ya periksa kandungan kamu sekalian minta vitamin dan obat mual"
"iya,, tapi nanti aja sekarang aku ga kuat buat ke rumah sakit pusing banget"
Tampak Juna memijit kepala Rayna ia pun mengusap badan Rayna dengan kayu putih. Setelah melihat Rayna yang tertidur pulas ia pun segera keluar menemui bi ipah.
"bi emang kalau ngidam sampe berapa bulan aku ga tega liat Rayna seperti ini kurang tidur muntah-muntah terus"
"tergantung gimana kondisi ibunya tapi rata-rata sampe 4 bulan lah mas"
Tampak Juna merenungi ucapan bi ipah, sudah dua kali Rayna mengalami keguguran apa yang pertama dan kedua ia merasakan ngidam yang sama seperti ini dan di saat itu aku tidak ada di sampingnya betapa buruknya aku yang menjadi suaminya aku sudah 2 kali gagal menjadi ayah tapi untuk sekarang aku ga mau kehilangan untuk yang ketiga kalinya.
"bi biasanya kalo wanita ngidam makanya harus apa aja biar ga sering muntah-muntah"
"ya tergantung istrinya yang hamil mas Juna, kita ga bisa memprediksi makanan apa yang ga bikin dia mual"
"ohh ya sudah tolong buatin bubur buat Rayna, kasian dari tadi muntah-muntah terus"
__ADS_1
Juna lalu kembali masuk ke dalam kamarnya setelah melaksanakan sholat subuh ia kalau duduk di samping tempt tidurnya.
"sayang sholat subuh dulu"
Rayna lalu membuka mata "tolong bantu wudhu dulu bang"
Juna lalu membantu Rayna berwudhu dan memakaikan mukena.
"aku sholatnya sambil duduk aja ga kuat berdiri pusing banget"
"iya,, ga apa-apa"
Setelah selesai melaksanakan sholat subuh Rayna menyandarkan tubuhnya di kasur.
"abang hari ini kerja? maaf kalau aku ga bisa menyiapkan sarapan dan baju abang"
"iya jangan khawatir nanti abang bisa siapin sendiri, gimana keadaan kamu sekarang? nanti sore kita periksa ke rumah sakit ya sebenarnya abang ga tega ninggalin kamu sendiri di rumah tapi kerjaan abang lagi ga bisa di tinggalakan.
" ga apa-apa ada bibi di rumah, kalau ada apa-apa aku bisa minta tolong bi ipah"
Juna lalu membelai pipi Rayna setelah itu ia mengecup kening Rayna.
"maaf dulu di saat awal kehamilan kamu dan yang kedua abang ga ada di samping kamu, abang ga bisa bayangin bagaimana kamu menghadapi semua ini sendiri tanpa ada abang di samping kamu"
"ehm.. semalam abang udah makan masakan kamu dan ternyata enak banget sekarang abang minta bi ipah angetin ikan yang kemarin kamu masak buat bekel abang di kantor"
Tampak wajah Rayna sedikit ceria ternyata jerih payahnya tidak sia-sia Juna menghargai masakanya.
"makasih ya.. "
"untuk... "
"iya itu abang udah mau makan masakan aku,, padahal aku tahu abang pasti udah kenyang makan di luar"
"abang ga mau mengecewakan kamu sayang lagian kemarin abang sengaja makan sedikit di sana karna tau kamu pasti masakain buat abang"
Rayna pun tersenyum sebegitu perhatiannya Juna kepadanya.
"ohh ya abang selama aku tidak disini siapa aja yang suka main ke sini" Rayna ingin mengetes kejujuran suaminya.
"selama kamu pergi ada mama papa dan Elma yang sering menemani abang disini"
__ADS_1
"selain mereka ada siapa lagi"
Juna tampak mengerutkan keningnya ia menatap Rayna.
"siapa lagi cuma mereka yang sering nginep disini ga ada siapa-siapa lagi"
"yakin... "
Juna tampak berfikir.. "ohh maksud kamu bella, dia temen abang di kantor kalian pernah ketemu kan waktu reuni Dulu dia sering main kesini tapi ga sendiri ada temen-temen yang lain rame-rame kadang pernah ada beberapa kali ia kesini sendiri itupun membahas masalah kerjaan ga lebih soalnya waktu itu abang lagi ga fokus kerja karna mencari kamu"
Tidak lama kemudian bini ipah datang dengan membawa nampan berisi bubur dan segelas susu hamil untuk Rayna.
"neng di makan dulu mumpung anget"
"iya bi makasih... "
Juna pun lalu menyuapi Rayna dengan telaten..
"kamu jangan pernah berpikiran macam-macam tentang abang ga mungkin abang melakukan yang tidak-tidak di belakang kamu, apalagi sekarang ada buah cinta kita di sini abang hanya akan fokus sama kalian berdua karna kalian berdua itu hidupnya abang"
Rayna sedikit meneteskan air mata mendengar ungkapan rasa cinta dari Juna, Laki-laki yang dulu pernah menolak kehadiranya tapi sekrang laki-laki ini yang begitu kuat mencintainya.
'terimaksih atas semua cinta abang, semoga selamanya abang akan mencintai dan menyayangi kami"ucap Rayna sambil mengelus perutnya.
Juna pun tersenyum dan memebelai pipi Rayna.
"abang yang harusnya berterimakasih karna kamu masih mau bertahan hidup dengan abang"
Pukul 08.00 Juna berpamitan kepada Rayna.
"abang pergi dulu ya inget kalau ada apa-apa hubungi abang" Juna lalu mencium perut Rayna.
'papa pergi kerja dulu ya nak,, baik-baik bersama mama jaga mama ya sayang"
Cup.. cup.. cup.. beberapa kali Juna mencium perut rata Rayna.
"abang usahakan pulang siang jangan banyak mikirin yang enggak penting harus banyak istirahat ya,"
"iya.. " Rayna pun mencium tangan suaminya.
"Hati-hati dijalan papa"
__ADS_1
Juna tersenyum ketika Rayna menyebutnya dengan sebutan papa ada rasa hangat menyelimuti hatinya.
Juna lalu pergi meninggalkan Rayna di kamarnya.