
"abang ga resign cuma ngambil cuti untuk tiga bulan kedepan"
"kenapa?"tanya Rayna dengan kening mengkerut
"abang ingin kamu kembali ke rumah, kembali menjadi istri abang, tapi abang tau kamu ga akan membuat semuanya menjadi mudah maka dari itu sebisa mungkin akan memanfaatkan waktu yang ada"
"trus kerjaan abang di Jakarta gimana?"
"bisa di remote dari sini"
"trus ngapain juga ikut nyusul kerja disini kan bisa pulang pergi Jakarta-Tasik ga perlu kan harus pindah kerja" ucap Rayna sembari melepas mukena yang di kenakanya.
"abang takut kamu berpaling ke pria lain,tidak menutup kemungkinan kamu kerja di tempat yang baru tanpa ada seorangpun yang tau status kamu gimana kalo ada yang menggoda trus kamu tergoda"
"ya tergantung situasi dan kondisi kalo aku menemukan pria yang lebih baik dari abang kenapa enggak" goda Rayna sambil tersenyum
"ga akan pernah abang izinin siapapun dekat sama kamu,kamu masih istri abang Rayna"bentak Juna.
Juna merasa geram mendengar godaan Rayna saat ini hati nya sedang tidak ingin di ajak bercanda.
"alah aku ga boleh deket sama laki-laki lain sendirinya bebas bergaul sama cewek-cewek di luar sana ga adil banget"
"kamu tidak perlu cemburu sama mereka karna di mata abang semua yang mendekati abang tidak ada artinya,mereka tidak bisa membuat abang galau siang malam seperti kamu"
"gombal.... udah ayo keluar gak baik kita berdua di kamar takut ada setan lewat"
"abang lagi nunggu setan lewat siapa tahu kamu khilaf hee.. hee"
Rayna pun melempar bantal tepat di muka Juna yang sedah terkekeh mentertawakan ya.
Di meja makan ibu dan bapak sudah siap menunggu anak dan menantunya.
"maaf pa jadi menunggu ujar Juna"
"ga apa-apa ayo makan keburu dingin nih".
Di meja makan ibu sudah menyiapkan ayam bakar madu bakwan tahu tempe sambal plus lalapan mentah sungguh sangat menggoda selera.
Setelah selesai makan Juna dan Bapak beranjak ke teras depan rumah untuk merokok.
" nak Juna menginap saja di sini cape kalo harus pulang pergi ke Jakarta"
"sekarang aku tinggal di sini pak untuk beberapa bulan kedepan aku ingin membawa Rayna kembali ke rumah"
"alhmdlh klo gitu kenapa kopernya ga di bawa sekalian"
"ehmm,, maksudnya Juna tinggal di Tasik kota,jadi gini pak Juna sengaja pindah kesini untuk beberapa bln kedepan Juna pengen fokus ke Rayna kalo Juna tinggal di Jakarta dengan segala kesibukan Juna khawatir Rayna akan terabaikan maka dari itu selama tiga bulan kedepan Juna ikut kerja di kantor yang sama dengan Rayna biar gampang ngontrol segala aktivitasnya juga biar lebih cepet dapetin hatinya kembali pak"
Terlihat bapak mengangguk-anggukaan kepala
"anak itu memang keras kepala tapi sebenarnya baik nak Juna harus lebih bersabar lagi menghadapi segala tingkahnya"
"iya pak.. ini semua juga terjadi karna Juna karna Juna yang tidak punya pendirian maafkan Juna pak"
"ya sudah biarkan yang lalu jadi pembelajaran kalian untuk kedepan ya, sekarang saatnya memperbaiki segalanya membuka lembaran baru yang lebih indah, ya udah sekarang temani bapak main catur kemarin si Ganjar kalah sama bapak cemen banget tuh anak"
__ADS_1
"Siapa Ganjar pak?"Juna merasa keluarga Rayna tidak ada yang namanya Ganjar
" itu temen Rayna waktu SMA dulu kemarin datang main ke sini sudah lama itu anak ga main lagi kesini biasanya dulu tiap hari ga lewat tuh anak pasti main kesini nganterin Rayna pulang sekolah"
Ucapan bapak seketika membuat Juna terkejut siapa lagi Ganjar cukup Rio yang terang-terangan menyatakan rasa suka pada Rayna,jangan sampai tumbuh Rio-Rio yang lain.
"apa dia mantan Rayna pak" tanya Juna hati-hati.
"gak tau juga setau bapak Rayna dulu ga punya pacar sewaktu sekolah tapi entahlah bapak juga kurang tau"
Tidak lama kemudian Rayna keluar sambil membawa kopi untuk bapak juga Juna.
"abang ga mandi dulu bau tau"
"nanggung bentar lagi pulang"
"menginap saja besok berangkat bareng Rayna dari sini"
"mau tidur dimana bapak mah sok aya-aya wae (bapak mah suka ada-ada aja)
"di kamar kamu lah dimana lagi" ujar bapak sambil tertawa
"idih enggak ya,, sebelum ijab qobul terikrar kembali Bang Juna pantang tidur bareng sama aku"
Rayna pun masuk kembali ke dalam.
"maafin Rayna ya nak Juna, mungkin dia mau rujuk sama nak Juna kalo didepan penghulu" bapak terkekeh melihat raut wajah Juna buang sedikit masam.
Satu jam berlalu akhirnya bapak dan Juna mengakhiri permainan caturnya.
bukanya di antar"
Tidak lama kemudian Rayna pun muncul ke teras rumahnya.
"abang pulang dulu, besok abang jemput kesini kita pergi bareng ke kantor"
"ga usah abang harus muter kalo jemput kesini alamat kesiangan nanti mana jalanan suka macet kalo pagi-pagi"
"ya udah kita ketemu di kantor aja, salim dulu dong"
Rayna pun meraih tangan Juna dan menciumnya dengan Takzim.
"istri solehah,, ucap Juna sambil mengusap-usap rambut Rayna"
"apaan sih" Rayna menepis tangan Juna.
"galak amat sih sekarang perasaan dulu kamu ga galak kaya sekarang"
"beda jaman bang,dulu aku sering mengalah meski teraniyaya dan tersakiti sama suami dzolim yang susah move on dari mantan sekarang sudah ga ada lagi Rayna nyang oon bisa di tindas seenaknya paham"
Juna pun tersenyum mendengar ocehan panjang istrinya itu.
"bagus kalo begitu tunjukan pada dunia kalo kamu adalah Rayna yang tangguh kuat dan tidak cengeng"
"udah sana kapan baliknya ceramah mulu udah malam mau tidur"
__ADS_1
"iya abang pulang"
Akhirnya Juna pun pergi meninggalkan rumah Rayna.
Pukul 23.00 terlihat Juna sudah merebahkan dirinya di atas kasur badanya terasa lelah setelah seharian beraktivitas iseng-iseng ia membuka galeri ponselnya di liatnya akun sosmed Rayna masih terlihat on.
"katanya ngantuk jam segini masih online"
Juna berfikir jangan-jangan dia sedang online sama temen SMA nya yang kemarin datang ke rumah.
cepat Juna menghubungi no ponsel Rayna.
no Rayna ada dalam panggilan lain, beberapa kali Juna mencoba menghubungi tapi tetep masih dalam mode panggilan lain. Akhirnya Juna mengirim pesan kepada Rayna
"angkat telephone abang"
Tidak lama kemudian Ponsel Juna pun berdering cepat-capat Juna mengangkatnya.
"Rayna,, kamu sedang menelphone siapa malam-malam begini? "
"waalaikum salam.. sama temen kenapa"
"sudah malam tidur jangan kebanyakan main hape"
"kenapa abang yang marah? "
"pokoknya abang gak mau di bantah cepet tidur udah malam kalo enggak besok abang kasih hukuman buat kamu"ancam Juna
" idih maksa banget ya udah aku tidur sekarang padukan yang mulia selamat malam"
tuttt...
Rayna pun menutup panggilan Juna dengan sepihak Juna tersenyum meskipun dengan nada marah tapi Rayna masih menuruti semua permintaan Juna.
**********
Keesokan paginya seperti biasa Rayna masuk kantor pagi ini Rayna di sibukan dengan pekerjaan yang ga ada habisnya mentang-mentang anak baru ia selalu di beri pekerjaan lebih tapi Rayna menerima itu dengan senang hati.
Di tengah kesibukanya terdengar notip WA masuk ternyata dari Juna.
"jam makan siang jangan kemana-mana kamu masuk ke ruangan abang kita makan bersama abang sudah pesan makanan kesukaan kamu"
"iya paduka yang mulia... "balas Rayna
Juna terkekeh melihat balasan dari Rayna sepertinya ia menyematkan nama baru untuk dirinya yaitu *paduka yang mulia* yang semua titahnya tidak bisa di bantah.
Waktu bergulir begitu cepat tidak terasa jam sudah menunjukan pukul 11.00 siang.
" mba rayna ada nyari" ucap salah seorang OB
"siapa?
" kurang tahu bisa mba Rayna sendiri yang menemuinya"
Rayna pun turun dari lantai atas ke area para nasabah menunggu terlihat di pojok dekat teller sedang berdiri seseorang yang sangat ia kenal.
__ADS_1
"Ganjar.. "