GERHANA CINTA

GERHANA CINTA
pekerjaan baru


__ADS_3

Matahari sudah berada di ubun-ubun kepala Rayna merasa menyesal kenapa tadi ia pake jalan kaki sekarang bagaimana pulang ke rumah ia malas untuk berjalan di bawah terik matahari.


"kamu lagi menelphone siapa? tanya Juna, ia melihat Rayna seperti sibuk mengotak atik ponselnya.


" ade bang suruh jemput aku malas pulang kalo jalan kaki"


Juna tersenyum" senjata makan tuan siapa tadi yang mau ngerjain taunya dirinya yang kecapean sendiri.


"abang gendong sampe rumah"


"idih ga deh malu-maluin... bentar deh ini si Rayyan kemana sih"


Tidak lama Rayyan menjawab telephone dari Rayna


"apa teh, ade lagi di luar?


" jemput teteh sama a Juna ke sawah"


"ga bisa atuh teh naggung baru juga nyampe ke rumah temen bapak aja suruh jemput"


"ga sopan kamu nyuruh orangtua ya udah teteh jalan kaki aja"


Rayna pun menutup telephone dengan kesal mau ga mau dia harus jalan kaki ke rumah.


"ga usah kesel gitu dong tadi yang minta jalan kaki siapa?abang sih happy-happy aja jalan kaki apalagi sama kamu terasa dunia milik berdua" goda Juna


Tampak Rayna mendengus sebaliknya mendengar gombalan Juna.


"aku udah tau luar dalam kamu jadi ga mempan di gombalin" ketus Rayna


"pasti kamu tahu sayang semua yang ada di diri abang kan milik kamu seorang" canda Juna


"yeyy ngomongin apa sih.


Akhirnya mereka pulang dengan berjalan kaki kembali tampak keringat membasah wajah Rayna dan Juna.


Sesampainya di rumah mereka langsung merebahkan diri di kursi.


" kalian berdua dari sawah jalan kaki? tanya ibu


'iya bu" kini giliran Juna yang menjawab

__ADS_1


"Rayna kamu kebangetan kan jauh kenapa ga pake motor bapak"


"olahraga raga bu sekali-kali jangan cuma bisanya cuma turun mobil doang"


"gapapa bu hitung-hitung olahraga"


"ya udah kalian cuci muka dulu sana ibu udah nyiapin makan siang Rayna kamu temenin a Juna makan'


Akhirnya Rayna dan Juna beranjak ke belakang untuk mencuci muka setelah itu Rayna menyiapkan makan siang buat Juna.


" abang nasinya cukup ga? tanya Rayna


"udah cukup"


"lauknya mau sama apa?


" ayam kecap sambal sama lalapan"


Rayna pun menyedok menu yang di pilih Juna lalu memberikanya kepada Juna tidak lupa ia menyiapkan air minum dekat Juna.


Juna merasa tertegun sikap Rayna seolah-olah mengingatkan dia ketika masih hidup bersama ya Rayna memang wanita yang sangat menghargai suaminya. Tekadnya semakin kuat akan membawa Rayna kembali ke rumahnya untuk menjadi istrinya.


Juna sesekali melirik ke arah Rayna.


"rencana kamu apa untuk sekarang ini? "


'aku akan melamar ke kantor bank swasta kemarin aku sudah tanya-tanya insha Allah senin aku datang langsung ke kantornya membawa CV mudah-mudahan keterima"


"kenapa ga masukin CV kamu ke perusahaan papa bareng Elma dia pasti seneng bisa sekantor sama kamu" rayu Juna


"untuk saat ini aku masih mau stay di sini aku ingin menikmati kesendirianku mengobati semua luka yang ada di hati melupakan semua yang telah terjadi"


Juna menatap tajam ke arah Rayna.Tanganya menggemgam erat tangan Rayna.


"maafkan atas semua kesalahan abang" wajah Juna terlihat seperti memelas


"sudah lupakan" Rayna merasa tidak nyaman melihat sikap Juna yang seperti itu ia pun menarik tanganya dari genggaman tangan Juna.


"ngomong-ngomong gimana pekerjaan abang? Rayna mencoba mengalihkan pembicaraan tentang dirinya


" alhmdlh pekerjaan abang lancar"

__ADS_1


'ya syukurlah.. "


"Rayna...abang mohon pikirkan kembali permintaan abang beri abang kesempatan untuk menebus semua kesalahan abang, sore ini abang pulang ke Jakarta jaga diri kamu baik-baik jika ada apa-apa jangan lupa hubungi abang kamun harus ingat kalo abang sangat mencintai kamu jangan coba-coba menghilang lagi atau abang bisa gila hidup tanpa kamu"


Rayna tersenyum seraya menganggukan kepala.


Juna merasa bahagia hubunganya dengan Rayna berangsur membaik sekarang tinggal bagaimana dirinya bisa memperjuangkan Rayna untuk kembali hidup bersama dirinya.


Sore itu Juna berpamitan kepada orangtua Rayna juga kepada Rayna.


"saya pamit dulu pak bu insha Allah kalo tidak sibuk saya akan kembali menjenguk Rayna'


" iya hati-hati dijalan nak Juna salam buat mama dan papa kapan-kapan main kesini"


"iya pa, insha Allah"


Juna pun beranjak menghampiri Rayna, ibu dan bapak undur diri ke belakang membiarkan Juna Rayna membicarakan masalah hubungan mereka.


"Rayna jaga diri baik-baik nanti abang akan kembali untuk membawa kamu pulang ke rumah kita ingat jangan coba-coba pergi lagi abang sayang kamu"


Juna pun dengan repleks memeluk Rayna mencium kening Rayna ia merasa Rayna masih menjadi stri sahnya.


"abang pergi dulu"


Rayna mencium punggung tangan Juna jujur sebenarnya ia enggan berpisah dengan Juna tapi egonya mengalahkan segalanya Rayna ingin melihat seberapa besar ketulusan seorang Juna bagaimana ia berjuang untuk bisa mendapatkan kembali dirinya.


Mungkin sekilas orang akan menganggap dirinya seperti wanita bodoh yang gampang memaafkan kesalahan orang yang telah menyakitinya Tapi tidak begitu kenyataanya ia hanya ingin seperti burung mudah untuk di dekati tapi sulit untuk di dapatkan.


"abang hati-hati di jalan salam sama mama papa dan Elma'


" ya nanti abang sampein,,, assalalmulaikum"


"waalaikum salam"


Mobil Juna n


pun pergi meninggalkan pekarangan rumah Rayna walau ada sedikit rasa kehilangan di tinggalkan Juna.


"apakah seperti ini rasanya di tinggalkan apakah perasaan bang Juna lebih dari ini ketika aku tinggalkan"


Keesokan harinya seperti yang sudah di rencanakan Rayna mencoba melamar ke sebuah kantor Bank swasta, dia memang seorang lulusan sarjana ekonomi di Fakultas negeri Bandung. Setelah melakukan sesi wawancara akhirnya Rayna diterima sujud syukur ia panjatkan kepada Allah SWT karna sudah mempermudah segala urusanya.

__ADS_1


Rayna pun mempersiapkan segala sesuatunya pengalaman kerja di Jakarta setidaknya menjadi modal dia mempersiapkan penampilanya dan otaknya.


Hari ini adalah hari pertama Rayna bekerja ia diterima sebagai back office sebuah permulaan yang bagus setidaknya ia akan banyak belajar tentang dunia perbankan.


__ADS_2