
Siang itu Juna membawa kembali Rayna ke rumahnya setelah perdebatan panjang antara dirinya dan mama Rita.
Mama Rita menginginkan Rayna tinggal bersama mereka.Tapi di karnakan jarak rumah orangtua Juna yang jauh dengan kantor sehingga Juna memutuskan untuk tinggal di rumahnya sendiri.
Setibanya di depan rumah Rayna menarik napas panjang ia melihat rumah itu seperti kembali mengingat masa-masa sulit bersama Juna.
"Ada apa sayang,,, ayo kita turun"
"iya... " tanpa banyak bicara Rayna pun turun.
Juna terlihat sibuk membawa barang-barang keperluan ibu hamil yang kemarin ia beli bersama mama Rita.
"Tahu ini semua buat Rayna mungkin aku akan beli yang terbaik dan lebih banyak lagi stok makanan untuk dia"batin Juna.
Napsu makan Rayna sedikit berkurang karna itu Rayna lebih suka mengemil biskuit dan susu hangat.
Dari depan pintu Rayna melihat bi Ipah yang sudah berdiri untuk menyambutnya.
"Neng Rayna sehat?bibi meni bungah(bahagia) neng udah pulang lagi ke rumah".
" iya bi.. gimana bibi sehat juga?"
"alhmdlh neng bibi mah sehat,neng Rayna mau di bikinin minum apa atau mau langsung makan nanti sama bibi di bikinin"
"aku minta air putih aja bi..nanti tolong bawain ke kamar ya, punten miwarang (maaf menyuruh).
__ADS_1
Rayna pun masuk ke dalam kamarnya ia merasa lelah setelah perjalanan yang cukup lama,ia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur.Rayna membuka beberapa kancing bajunya ia merasa gerah yang amat sangat,terlihat jelas dada putih Rayna yang di tutupi bahan renda.Saat Juna masuk ke dalam kamar ia terpana melihat pemandangan yang sudah lama tidak ia lihat, betapa seksinya istrinya itu.
Beberapa kali Juna menelan ludahnya, dan tanpa ia sadari adik kecilnya ikut terbangun menyaksikan pemandangan indah itu.
Di saat Rayna sedang merasakan kantuk yang luar biasa tiba-tiba ia merasakan bibirnya terasa hangat saat membuka mata ia melihat Juna sedang menciumnya.
"Sayang... " suara ******* suaminya menandakan hasrat Juna yang begitu besar Rayna tahu bahwa Juna butuh penyaluran tapi apa harus di lakukan pada saat siang buta seperti ini,disaat terik matahari begitu menyengat di saat orang-orang butuh penyegaran hawa dingin tapi Juna malah menginginkan belaian dirinya.Akhirnya ia pun mengalah,demi meladeni hasrat sang suami ia buang jauh-jauh rasa kantuk itu.
Di saat pemanasan sedang berlangsung terdengar suara ketukan pintu kamar Rayna pun beranjak membuka pintu kamarnya ternyata bi Ipah, ia lupa tadi ia meminta air putih dingin kepadanya.
"Makasih bi"
"Neng mau di bawakan makanan sekalian"
"Enggak bi,,, nanti kalo mau aku bisa ngambil sendiri"
Belum selesai bi Ipah bicara Juna sudah menyela, bi Ipah kita mau istirahat bisakan bi Ipah ngobrolnya nanti setelah kita sudah istirahat.
Juna merasa kesal di saat hasrat sudah di pucuk ubun-ubun ada saja gangguan dari luar.
"ya sudah bibi kembali dulu ke dapur ya"
"Iya bi.. "
Rayna pun tersenyum melihat tingkah suaminya.
__ADS_1
"Abang jangan galak-galak seperti itu kasihan bi Ipah dia cuma mau nawarin aja"
"Iya abang ngerti tapi adik abang yang ga ngerti ga bisa nunggu lama-lama lagi'
" Sebulan kemarin abang bisa nahan kenapa sekarang ga bisa?"
"Terpaksa nahan.. lagian boro-boro abang mikirin hal yang gitu-gitu tiap hari abang sibuk nyari kamu kesana kemari tanya sana tanya sini,abang kaya orang gila tiap hari ga di kantor ga di rumah sibuk mikirin kamu. Yang di pikirin ingat ga sama abang"
"Enggak.. yang ada aku tuh benci sama banget sama abang makanya aku pergi dari rumah ini, buat apa aku ada disini tapi hati abang ga bisa moveon dari mantan abang, serasa aku udah pengen bunuh diri aja, punya suami ga ada sayang-sayangnya sama istri"gerutu Rayna.
Juna langsung memeluk erat Rayna.
"Kamu jangan punya pikiran seperti itu abang janji akan selalu menjaga kamu dan anak kita abang janji ga akan mengulangi kesalahan yang sama".
Cuaca panas tidak menyurutkan rasa yang telah lama tertunda Rayna maupun Juna sama-sama menikmati semua rasa yang ada.
Siang itu Juna melakukanya lagi dan lagi ia menginginkanya, andai ia tidak ingat Rayna sedang mengandung entah sampai kapan pergulatan itu akan berakhir.
"Maaf ya sayang kamu jadi kelelahan gara-gara abang"
"Ya ga apa-apa bang, aku hanya mau istirahat sebentar"
Rayna pun menarik selimutnya sampe menutup dadanya ia merasakan badanya agak sedikit meriang.
Juna pun beranjak ke kamar mandi membersihkan dirinya,beberapa menit kemudian Juna keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggang.Terlihat tubuhnya yang atletis dengan roti sobek di perutnya juga dada yang bidang putih dan tinggi tubuhnya yang mencapai 178 sentimeter membuat Juna terlihat sempurna.Sebagai pria dengan level perfeksionis di tunjang wajah yang tampan membuat wanita mana yang akan mampu menolak pesonanya.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar hape miliknya yang berdering ketika Juna melihat siapa yang menghubunginya deg... hatinya langsung berdetak lebih kencang.Ia pun segera memakai baju dan keluar dari kamarnya, ia tidak ingin mengganggu tidur Rayna lebih tepatnya ia tidak ingin Rayna mendengar pembicaraanya dengan orang yang menelephonenya.