
Siang itu di kantor, Juna dan para staff yang lain sedang melakukan meeting tiba-tiba Juna melihat ponselnya bergetar di lihatnya panggilan dari bi ipah tanpa banyak bicara Juna langsung menerimanya.
"asalamualikum bi...ada apa??
" mas Juna cepet pulang ini neng Rayna..."
"Rahna kenapa bi...??tanya Juna dengan tidak sabar " "neng Rayna jatuh dari kamar mandi mas Juna cepet pulang ya"
Tanpa banyak ba bi bu Juna langsung menghentikan meeting ia terus setengah berlari kelurcdati gedung kabtor, jarak perjalanan dari kantor ke rumah Juna menghabiskan waktu 30 menit karna Juna menjalankan mobilnya dengan cepat.
setibanya di halaman Juna langsung berlari ke rumah ia melihat Rayna yang sedang duduk di soffa ruang tamu sedang merintih sambil memegang perutnya.
"abang..ehmm sakit banget.."
"kita ke rumah sakit sekarang" ujar Juna panik
"bi tolong buka pintu mobil kita ke rumah sakit"
Sepanjang perjalanan Rayna terus merintih menahan sakit yang teramat sangat,ia juga merasakan kalau celananya basah saat ia memegangnya nampak darah di telapak tanganya, Rayna tampak syok melihat itu.
"abang...ini" Rayna melihatkan telapak tangan yang penuh dengan darah.
Juna yang melihat itu semakin panik ia segera menancapkan gas untuk segera sampai ke rumah sakit.
"sabar sayang sebentar lagi sampai"
"abang...ehmmm..." tangan Rayna mencengkram tangan Juna yang sedang mengemudi.
Tidak lama kemudian Juna pun sampai di rumah sakit ia segera menggendong Rayna ke atas blankar.
"dokter tolong istri saya" teriak Juna di IGD
Seketika Rayna pun segera mendapatkan pertolongan tangan Juna tidak lepas menggenggam tangan Rayna. sesekali Juna mengusap air mata yang mengalir dari mata Rayna.
"sakit... ehmmm... aku gak kuat abang"
"kamu harus kuat sayang demi aku demi anak kita kamu harus kuat" Juna tidak bisa menahan air mata yang jatuh membasahi pipinya bagaimana tidak ia tidak bisa melihat Rayna menderita kesakitan seperti itu.
"suster tolong bawa ibu Rayna kita harus segera melakukan USG untuk bisa memastikan bayi yang ada dalam kandunganya cepat hubungi dokter Yuni"
Rayna pun di bawa ke ruang USG di sana sudah ada dokter Yuni yang sudah siap dia dokter spesialis kandungan. terlihat Rayna di periksa oleh donter Yuni.
"dengan suami ibu Rayna.. "
"ya dok saya suaminya.. "
"bisa kita bicara sebentar"ucap dokter Yuni
Juna pun menganggukan kepalanya.
"tunggu sebentar sayang... "
Juna pun keluar menghampiri dokter Yuni.
__ADS_1
"ada apa dok.. "
"setelah saya memeriksa ibu Rayna saya menyarankan agar proses persalinan ibu Rayna di segerakan dengan operasi SC kalau kita tidak segera mengeluarkan bayi dalam kandungan ibu Rayna khawatir akan berdampak pada keselamatan bayi ataupun ibu Rayna sendiri, walau usia kandungan ibu Rayn baru menginjak 7 bulan tapi kita terpaksa harus segera mengeluarkanya"
"lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya dok"
"baiklah kalau bapak sudah menyetujuinya silahkan bapak isi formulir dan administrasi nanti ada suster yang akan membantu kalau begitu saya permisi dulu"
Setelah selesai mengisi formulir dan administrasi Juna menghampiri Rayna.
"ada apa bang..?"
"dokter akan segera melakukan oprasi SC kita akan segera bertemu denganmu malaikat kecil kita"
"tapi umur kandungan aku baru 7 bulan"
"iya,, dokter sudah memperkirakan semuanya akan baik-baik saja kamu harus kuat sayang anak kita akan sehat selamat"
Tampak air mata Rayna turun membasahi pipinya.
"maafkan aku bang gara-gara aku tidak hati-hati anak kita harus keluar sebelum waktunya"
'shutt kmau sudah berusaha sebaik mungkin aku yakin anak kita pasti selamat dan sehat, boy papa dan mama tunggu kamu di dunia ini kamu adalah buah cinta kami berjuanglah bersama ibumu papa akan mendoakan kalian berdua"ucap Juna sambil mengelus perut Rayna yang sudah terlihat besar.
"bang jika aku tidak selamat tolong jaga anak kita ya sayangi dia seperti aku menyayanginya selama ini aku ingin dia hidup"
"jangan bicara seperti itu kamu dan anak kita akan baik-baik saja"
Selama menunggu Juna melihat suster yang sibuk keluar masuk mereka terlihat membawa beberapa labu darah.setelah beberapa jam menunggu ia melihat pintu kamar operasi terbuka di sana dokter Yuni keluar dengan wajah lesu.
"bagaimana dok?anak dan istri saya selamat kan?
tanya Juna dengan tidak sabar
"alhmdlh anak bapak selamat dia laki-laki tidak kurang satupun tapi maaf.... " terlihat dokter Yuni menyusut air matanya.
"ada apa dok... " Juna sudah terlihat panik melihat raut wajah dokter Yuni yang sudah sendu
"maaf Pak Juna saya dan tim sudah berusaha semaksimal mungkin ibu Rayna banyak kehilangan darah sampai kita melakukan tranfusi darah sampai beberapa labu tapi Allah berkehendak lain ternyata Allah lebih menyayangi beliau,,, pak Juna maaf ibu Rayna meninggal dunia"
Juna tampak limbung tubuhnya bergetar..
"anda jangan bercanda dok.. istri saya masih hidup kan tidak mungkin dia meninggal tadi pagi kami masih bersama bercanda dokter anda jangan bicara sembarangan"
"maafkan saya" ucap donter Yuni sambil tertunduk
"tidak mungkin....tidak.... tidakkkkkk...... "
*********
Keringat dingin menbasahi wajah Juna perlahan ia membuka mata tiba-tiba di depan matanya dia melihat Rayna di depan matanya.
"sayang.... sayang... " Juna segera memeluk tubuh Rayna.
__ADS_1
"abang kenapa,, kamu mimpi buruk ya... "
Juna tidak mengindahkan perkataan Rayna ia terus menangis sambil memeluk Rayna.
"kamu harus berjanji ga akan tinggalin abang kamu harus selalu setia di sisi abang, abang ga mau kehilangan kamu sayang,abang sangat mencintai kamu"
Juna menangkup wajah Rayna sambil mencium seluruh wajah Rayna.
"abang mimpi apa..?jangan-jangan abang mimpi aku meninggal ya he... he... "
"ga lucu... pokoknya mulai saat ini kamu harus ada dalam pengawasan abang kamu ga boleh jauh-jauh dari abang"
Juna kembali memeluk Rayna.
Sejak kejadian mimpi buruk itu sikap Juna kepada Rayna lebih over protektif Rayna di larang melakukan hal yang menurutnya berbahaya.
Sikap Juna yang terlalu over protektif kepada Rayna membuat Rayna merasa terbatasi ruang geraknya.
Seperti siang ini Rayna berencana akan pergi ke mall untuk membeli perlengkapan untuk calon bayi mereka tetapi Juna tidak mengizinkan Rayna pergi sendiri.
"abang aku sama bi Ipah ga sendiri"
"abang bilang nanti aja weekend sama abang lihat perut kamu sayang udah besar begini nanti kamu cape sayang.. "
"ya udah dehh.. " dengan wajah cemberut Rayna berlalu keluar dari kamarnya.
Juna menarik nafas panjang ia tahu Rayna marah karna dirinya tidak mengizinkanya pergi ke mall sendiri bukan tanpa alasan ia melakukan itu tapi Juna hanya ingin menjaga keselamatan anak dan istrinya.
Juna pun menyusul istrinya ke kamar.
"sayang denger abang minggu depan abang udah ajuin cuti sampe kamu melahirkan jadi jangankan untuk sekedar belanja mau apapun kamu nanti abang sendiri yang anter,,, please jangan marah ya abang lakuin ini demi keselamatan kamu, kamu bisa ngerti kan abang sayang banget sama kamu juga anak kita"
Tampak Rayna menganggukan kepalanya.
"liat sini... abang mau pergi kerja masa di bekelin manyunan sih senyum dulu dong tambah morning kiss biar abang semangat kerjanya"
Rayna pun tersenyum ia tidak benar-benar marah kepada Juna ia hanya merasa kesal kepada Juna.
Juna pun mencium bibir Rayna lama setelah itu ia mencium kening dan perut buncit Rayna.
'ishh ini bekas lipstik aku nempel di bibir abang"
Saat Rayna akan mengusap bibir Juna tiba-tiba Juna mencekal tangan Rayna.
"biarkan seperti ini supaya mereka yang mengejar abang tahu kalau abang sangat mencintai istri abang"
"hahh... siapa?"
Siapa ya...... ๐ค๐ค
Ga akan ada pelakor-pelakor lagi dia cuma selingan sesaat yang suka sama Juna sekarang waktunya Juna yang bucin sama Rayna.. ๐
Happy reading all... jangan lupa dukungannya๐๐
__ADS_1