
happy reading all 😘
Rain mengakhiri tur nya hari ini di pabrik teh, ia harus pergi kuliah.
"Pak Komar terimakasih atas bantuannya besok saya akan mulai datang ke sini sepulang dari kampus !" ucap Rain diangguki pak Komar, makin sibuk saja Rain mulai saat ini.
Untung saja hari ini di kampus hanya ada satu mata kuliah saja.
.
.
"Rain, bunda nanya tuh kapan katanya loe mau datang ke rumah ?" tanya Dita.
"Emhh sorry ya Ta, gue masih sibuk. Bilangin salam dari gue buat Tante Ina, " jawab Rain. Tante Ina adalah ibu Dita, menganggap Rain sudah seperti anak kandungnya sendiri.
"Oke, apa loe ga mau titip salam buat seseorang lagi ?" tanya Dita. Rain mengernyit, "siapa?"
"Bang Hafiz !" seru Dita.
"Oh iya deh salam juga buat bang Hafiz !" jawab Rain. Padahal salam versi Dita dan Rain jelas berbeda, Rain hanya menganggapnya salam, karena mengenalnya tetapi bagi Dita salam itu jelas adalah salam rindu.
Tak disangka orang yang sedang dibicarakan hadir disitu.
"Dita, nih ponsel loe ketinggalan di jok mobil !!" Hafiz menyerahkan ponsel sang adik. Kebiasaan Dita yang pelupa dan ceroboh inilah yang membuat Hafiz menggelengkan kepala.
"Oh iya bang, lupa ! thanks !" serunya.
"Kebiasaan !!" decihnya.
"Hay Rain," sapa Hafiz.
"Hay bang," sapa Rain.
"Apa kabar? jarang ketemu sekarang," tanya nya.
"Iya bang, Rain sedikit sibuk. Abang sendiri jarang keliatan di kampus," gadis itu memang memiliki pesonanya sendiri, jangankan Hafiz yang manusia. Nino saja yang berbeda dunia menyukainya.
Dita merasa seperti obat nyamuk sekarang, berada diantara Rain dan abangnya. Dari balik tembok Nino menatap tak suka, tapi ia sudah berjanji pada Rain bahwa ia tak akan sampai berbuat macam macam lagi yang akan membuat Rain malu.
"Iya, abang sibuk dengan tugas skripsi dan membantu usaha ayah !" jaaabnya tersenyum manis.
"Kapan kapan kalo abang ajak jalan apakah Rain mau?" tanya bang Hafiz.
"Ekhemnn !" deheman Dita mengganggu Rain dan Hafiz.
" Gue jangan dilupain !" ucapnya.
"Iya, sama Dita kan? boleh deh bang !" jawab Rain segera.
Hafiz tersenyum kecut, adiknya benar benar mengacaukan rencana pdkt nya.
"Kalo gitu Rain pamit dulu, bang.." ucap Rain.
__ADS_1
"Gue ga loe sebut nih? jadi disini cuma ada bang Hafiz doang?" kecut Dita.
"Iya deh sama loe juga !" sarkas Rain terkekeh mencubit pipi Dita.
Rain meninggalkan keduanya.
"Ahhh loe mah katanya dukung tapi malah mau jadi kacang !! ganggu loe !!" omel Hafiz pada adik semata wayangnya ini.
"Percaya sama gue, kalo ga bareng gue Rain ga bakal mau !!" jawab Dita "jangan lupa kalo jadi pajak jadian, gue udah bantuin loe lohh!!" tambah Dita.
"Bawel !!!" sarkas Hafiz seraya pergi.
Rain terburu buru ia harus sesegera mungkin menyelesaikan kasus Tian, sepulang kampus ia langsung menyatroni rumah Baron. Rain masih duduk di dalam mobilnya di sebrang jalan memerhatikan rumah Baron.
"Ka, biasanya sebentar lagi Baron ke pasar buat malakin para pedagang disana," jelas Tian.
"Oke saat itu juga kita masuk !" jawab Rain, ia menoleh, disampingnya Nino terlihat kusut dan cemberut, tidak biasanya hantu satu ini diam saja saat bersama Rain, ia dingin benar benar dingin.
"No, loe ga apa apa kan?" tanya Rain.
Tak mungkin kan Rain menanyakan apakah Nino sakit dan menyuruhnya pergi ke dokter..Nino diam tak bergeming "gue ga apa apa," jawabnya singkat.
"cemburu tuh !!" goda Tian. Rain melirik pada keduanya.
"Cemburu kenapa?sama siapa?" tanya Rain.
"Astaga, apa kaka tidak sadar?" jawab Tian.
Baron keluar dari dalam rumah dengan motor matic nya.
"Baron keluar !" seru Tian.
Nino dan Rain menoleh, mereka sudah siap siap menjalankan misinya. Rain turun bersama kedua hantu itu. I
Sedikitnya ia sudah hafal seluk beluk rumah Baron. Ia masuk ke teras depan lalu Nino membuka pintunya. Mereka masuk bersama, sekali lagi mereka masuk ke dalam rumah yang berantakan bak sarang tikus ini.
"Bagian kamar sudah kita eksplore, tinggal bagian belakang!" ucap Nino. Rain melangkah menuju dapur yang tak terlalu luas malah terkesan sempit, melihat langit langitnya yang langsung berhadapan dengan genting. Tak banyak barang disini, hanya sebuah kompor satu tungku dan beberapa gelas dan piring, termos dan panci saja.Rain melongokkan kepalanya ke bawah berniat mencari bukti bukti baru. Ia tergelonjak kaget saat tikus keluar dari kolong meja kompor
"Dukkk...!!"
"Awww....!!!" kepalanya terantuk meja karena kaget, ia pun belingsatan mencari perlindungan Nino, tikusnya berukuran besar.
Nino tertawa "itu tikus Rain," Nino mengusap usap kepala Rain yang terantuk meja. Nino selalu luluh dan tak bisa marah pada Rain, ia sangat sangat menyayangi Rain lebih dari siapapun.
"Sakit ?" tanya Nino.
"Banget ," nyengirnya. "Siapa sih yang nyimpen meja disini !" omel Rain sambil menggebrak mejanya, tanpa di duga sebuah barang jatuh dari bawah kompor.
"Eh itu apa ka?" tanya Tian. Rain masih mengusap usap kepalanya. Sebuah bungkusan Nino angkat dari lantai ia menemukan serbuk putih yang di duga zat narkotika.
Rain tak berani menyentuh, Nino yang melihatnya
"Apa itu No?" tanya gadis ini.
__ADS_1
"Sepertinya ini sabu," jawab Nino. Ia menaruh kembali barang itu pada tempatnya semula, biarlah nanti polisi yang menemukan.
"Ko ditaro lagi kesitu ?" tanya Rain.
"Biar nanti polisi yang menggeledah, tujuan kita kesini mencari jasad Tian!" jawab Nino.
Rain mencium cium bau sedikit menyengat dari dalam kamar mandi "Nyium bau ngga sih?" tanya Rain.
Tian tersenyum getir, Nino mengangkat alisnya sebelah "Kamar mandi !" ucapnya.
Rain segera berbalik ke arah kamar mandi, namun tak ada yang aneh disini hanya saja memang baunya semakin menyengat, bau b@ng*k@i.
"Uwekkkk !! bau banget njirrrr !!" ucap Rain. Matanya sudah berair karena menahan bau.
Satu persatu Rain membuka ember yang tertutup tapi ia tak menemukan satupun, ia kira akan ada bangkai tikus atau hewan lainnya. Tian menunduk sendu,
"Dingin, gelap !!" ucap Tian.
Rain hanya mendapati baju baju kotor Tian yang teronggok di pojokan kamar mandi. Mata Rain memicing ke sebuah sumur yang ada di kamar mandi, ia membuka penutup sumurnya.
"Uwekkk !! bau banget !!! dari sini rupanya !!" seru Rain mengibas ngibaskan tangannya. Beberapa lalat pun beterbangan dari sana karena saking baunya.
Rain melongokkan kepalanya untuk melihat ke dalam sumur. Namun karena gelap jadi tak terlihat, lalu Rain meraih ponselnya dan menyalakan flash, ia mengarahkan ke dalam sumur. Sontak matanya membola badannya lemas.
"Astaga !!!" ia mengatupkan mulutnya, untung saja ponselnya tidak terjatuh ke dalam sumur.
"Sedang apa kamu disini, gadis nakal??" suara bariton membuat ketiganya terkejut terlebih Rain. Baron berada di ambang pintu kamar mandi .
"Sudah kuduga kalau kamu akan kembali kesini, jadi tempo hari yang masuk bak pencuri ke rumahku itu kamu!!" ucap Baron murka, tapi senyumnya jahat, tubuh kekar bertatto itu mendekati Rain.
"Bau parfummu tertinggal di rumah ini !!"jawab Baron.
Nino dan Tian pun sudah bersiap di samping Rain.
"Lari jika aku bilang lari," ucap Nino. Rain mengangguk mengerti, seraya langkahnya mundur sampai mentok menempel pada sumur.
"Bia*dab !!! bapak macam apa loe yang tega membunuh darah daging loe sendiri !!!" pekik Rain.
"Dan sebentar lagi loe yang bakal nyusul anak gue !!" Baron hendak menangkap Rain, namun Nino menghentak dan membuat Baron terpental.
"Lari !!" titah Nino. Rain segera melompati badan Baron dan lari.
"Gilaaaa !! punya kekuatan apa tuh bocah !!" ringis Baron yang tetpental dan jatuh terlentang. Namun sayang Baron langsung bangun dan mengejar Rain.
"Greuppp !!"
"Aaaa !!!!!" pekik Rain.
.
.
.
__ADS_1