
Gea mengerjapkan matanya, ia memijat pelipisnya. Berharap kejadian barusan hanyalah mimpi buruk dan ketakutannya saja.
Gea mengernyitkan dahinya, ia merasa asing dengan ruangan ini, gelap. Dan tunggu !!
"Eh, ini gue dimana ??!" Gea segera bangkit, ia terkejut karena sekarang ia sedang terbaring di atas blangkar, dan yang lebih mengejutkannya lagi kenapa ada beberapa blangkar rumah sakit berjejer. Gadis ini hafal ruangan ini, ruangan apa.
"Mamposss gue !!" ucapnya. Ia segera turun dari blangkar. Namun langkahnya terhenti saat satu tangan seorang jenazah turun dari tempatnya keluar dari kain putih yang menutupinya.
"Astaga !!" ia menutup mulutnya.Gea menyipitkan matanya melihat pergelangan tangan jenazah tadi ia kenali. Dari jam tangan yang dipakainya mirip seperti jam tangan yang dipakai oleh suster Wita tadi. Arloji logam berwarna perak, yang bentuknya aga kecil dan bernuansa hitam di papan angkanya. Gea dengan beraninya, mendekat. Ia mencoba meraih penutup putih itu. Entah keberanian darimana yang ia dapatkan, tangannya terulur menurunkan kain putih itu, sedikitdemi sedikit mulai terbuka.
.
.
.
"Ya Allah !!" Gea terjengkat kaget, betapa kagetnya ia. Gea berlari menuju pintu keluar, tapi handle pintunya macet...
Gea kesusahan membukanya, "siapapun tolong gue !!!" pekiknya.
"Hiksss hiksss Adry !!!" lirihnya. Gea menangis ketakutan. Keringatnya mengucur deras. Gea hanya berharap ia akan secepatnya keluar dari ruangan ini dan keluar dari gangguan suster Wita.
Di tengah isakannya, mata Gea menangkap pemandangan di depannya, kain penutup jenazah suster Wita turun sedikit demi sedikit, tak tau siapa yang menariknya, Gea sontak meraih handle dan mencoba membukanya panik.
"Tolong !!! tolongin gue !! pekiknya sambil menangis. Gea kembali memandang ke arah jenazah yang terbujur kaku lalu kembali beralih pada pintu. Saat ia mencoba membuka
"Temani saya malam ini !" bisiknya. Mata gadis itu hampir saja keluar dari tempatnya.
Gea sedikit sedikit memutar tubuhnya.
"Aaaaaaa !!!!!" pekiknya melorot turun dan berjongkok, menenggelamkan kepalanya di lengannya.
Suster dengan kapas yang menutupi lubang hidung dan telinganya tengah berdiri di depan Gea, jidat yang gepeng juga mata yang bulat kehitaman mengeluarkan da*rah.
Gea menutupi wajahnya terisak, Tapi seketika tubuhnya seperti dibawa keluar dari ruangan itu dan suasana kembali hangat.
"Ge, sayang !! buka mata kamu !!" ucap seseorang yang Gea kenal. Suara itu begitu hangat di telinga Gea.
Gea membuka matanya perlahan lahan. "Adry !!" Gea menghambur memeluk Adry, ia senang bisa keluar dari gangguan suster Wita, terlebih lagi Gea senang dapat melihat lagi Adry.
"Aku takut Dry, " isaknya.
"It's oke sayang, aku disini ! maaf telat ! susah mencari cari kamu dimana?" jawabnya. Gea menggeleng.
"Ga apa apa !" jawabnya. Gea kini tengah berada di depan kamar Rain.
Gea masuk ke dalam kamar, suster Fi sudah di dalam dan sedang menggantikan labu cairan infus Raina, Nino pun sudah berada di dalam, menemani Rain dan mengusap usap lembut kening Rain penuh cinta.
"Eh, mbak ! saya kira mbak sudah kembali !" ucapnya.
"Suster ko ga ngomong jalan memutar melewati kamar mayat ?!" seru Gea.
"Maaf ya mbak, saya mau bilang keburu lupa karena buru buru, pas mau bilang mbak nya sudah jalan duluan !" jawab suster Fi.
__ADS_1
Raina terbangun oleh suara obrolan suster Fi dan Gea.
"Nona Raina, sudah bisa tidur dengan posisi terlentang?" tanya suster Fi.
"Udah pelan pelan sus, makasih !" jawab Raina.
"Kalo gitu saya permisi keluar !" pamitnya.
"Loe kenapa Ge?" tanya Raina, gadis itu terlihat pucat dan berpeluh.
"Ra, bi Kokom sama mamang kemana?" tanya Gea.
"Bibi lagi ke toilet, mamang lagi ke mushola !" jawab Raina.
"Ra, ini gue mimpi apa engga sih?" tanya Gea, Nino mengernyitkan dahi ikut menyimak di samping Rain, sedangkan Adry berada di kuar bersama Bunga dan Tian. Nino memang secepat itu, bahkan Dika saja masih setengah jalan bersama Tria dan Romi.
"Kenapa Ge?" tanya Rain.
"Gue liat hantu Ra, suster palanya gepeng Ra !!" gidik Gea, Raina menarik senyumannya.
"Sixsence...loe punya sixsence kaya gue Ge ! memang menyeramkan awalnya, tapi nanti loe bakalan terbiasa !" jawab Raina menatap Nino, Gea bahkan bisa melihat Nino.
"No, sejak kapan disini?" tanya Gea.
"Sejak loe masih di kamar mayat bareng Adry !" jawab Nino.
"Iya Ra, ko nyeremin sih ! gue dibawa ke kamar mayat ! ko bisa Ra, kan gue ga bisa liat, kenapa sekarang jadi bisa ?!" seru Gea.
"Mungkin karena kejadian kemarin Ge, loe pernah masuk ke dunia mereka kan bareng calon laki !" tawa Raina.
"Calon laki pilihan bapak !" Raina tergelak tapi tak lama ia meringis.
"Aduduh, sakit punggung gue !" ucap Raina, Nino panik dan menangkup Raina.
"Mana yang sakit honey?" tanya nya, mata merah menawan itu tampak khawatir menatap Raina, gadis yang kepalanya masih terbalut perban ini mengedip genit.
"Udah sembuh, nih obatnya di depanku !" jawabnya, Nino menjiwir hidung Rain. Gea tersenyum dan lebih memilih keluar menghampiri Adry, Adry yang sedang bercanda dengan Bunga dan Tian, duduk di bangku panjang depan ruangan Raina.
Gea duduk dan menyenderkan kepalanya di lengan kekasih tak kasat matanya itu.
"Kamu harus terbiasa dan berani sayang !" ujar Adry.
"Entah dry, apa aku akan bisa seperti Raina!" jawabnya.
"Kamu pasti bisa !" Adry menyemangati Gea, seraya tangannya mengusap lembut kepala Gea.
Seorang pengunjung lain, mungkin keluarga pasien lewat, melihat Gea berbicara sendiri.
"Ihh, ngomong sendiri kaya orang gila !" gumamnya.
***************
"Sayang, gimana sama Tria dan Romi?" tanya Raina yang tidur menyamping dengan Nino yang berbaring berhadapan dengannya, posisi ini memang sering mereka lakukan.
__ADS_1
Tangan Nino terulur mengusap lembut kepala, dan kening Raina. "Mereka sudah mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab mengembalikan wewe itu, kembali ke rumahnya " jawab Nino.
"Terus keadaan mereka gimana? Qirei?" tanya Rain.
"Qirei dan ibunya Tria sudah diantar ke rumah kakanya Tria, Romi yang mengkhawatirkan, tapi semoga saja Dika cepat membawanya ke RS," ucap Nino.
"Romi kenapa?" seru Raina panik.
"Romi hampir saja dibawa ke alamnya !" jawab Nino.
"Astaga !" Raina menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.
"Emang bisa ya?" tanya Raina.
"Bisa saja kalo niat, dengan mencelakakan si manusia itu sendiri, lewat cara membuat manusia itu lalai dan ceroboh. Mereka sudah mendapatkan pelajarannya!" jawab Nino.
"Honey !" panggil Nino.
"Hem?" Rain menatap mata menawan Nino.
"Apa kamu tau, kamu terlalu mengkhawatirkan banyak orang, harusnya kamu memikirkan diri kamu sendiri. Tau kah kamu honey, aku sudah seperti arwah yang menjelma menjadi iblis, melihat kamu terluka seperti itu !" ucap Nino.
"Aku takut kamu tak selamat," jawab Nino.
"Kenapa, bukan kah harusnya kamu senenh, kita jadi bisa bersama selamanya?" jawab Raina.
" Aku akan senang kalau bukan seperti itu caranya, tapi karena memang sudah takdir kamu untuk tiada !" jawab Nino.
"No, katamu tadi bisa saja nene itu mengambil Romi..." Rain terlihat berfikir, tapi sepertinya fikiran Raina sudah dapat jelas tertebak Nino.
"Jangan diteruskan, aku tau apa yang akan kamu minta, dan jawabanku adalah tidak ! " jawab Nino. Raina manyun, membuat Nino gemas.
"Ga usah baca pikiran bisa ga sih !! jangan jangan kalo pikiran aku mesum kamu juga tau !!" ucap Raina, Nino tertawa renyah.
"No, selama ini yang kutau bentuk serammu ya kondisimu saat kamu meninggal, tapi saat menyerang Wira justru itu sangat menyeramkan menurutku !" Nino lebih mirip vampir luar negri dengan ukuran tubuh membesar dan kuku kuku panjangnya.
"Mungkin karena amarah, honey !" jawabnya.
Krekek..krekek..krekek.... suara decit roda berbunyi, tapi tiba tiba berhenti di depan ruang rawat inap Raina.
Alis Nino menukik,
"Siapa sayang?" tanya Raina.
"Honey, sepertinya rumah sakit ini menyambut kita !" jawabnya.
"Maksudnya ?!"
.
.
.
__ADS_1
.