
MatiAnak, adalah sosok perempuan yang hampir sama dengan ku*nti*lanak, hanya saja berbeda masa lalu, ia adalah sosok perempuan yang meninggal saat melahirkan anaknya. Ia akan menculik seorang anak bayi atau anak kecil, untuk mengganti anaknya yang tiada. Biasanya mereka juga dipakai sebagai alat untuk praktek perdukunan balas dendam, ada juga yang memeliharanya untuk kekuatan penyembuhan dan ramalan masa depan.
Raina menyalipkan rambutnya di belakang telinga, ia mencoba menempelkan tangannya di pohon yang usianya sudah puluhan tahun ini. Kaki putihnya mendekat sedikit demi sedikit.
Pak Kades memegang kedua bahu istrinya yang bergetar karena menangis.
"Apakah Raina bisa melihat 'mereka'? tanya ki Nyawang, Dika mengangguk.
"Pantas saja, " gumamnya.
Raina membujuk Arum, agar masuk ke dalam dirinya, ada sesuatu yang ingin disampaikan Arum untuk kedua orangtuanya.
Semuanya senyap dan diam, tak tau apa yang sedang dilakukan oleh Raina. Gadis itu setengah berjongkok, angin menerpa dress nya, membawa dedaunan kering yang berserakan di atas tanah. Bersamaan dengan arwah Arum masuk ke dalam tubuh Raina. Tiba tiba saja Rain bertingkah menggemaskan layaknya anak kecil yang pemalu, tapi ia pun tertawa cekikikan khas anak kecil. Ia menyembunyikan wajahnya, memainkan ujung dress nya malu malu. Dan Nino menjaga agar tak ada lagi arwah yang masuk ke dalam atau mengganggu interaksi mereka.
"Rain, " panggil Gea mendekat.
"Itu Arum Ge, " jawab Dika ikut mendekat.
"Arum mau bilang sesuatu? " tanya Gea, Raina alias Arum mengangguk lucu. Romi hampir saja meledakkan tawanya, melihat Raina bertingkah seperti anak kecil.
"Si mbok, " cicitnya pada bu Kades.
"Jangan nangis, Arum disini !" Raina memeluk tubuh bu Kades, yang disambut oleh bu Kades. Arum hanya sedih, karena sampai sekarang jasadnya tak ada yang tau.
"Dimana jasadmu sayang?!" tanya Gea. Jemari Raina yang lentik menunjuk ke arah pohon beringin yang tadi.
"Arum sendiri disana?" tanya Dika, Raina menggeleng, sambil memainkan jari jarinya.
"Ada siapa ?" tanya nya lagi.
"Ada mbak, " bisiknya.
"Mbak?!" tanya Dika.
"Mbak, perutnya berd*@rah !" jawabnya lagi.
"Si mbok, bapak ! jangan sedih lagi tiap malam. Arum sudah tidak apa apa, mbak nya menganggap Arum seperti anaknya, ia pun disuruh oleh orang lain, masih ada mas Teguh kan, jangan lupa do'a kan Arum," Bu Kades dan pak Kades memeluk Raina yang memang saat ini adalah Arum.
Setelah melepas kerinduan dan pesannya, Arum keluar dari dalam tubuh Raina.
Raina menghela nafasnya, ia mengusap matanya yang berair.
"Dulu ada seseorang yang dendam terhadap bapak, karena menginginkan jabatan Kades disini," ucap Raina. Ia segera mengambil cangkul dari salah seorang warga. Lalu berlari ke arah pohon beringin itu, bukan mencangkul tanah yang berada di sekitar pohon.
"Sayang, tolong buka !" pinta Raina, bukan hanya Nino tapi Dika pun ikut terpanggil.
Raina menunjuk letak batang pohon yang sedikit keropos, dibagian bawah pohonnya.
Dika bersama Nino membuka kulit pohon, pak Kades bersama sang istri terkejut dan saling memeluk. Beberapa warga mendekat dan membantu. Jasad seorang bayi yang hampir saja mengering ada di dalam kulit pohon itu.
Bu Kades menangis histeris, "Arum !!"
"Ya Allah Gusti, " gumamnya. Raina memalingkan wajahnya ke dalam ceruk leher Dika. Matanya mengembun, sudah hampir 3 tahun mereka mencari cari Arum yang hilang di tengah malam tanpa jejak, semenjak bapaknya terpilih menjadi Kepala Desa.
__ADS_1
"Arum menitipkan pesan pak, agar makamnya berada dekat dengan rumah," ucap Raina.
"Terimakasih nak Raina, dan maaf Arum sudah merepotkan, " ucapnya.
"Sama sama pak, tidak apa apa !" jawab Raina.
Hari semakin memasuki siang, bahkan matahari sudah tergelincir ke sore. Mereka harus segera melewati hutan karet, karena kabut sudah menutupi daerah ini. Belum juga mereka keluar dari desa ini, tiba tiba angin kencang menyapa mereka, tanpa bisa diduga Gea terpundur dan tertarik menuju pohon beringin yang akan mereka tinggalkan itu. Gea seperti dihempas sesuatu.
"Brakkk !!"
"Gea !!!" dengan segera Adry menyelamatkan Gea. Mata Nino menajam melihat ke arah belakang Gea. Sosok perempuan itu ada disini.
"Jangan ganggu urusanku !" matanya melotot merah, rambutnya semrawut di sekitaran perutnya penuh d@*rah, dan wajahnya rusak.
"Saya mohon jangan mengganggu ! Arum bukan akan kami ambil ! justru kamu yang sudah mengambil Arum dari keluarganya ! " ucap Raina mendekat.
"Pulanglah dan jangan teruskan tujuanmu berikutnya ! sudah cukup !!" kesal Raina, tanpa berniat menantang. Bukannya takut sosok arwah itu malah akan menyerang Raina, tapi secepat kilat Nino melindungi dan membuat wanita tadi terpental ke belakang. Lalu ia menghilang begitu saja.
"Nak Raina?!" tanya bu Kades dan pak Kades.
"Bapak kenal dengan pak Abun?" tanya Raina.
"Abun?? iya ada apa dengan Abun?" tanya pak Kades.
"Orang itulah yang mengirim dia !" tunjuk Raina. Matahari sudah masuk ke peraduannya berganti malam.
"Astaga gusti !" bu Kades tak percaya, ia sampai menutup mulutnya yang menganga.
"Kang, sepertinya kita harus menunda kepulangan hari ini, " ijinnya.
"Oke, kita pulang besok atau lusa !" jawab Dika, diangguki Raina. Ia menoleh pada Nino, secepatnya harus mereka selesaikan.
Pak Kades segera menyuruh beberapa warga untuk membantu membawa jasad Arum dan mengurusnya.
Dika dan yang lainnya membantu pak Kades mengurus jenazah Arum.
"MatiAnak sama kaya tante kun ya Ra?" tanya Ve, diangguki Raina.
"Dia masih disini Ve, sampai satu lagi tujuannya tercapai !"
"Apa?" tanya Ve.
"Menggoda pak Kades dan membuatnya celaka !" jawab Raina.
"Hah??!" Ve terkejut.
"Buat apa?" tanya Ve.
"Karena memang itulah tugasnya, dia dikirim sebagai alat balas dendam ! dia dipelihara untuk itu !" jawab Raina.
Di rumah pak Kades diadakan pengajian semacam tahlilan, angin berhembus begitu kencang, seakan tak terima jika malam ini dilalui dengan tenang dan khusyuk.
pintu kayu sampai bergetar, begitupun dedaunan yang menempel di pepohonan, seperti bergerak meminta tolong karena anginnya membuat sebagian dedaunan tua merontok.
__ADS_1
"Ge, gue kebelet !" ucap Ve.
"Ke kamar mandi lah, masa iya mau pipis disini ?!" jawab Gea.
"Anterin yu !" pintanya.
"Dih, ya udah ayo buruan !!" ucap Gea beranjak.
Raina hanya melirik matanya mengikuti kemana mereka pergi.
"Bu, bapak mana?" tanya Teguh.
"Sedang mengambil pisang untuk tamu di Gowah, " jawab bu Kades.
Seorang perempuan melintas di depan rumah pak Kades, ia memakai jarik merah dengan kebaya dan kain penutup kepala berwarna senada.
Pak Kades yang mengambil pisang dari ruangan seperti tempatnya menyimpan hasil panen di luar rumah melihatnya.
"Dek Sari, "gumamnya.
"Pak Kades bisa tolong saya !" ucapnya. Pak Kades menaruh tandan pisang itu dan menghampiri salah satu warganya.
"Ini ada sedikit sumbangan jamuan untuk warga yang ikut tahlilan dari ibu !" ucapnya tersenyum manis. Pak Kades mengangguk, seolah seperti terhipnotis pak Kades melihat Sari yang tampak cantik malam ini.
**************
Gea dan Ve, yang melihat hanya menoleh selanjutnya masuk dan duduk kembali. Mereka masih berpikir wajar wajar saja, meskipun Gea tak yakin.
"Kenapa Ge?" tanya Ve.
"Itu orang napak kan kakinya?" tanya Gea pada Ve.
"Kayanya," kekeh Ve, sebab ia tak melihat secara detail.
"Bapak ko lama sekali, ini orang orang sudah mau selesai !" ucap bu Kades.
"Bapak tadi di depan bu, lagi ngobrol sama perempuan, namanya Sari !" ujar Ve.
Perempuan samping bu Kades mendengarnya.
"Saya??!" tanya nya menunjuk dirinya sendiri.
"Ini Sari !!" jawab bu Kades.
"Kurang tau bu, pokonya tadi kalo ga salah denger gitu, bapak manggil dek Sari !" jawab Gea diangguki Ve.
"Astaga !!" Raina langsung berdiri diikuti Nino dan yang lain.
"Pak Kades honey !!" ucap Nino.
"Iya No, tolong cariin dibawa kemana !! nanti aku sama yang lain nyusul !" pinta Raina, Nino yang memegang kedua tangan Raina lantas melepaskannya dan mencari kemana pak Kades dibawa.
.
__ADS_1
.
.