
Beberapa hari hanya diam di rumah, membuat Raina merasa bosan. Lagipula ia sudah tak apa apa. Terlempar dan terbanting ke tembok, tidak membuat organ dalam Raina ikut terluka.
"Rain, loe serius mau lanjut sekarang? ga menutup kemungkinan ini bakal jauh lebih bahaya lagi. Apa loe bener bener dah pulih?" tanya Dika. Dika dan team diminta datang ke rumah oleh Rain.
"Gue serius kang, gue dapet kabar dari pak Komar. Kalo akhir akhir ini di pabrik sering kejadian kesurupan !" jawab Rain.
Secepatnya Rain ingin mengusut satu persatu masalah yang menjadi misteri di hidupnya, sementara di kantor polisi Baron masih terus di dalami, dan di minta mengakui.
"Malam ini juga kita harus ke pabrik kang, insyaallah gue siap !!" kang Dika menoleh dan tersenyum pada Nino, sementara yang lain tidak dapat melihat Nino, hanya sekedar bisa merasakan aura yang aneh.
Maka sesore ini mereka bersiap siap, Rain juga sebelumnya sudah menginterupsikan pada pak Komar untuk memberikan libur 2 hari pada semua divisi selain dari produksi, itupun hanya di siang hari.
"Oke guys, sebelum kita memulai penelusuran kita malam ini, ada baiknya kita berdoa menurut kepercayaan kita masing masing, berdo'a mulai !" pinta kang Dika.
.
.
"Sebelumnya thanks guys sudah mau menolong Raina dan juga bisa jadi pengalaman yang baru buat kita, mungkin malam ini akan menjadi malam yang panjang buat kita semua, gue minta jaga diri masing masing, tetap berkoordinasi !!" ucap kang Dika.
Total mereka yang melakukan penelusuran ada 6 termasuk Rain, belum lagi Nino. Tian dan Bunga yang ingin ikut, dilarang oleh Rain.
Mobil memasuki jalanan menanjak menuju pabrik, bebetuan yang tak rata membuat laju mobil melambat dan berguncang, terlihat langit pun sudah gelap dan berkabut. Maklum saja daerah perbukitan, sore saja kabut mulai turun dari gunung. Jarak penglihatan sedikit berkurang.
"Epic banget nih kayanya pemandangan kalo sunrise !" seru Tria. Hampir kesemuanya laki laki hanya Rain dan Ve perempuan disini.
"Busetttt !! dingin banget lurr !!" Fadly menggosok gosok tangannya.
Dari kejauhan saja pabrik teh tua milik keluarga Rain sudah nampak berdiri gagah di perbukitan, hanya ada beberapa satpam saja yang berjaga.
Mobil mereka masuk, ke dalam pabrik, satpam mengangguk.
"Pak Dayat, aman pak?" tanya Rain turun.
"Alhamdulillah bu," sebelumnya Rain sudah bercerita pada pak Dayat, tak mungkin pak Dayat tak tau, ia sudah menjadi satpam disini 10 tahun yang lalu, setidaknya ia pasti juga sering merasakan keganjilan keganjilan tertentu.
"Apa ibu yakin? ibu belum sehat betul?" jawab pak Sarif.
"Insyaallah pak, nanti jika saya membutuhkan bantuan pasti saya panggil !" jawab Rain.
"Siap buk !!" jawab keduanya.
"Loh bukannya pak Dedi juga ikut berjaga malam ini?? kemana dia?" tanya Rain.
"Pak Dedi sedang berkeliling bu !" jawab pak Sarif.
"Woahhhh !! kayanya bakalan seru nih !!" seru Romi.
"Ve, siapkan kamera !" pinta kang Dika.
__ADS_1
"Siap !" jawabnya.
Keenamnya melangkah masuk menuju ke dalam pabrik, hawa dingin bercampur panas bersatu membuat bulu kuduk merinding. Tak ada yang aneh saat masuk ruang galeri teh, mereka melangkahkan kakinya lebih dalam lagi, hanya senter yang menjadi penerangan.
Dika membagi kelompok menjadi dua, ia, Romi dan Ve menjadi satu kelompok. Sedangkan Tria, Fadly dan Raina ke arah lain.
Aura dingin terasa di sekitar Rain, ia dan keduanya masuk terlebih dahulu ke kantornya, ia seperti memasuki dimensi lain disini pada malam hari, seperti melihat flashback masa kecilnya yang sering mengunjungi sang kakek. Raina kecil berlarian di ruangan ini, sambil sesekali tertawa. Percakapan para orang dewasa terdengar begitu jelas disini, membuat Raina terharu.
"Loe ga apa apa Ra?" tanya Tria. Rain menggeleng.
"Gue ga apa apa!" jawabnya, akhirnya ia bisa mengingat kenangan kenangan manis selama orang orang tersayang masih hidup. Fadly mendadak panas dingin saat kakinya terasa berat sebelah kanan.
"Guys, sorry bentar. Kaki gue berat sebelah oyy !!" Fadly mencoba mengangkat kakinya sebelah, Rain dan Tria berbalik, ia senteri kaki Fadly,
"Astagfirullah," senter yang Rain pegang sampai terjatuh...
puk...!!
"Ada apa Rain??" tanya Tria. Rain menggeleng. Rain meraih senter yang terjatuh lalu menagarahkannya lagi di kaki Fadly ragu,
"Bismillah !!" gumamnya bergetar.
"Tenang Rain, jika kamu takut itu akan menjadikan kekuatan untuk mereka," bisik Nino di sebelah Rain.
Ia kembali mengarahkan senternya ke kaki Fadly. Namun ternyata sudah tak ada apapun di kaki Fadly, ia berbalik lagi ke arah depan, sontak matanya membulat
"Ya Allah !! Tria awas di kaki loe !!" pekiknya.
Sesosok bayi merah penuh darah, sedang asyik menggelayuti kaki Tria, bayi itu bertaring dan tali pusarnya masih menggantung, itulah anak nyai Diah. Rupanya roh bayi inilah yang menghuni kantornya.
"Pergi loe !!!" usir Rain tapi tawa bayi itu sangatlah menyeramkan. Malah ia berbalik di tengah silaunya lampu senter yang menyorot di tengah kegelapan, menunjukkan sebelah wajahnya yang habis terbakar. Nino menghantam bayi itu hingga terlempar ke belakang.
"Loe ga apa apa ka Tria??" tanya Raina mendekat pada Tria, Tria menggeleng dan mengusap usap kakinya," ga apa apa, itu tadi apa ya??" tanya nya bersama Fadly.
"Tadi ada bayi yang nemplok di kaki loe berdua !!" jawab Rain.
"Hah??!!! seriusan??" pekik mereka.
Di lain tempat, Dika, Romi dan Ve masuk ke dalam ruamg produksi, sesekali mesin yang ada disana berjalan tanpa ada yang menjalankan, mereka tak mau ambil pusing dengan hanya merekam dan berucap permisi, kemudian langkah mereka mengarah ke gudang. Sambutan yang mereka rasakan lebih berat daripada ketiga lainnya, ketiganya seakan memasuki keriuhan pesta rakyat pada jamannya, dengan seorang sinden cantik nan molek sedang melantunkan campur sari dan kidung sunda menjadi sorotan utama para tamu yang hadir. Perempuan berkebaya merah dan jarik coklat. Ve dan Romi sampai terhanyut di dalamnya.
"Gila rame banget !!" ucap Romi.
"Guys kita lagi dimana sih ini??" tanya Ve.
"Tuh sinden cantik gilaaaa !!" puji Romi.
"Gengs, nyebut gengs awas jangan kosong pikiran," ucap Dika. Sepertinya hanya Dika yang cukup tangguh disini.
Banyak karyawan yang bersuka cita termasuk para petinggi pabrik, Dika dan kedua lainnya masuk ke dimensi ruang dan waktu masa lalu. Tak tau apa yang akan di tunjukkan oleh nyai Diah pada mereka.
__ADS_1
Romi bahkan diajak menari bersama di dalam pesta rakyat itu, Dika sangat sulit mengendalikan temannya yang terlanjur hanyut ini, ia berusaha mengekori Romi.
"Shittt !! susah banget di bilangin, " Dika menarik Romi dan menyadarkannya, sesaat kemudian Romi sadar, tapi keduanya kehilangan Ve, mereka kelimpungan mencari dimana Ve... mereka kehilangan Ve, di tengah tengah keramaian.
"Ve mana, Dik??" tanya Romi.
"Si@l !!! gara gara gue fokus ke loe nih, gue dah bilang fokus, jangan kosong !!" sarkas Dika kesal.
.
.
Roh bayi itu kembali mendekat dan masuk ke dalam tubuh Tria. Seketika tubuh Tria menggelinjang, ia bertingkah seperti anak kecil meng***** jarinya, memain mainkan apa yang dipegangnya.
"Tri.."panggil Fadly, tapi Tria tak mendengar dan asik sendiri sambil duduk melantai,
"Kak Fadly, itu bukan Tria !" jawab Rain.
"Hah??!! jadi itu sapeh??" tanya Fadly.
"Ambu...ambu..." ucap Tria layaknya anak kecil.
"Kamu kah bayi itu ??" tanya Rain.
"Bapak mana ka??" tanya Tria pada Rain, seperti anak kecil.
"Siapa bapak adek??" tanya Rain mendekati Tria.
"Bapak !!" tunjuknya pada foto yang menunjukkan deretan staff petinggi pabrik teh yang terpampang di tembok. Rain membawa Tria ke arah telunjuk Tria.
"Coba tunjuk, bapak itu yang mana?" tanya Rain, sedangkan Fadly merekamnya.
Sambil memainkan jari dan menggigitinya, satu tangan lainnya menunjuk ke arah seorang yang Rain kenali.
"Ya Allah, jadi bapakmu !!!" ucap Rain.
"Ini pak Komar Rain !!" bisik Nino.
Brakkkk !!!!
Dika berlari terengah engah bersama Romi,
"Rain, gue minta denah denah ruangan yang ada di pabrik, atau minta satpam buat keliling !!" pekik Dika.
"Kenapa kang?" tanya Rain.
"Ve, ilang !!"
.
__ADS_1
.
.