
Raina menatap Dika lekat, memang jika diukur dan dipikir pikir, pengorbanan dan rasa sayang Dika padanya, tak wajar jika disebut hanya sebatas abang pada adiknya.
Dika menatap Raina balik, "ngapain liatin gue?"
"Loe jelek kang," jawab gadis yang digendongnya itu.
"Gue ceburin juga nih sekarang, gue gelindingin sekalian !" Raina mengeratkan pegangannya di leher Dika, sambil menggeleng dan tertawa.
Terdengar suara gemericik air, yang mengalir tak terlalu deras, ki Nyawang menaburkan bunga setaman berikut kata permisinya di sungai ini.
"Masuk ndok !" pintanya.
Raina turun dari gendongan Dika, dan membuka jaket yang Dika berikan. Langkahnya sedikit demi sedikit, perlahan dibantu Dika.
Nino melihat dan berjaga, ia duduk di bebatuan yang ada di sungai. Memang sungai ini disakralkan, terlihat dari penjagaannya, dan juga ketenangan tempatnya. Sungai ini benar benar dijaga keasrian dan kebersihannya.
Raina duduk di antara bebatuan sungai. Nyai Murti mengambil gayung dari batok kelapa, mengguyurkan air sungai dari atas kepala Raina.
Raina menarik nafas, menahan dingin.
Dari arah atas sungai nampak dua orang berpakaian adat jawa, itulah nyai Wulan dan putranya.
Ki Nyawang juga menyuruh abdinya membawa gedebong pisang yang sudah dimasuki oleh nyai Kembang Winasih. Ia mengambil golok, dan mencabiknya kasar hingga hancur.
Gea membantu Raina, mengganti jarik.
"Insyaallah, Gusti Allah sudah membersihkan semuanya !" ucap nyai Murti.
"Semua yang berasal dari sini, dilarungkan juga kesini. Tak bisa ke sembarang tempat !" tambah Ki Nyawang.
Bersama mengalirnya air sungai yang disiramkan di tubuhnya, hanyut pula kenangan buruk dengan Bagas.
"Siapa pelakunya Ge?" tanya Raina, jujur selama bersama Bagas, ia seperti orang linglung.
"Bagas, " jawab Gea. Raina mengerutkan dahinya. Ia menghela nafasnya.
"Tega dia sama gue, apa karena gue pernah nolak diajak pergi ?!" tanya Raina.
"Kapan?" tanya Dika menautkan alisnya.
"Waktu sebelum kejadian suster Wita, itu pun karena gue takut, dia sering bareng sosok perempuan penari gitu kayanya ! gue juga pernah liat dia nari bareng di rumahnya, gue kira dia gila ! saking frustasinya ga punya pacar, serem !" jawab Raina.
"Ndok, itu barang barang yang sudah dia gunakan untuk memeletmu, harus kamu bakar sendiri !" ucap nyai Murti. Raina dibantu Dika membuka satu persatu barang barang itu.
Matanya terpaku melihat begitu banyak foto foto dirinya, apalagi saat di jendela kamarnya, ia sangat ingat saat itu, adalah saat Nino menyuruhnya masuk, dan melarangnya berada di jendela kamar.
Raina menatap Nino getir. Dika dan salah satu abdi ki Nyawang membuat tungku dari drum bekas, Raina memasukkan satu persatu barang barang lucknut itu ke dalam api, mulai dari boneka yang penuh da*rah ayam, lalu foto fotonya.
"Setelah ini, selesai sudah semua proses pembersihannya," ucap nyai Murti.
"Ki, nyai...makasih banyak, matur suwun... ga tau harus bilang apa, buat ucapin kata makasih. Kalo ga ada aki sama nyai, mungkin Rain udah ga ada !" Raina mengecup punggung tangan kedua sesepuh ini, Dika menyampirkan kembali jaketnya di tubuh Raina, yang kedinginan.
"Sami sami cah ayu, " jawab keduanya.
"Wes, sudah malam ! sebaiknya istirahatkan badanmu !" ucap nyai Murti.
*****************
__ADS_1
"Ge, gue ga dibawain baju ganti apa ?!" omel Raina.
"Gue lupa, saking paniknya !" jawab Gea nyengir.
"Kali aja Ve bawa baju ganti lebih, " ucap Gea.
"Nih, pake t- shirt gue aja !" Dika memberikan t-shirt bersihnya pada Raina.
"Bersih ga nih?" tanya Raina.
"Bersih lah ! sembarangan ! mau boxernya sekalian?" tanya Dika, Raina menggeleng.
"Gue pake jarik aja !" jawab Raina.
"Ya udah, loe istirahat !" ucap Dika hendak berbalik.
"Kang !"
"Hm?!"
"Makasih ya," jawab Raina, lalu ia masuk kembali ke kamar.
*********************
Pagi hari menjelang, sejujurnya jika bukan karena masalah kuliahnya, Raina akan betah berada disini,
Ia berdiri di antara cahaya matahari pagi, yang sinarnya baru saja mengintip malu malu, membuat wajahnya bercahaya.
"Pagi, honey !" ucapnya.
"Pagi, "
"Honey, "
"Hem?" Raina mendongak menatap wajah tampan nan pucat milik Nino.
"Sudah saatnya kamu melihat orang lain selain aku, " ucapan ini bukan hanya membuat Raina sedih, tapi pun Nino.
"Apa kamu akan pergi No?" tanya Raina.
"Aku bakalan selalu ada di dekatmu, entah kamu sadar ataupun tidak, tapi kamu harus memilih pendamping yang nyata. "
Obrolan ini sungguh menyesakkan dada Raina. Menyakiti hati keduanya, tapi inilah kenyataannya.
"Bisa ga sih No, jangan ngobrolin ini dulu ! " ucap Raina memeluk Nino, merasai kenapa harus setragis ini kisah cinta keduanya.
"Kisah kita bukan tragis honey, " baru saja Raina berfikiran seperti itu, Nino malah menyanggahnya.
"Apa namanya kalo ga tragis ?" Raina hampir saja menjatuhkan butiran air matanya.
"Kisah kita terlalu sweet, bahkan maut pun ga bisa misahin kita, " jawab Nino.
"Aku ga janji bisa lupain perasaan ini, No. Dan aku juga ga janji bisa mencintai lelaki lain lebih dari ini," jawab Raina.
"Jangan pernah kubur perasaan mu buatku, tapi kenanglah dan tetap simpan itu. Aku yakin kamu pasti bisa mencintai orang lain, meskipun rasanya pasti berbeda !" begitu tercekat tenggorokan Nino mengatakan ini.
"Perasaan kita lebih dari sekedar kekasih honey, tidak terukur oleh jalinan suatu hubungan. Meskipun nanti kamu jadi milik yang lain, kita tetap saling memiliki," jawab Nino.
__ADS_1
"Like a friend? brother, sister?" tanya Raina.
"More..." jawab Nino.
"You are my soulmate, honey ! jadi, dimana pun kamu...disitu aku ada, cinta kita berbeda, lebih istimewa dibanding yang lain dan tak harus saling memiliki, " ucap Nino pada Raina.
"Janji?!" Raina menunjukkan kelingkingnya. Nino menaikkan alisnya sebelah.
"Janji, kamu selalu ada di sampingku ?" lanjut Raina.
"Janji, tapi janji juga..buka hatimu buat orang lain !" Raina dan Nino saling menautkan kelingkingnya, mereka pernah berjanji dulu, dan sekarang mereka kembali berjanji, sebagai seorang yang saling menyayangi, sebagai seorang yang saling peduli. Meskipun tak harus menjadi satu pasang yang menyatu.
"Bukannya jika seseorang arwah tujuannya sudah tercapai, maka ia akan kembali ke dunianya?!" tanya Raina. Nino menyunggingkan senyumannya.
"Karena kamu tak tau maksud dan tujuanku masih disini apa, honey !" jawab Nino.
"Apa?!" tanya Raina.
"Kalo ku kasih tau, mungkin sekarang aku sudah menghilang dan tak kan kembali, " jawab Nino.
"Kalo gitu jangan !!!" larang Raina.
"Melihatmu bahagia bersama keluargamu nantinya, dengan dikelilingi anak anak lucu, juga suami yang sayang padamu, ada sebuah benda juga yang ku kubur di halaman belakang rumahku yang dulu, dan benda itulah yang harusnya sampai di tanganmu, honey !" batin Nino.
"Hey, jangan nangis ! mau dikatain gila nangis sendiri?" Raina semakin terisak.
"Kenapa baru sekarang sih No, kenapa waktu kamu udah ga ada kamu kasih tau perasaan kamu sama aku ?!" Nino mengusap air mata yang tumpah di pipi Raina. Dika dan Gea disana, keduanya ingin memberikan waktu untuk Raina.
"Takdir sayang, karena aku terlalu takut..takut kamu menjauh, " jawab Nino. Raina sesenggukan, ia menundukkan kepalanya menempel di dada Nino, gemericik air sungai menutupi suara isakan Raina.
Tangan Nino terulur mengusap punggung Raina yang bergetar.
"Aku takut, kalau nanti aku yang bakal menyakiti hati orang lain." ucap Raina.
"Aku yakin dia akan mengerti, " jawab Nino, menangkup pipi chubby Raina seraya tersenyum.
"Dia?" tanya Raina.
"Jika ada orang yang kukehendaki dialah orangnya, ku yakin kamu pun sudah tau," lirih Nino. Raina tau orangnya, ia pun tak memungkiri, kepekaan sisi wanitanya.
Nino meraih dan mengecup tangan Raina, gadis itu kembali memeluk Nino
"Baru kali ini, ada pacar yang nyuruh pacarnya cari pacar baru, " gerutu Raina.
"Aku bukan pacarmu honey, i'm your soulmate. Selama kamu masih berpijak bahkan sampai nanti kamu sudah tak bernyawa pun, aku selalu bersamamu," lirih Nino.
"Dia nunggu kamu," ucap Nino, mencium kening Raina lama.
"Baru kali ini aku diputusin cowok ! nyesek banget !" keduanya tertawa.
Raina mencolek hidung Nino, begitupun Nino sebaliknya.
"Pesek !"
"Kamu yang pesek !" keduanya kembali tertawa, ingat dulu, mereka sering melakukan ini.
.
__ADS_1
.
.