
Rain dan Dika tak mau menyia nyiakan waktu, dengan diantar bu Sari mereka menyusuri jalanan menanjak dan berkelok, sesekali mereka menemukan anak sungai, sangat indah memang..sejenak Rain dapat menenangkan semua beban pikirannya, banyak banyak polusi kota membuat tubuh tercemar.
Langkah mereka terhenti saat bu Sari mengarahkan telunjuknya pada sebuah rumah gubuk, "itu rumah mak Iting, bu..pak !" lirih bu Sari.
Persis seperti dalam gambaran kemarin malam. hanya saja beberapa kayu penyangga rumah yang sudah diganti, karena termakan rayap.
Beberapa bunga bakung berwarna oranye, tumbuh di halaman rumahnya,
"tok..tok...tok.... !!"
"Assalamualaikum, mak!!" pekik bu Sari.
"Waalaikumsalam !!" ucap serak seorang wanita tua.
Raina mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Astagfirullah !!!" Rain bergumam, kang Dika menoleh pada Rain.
"Kenapa?" tanya nya.
"Itu kang, di pohon !!" jawab Rain.
Seekor kera, namun dengan kuping panjang dan wajah seram, sedang memakan pisang, bunga bungaan di atas pohon nangka depan rumah mak Iting.
"Wah..wah...banyak misteri disini, Rain !!" bisik Dika.
"Hooh, kang !!" Rain berusaha memalingkan wajahnya saat si siluman kera ini melihat ke arah mereka.
"Gimana ga betah coba, tuh !!" tunjuk Dika pada sebuah nampan berisikan pisang, segelas kopi, beberapa batang rokok, dan bunga 7 rupa.
"Dikasih makan terus !!" tambahnya.
"Eh, Sari masuk !!" pinta wanita tua itu.
"Hayuu atuh bu, pak. Masuk !!" ajak bu Sari.
Raina dan Dika ikut masuk. Seorang wanita dengan rambut yang sudah hampir memutih seluruhnya di cepol satu diatas, memakai kebaya bunga bunga dan jarik putih coklat yang hampir usang digerus waktu. Kulit keriputnya menandakan ia sudah bergelung dengan matahari dan polusi bumi dalam waktu yang lama.
"Ada apa Sari??" tanya Mak Iting, mata renta itu melihat ke arahku dan kang Dika,
"Mereka suami istri?? mau ab*orsi?? mak sudah tidak menerima hal semacam itu !!!" tanya mak Iting to the point.
Rain dan Dika sontak menggeleng, "bukan mak, kami kesini bukan mau melakukan perbuatan dosa !" jawab Dika.
"Mak, maaf sebelumnya jika kami lancang, tapi ini sangat penting, pengakuan dari mak sangat kami butuhkan !" Rain memegang tangan keriput mak Iting.
"Ada apa ini?" tanya nya.
"Mak apa beberapa tahun lalu ada seorang laki laki yang meminta mak untuk menggugurkan kandungan seorang wanita berstatus sinden kampung, bernama Diah ??"
Deg.....
Mak Iting menarik tangannya, sontak ia langsung mengusir kami.
"Saya tidak tau, sebaiknya kalian pergi !!!" usirnya dengan wajah panik.
"Mak saya mohon mak, akhir akhir ini nyai sering mengganggu saya beserta pabrik teh ! jika mak mau bekerja sama mungkin polisi akan meringankan hukuman mak, percuma mak mengelak toh polisi akan segera kemari !!" jelas Rain ingin membuat mak Iting mengerti.
"Saya tidak tau menau urusan siapapun, pergi kalian !!!" usirnya mendorong Rain dan Dika.
__ADS_1
"Mak sabar dulu mak, dengarkan penjelasan bu bos saya !!" bu Sari mencoba menahan mak Iting.
"Mak saya mohon, pasalnya pak Dedi sudah tertangkap dan ia yang akan menunjukkan siapa saja yang terlibat termasuk mak, jika mak mau menceritakan kejadian sebenarnya mungkin itu akan meringankan hukuman mak !" pekik Rain dari ambang pintu.
Hening dirasa, mak Iting mulai diam tak mendorong Rain dan Dika lagi. Mata sayu nya mulai menitikkan air mata.
"Maafkan mak Diah !!!" tangisnya tergugu pilu. Tubuh rentanya meluruh di kursi.
"Memang betul, beberapa taun yang lalu pak Komar datang kesini membawa Diah yang sedang hamil, mak taksir sudah 5 bulan, sudah bernyawa !!" jelasnya diselingi tangisan.
"Malam itu mak menolak, tapi Komar memaksa, mak tidak tau bagaimana nasib Diah nantinya, mak sedang membutuhkan uang untuk pengobatan aki (suaminya)," ucapnya lagi.
"Walaupun aki tetaplah dipanggil Yang Maha Kuasa," jawabnya sendu.
"Mak diancam akan digusur dari sini, dan rumah mak akan diratakan untuk dibuat lahan perkebunan teh baru ! mak juga diiming imingi uang 3 juta rupiah !"
Mak Iting menceritakan semuanya dengan diselingi, usapan air mata.
"Terimakasih mak, semua pangakuan mak akan membuat jalan yang salah menjadi lurus kembali !" jawab Rain.
"Maafkan mak, mak salah. Mak diam saja saat keluarga Diah mencari keadilan !! mak siap menerima ganjarannya !" jawabnya.
Tak lama beberapa orang polisi dengan diantar pak Sarif datang ke rumah mak Iting, tangan seorang nenek tua itu terborgol dibawa masuk ke dalam mobil polisi.
"Oh ya bu, keluarga nyai Diah dimana sekarang?" tanya Rain.
"Mereka pindah ke kampung sebelah, bu !" jawab bu Sari.
Sepintar pintarnya menyimpan bangkai pasti akan tercium juga. begitupun mak Iting, di masa tuanya kini ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, apa yang ditanam itu yang kelak dia tuai.
.
.
"No, gue kasian sama nyai Diah, No ! pak Komar bisa setega itu ! bukan cinta namanya, No !" gumam Rain.
"Iya, itu hanyalah n@*fsu semata !" jawab Nino mengelus lembut rambut dan kepala Rain.
"Ga kaya sayangnya gue sama loe honey !" bisiknya lagi mengecup kening Rain.
Seketika Rain dilanda rasa sedih yang teramat, menyerukkan kepalanya lebih dalam di dada Nino.
"Apa nanti setelah misteri loe dan ortu gue keungkap, loe juga bakal ninggalin gue No?" tanya Rain.
Nino tersenyum, " sepertinya masih ada hal lain yang membuat gue akan selalu ada di samping loe, honey !" jawab Nino.
"Apa?" Rain mendongak,
"Rahasia, kalo gue kasih tau sekarang, nanti loe cepet cepet selesaikan, dan gue bakal pergi ninggalin loe !" jawabnya.
Rain mengeratkan pelukan di tubuh Nino, " jangan, No ! jangan tinggalin gue !! bawa gue sama loe !!" ucap Rain.
"Untuk saat ini, kita nikmati dulu masa kebersamaan kita ini honey," jawab Nino.
Rain mendongak, begitupun Nino yang menunduk, sekilas Nino mengecup bibir Rain.
Terasa dingin, namun singkat.
Nino tersenyum, " manis !!" kekehnya, Rain ikut tertawa.
__ADS_1
"Hayoh loh !!! ketawa sendiri !!" Romi datang tiba tiba. Untung saja Rain segera bersikap wajar saat terdengar langkah kaki mendekat.
"Ada yang lucu !!" jawab Rain.
Dika ikut bergabung, hanya Dika yang tau jika Rain sedang mengobrol dengan Nino.
.
.
Pak Sarif datang bersama pak Rt, hansip dan beberapa warga membawa pentongan dan obor. Juga pak ustadz, imam masjid kampung.
Malam menampakkan kegelapannya. Semua sudah bersiap menuju pabrik teh, pak usatdz memimpin do'a sebelum mereka mencari Ve.
Gerbang megah pabrik dibuka pak Sarif, hawa dingin menusuk sampai ke tulang. Jika di siang hari pabrik terlihat hangat dan ramai. Tapi di malam hari pabrik terlihat menyeramkan.
Belum apa apa kami sudah disambut oleh beberapa tawa terkikik menusuk gendang telinga dari belakang rerimbunan tanaman bambu di pojok gudang teh, membuat bulu kuduk kami berdiri.
Semenakutkan ini kah pabriknya?? pikir Rain.
"Kayanya pr buat loe Rain, buat bersih bersih !!" jawab Dika, diangguki Rain.
"Bakal gue catet kang, buat syukuran dan bersih bersih pabrik !" jawab Rain.
"Tunggu aba aba saya bapak bapak, pak ustadz mari kita siapkan amunisi ayat suci !!" ucap Dika.
"Siap a,..insyaallah !!" jawab pak ustadz.
"Bismillah !!" pak ustadz memulai berdo'a dengan lantang bersama kang Dika yang membantu.
"Bapak bapak bunyikan pentongannya," pinta Dika.
tong..tong...tong... !!!
Suara pentongan bersahutan, bergema.
"Ve....!!! Ve....!!" pekikan Romi, Fadly dan Tria juga Rain.
Terdengar sayup sayup suara Ve terdengar merintih meminta tolong.
"Kang !!! denger ga !!! itu suara Ve !!!" ujar Rain berseru.
Nino segera mencari dimana asal suara itu. Tak lama Nino kembali.
"Samping kantin pabrik !!" bisik Nino.
"Kang, ikut gue !!" Rain berlari.
"Bapak bapak ikut kami !!" pinta Dika.
Mereka berlari menuju kantin pabrik.
"Astagfirullah Ve !!!" ucap Rain dan Dika.
Terlihat lidah panjang, sedang menjilat jilat Ve, yang sudah tak berdaya, tubuhnya yang hijau hanya memakai caw*@t putih saja, kuku kaki dan tangan yang panjang beserta kuping layaknya elf.
"Ya rabb, Ve !!!"
.
__ADS_1
.
.