Guardian Ghost

Guardian Ghost
Pagelaran tari


__ADS_3

Gadis itu kini masuk ke dalam sanggar dan aula tempat latihan.


"Nyai, ojo sira gowo Raina (Jangan bawa Raina)!" ucap nyai Murti.


Raina berbalik badan, tersenyum genit. Seperti kebiasaan perilaku nyai Kembang Winasih.


"Jebule, bocah iki pancen primadona ndok ! nanging aku uga seneng, (Rupanya, gadis ini jadi primadona, ndo ! tapi aku juga menyukainya)" jawabnya pada nyai Murti.


Raina menyentuh seluruh permukaan foto, alat alat pagelaran.


"Cah iki ayu, apik, sing penting isih perawan, (anak gadis ini cantik, baik, juga yang penting dia masih perawan)" bisiknya keras sambil menempatkan telunjuknya di bibir. Lalu ia melenggak lenggokkan badannya di tengah tengah aula besar itu, disaksikan oleh semuanya.


Patahan dan pakem pakem menarinya sangat apik, terlihat seperti seorang maestro tari. Sampai sampai, beberapa penari yang tengah bersiap siap akan melakukan pentas nanti malam yang melihatnya tercengang, bagaimana orang luar dan baru saja datang kemari bisa sejago itu.


"Ki, iku sopo?" tanya salah seorang nya.


"Iku wong kota, nanging kesurupan dening nyai Kembamg Winasih !" jawab ki Nyawang.


Raina menghentikan tariannya, tiba tiba ia muntah muntah kembali, Raina memegang perutnya.


"Huweekkk !!" Raina menutup mulutnya, cairan kental merah, sumber kehidupan yang mengaliri setiap nadinya keluar lagi.


"Rain !!" sontak Dika dan yang lain menghampirinya.


D@*rah yang sudah bertekstur seperti hati ayam ditangkup Raina di tangannya.


"Astagfirullah !"


"Astaga !"


Raina tersenyum,


"No, aku udah ga bisa lagi !" Raina ambruk. Dika menangkap tubuh Raina.


"Gusti !!! cah ayu !!!" nyai Murti segera mengambil air.

__ADS_1


"Siapkan segera kain yang sudah dibawa !!" pinta ki Nyawang pada beberapa bawahannya. Rupanya ki Nyawang sudah mempersiapkan semuanya. Nino yang kurang paham dengan adat istiadat di tanah bumi pertiwi ini, hanya bisa membantu dengan tetap menjaga sukma Raina, agar tetap berada di dalam tubuhnya. Beberapa orang membawa kain kafan dan jarik.


Ki nyawang memakai blangkon coklat, dengan rambut yang ia ikat saja di belakang, aula ini di tutup untuk umum.


"Mana barang yang kami minta?" tanya ki Nyawang. Dengan segera Tria dan Romi membawanya. Dika hanya bisa berpasrah diri pada Yang Maha Kuasa, hanya ki Nyawang dan Nyai Murti lah yang tau harus bagaimana.


Satu kotak penuh barang lucknut termasuk selendang mayang hijau milik nyai kembang dibawa.


Dika terkejut dengan barang barang ini, foto foto Raina yang tersenyum manis bahkan saat baru bangun tidur, dan menangkup dagunya di jendela ada disitu. Boneka dari kain putih bermandikan d@*rah ayam cemani dipegangnya.


"Br3ngks3k !!!" gumamnya.


Para abdi setia ki Nyawang membuka dan menjajarkan barang barang yang dipakai untuk mencelakai Raina ini.


"Jika cinta sudah berubah menjadi obsesi maka kehancuranlah yang terjadi !" ujar nyai Murti.


Kain Kafan di bentangkan dan Raina ditaruh di dalamnya, begitu menyayat hati melihat gadisnya harus seperti ini, sedangkan ia tak bisa berbuat apapun.


Jangankan Dika dan Nino, Gea dan Ve saja sudah berurai air mata melihatnya. Wajahnya pun sangat pucat, tanda da*rah yang mengalirinya mulai berkurang.


"Ya Allah Rain, kenapa jadi kaya gini ?!" ucap Ve, saat tubuh Raina mulai ditutupi kafan.


Melihat wajah Raina untuk kemudian ditutup jarik coklat, membuat hati Dika tersayat bukan main, lebih baik tak memilikinya. Daripada harus melihatnya menderita seperti ini.


Barang barang yang dipakai untuk mengerjai Raina, di taruh di atas kafan gedebong pisang itu sedangkan di atas Raina, hanya dupa, kembang setaman dan kemenyan saja. Ki Nyawang juga mengambil kotak kayu jati dan membukanya.


"Tusuk konde nyai Kembang Winasih," gumamnya mengangkat sepasang tusuk konde yang dulunya biasa dipakai oleh nyai untuk pentas. Satu ia tancapkan di atas gedebong pisang yang tertutup jarik dan satu lagi ia simpan.


"Yang satu ini adalah ibarat benang sarinya, dan yang tadi ditancapkan di gedebong pisang adalah putiknya, seharusnya disini ada laki laki yang harus membelah sukma, tapi aki lihat..ada sesosok arwah yang dari tadi menjaga gadis ini?!" ia melihat ke arah Nino.


"Tancapkan ini, saat nyai sudah mengambil raga palsu (gedebong pisang) !" ucap ki Nyawang. Nino mengangguk.


Hari mulai memasuki senja. Perlahan dingin menyelimuti seakan menutupi desa dari dunia luar. Di pelataran alun alun desa, semuanya sudah bersiap untuk pagelaran. Semua penari dan Nayaga sudah berada di atas pendopo. Nino berjaga bersama Adry di dalam aula yang dikosongkan, hanya ada Raina dan gedebong pisang itu.


Sedangkan ki Nyawang, Dika dan Fadly menunggu di luar pintu aula. Dan yang lain melihat pagelaran.

__ADS_1


Malam semakin mendominasi hari, suasana ramai di alun alun desa mulai terasa. Warga berbondong bondong melihat hiburan rakyat, yang dipentaskan hanya pada malam malam tertentu saja. Musik gamelan mulai bersahutan.


Para nayaga semakin lincah memainkan alat musik, para penari desa berlenggak lenggok di atas pendopo. Musik gamelan seketika menyihir seluruh penjuru desa untuk ikut hanyut dalam kesakralan. Pesona budaya, adat, kental bercampur spiritual memang begitu terasa. Pantas saja orang orang terdahulu, begitu mempunyai kharisma dan melegenda, karena ada campur tangan dua dunia di dalamnya.


"Udah jarang loh ! yang asli kaya gini ! suasananya beda, sakral !" jawab Ve. Mereka ditemani pak Kades dan istri.


Gea melihat sesosok perempuan cantik, dialah nyai Kembang Winasih, yang baru saja turun menyusup diantara para penari, berlenggak lenggok menikmati lagu.


"Nyai, ada disini !" gumam Gea.


Semakin malam, musik semakin memanaskan suasana, para gadis yang menari mulai berganti, dari yang bocah menjadi semakin dewasa, dan ranum. Para kembang desa. Belum lagi mereka menari diiringi dengan para pria dewasa dan bujangan kampung. Wajah ayu, bak porselen mulus tanpa cacat, berwarna kuning langsat khas tanah Jawa, memang daya tarik tersendiri untuk petinggi Belanda.


"Pantes aja, dia cantik banget !" ucap Gea.


"Siapa Ge?" tanya Romi.


"Nyai Kembang Winasih, " jawab Gea, membuat Romi terkesiap.


"Ada Ge??" tanya Romi, Gea mengangguk.


Tiba tiba saja nyai Kembang Winasih mundur sedikit demi sedikit, ia melayang mundur dari pendopo, menuju sanggar.


"Dia ngilang, masuk ke sanggar !" ucap Gea.


Wajah ayu nya mulai berubah sedikit demi sedikit, setengah wajahnya hangus dan dipenuhi luka. Mungkin efek susuk yang belum ia lepas. Langkahnya hanya berbatas jarik.


Kain kembennya bernodakan d@*rah dari perutnya yang tertusuk.


"Dia datang, " Nino dan Adry bersembunyi .


Suara gumaman bermelodikan tembang tembang jawa ia senandungkan. Punggung mulus namun terbakar di beberapa bagian nya, seperti di bagian tulang punggung tengkuknya menandakan tempat tempat dimana susuk itu terpasang.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2