
Raina dan Dita sampai di depan rumah Dita.
"Ra, masuk aja, bang Hafiz di dalem ko !" pinta Dita.
"Assalamualaikum !"
"Waalaikumsalam, "
"Mah, ini loh Raina !" Dita mengenalkan Raina pada ibunya.
"Oh ini, aduh ! baru sekarang ya kesini?!" jawab ibu Dita, Raina salim.
"Iya bu, maaf ya ! "
"Ga apa apa, cantik."
"Bu, gimana kabar ka Hafiz? katanya sakit ? ini ada sedikit kue buat nyemil !" Raina menyerahkan bungkusan yang dibawa.
"Oalah ! repot repot to nak ! terimakasih. Iya, itu di ruang tengah," tunjuk ibunya.
Raina melirik Dita, Dita mengangguk, "gue ke kamar dulu, loe duluan aja !" jawab Dita. Raina berjalan menuju ruang tengah. Hafiz sedang duduk di sofa, tv menyala. Tapi pandangannya bukan ke arah tv, tatapannya malah terkesan kosong.
"Ka Hafiz !" sapa Raina memegang pundak Hafiz, pemuda itu terjengkat kaget dan ketakutan.
"Jangan La !! jangan ganggu gue !" pekiknya. Sontak saja Raina mengerutkan dahinya.
"Ini Raina ka, siapa La?" Raina duduk di samping Hafiz, namun berjarak.
Hafiz mengurut dada lega, ia beberapa kali menghela nafasnya.
"Sorry Rain, aku kira... udahlah, ga usah dibahas !"
"Kaka sakit? sekarang gimana keadaannya?" tanya Raina.
"Eh iya, cuma ga enak badan saja."
"Ka, maaf jika ini mengganggu..tapi apa boleh Raina tau cerita yang kaka ceritakan sama Dita, please.." pinta Raina, bersamaan dengan datangnya ibu Dita yang membawakan minuman.
"Eh ini diminum dulu !" ujarnya pada Raina.
"Makasih bu, jadi ngerepotin !" jawab Raina.
"Ga apa apa, jangan sungkan. Bang gimana? mau makan sekarang?" tanya ibunya.
"Nanti aja mah, makasih !" jawab Hafiz. Ibunya mengangguk dan pergi.
"Ka ?" tanya Raina kembali.
"Kenapa kamu ingin tau? apakah nanti kamu akan percaya? atau justru kamu mengalaminya juga?" tanya Hafiz.
"Iya, kaka cerita saja, insyallah Rain akan percaya !" jawab Raina.
"Oke, " Hafiz menarik nafasnya,
"Kemarin itu sebenarnya ga pengen ke kamar mandi pojokan kantin. Tapi berhubung udah kebelet, makanya kesana. Aku liat sosok perempuan menggelantung di salah satu bilik kamar mandi, dia lompat..talinya masih ngegantung di lehernya ! dia bilang aku jahat ! dia cekik aku..tangannya pucat mengelupas," Hafiz bercerita sambil meringis.
"Dia mirip Lala, " Hafiz sudah berkeringat menceritakan semua itu.
"Terus gimana kaka bisa selamat?"
"Ada ob yang buka pintu, sorry Ra..aku masih takut, dia masih selalu datang, " tak mungkin Raina meneruskan pertanyaan melihat Hafiz yang sudah seakan ketakutan.
"Oke ka makasih, apa Rain bisa liat foto Lala?" tanya Raina.
__ADS_1
"Foto Lala udah aku hapus semua Ra, soalnya calon suaminya temperamental ! dan ga suka liat foto Lala bareng cowok lain."
"Oke ka makasih banyak, " Raina masih buntu, ia memang benar benar harus menyelinap ke ruang arsip.
"Lala itu satu angkatan sama kaka kan? anak akuntan?" tanya Raina.
**********************
"Mamah ga marah, kamu keluar malem terus?" tanya Raina pada Dika. Dika tertawa atas pertanyaan Raina. Ia bukanlah anak kecil yang nyempil di ketek ibunya.
"Aku udah bangkotan gini masa dimarahin ? " jawab Dika tertawa seraya mengacak rambut Raina. Tria ikut tertawa.
"Dik, cuci kaki, cuci tangan, gosok gigi, minum susu terus bobo !" jawab Tria.
"Ya kali aja kan, diajak keluar malem sama anak gadis !" jawab Raina membetulkan sepatunya.
"Yang ada kamu, keluyuran malem malem terus sama laki laki," jawab Dika.
"Iya ya !" seru Raina baru sadar seraya tertawa.
"Kan keluarnya sama pacar !" kilah Raina.
"Justru sama pacar, ga takut digimana gimanain?" tanya Dika menggodanya.
"Kalo gitu aku mau bawa piso dapur dulu, takut aja nanti kamu macem macem !" jawab polos Raina hendak ke dapur.
"Eh..eh...canda..ga usah beneran sadis gitu ! percaya sama aku, gampang kalo ada apa apa, kamu tau rumahku dimana ! susulin aja, mamah juga udah restuin, " jawab Dika.
"Neng, hati hati ! udah ini selesai udah aja atuh..jangan lagi terlibat sama dunia beginian. Bibi mah suka was was, khawatir !" ucap bi Kokom.
"Maunya Rain juga gitu bi, duduk, rebahan, hidup dengan tenang, yang normal normal aja kaya yang lain ! Rain udah capek digangguin terus bi, " keluh gadis itu benar benar dari hatinya yang paling dalam.
"Do'ain Raina baik baik aja ya bi," Raina mengecup punggung tangan yang sudah mulai keriput itu.
"Pasti. Neng.." panggil bibi.
"Hah?! om Harsa mau ke Bandung? ko ga bilang sama Rain, " tanya Raina.
"Iya anu neng..." ucap bibi penuh keraguan.
"Kenapa bi?" Dika dan Tria saling mengangguk bertanya ada apa.
"Waktu neng kerasukan itu, bibi ada ngomong sama bapak. Soalnya bapak sama bu Gita telfon. Nanti mungkin bapak yang bilang sama neng, "
"Bilang apa bi ? bilang aja ! biar nanti Rain tau mau jawab apa,"
"Katanya kalo kaya gitu terus, bahayain nyawa..neng mau dipaksa tinggal lagi di Jakarta sama keluarga bapak, " jelas bibi.
"Apa bi?!" kaget Raina dan Dika.
"Iya neng, maaf ya bibi ga bisa bohong, " ucap bibi penuh penyesalan.
"Ga apa apa bi, bibi ga harus bohong sama om sama tante."
"Disini neng ga ada yang tanggung jawab, kalau terjadi apa apa sama neng gimana katanya, " jawab bibi.
"Maksudnya ? Rain kan ada bibi sama mamang, om gimana sih ! terus nanti pabrik siapa yang urus, kuliah Rain gimana?!"
Tria menyenggol Dika, "kode dari om nya buat lamar Raina !" bisik Tria, Dika mengangguk mengerti.
"Dihhh om ga asik ! udah ah bi, takut telat. Raina pamit dulu !"
Dika bersama Raina berboncengan sedangkan Tria di motornya sendiri.
__ADS_1
"Jadi om Jakarta mana?" tanya Dika.
"Jakarta Selatan, " jawab Raina, terlihat jelas gadis itu tak ingin membahasnya, terlalu banyak yang difikirkannya.
"Ya udah, nanti aja kita pikirkan lagi ya," ucap Dika melihat raut wajah Raina yang masam dan malas.
Ketiganya sampai di depan kampus Raina, mereka harus berhati hati. Karena satpam selalu berjaga jaga.
"Manjat lewat pager samping aja yank, ka Tri !" ucap Raina.
"Oke, " jawab keduanya.
"Sini, kubantu dulu !" ucap Dika memberikan p4h4nya untuk diinjak Raina. Dengan sekali hentakan, Raina bisa sampai di atas dinding pagar. Disusul Dika dan Tria.
"Hap !!!" mereka lompat satu persatu.
"Gue berasa jadi kawanan perampok tau ngga !" ucap Tria.
"Yang mau bobol komputer kampus buat beli temen nasi !" jawab Raina tertawa bersama Dika dan Tria.
"Suttt !"
"Wah cewek loe pengalaman Dik, " ucap Tria.
"Satpam !" Dika menarik Raina untuk bersembunyi di balik pintu ruangan hingga Raina menempel di dadanya.
Sorot lampu dari senter kian mendekat. Jantung Raina berdegup kencang, menempel begini pada Dika, sama seperti dulu saat pertama kali bersama Nino. Gadis ini mendongak, di tengah kegelapan malam, ia melihat wajah menawan Dika.
"Oke aman, " ucap Dika membuyarkan lamunan Raina. Gadis itu segera melepaskan diri gelagapan.
"Huff, udah kaya lintah gue nemplok nemplok !" Tria menertawakan ocehan gadis ini.
"Ruangan arsip di depan ka, " Raina sedikit berlari.
"Tunggu !" Dika menahan tangan Raina.
"Kenapa?"
"Itu, cctv !" ucap Dika menunjuk cctv di koridor.
"Jadi gimana? kalo mau di tutup susah ga kejangkau," jawab Tria.
"Gue tau jalan lain, tapi mesti lewatin kamar mandi deket kantin !" jawab Raina.
"Oke, ga apa apa."
"Disana tkp nya ka Tri,"
"Ga apa apa lah, gue udah biasa !"
Ketiganya berlari menuju lantai bawah lagi, berbelok ke kanan. Wangi melati mulai tercium disana. Sesosok perempuan sudah berdiri dengan tali tambang yang terikat di lehernya, dengan keadaan lebam lebam di wajahnya, rambut yang berantakan dan dress putih yang berd4rah di bagian perut dan pergelangan tangannya.
Perempuan itu berjalan pelan ke arah Raina, Dika dan Tria.
"Busettt ! " Tria tak bisa berkata kata lagi, selama ini, pemandangan inilah yang selalu dilihat Raina, Dika dan Gea.
"Lala," panggil Raina.
Gadis itu malah menangis memilukan.
.
.
__ADS_1
.
.