
Gea menatap lelah jalanan, ternyata mencari rupiah tak semudah mencari harta karun di lubang hidungnya.
Setelah semalam ia bergelut di dunia tak kasat mata seperti lari marathon beberapa puluh kilo meter, besok ia sudah harus ke pabrik, untuk bekerja kembali, sudah seminggu Gea berkerja di pabrik teh. Menjadi seorang sekertaris Raina menyita waktunya tapi sepadan dengan penghasilannya juga kebaikan yang Raina beri untuknya, satu yang tidak bisa ia ganti sampai kapanpun, rasa sayang Raina yang menganggapnya seperti keluarganya sendiri, padahal jelas jelas ayahnya lah yang membantai keluarga dan Nino nya.
Gea memilih pulang ke kontrakan setelah mengantarkan Raina pulang,
"Ra, gue pulang aja lah, belum nyuci pula !" ucapnya pamit.
Gea menaiki motor kreditannya, menuju rumah kontrakannya.
.
.
Raina diantar Dika pulang ke rumah, laki laki ini memang patut di acungi jempol.
"Kang, " panggilnya lirih, pertanyaan ini sudah samgat lama berada di otaknya.
"Hem??!" sebuah gumaman sebagai jawabannya.
"Ko loe mau sih kang, sampe nunggu nungguin gue di RS, loe juga selalu ada buat gue, gue ga bisa kasih apa apa buat loe !" ucap gadis ini, Dika menggendong tubuh Raina masuk ke rumah menuju kamar nya di lantai atas.
Karena gue sayang sama loe Rain, peka dikit dong,
"Kalo pikiran loe, gue ngarepin sesuatu berarti otak loe mesti di kirim ke laundry ! loe bilang gue kaya abang loe, kan!" jawabnya berbohong, Dika tak ingin terlalu tancap gas, ia ingin Raina menerima perasaannya dengan perlahan, tanpa ada paksaan dari siapapun.
"Oh iya ya, " jawab Raina terkekeh, seraya mengeratkan tangannya yang mengalung di leher Dika. Tampak romantis memang, bi Kokom dan mang Nurdin tersenyum melihat itu.
"Loe istirahat aja, jangan mikirin kerjaan dulu !" pesan Dika.
"Gue udah istirahat dari kapan hari kang, bosen baringan terus !" Cebiknya pelan.
Belum Raina berbaring, ponselnya berdering.
"Rain !! gue ke rumah loe sekarang !!" panggilan di tutup begitu saja.
"Siapa?" tanya Dika, melihat ekspresi Raina yang mengerutkan dahi.
"Gea, katanya mau kesini !" jawab Raina.
"Bukannya barusan dia abis dari sini ? disuruh nginep tuh anak kekeh karena belum nyuci !" Dika pun mengerutkan keningnya beberapa lipatan.
__ADS_1
Dika pamit pulang, ia masih harus pergi ke stasiun radio untuk bekerja, ia juga harus mengurus distro miliknya.
"Assalamualaikum, bi..mang !" salam Gea.
"Eh, neng Gea !! ada yang ketinggalan?" tanya bi Kokom.
"Eh, iya bi..ada yang kelupaan !" jawabnya bingung, ingin menjelaskan tapi takut bi Kokom tak percaya.
"Bi, Raina ada?" tanya Gea.
"Di kamar neng, ke kamarnya aja !" pinta bibi.
"Oh gitu, oke deh bi. Makasih !" Gea segera menuju lantai atas.
Ceklek !
Gea melihat gadis yang baru saja pulang dari RS ini sedang menatap keluar jendela.
"Rain, lagi liat apa sih?" tanya Gea.
"Itu ada cowok di seberang rumah, liat ga Ge!! ganteng ya??! " tunjuk Rain menggunakan dagunya. Gea ikut melongokkan kepalanya, ke arah luar jendela. Di seberang rumah Rain, memang ada tetangga baru. Laki laki yang sering melihat Raina juga dari balik jendela kamarnya.
"Cool kan, liat body nya uuuu !!!!" seru Rain tampak lezat melihat badan atletis laki laki. Gea tertawa, pasalnya baru pertama kali, ia melihat gadis ini memuji lawan jenis, bahkan Nino sekalipun yang kerennya kebangetan tak pernah ia puji puji.
"Ko, gue baru ngeuh ya, dia ganteng banget Ge..padahal dia sering liatin gue loh !!" tak berkedip melihat laki laki yang tengah nge gym di ruangan gymnya samping kamar lantai atas, jelas terlihat karena ruangan gym itu, setengahnya kaca bening.
"Mata loe rabun ya??! cakepan Dika kemana mana Ra, " jawab Gea kekeh.
"Loe suka sama Dika, Ge?" tanya Rain, Gea mengernyitkan dahi, bahkan anak tk saja bisa melihat Dika menyukai Raina.
"Ya enggalah !" jawab Gea.
"Nene nene katarak aja bisa liat Ra, " lanjutnya ngegas.
"Udah ahhh, by the way tadi loe mau apa ?!" tanya Raina, berdebat dsngan Gea tak akan pernah selesai yang ada ia malah emosi.
"Ha !! kan gue jadi lupa, tadi pas gue ke rumah kontrakan Ra !" jawab Gea mengingat ingat.
Flashback on
Gea memutar kunci di lubangnya, dengan mata suntuk ia memegang handle pintu, tapi belum juga masuk, tiba tiba ia mendengar seperti suara benda besar jatuh ke dalam sumur yang ada di depan kontrakannya, sumur yang biasa dipakai, para penghuni kontrakan. Gea tergelonjak kaget, matanya seketika melotot segar. Ia berjalan ke arah sumber suara. Saat sampai di depan sumur, ia langsung lari berbalik seraya berlari tergesa gesa, sebuah bulatan sebesar bola keluar dari dalam sumur mengejarnya, sampai rumah.
__ADS_1
"Tumben banget masih sore gini udah sepi !!" Gea melirik jam tangannya, ternyata sudah masuk waktu maghrib.
"Astaga dah maghrib !!" Gea masih menstabilkan degupan jantungnya, darah yang mendesir terasa panas, membuatnya berkeringat. Gea menyenderkan badannya di pintu, masih dengan sikap waspada, Gea menengok dari kaca jendela, menyingkabkan gordennya, matanya membulat seketika, melihat bola itu berada di depan pintunya, dan kini terlihat jelas itu bukan sekedar bola saja, melainkan sebuah kepala tanpa badan yang banyak mengeluarkan dar*@h, dan wajah yang babak belur. Nampak menyeramkan, menyeringai ke arah Gea.
"Aaaaa !!! kenapa sih gue harus berurusan dengan yang kaya beginian !!" pekiknya. Niat hati ingin pulang dan beristirahat malah jadi uji nyali lagi, rasanya kemarin kemarin kontrakannya ini tak ada yang aneh.
"Adry, hiks !!" Gea hampir saja menangis, badannya sudah lelah.
Kepala buntung itu mengetuk ngetuk pintu kontrakan Gea, dengan keningnya. Bercak cairan kental merah tercium bau amis disini. Sampai sampai Gea ingin muntah.
"Adry, tolongin aku !!" Gea merintih.
"Sayang ??!" Adry memeluk Gea.
"Sebaiknya hari ini kamu bermalam di rumah Raina saja, orang orang pun enggan keluar jika sudah waktu maghrib disini, sepertinya ada sesuatu !" jawab Adry. Gea segera membawa peralatannya untuk sementara menginap di rumah Raina.
"Oke siap??!" tanya Adry. Gea mengangguk.
Adry membawa si kepala' itu menjauh sementara Gea menstater motornya dan mengunci pintu kontrakan.
Belum juga motornya menyala kepala' itu kembali lepas dari tangan Adry.
"Sayang !!!" Gea dengan segala sisa harapannya menstater motor yang akhirnya menyala. Si kepala' menghalangi jalan Gea, tapi Gea dengan nekat menggeleng saja si kepala' itu, dan lewat begitu saja keluar dari gerbang kontrakannya.
Flashback off
"Pantesan..loe bawa tas, mau ngungsi !" kekeh Raina.
"Jadi?? boleh gue ngungsi sementara waktu ? gue belum cukup berani buat bertindak mencari tau sendiri Rain," aku Gea.
"Oke, nanti gue bantu ! kasian juga sih penghuni kontrakan yang lain !" jawab Raina.
"Iya, kayanya mereka pada pindah juga deh, kasian tetangga gue, ada yang punya bayi juga !" ucap Gea.
"Nih, minum dulu deh !" Raina menyodorkan minuman kaleng pada Gea.
"Loe tau kan, kamar loe dimana?!" tanya Raina.
"Gue mau tidur bareng loe, Ra ?!" rayu Gea tersenyum begitu manis.
"Cih, tapi pijitin gue ya ??!" Raina menaik rurunkan alisnya. Gea memajukan bibirnya, "oke deh ! buat bu bos apa sih yang engga, gaji pakein bonus ya bu ??!" rayunya lagi.
__ADS_1
"Berapa? goceng??(5 ribu) boleh lah !!" jawab Raina tertawa lepas.