
Wajah Raina sudah benar benar pucat. Bi Kokom sudah berderai air mata. Tak kuasa melihat gadis yang dirawatnya sedari kecil ini, kondisinya tampak mengkhawatirkan.
"Neng, " ucapnya, tapi mata Raina menatap kosong. Nino membawa Gea beserta yang lainnya ke ruangan dimana Bagas melakukan ritualnya.
"B@nks@tttt !!!" Romi mengacak ngacak seluruh ruangan itu, ruangan yang dipenuhi barang barang terkutuk, foto Raina memang memenuhi ruangan ini dan kamar utama.
"Gue ga nyangka, cinta bisa kaya gini?!" ucap Ve berdecak ngeri.
"Ini bukan cinta, tapi gilakkk !" jawab Fadly.
"Kalau Dika tau, jangankan ke penjara ke tanah kubur pun ia kejar !" jawab Tria.
D@*rah ayam cemani menyengat amis, dari sebuah cawan kendi dan terlihat sudah beberapa kali disiramkan pada sebuah boneka dari kain putih, seperti kafan. Boneka itu tampak merah kehitaman, pertanda boneka itu tak dibiarkan mengering begitu saja. Mereka membawa dan memasukkan barang barang yang berhubungan dengan praktek guna guna, pelet ini pada sebuah kotak. Nino menyuruh Gea, agar semuanya di bawa nanti saat penyembuhan Raina.
"Dika sudah menemui keturunan nyai Kembang Winasih, dan cara menyembuhkan Rain !" ucap Nino, ia mengetahuinya dari Adry yang memang ikut bersama Dika, namun hanya sampai depan gerbang saja, Adry tak bisa masuk lebih jauh lagi ke dalam desa . Wilayah itu memang sakral, tak bisa sembarang arwah memasuki daerah itu.
Tak lama Tria mendapatkan telfon dari Dika.
Romi menyiapkan mobil dan yang lain tengah bersiap siap, Nino yang menjaga Raina, sesenggukan. Gadisnya seperti mayat hidup, Nino memegang tangan Raina yang sudah tampak pucat, sepertinya kehidupan mulai meninggalkannya.
Nino menangis, baru kali ini ia menangis.
"Come back honey !" bisiknya, menyatukan keningnya dan kening Raina.
"No, semuanya udah siap !" ucap Gea. Nino menuntun Raina turun dari tangga, kini nampak oleh semuanya, jika Raina turun tanpa melihat arah kemana ia berjalan, tapi seperti dituntun seseorang.
"Ge ?" gumam Tria.
"Iya, Nino yang lagi bawa Raina !"
"Bibi ingin ikut atuh neng !" isak bibi.
"Bibi tunggu disini aja ya, insyaallah Raina ga apa apa bi, do'akan saja usaha kami berhasil. Dika sudah menunggu disana !" ujar Gea.
"Neng, hati hati. Tolong bantu neng Raina sembuh !" pinta mamang.
"Iya mang, "
Bibi dan mamang mengecup kening Raina lembut layaknya orangtua pada anaknya. Mengusap rambut hitam legam terurai dan ikal di ujungnya milik Raina.
Sepanjang perjalanan, Gea melihat ke arah kaca spion mobil, Nino tak lepas menjaga Raina, gadis ini tak pernah lepas dari pelukan Nino.
"No, Adry pun tak bisa apa apa disana. Apa nantinya loe juga ga bisa ngapa ngapain disana?" tanya Gea.
"Semoga bisa Ge, gue setidaknya harus meminta ijin pada seseorang disana. Kemarin Adry salah, ia tak meminta ijin. Makanya ia tak bisa masuk!" jawab Nino.
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah hari, mereka sampai di depan hutan.
"Itu Dika !!" tunjuk Ve, rupanya Dika menanti kedatangan mereka sampai pukul setengah 4 sore, hampir berkabut. Untung saja ada kios tambal ban disana. Jadi Dika tak sendiri.
__ADS_1
"Dik !!" pekik Fadly.
"Alhamdulillah !" orang pertama yang dicarinya adalah Raina, sosok gadis yang sudah seperti raga kehilangan nyawa.
Baru sehari ditinggalkan, Raina sudah layaknya zombie.
"Ya Allah Rain !" ucapnya. Dika menunduk menyesal. Kenapa baru sekarang ia pergi kesini. Nino menatap Dika nyalang, sama sama menyesal. Jika sampai mereka terlambat menyelamatkan Raina, maka mereka akan benar benar kehilangan gadis ini.
"Buruan masuk Dik, keburu kabut makin turun !" ucap Romi.
Dika masuk, ia duduk di sebelah Rain, melihat kulit putih nan pucat Raina.
"Sehari gue pergi, Rain udah kaya mayat hidup, " ucap Dika mengusap pundak Raina.
Nino melihat Dika, dan mengangguk.
"Iya Dik, semalem Raina muntah muntah d@*rah !" jawab Gea.
"Loe udah nemuin tusuk kondenya?" tanya Fadly.
"Insyaallah, beserta orang yang akan menyembuhkannya."
Dika menuntun Romi ke arah telunjuknya, hingga sampai di depan gerbang desa ini. Hawa dingin sudah menyambut mereka.
"Gilakkk !!! asri banget, bener bener definisi belum terjamah !" ucap Ve.
"Jaga sikap kalian ! jangan sampai hal hal yang tidak diinginkan terjadi lagi !" Dika mewanti wanti.
Sesosok laki laki bertubuh besar yang seperti menaungi tempat jauh di atas bukit di hulu sungai, yang mengaliri kampung ini. Sosok seperti patih patih pada masa kerajaan kerajaan jaman dulu.
Saat memasuki kampung, tubuh Raina kembali bereaksi. Ia melotot, meminta menolak untuk keluar.
" Engga !!!" kedua tangannya menutup kedua telinganya seraya menggeleng kuat.
"Raina, kenapa ??!!" tanya Ve dan Gea.
Mobil tetap melaju, warga yang jarang melihat mobil memasuki area mereka, banyak yang terbengong asing.
"Parkir aja di sana Rom, depan rumah pak Kades dulu, minta ijin !" ucap Dika.
Raina terus saja berontak tak mau turun.
"Engga !!!" pekiknya, Dika memeluk Raina.
"Hey, it's oke !! ada gue disini sekarang. Nino sedang berusaha meminta ijin dan masuk kesini !"
Pak Kades mempersilahkan mereka duduk, seperti yang sudah diceritakan Dika sebelumnya, pak Kades mempersilahkan untuk Ve dan Gea menginap disini dan untuk laki laki berada di sanggar.
Nino dan Adry berhasil masuk ke sini atas ijin penguasa wilayah disini.
__ADS_1
"Dry, loe jaga jaga di rumah pak Kades, menjaga Ve dan Gea. Biar gue di sanggar membantu Raina, " ucap Nino.
Pak Kades dan istrinya melihat Raina,
"Astaga, pak..ko ya tega teganya gadis secantik ini, di pelet pake selendang mayang nyai Wina.." istri Kades ini menyayangkan.
"Namanya juga kepingin bu, pantas saja lah wong si neng nya cantik ! yang dia tak tau jika sampai nyai kembang menyukai korbannya, maka ia akan membawa serta. Memang urban legend ini banyak yang dikurangi !" jawab pak Kades.
"Si neng, ini weton lahirnya apa?" tanya bu Kades.
"Minggu, " bisik Nino.
"Minggu pak !" jawab Dika.
"Ko loe tau Dik?" tanya Ve menggoda. Sedangkan Gea hanya mengulas senyuman, ya iyalah tau..Nino yang memberi tau.
"Mega..." gumam pak Kades.
"Kalau begitu kami meneruskan perjalanan menuju sanggar pak, takut ki Nyawang dan nyai Murti sudah menunggu, " pamit Dika.
"Oh iya iya, silahkan. Buat adek adek yang mau istirahat, silahkan. Bu, tolong antar mereka,"
"Oh iya pak, monggo silahkan !!"
Raina menghentikkan langkah kakinya saat di depan pintu gerbang sanggar, angin kencang tiba tiba datang, menyapu permukaan tanah, dan dedaunan pohon, padahal beberapa detik yang lalu masih tenang.
Raina terkikik, "kulo mulih ndok," ucapnya.
"Ra?!" kesemua pemuda ini terkejut bukan main. Baru saja tadi Raina, sekarang sudah bukan lagi.
"Wes kangen pingin mulih, " ucapnya parau berbisik, matanya saja sudah menatap memicing.
Seperti sudah tau kemana harus melangkah dan masuk, gadis ini masuk ke pelataran sanggar, ia tiba tiba berjongkok di depan sebuah pendopo, lalu berjalan sambil berjongkok, layaknya abdi dalem yang memakai jarik ketat, padahal ia sedang memakai dress dibawah lutut.
Ki nyawang dan nyai Murti yang melihat keanehan ini, sudah memastikan jika gadis inilah yang dimaksud Dika.
"Nak Dika?!"
"Ki, nyai ??!"
"Dia sudah setengah nyai Kembang Winasih, nak !" jawab nyai Murti.
"Itu pendopo, tempat dimana biasanya suaminya duduk, untuk menontonnya menari !" jawab ki Nyawang.
"Kita harus melakukannya malam ini, keadaannya sudah sangat mengkhawatirkan, " ucap nyai Murti.
.
.
__ADS_1
.
.