Guardian Ghost

Guardian Ghost
Impian kandas


__ADS_3

Raina menyimpan ponselnya lalu kembali duduk di kursi, makanan hanya ia mainkan saja, mengaduk aduknya sampai seperti nasi rames.


"Kenapa?" tanya Dika.


"Lusa pagi pagi om Harsa ke Bandung," jawab gadis itu selera makannya sudah menguap ke angkasa.


"Ya udah, nanti aku ke rumah !" jawab Dika mengusap usap punggung Raina lembut yang tertutup rambut.


"Mau ngapain ?" tanya Raina polos.


"Mau minta makan !" jawab Dika beranjak mengambil minuman dari dalam showcase.


*************************


Esoknya Raina sudah bersama Hafiz, keduanya datang ke rumah pak Yuda, sepulang dari kampus.


"Gea, sorry handle dulu urusan pabrik, gue masih ada urusan ! nanti sore ke rumah bawa laporan bulan ini," pesan Raina pada Gea.


"Seumur umur aku baru 2 kali sama sekarang datang kesini, " ucap Hafiz.


"Sama ka, pertama kali waktu liat Mila dan kedua sekarang," jawab Raina.


"Sekali waktu nganter Lala kesini, keduanya sekarang mencari tau penyebab Lala meninggal !" jawab Hafiz.


Keduanya berada di luar pintu rumah pak Yuda, pria itu membuka pintu rumahnya.


Disinilah Raina sekarang, duduk di sofa bersama Hafiz di depan dosen berumur 30 tahun namun masih lajang.


"Pak, sudah beberapa minggu Karmila mendatangi saya, percaya atau tidak tapi saat ini ada yang ingin dia sampaikan, entah itu tentang kematiannya ataupun pesannya terhadap bapak, " ucap Raina, mengawali obrolan menyerahkan data file atas nama Karmila.


Pak Yuda yang biasanya bersifat arogan dan dingin ini, mendadak melunak. Ia tertunduk lesu. Arah matanya lesu menatap file data kekasihnya itu, ia lantas mengambil pas fotonya dengan Karmila yang tertata rapi di meja.


"Sampai saat ini saya tidak bisa melupakan Mila, " jawabnya.


"Malam itu dia meminta tolong pada saya, untuk menyembunyikannya. Orangtuanya akan menjodohkannya dengan seorang manager hotel bernama Herman. Saya berkali kali datang ke rumahnya, meyakinkan orangtuanya untuk merestui hubungan kami. Tapi orangtuanya tetap tak merestui !" jelas pak Yuda.


"Apa yang terjadi malam itu pak ?" tanya Raina.


"Karmila sering datang ke rumah, ia juga sering menginap disini. Sementara saya di kost kostan teman, bahkan dia memiliki kamarnya sendiri disana !" tunjuknya pada kamar yang pernah dilihat Raina.


"Malam itu, seperti biasa saya menginap di kost kostan teman. Tapi saat saya kembali esoknya, bibi bilang Karmila dijemput paksa oleh Herman dan suruhannya. Saat saya mencarinya di kampus, hancur hati saya. Karmila ditemukan tewas di kamar mandi dengan kondisi gantung diri, entah kabar darimana jika Mila bunuh diri gara gara saya, gara gara hamil dan saya tidak mau bertanggung jawab."


Raina meminta ijin untuk masuk ke kamar Mila.


Ia menyentuh semua barang barang yang pernah di sentuh Mila. Tiba tiba Raina sesenggukan,


"Apa bapak dan Mila sudah melakukan??" tanya Raina menutup mulutnya.


"Iya, " jawab pak Yuda.


"Ya Allah..." Raina mencelos.


"Saya berniat menikahinya, sebelum itu terjadi !"


"Apa ? maksudnya?" tanya Hafiz.


"Apa Mila pernah mengatakan bahwa ia telat datang bulan ?" tanya Raina, pak Yuda menggeleng.


"Herman tau pak, itulah yang menjadi alasan Herman membunuh Mila," jawab Raina menangis tergugu.

__ADS_1


"Apa ??! Mila hamil??" kedua laki laki ini terkejut.


"Mila hamil anak saya ??!!!" tanya pak Yuda mengacak rambutnya frustasi.


"Sepertinya Mila belum sempat bilang pada bapak, " ucap Raina menghapus air matanya.


"Saya ingin menemui Mila !" mohonnya pada Raina, terlihat jelas raut wajah menyesal dari Hafiz dan Pak Yuda.


"Apa malam ini bapak bisa ikut saya ke kampus ?!" tanya Raina.


"Bisa, "


"Aku pun ikut !" pinta Hafiz.


Raina ditemani Dika, Hafiz dan pak Yuda sudah berada di kampus, dengan ijin pak Yuda mereka berempat bisa masuk ke dalam area kampus, menuju kamar mandi pojokan kantin.


"Disana, " tunjuk Raina, semilir angin sejuk membawa harum aroma melati dan kenanga mengiringi kedatangan sesosok gadis cantik nan anggun memakai dress putih bunga bunga.


"Lala, "


"Mila,"


Gumam keduanya bersamaan, gadis cantik itu tiba tiba ketakutan seperti diseret beberapa orang laki laki, Karmila memberikan flashbacknya pada keempat manusia di hadapannya.


"Karmila !!!!"


"Plakkk !!!


"Dasar wanita tak tau malu, sudah memiliki calon suami, malah tidur di rumah pria lain !!!" bentak laki laki yang diduga Herman, membuat pak Yuda mengetatkan tangannya, Raina memegang tangan Dika merasa miris.


"Yang mau menikah kamu, bukan saya ! dan asal kamu tau, saya sudah telat datang bulan, saya sedang mengandung anak Yuda !" ucap Karmila menengadahkan wajahnya. Sontak saja Herman naik pitam, ia menyeret Karmila dan menjambak rambutnya.


"Lancang !!! perempuan mur4h4n !! jika saya tak bisa memiliki kamu, maka Yuda pun tak bisa !" ucapnya menyeret Karmila masuk ke mobil bersama teman temannya. Herman menyuruh teman temannya untuk pulang saja duluan. Niat hati ingin membawa sang calon istri pulang, malah membuat emosinya kalap terlebih lagi mendengar pengakuan Karmila.


"Aaaaa !! hentikan Herman !!! bunuh saja saya !" ucap Karmila.


"Baik, kalau itu yang kamu minta !"


Herman sudah dirasuki s3tan, ia dengan kalap menendang bagian perut Karmila.


"Astagfirullah, cukup !!" Raina menyembunyikan wajahnya di dada Dika, yang mendekapnya.


"Jangan dilihat, sayang !" Dika mendekap Raina.


"Mila !!!" pekik pak Yuda ingin meraih raih Mila tapi semua itu hanya ilusi yang sudah terjadi, begitupun Hafiz.


Karmila mengalami pend4r4han hebat, setelah terkapar lemas, Herman mengeluarkan pisau lipatnya, dan menggoreskan pisau itu di nadi Karmila, seperti terkesan bunuh diri. Begitupun tali tambang yang ia dapatkan di mobilnya, ia membuat seolah olah Karmila meninggal karena gantung diri.


Sosok Karmila muncul dengan tampilan menyeramkannya mendekati pak Yuda dan Hafiz. Tali tambang masuh tergantung di lehernya, menjuntai sampai ke lantai, terseret seret. Rambutnya yang semrawut di penuhi luka lebam, dress yang bercampur noda d4rah dan tanah terlihat sobek di beberapa bagian, pergelangan tangan yang mengucurkan d4rah segar, membuatnya nampak mengenaskan.


"Sayang, akhirnya kamu tau kalau aku mengandung anakmu, kini aku dan calon anak kita sudah bersama pencipta, lanjutkan saja hidupmu. Hiduplah bahagia !" ucap Mila menangkup rahang tegas pak Yuda yang tak mampu berkata kata lagi selain sesenggukan. Tangannya terulur memegang tangan Mila.


"Hay Fiz, terimakasih sudah menjadi temanku !"


"Gue nyesel La, kenapa gue harus bilang kalo loe di rumah pak Yuda !" sesal Hafiz.


"Tak apa sudah takdir ku !" jawab Karmila.


"Br3ngs3k Herman !!!" gumam pak Yuda.

__ADS_1


"Herman sudah mendapatkan balasannya," gumam Raina yang langsung menegakkan posisinya.


"Benar kan Mila?" tanya Raina, Mila menyeringai.


"Herman di tangkap karena penusukan terhadap atasannya, dia juga ditipu sampai sampai ia stress, sekarang ia jadi gila ?!" jelas Raina bisa melihat pesan yang ingin disampaikan oleh Karmila.


"Kamu memang spesial Raina, tak salah aku memilihmu, gadis ramah yang selalu akrab bahkan denganku, orang baru...gadis yang selalu heboh dan menggerutu kalo pas mata kuliah si dosen killer, Yuda Pratama !" kekeh Karmila, dikekehi Raina.


"Ga usah dibuka disini, ada orangnya !" jawab Raina.


"Terimakasih Rain," ucap Mila.


Kelamaan sosok Mila memudar dan menghilang ditelan malam. Pak Yuda tertunduk lesu dan duduk di lantai, ia menangis sejadi jadinya, sebagai seorang laki laki angkuh dan dingin, ia cukup memalukan. Tapi apa daya, laki laki kuat dan tangguh sekalipun pasti memiliki sisi lemah.


"Pak, sudah !" ucap Raina mencoba membangunkan pak Yuda.


"Maaf, sudah berburuk sangka dan menuduh bapak, " ucap Hafiz.


Keempatnya berjalan menuju tempat dimana mereka memarkirkan kendaraan.


"Semuanya selesai, " Raina menyusup masuk ke dalam pelukan Dika.


"Iya, hanya tinggal memikirkan masalahmu."


"Iya, sayang...aku capek. Apa kemampuan ini bisa kita tutup ?" tanya Raina pada Dika.


"Sejauh ini belum ada yang bisa, yank "


"Raina, terimakasih banyak !" ucap pak Yuda menyodorkan tangannya.


"Sama sama pak, hanya bantuan kecil !" jawab Raina.


"Sebagai rasa terimakasih saya, saya akan membimbing kamu sampai benar benar lulus menjadi sarjana, dengan IPK memuaskan, " ucap pak Yuda.


"Makasih pak, jika saya masih di Bandung, " jawab Raina.


"Memangnya kamu mau kemana Ra?" tanya Hafiz, keempatnya kini sedang di parkiran kampus, hari sudah pukul 3 dini hari.


"Kayanya mau pindah lagi ke Jakarta ka, ga tau juga deh ! do'ain aja keputusan om bisa dirubah, "


"Lah cowok loe gimana ?!" tunjuk Hafiz pada Dika.


Dika tersenyum, "bisa gue susul, timbang Jakarta doang mah, deket !" kelakar Dika.


"Pak, Ka Hafiz..gue duluan ya,"


****************


"Kamu masuk gih, istirahat dulu ! biar nanti om datang fresh, kasih tau aja kalo om udah dateng, nanti aku bantu buat bujuk !" Dika merapikan rambut Raina. Raina mengangguk.


"Hati hati di jalannya yank, " ucap Raina.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Hay guys udah di penghujung chapter nih, hari ini insyaallah update double ya, sekaligus penutup cerita ini. Jangan lupa like ya 😊


__ADS_2