Guardian Ghost

Guardian Ghost
Akhir pelarian pak Komar


__ADS_3

Raina bergegas tancap gas bersama yang lainnya, menuju rumah pak Komar. Dan benar saja, beberapa kali diketuk rumah itu tak ada siapapun. Setelah mengetahui pak Dedi ditangkap polisi, pak Komar menyuruh istri dan anaknya untuk pulang ke rumah orangtuanya.


Sirine polisi berbunyi, para warga yang melihat adegan bak film box office ini berkumpul. Polisi bertanya pada beberapa warga tentang keberadaan pak Komar,


"Tok..tok..tok...!!"


"Pak Komar !!!" teriak Raina. Namun tak ada jawaban dari dalam, rumah itu terlihat sepi dan gelap.


Tapi beberapa warga mengatakan jika memang tadi pagi pak Komar masih ada, hanya saja jika istri dan anaknya entah sejak kapan perginya.


"Pak Komar masih ada di dalam honey !" ucap Nino,


"Ia belum sempat melarikan diri," tanbahnya.


"Ndan, kami dobrak saja !" ucap salah seorang polisi.


Beberapa polisi dengan pistolnya sudah siap mendobrak pintu rumah itu,


Brakkk !!!!


Pintu terbuka lebar saat salah seorang polisi mendobrak pintunya. Namun bersamaan dengan terbukanya pintu, bunyi benda jatuh terdebgar dari samping rumah.


Bugghhh !!


"Ndan !!! di samping rumah !!!" pekik anggota kepolisian.


Semua bergerak ke samping rumah, pak Komar melompat dari jendela menuju kebun luas di belakang rumahnya.


"Jangan kabur !!!! saudara Komaruddin, anda kami tangkap !!!" beberapa kali pistol memuntahkan peluru terarah pada pak Komar yang sedang berlari menghindari kejaran polisi.


"Dorrr !!!"


"Dorrr !!!"


Pak Komar terjatuh manakala kaki kirinya tertembak timah panas tepat di betisnya.


Polisi berlarian menangkap pak Komar yang terjatuh dan meringis, rupanya ia akan kabur dan sudah membeli tiket ke Sulawesi.


Pak Komar di bopong sambil terpincang pincang, ia menatap Rain tajam, sambil tersenyum jahat. Berakhir sudah pelarian seorang ayah tak bertanggung jawab, seorang lelaki pengecut yang sudah merenggut kehidupan beberapa orang.


Demi keperluan penyelidikan akhirnya polisi memutuskan untuk melakukan otopsi pada jasad nyai Diah.


"Kalau boleh tau dimana keluarganya, demi kepentingan kepolisian kami harus membongkar kembali makam, dan melakukan otopsi pada jenazah saudari Diah !" ucap pak Sapto,


"Saya hanya mengenal saudara sepupunya, pak. Karena setau saya keluarganya pindah, mungkin nanti saudaranya inilah yang bisa mengantarkan ke rumah orangtua nyai Diah !" jawab Rain.


Raina bersama yang lain menuju pabrik untuk menemui bu Wati, bu Wati dipanggil ke ruangan Raina, dan gadis itu menceritakan semuanya pada bu Wati, betapa shock nya bu Wati mendengar kenyataan pahit itu, luka lama dikorek kembali.

__ADS_1


"Jadi benar dugaan kami bu, jika pak Komar lah yang sudah membunuh Diah, tapi kami tak berani untuk melapor karena dia mengancam keluarga kami !!" tangisnya pilu. Rain meraih dan memeluk bu Wati, menepuk nepuk punggungnya.


"Terimakasih bu,"


"Sama sama, ini keadilan untuk nyai Diah bu," jawab Rain. Dari jendela Rain melihat sosok nyai Diah, namun dalam tampilan yang berbeda, ia sungguh ayu dalam balutan kebaya merahnya, sedang menggendong seorang bayi mungil nan lucu tersenyum padanya.


.


.


"Haaaa !!!! gue lelah !!!" pekik Rain menyenderkan badannya di sofa kantornya.


"Tok..tok..tok...!"


Dika masuk bersama yang lain,


"Eh, masuk kang !" ucap Rain.


"Jadi selesai nih, kisah cinta nyai Diah dan pak Komar ??" tanya Romi ikut duduk.


"Yupp dan tragis !!" jawab Dika.


"Bu, ini laporan yang sudah diminta !" jawab salah seorang manager bernama pak Budi.


"Makasih pak, " Raina mengambil beberapa berkas laporan dan membandingkannya dengan laporan dari pak Komar.


"Bisa dong kalo gue nganggur kerja, ikut kerja disini !!" goda Tria.


"Boleh !! jadi pemetik teh !!" jawab Rain tertawa.


"Ahahahaha, seumur umur gue selalu pengen nyobain metik teh, kaya gimana rasanya," jawab Tria.


"Astaga dragon !!! kamvrettt selama ini pak Komar menggelapkan uang perusahaan !!" ucap Rain. Kelimanya melihat laporan karena penasaran.


"Sat !! 30 juta sebulan bruuhhh !!!" Fadly berdecak. Raina segera bangkit, ia segera menelfon pihak bank untuk membekukan rekening gelap pabrik yang selama ini menjadi kantong saku tambahan pak Komar. Ia juga masuk ke dalam ruangan pak Komar untuk memeriksa beberapa data lainnya.


Satu persatu laci ia buka, dan membuka lembaran demi lembaran berkas, sampailah Rain di salah satu lemari, ia membuka salah satu lacinya tapi ia malah menemukan selembar kertas perjanjian dan terdapat tanda tangan Baron, disana tertulis jika Baron sudah melakukan perjanjian dan menerima uang sebesar 30 juta di awal, Rain juga menemukan beberapa foto, foto ayahnya juga rumahnya yang kini ia tempati hanya berbeda cat rumah.


Raina menangis sesenggukan, tak percaya jika ternyata selama ini yang harusnya ia curigai adalah orang kepercayaan keluarganya sendiri.


"Honey !!" Nino masuk, Rain menyerukkan kepalanya di dada Nino.


"Gue ga nyangka, pak Komar orang kepercayaan keluarga sendiri sudah tega membunuh papah," ucap Raina sambil menangis.


"Gue tau, kita masih butuh bukti konkrit lainnya, untuk mengungkap misteri pembunuhan orangtua loe, hanya tinggal selangkah lagi !" jawab Nino.


Raina membawa dan menyimpan beberapa bukti itu keruangannya.

__ADS_1


"Pak Budi, untuk sementara saya mengangkat bapak menggantikan posisi pak Komar," ucap Raina.


"Alhamdulillah bu, terimakasih sudah percaya pada saya, insyaallah saya akan menjaga amanat ibu !" serunya. Raina bukan tidak melihat, selama ini ia cukup memantau beberapa karyawannya. Pak Budi adalah salah seorang karyawan lama dan setia juga royal pada pabriknya.


Raina dan yang lain berencana pulang hari ini,


"Akhirnya gue mau pulang juga, gue kangen rumah !!" seru Ve.


"Lain kali jangan jadi cewek jorok loe, dibawa lagi si kolor baru nyaho loh !!!" sarkas Romi.


"Auu, jorok banget loe jadi cewek !!" tambah Fadly.


"Iya sorry, emang salah gue. Maaf ya udah bikin kalian repot," cengir Ve.


Di jalanan yang menurun, tiba tiba mobil berguncang hingga membuat keenam orang ini terguncng kaget.


"Astagfirullah !!"


"Sorry sorry guys, kayanya barusan jalanan berlubang !" jawab Dika, Rain yang mencoba tertidur pun ikut terbangun, ia mengerjap berusaha bangun, matanya membola.


"Gue rasa itu bukan jalanan berlubang kang, !!" Rain menutup matanya ngeri. Betapa tidak ia melihat sosok berbulu dari depan arah kap mobilnya.


Dika mencoba turun dari bangku pengemudi, ia menarik tuas mencoba membuat mobil agar tak melaju turun, dan melepaskan seathbelt yang terpasang.


"Kang, mau kemana? sebaiknya loe ga turun !!" ucap Rain.


"Kenapa Rain?" tanya Fadly. Yang lain ikut penasaran, tiba tiba suasana hening, sore hari memang sudah mulai turun kabut.


"Dik, sebaiknya hati hati, gue rasa dia sosok yang usil !" ucap Nino.


"Ada apa sih ??" tanya Fadly.


Romi yang kebetulan belum ditutup kembali mata batinnya oleh Dika, tergelonjak kaget di bangku penumpangnya.


"Kamvretttt !!!! apaan itu !!!" serunya.


"Apa sih??" tanya Ve panik.


Dari depan kap mobil sebelah kanan, sedikit demi sedikit muncul sosok kepala berbulu merangkak naik ke kap mobil.


"Astagfirullah !!" pekik Rain dan Romi, Dika sudsh membaca ayat ayata suci AlQur'an bersama Nino yang keluar menghalau si siluman kera itu.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2