
Tangannya mulai melemah, pegangan yang biasanya erat lama lama melonggar,
"Neng ??" panggil pak Komar, di tengah area perkebunan teh dengan hanya di terangi lampu motor, pak Komar berhenti.
"Akang jahat, itu anak kita kang ! kenapa harus di bunuh??!!!" dengan sisa tenaga nyai Diah berteriak terisak,
"Bukankah neng, sudah menyetujuinya?" tanya pak Komar.
"Diah memang bodoh!!!" pekiknya sambil menangis, d@rah yang masih basah terus mengalir dari daerah kewanit@@nnya, merembes membasahi jarik coklat.
"Kang, sakit kang !!" ringisnya menahan sakit teramat.
"Neng !! neng kenapa??" tanya pak Komar panik.
"Akang harus tanggung jawab, akang sudah membunuh anak kita !!" ucapnya terus menerus.
Karena panik dan takut warga berdatangan pak Komar membekapnya, ia menampar wanita itu hingga terjatuh ke tanah. Nyai Diah berusaha bangkit melawan. Tapi dengan sadisnya pak Komar mengambil batu yang cukup besar memukulkan pada kepala nyai Diah.
Rain sampai memejamkan matanya, ia merasa ngeri melihat kejadian itu. Pak Komar menghubungi Baron untuk membantunya.
Nyai Diah masih bergerak, dengan sisa nyawa dan nafasnya, hendak meraih kaki pak Komar, tapi Baron datang dengan membawa balok kayu memukul kaki nyai Diah dan kepalanya. Dengan sekali hantaman nyai Diah tewas.
"Neng??!!" pak Komar menggoyang goyangkan tubuh nyai Diah, tapi nihil tak ada respon darinya.
"Bagaimana ini Baron?" tanya pak Komar.
"Kita biarkan saja disini, pak !!" ajak Baron.
Mereka segera pergi meninggalkan jasad nyai Diah di tengah perkebunan teh, balok kayu dan batu ia serahkan pada pak Dedi untuk ikut dikubur, pak Dedi mengubur janin yang sudah ia bunuh di dekat toilet perempuan,dan barang bukti balok, kemeja pak Komar dan batu di dekat gudang penyimpanan keranjang teh.
Pak Komar segera mencuci sepeda motornya yang terkena noda darah milik nyai Diah.
Rain sudah menangis terisak, keluarga meminta keadilan pada pak Komar, keluarga menduga pak Komar lah yang membunuh nyai Diah, namun ia menepis semua tuduhan itu, dan bersembunyi di balik kekuasaan abah Rain. Menghasutnya dengan memberikan pernyataan pernyataan palsu. Hingga Abah Rain percaya dan membela pak Komar.
"Kejam !!"
Rain kembali ditarik dari masa itu, namun sebelum benar benar pergi. Nyai Diah menunjukkan satu bukti baru, pak Komar bertemu dengan Baron untuk memberikan bayaran atas bantuannya tempo hari, tapi ia pun meminta bantuan kembali.
"Tolong habisi, laki laki ini !!" ucapnya memberikan foto dan alamat rumah.
Itu adalah foto ayah Rain yang sudah beberapa bulan menjabat sebagai pimpinan pabrik menggantikan abah Rain.
"Kurang ajar !!!!" Tangan gadis itu terulur hendak meraih pak Komar, namun tak bisa karena berbeda dimensi waktu. Rain sudah benar benar kembali ke tempat dimana ia sedang melakukan penelusuran bersama Dika dan yang lainnya.
Rain yang tak sadarkan diri, terbangun oleh tepukan Dika di pipinya. Remang remang Rain melihat jika hari sudah mulai terang, selama itukah ia menjelajah ruang dan waktu.
"Jam berapa ini kang?" Rain bertanya.
"Jam 4, " jawabnya, Rain menegakkan tubuhnya. Ia mengedarkan pandangan, Nino tetap ada di sampingnya menungguinya sadar. Ia juga melihat Tria yang sedang mencoba membangunkan Ve, Romi dan Fadly tengah bersama satpam dan polisi di tempat di temukannya jasad bayi nyai Diah.
__ADS_1
"Kenapa Ve masih pingsan kang ?" tanya Rain.
"Sepertinya Ve masih tertinggal disana !" jawab kang Dika.
"Disana, dimana??" tanya Rain.
"Entahlah, ada sesuatu yang membuat sesosok lainnya betah bersama Ve," setau Rain nyai Diah sudah tidak bersama Ve. Lalu sosok apa yang betah bersama Ve dan kenapa??
Rain jadi teringat tentang petunjuk lainnya dan orang orang yang akan menjadi saksi kunci kasus ini,
"Kang, gue tau siapa saja yang terlibat dan dimana mereka tinggal, gue juga tau bukti baru yang akan menguatkan tuduhan atas pak Komar !" ucap Rain.
"Pak Komar??" tanya Dika, memang saat Tria kerasukan arwah bayi itu kang Dika tidak disana, hanya ada Rain dan Fadly.
"Tapi ada baiknya kita juga harus meminta bantuan seseorang disini untuk menyelamatkan Ve," ucap Rain sedikit memijit pelipisnya.
Dika membantu Rain berdiri.
"Apa nyai Diah membawamu ke lain waktu ?" dugaan kang Dika memang tepat. Raina mengangguk mantap.
Raina memberikan kesaksian pada polisi tentang seseorang yang ada kaitannya dengan jenazah bayi itu, yaitu pak Dedi. Ia juga menunjukkan tempat dimana Baron menguburkan barang bukti bersama pak Komar. Kasus lama akhirnya dibuka kembali,
Hari ini Raina memutuskan tidak pulang ke rumah bersama yang lainnya, mereka memilih menginap di rumah pak Sarif, yang kebetulan menawarkan mereka untuk menginap di rumahnya.
"Pak Sarif terimakasih, sudah mau menampung kami disini!" ucap Rain. Kebetulan rumahnya tak jauh dari pabrik, perkampungan yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari kebun teh.
"Maaf ya bu, merepotkan," ucap Dika.
"Maaf pak, bu. Sebelumnya, apa bapak tau mak Iting seorang dukun beranak di daerah sini?" tanya Rain.
"Yang rumahnya ada di sebelah sungai di sebelah utara perkebunan!" tambah Rain. Pak Sarif dan istrinya mengangguk.
"Ada neng, memangnya ada perlu apa sama mak Iting?" tanya istri pak Sarif.
"Dialah dukun beranak yang membantu nyai Diah dan pak Komar untuk menggugurkan kandungan nyai Diah!" jawab Rain. Sontak saja pak Sarif dan istrinya terkejut, " maksud ibu Diah yang sinden itu? " tanya istri pak Sarif. Rain mengangguk.
"Jadi bu, jasad bayi yang dikubur disana adalah jasad bayi Diah??" tanya pak Sarif.
Pak Sarif sangat mengenal betul siapa Diah, begitupun istrinya.
"Diah, malang benar nasibmu !" gumam bu Sari, istri pak Sarif.
"Bisa minta antarkan kesana, pak, bu?" tanya Rain.
"Insyaallah bu, apapun yang akan membantu kasus ini terungkap, kami akan bantu semampunya !" jawab pak Sarif.
"Sebelum polisi yang datang ke rumahnya, saya ingin kesana terlebih dahulu !" jawab Rain.
Tangan Rain terulur memegang tangan Ve yang masih hangat,
__ADS_1
"Gue janji hari ini juga loe bakal pulang Ve !" gumam Rain, di depan yang lain.
"Kenapa atuh si neng ini ga sadar sadar??" tanya istri pak Sarif.
"Ga tau bu," jawab kami.
"Ini mah kaya di umpetin di kolor ijo aja !" ucap asal istri pak Sarif.
"Husss !!! ibu bicaranya kemana saja !!" sarkas pak Sarif.
Sontak kelima orang ini saling berpandangan, "bukan begitu atuh, pak ! disini kan masih pedalaman, masih terpencil jadi masih kuat mitos mitos seperti itu !!" jawab sewot perempuan berdaster ini, seraya tangannya menaruh gelas gelas teh manis di meja depan mereka.
"Diumpetin gimana maksudnya bu?" tanya Romi.
"Maap maap ya ini, ibu sedikit lancang !" logat bahasa daerah yang masih medok mewarnai kisah misteri dari mulut istri pak Sarif, ia duduk di kursi kayu yang berderit.
"Apa si neng ini sedang ha*id alias datang tamu bulanan?" tanyanya memajukan wajahnya. Sontak para lelaki ini mengernyit, mana mereka tau privasi Ve.
" Ve, memang ada ijin ke toilet sebentar saat penelusuran, iya nggak Dik?" Romi bilang.
Dika mengangguk, lalu sedetik kemudian," astaga !!! Ve ...Ve... !!" ucap Dika.
Mereka semua melirik pada Dika, meminta jawaban atas pernyataannya.
"Gue baru sadar, kalo semalem itu malam jum'at kliwon. Gue rasa Ve sedang datang bulan, gue sempat tanya dia solat apa engga, dia bilang lagi libur !" jawab Dika.
"Ada kemungkinan nak Ve ini, di ikuti sejak dari toilet !" jawab pak Sarif,
"Dulu ada kejadian karyawan perempuan sampai sakit berminggu minggu, ternyata ia membuang bekasan pembal*ut nya di toilet tanpa dibersihkan terlebih dahulu," jawab pak Sarif memgingat ingat.
"Jangan jangan nih anak sama lagi !!" seru Fadly.
"Ada kemungkinan," jawab bu Sari.
"Terus gimana caranya pak?" tanya Rain.
"Apa disini ada ustadz atau semacamnya bu?" tanya Dika.
"Apa disini juga sering diadakan ronda, karena saya pasti membutuhkan alat pentongan agar Ve bisa menunjukkan posisinya pada saya dan Rain?" tanya Dika.
"Insyaallah bapak akan sediakan nak, bu ! segera panggilkan ustadz Dzul !!" pinta pak Sarif.
.
.
.
.
__ADS_1