
Raina sampai di sebuah rumah besar, ia kembali melihat ponselnya, memastikan bahwa alamat yang ia datangi tidak salah.
"Ini bener alamat pak Yuda kan ?!" gumamnya. Kebetulan saat Raina celingukan, pak Yuda keluar dari rumahnya dengan stelan olahraga.
"Haaa !! itu dia orangnya !" Raina membunyikan klakson mobilnya, hingga pak Yuda melihatnya.
"Gile si bapak, di kampus aja cupu, si mata empat. Di rumahnya lumayan keren ! oppss !!" kekeh Raina.
Raina masuk ke halaman rumah, yang hanya ada tanaman berwarna hijau saja disana. Maklum yang tinggal pria bujang tua.
"Pagi pak !" Raina mengangguk. Rubah sih rubah, tapi wajah angkuh dan ketusnya itu loh !!! bikin pengen ngacak ngacak !! pikir Raina. Masih jauh Nino kemana mana.
"Pagi ! masuk, saya siapkan materi ekstra untuk kamu pelajari !" ucapnya. Raina mengangguk lalu ikut masuk.
Raina duduk di sofa yang berada di ruang tamu, seorang asisten rumah tangga memberinya minum.
"Silahkan neng, " ia menyodorkan teh manis.
"Makasih bu, " jawab gadis ini, Raina mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Jarang jarang kan mahasiswa bisa ngulik rumah pak Yuda, si dosen plus calon Rektor misterius.
"Kali aja gue nemu boneka annabelle disini, " kekeh Raina. Ia semakin mengedarkan pandangannya, tiba tiba ia dikagetkan dengan pintu yang terbuka dari arah depan. Keluarlah seorang gadis yang dikenalnya.
"Mila??!" gumam Raina, Karmila si gadis manis itu menghampiri Raina.
"Loe lagi ngapain Ra?" tanya Mila.
"Gue lagi bimbingan konseling, loe disini juga?" tanya Raina, ia mengerutkan dahinya. Karmila hanya mengangguk seraya tersenyum manis.
"Loe bimbingan konseling juga?? gue liat beberapa kali loe barengan pak Yuda?!" tanya Raina, campuran jiwa netizen dan paparazzi nya berkobar.
"Gue emang sering bareng sama pak Yuda," jawabnya mesem mesem sendiri, sepertinya ada apa apa di antara keduanya, atau mungkin Mila saja, yang memiliki perasaan pada bapak mata empat, yang satu ini.
"Bagusnya kalo di rumah orang itu duduk manis di tempat, bukan kelayaban !" Raina mati gaya, ia berbalik, seraya nyengir. Salah besar si bapak nika menganggap Raina seperti maling yang ingin menggasak perabotan rumahnya, dan kini tengah memilah milah.
"Maaf pak, lagian saya ga macem macem ko pak, " jawab Raina mengulum bibirnya malu.
"Tetap saja tak sopan ," ujarnya dingin, es sih enak dingin dingin tinggal disiram pake syrup. Nah ini laki laki, minta disiram pake lahar panas.
"Nih, kamu pelajari saja dulu materi itu, nanti saya kasih beberapa soal !" ia menyodorkan setumpuk file berbentuk makalah. Ia menyenderkan badannya ke sofa, melipat kedua tangannya dan meneliti Raina dari atas sampai bawah, membuatnya risih dipandangnya. Dan merapikan pakaian,
"Kalo gitu saya permisi deh pak, biar nanti saya pelajari !" Raina ingin cepat cepat pamit dari sana.
"Oke, silahkan," jawabnya.
Tapi sebelum ia benar benar pergi darisana, mata Raina menyipit ke arah salah satu figura foto kecil.
"Itu Mila ?!" gumamnya, Raina berbalik menoleh pada pak Yuda yang masih duduk manis di sofa, melihat kepergian Raina.
"Ada yang ketinggalan?!" tanya nya, Raina menggeleng, "engga pak, saya pamit pak, assalamualaikum !"
"Hufftt !!!" Raina menghela nafasnya. Berada di dalam rumah pak Yuda berikut si empunya, serasa sedang berada di dalam kandang singa yang sedang lapar.
__ADS_1
Raina masuk ke dalam mobil, dan menyimpan makalah di jok sampingnya. Ia melajukan mobilnya menuju kampus.
.
.
"Ahhh !!! cape banget !! " Raina mengambil nafas dan meregangkan otot ototnya.Ia berjalan menuju parkiran, ia mengernyitkan dahinya. Dika ada disana, sedang berdiri menyender ke mobil Raina.
"Sejak kapan?!" tanya Raina.
"Baru ko, " jawab Dika.
"Ada apa kang, tumben sampe nyusul ke kampus ?" tanya Raina.
Alis Dika menukik tajam melihat gadis di depannya ini, "engga, gue cuma mau ketemu Gea, sekalian mampir aja barusan lewat sini ! biar barengan ke rumah loe," jawab Dika.
Dika menyunggingkan senyumannya, benar fikirnya. Benar kata Nino dan Gea. Ada yang salah dengan Raina.
"Oh, loe sekalian mau ketemu Gea? Gea di rumah ! kayanya kita harus bantu Gea deh kang, kasian juga tetangganya, di teror !" Raina masuk ke dalam mobilnya.
"Gue ikutin dari belakang aja !" jawab Dika.
Keduanya berhenti di lampu merah, saat tengah hari, bertepatan dengan adzan dzuhur.
"Ra, " Dika mengetuk ngetuk kaca mobil Rain.
"Kenapa kang?" Raina mendongak ke arah luar kaca jendela mobil.
" Dzuhur, mampir dulu ke masjid di depan !" jawabnya, kebetulan di depan simpang jalan di depan ada sebuah mesjid lumayan besar.
"Ga mau turun buat sholat?" tanya Dika.
"Gue ga bawa mukena !" jawab Raina, beralasan.
" Bukannya mukena selalu dibawa kemanapun?" tanya Dika. Biasanya Raina selalu membawa alat ibadahnya kemanapun ia pergi, Dika pun tak jarang mengimaminya jika sedang di luar bersama, seperti saat ini.
"Gue ga mau masuk kang, gue disini aja ! " jawaban Raina mengejutkan Dika.
"Loe harus masuk, Ra ...masa iya loe ga sholat !" Dika membukakan pintu mobil untuk Raina.
"Gue ga mau kang, gue sholat di rumah aja !" tolaknya kekeh.
"Loe baik baik aja kan?" tanya Dika.
"Gue ga apa apa, buruan !!!! " usir Raina, sedikit menaikkan nada bicaranya.
Dika berjalan menjauh, sudah dipastikan gadis itu kenapa napa.
"No, kita harus bertindak !" ucap Dika.
"Si*@lan !!! berani beraninya dia ganggu Rain gue !!" geram Nino.
__ADS_1
"Ya udah gue sholat dulu, loe jaga aja Raina!" pamit Dika.
***************
"Aduhh !! gue lupa lagi, berkas penting ketinggalan di kontrakan !" Gea bolak balik seperti setrikaan, ia bingung tak berani kembali ke kontrakannya, ia hanya heran,saat pertama kali datang, kontrakan yang ia tempati adem ayem. Apa yang terjadi disana, yang ia tidak tau atau ia lewatkan.
"Tunggu saja Raina sayang, bukankah kamu juga sudah meminta bantuan Dika?" tanya Adry.
"Iya sii, tapi takut ngerepotin !" jawab Gea duduk di pangkuan Adry, di kamar tamu, rumah Raina.
Dari arah luar rumah, terdengar suara mobil Raina dan motor Dika. Itu tandanya keduanya sudah datang.
Raina langsung menuju ke kamarnya tanpa menyapa ataupun basa basi dahulu.
"Raina kenapa, Dik?" tanya Gea.
"Justru itu dia aneh, sepulang dari masjid dia kaya gitu," jawab Dika.
"Kan gue bilang juga apa ?! ada yang aneh sama Rain, gue ko nyium bau kantil di badannya Raina ?!" jawab Gea.
"Oh iya, Nino mana?" tanya Gea lagi.
"Nino sedang melakukan pencarian."
"Oh iya, gimana gimana sama cerita loe ??! kepala buntung?" tanya Dika duduk di sofa.
"Kalo menurut gue mendingan masalah Raina dulu deh Dik, kalo masalah kontrakan gue kayanya masih bisa nunggu. Setau gue, menurut salah satu tetangga gue disana, penghuninya pada keluar juga. Cuma nyisa 3 kamar doang, sama kamar gue !" jawab Gea.
"Astaga ! bikin rugi yang punya kontrakan dong !" jawab Dika.
"Iya sih, kasian. Mana gue juga bingung Dik, berkas penting pabrik ada di kontrakan !" Gea menggaruk telinganya tak gatal.
"Kita lakukan ini tanpa Raina dulu, nanti malam biar gue sama Adry aja yang bantu loe !" jawab Dika.
"Terus Raina?" tanya Gea.
"Ada Nino, gue rasa kalo masalah Raina, harus dicari dulu siapa dalangnya ?!" jawab Dika.
"Emang Raina kenapa sih Dik?" tanya Gea penasaran.
"Loe bakal liat kejadian mengejutkan setelah ini, " jawab Dika, ia dan Nino sudah tau pangkal masalahnya.
"Kenapa loe sama Nino biarin, kasian Rain!" jawab Gea sewot.
"Agar kita lebih bisa memastikan siapa yang melakukannya, " jawab Dika.
"Kenapa sih??!" tanya Gea.
.
.
__ADS_1
.
.