
Gea datang dengan membawa sejumlah dokumen,
"Bu bos, " kekeh Gea menggoda Raina. Gadis itu menautkan alisnya, "ada apa karyawan ??!" tawa Raina.
"Haha, nih ada beberapa dokumen yang butuh tanda tangan loe !" ucap Gea.
"Oh iya, pak Budi ada bilang ngga? kapan dari PT. Xxxx datang buat meeting?" tanya Raina.
"Katanya pihak sana nunggu keputusan loe," Rain mengetuk ngetuk kepalanya pusing, jadwalnya begitu padat. Belum lagi dosen cerewet itu meminta dia datang.
"Ga usah terlalu di forsir, loe aja masih belum sehat ! " ucap Dika.
"Ra, " panggil Gea.
"Kenapa Ge?"
"Kapan loe pulang?? udah ada kabar?" tanya Gea.
"Belum kayanya, dokter tadi belum bilang apa apa !"
"Kenapa emangnya Ge?" tanya Rain.
"Engga apa apa, gue cuma ga berani sendiri aja Ra, oh iya Ra..ko aneh ya !" ucap Gea. Dika dan yang lain menyimak.
"Aneh kenapa Ge ?" tanya Dika mengernyitkan dahi.
"Suster itu Ra, suster Wita," bisik Gea.
"Kenapa Ge? soalnya tadi gue sama Dika juga liat !" Rain mulai menegakkan duduknya. Begitupun Ve, Tria dan Fadly.
"Lho, Romi kemana??" tanya Gea.
"Romi, sakit juga Ge, " jawab Ve.
"Buruan terusin cerita loe !" ujar Fadly.
"Gue rasa dia ga berani deh kalo gue lagi sama Adry, dia juga ga berani kalo ada Dika apalagi Nino !" jawab Gea. Rain mengiyakan, apa yang di katakan Gea.
"Atau mungkin dia mau menyampaikan sesuatu tapi ga mau ada Adry, Dika dan Nino," pendapat Raina.
"Gue takut Ra, dia gangguin gue terus !" jawab Gea. Raina memandang Dika lalu beralih ke Nino.
"Apa??" tanya Dika menaikkan alisnya.
"Jangan gila kamu honey, aku ga ijinin kamu penelusuran cuma berdua sama Gea !!" jawab Nino memperingatkan.
"Engga Ra, gue ga ijinin juga !!" jawab Dika.
"Engga ijinin apa sih ??!" tanya Ve.
"Serius Ra, tapi gue ga berani !!" gidik Gea.
"Daripada dia terus gangguin loe sama gue, gue rasa selamanya dia bakalan terus ada disini, " jawab Rain.
"Please, aku bakal hati hati, selama kalian bisa jagain aku dari jauh, " pinta Raina.
"Jangan gilaak loe Ra, loe masih sakit loh !!" seru Tria.
"Percaya sama gue ka Tri, gue bakal save, asal kalian jagain gue sama Gea !" ucap Raina mantap, meskipun ia tak tau bagaimana nantinya.
__ADS_1
"Gimana Ge?" tanya Raina.
Gea berfikir, dengan kemampuan barunya, ia pun harus membiasakan dirinya.
"Oke Ra, gue coba !!" jawab Gea mantap. Adry menyentuh pundak Gea, memberikan kekuatan baru untuk gadis itu.
.
.
.
Kamera infra red dibawa oleh Raina dan Gea, Fadly dan Tria mulai menyiapkan peralatan.
"Honey !!" panggilnya khawatir,
"Ga apa apa sayang, jagain aku ! kalo seandainya kamu sudah merasakan aku dalam bahaya, aku minta kamu datang !" jawab Raina meminta.
"Pasti honey, always !" jawabnya mencium kening Raina lama. Raina memakai jaketnya, membawa senter dan kamera. Juga ponselnya agar ia dapat menghubungi.
Gea pun begitu, tak ada persiapan khusus dari keduanya. Tak perlu kemenyan ataupun sesajen, karena bagi makhluk itu, keduanya lah magnetnya.
"Kalian nyalain aja ini, kamera ini langsung nyambung ke monitor kecil kita !" tunjuk Fadly, pada sebuah monitor laptop yang sengaja ia bawa, saat tadi Raina memutuskan untuk melakukan penelusuran, peralatan itu biasa mereka gunakan.
Raina dan Gea mengangguk paham, mereka semua berdo'a bersama.
"Gue minta loe jangan panik, dan tetap tenang Ge, manusia lebih sempurna dibandingkan makhluk lainnya !" ucap Raina.
"Hanya pada Allah lah kita boleh takut Ge, " ucap Raina.
Dulu Rain adalah seorang gadis dengan sejuta ketakutan, tapi seiring berjalannya waktu, pengalaman dan juga bimbingan Nino, ia bisa seberani dan setangguh ini.
Malam ini terasa sepi, setelah kematian selebgram ternama, rumah sakit ini mendadak sepi.
Malam ini sedikit berkabut, Bandung memang kota dingin apalagi sore hari hujan.
Setelah cek kondisi terakhir oleh suster Fi pada jam 9 malam, Raina benar benar mencopot infusannya dibantu Nino.
"Sakit??" tanya Nino. Nino sengaja membantu Raina dari dalam pembuluh darah Rain, agar gadisnya itu tak merasa kesakitan walaupun hanya rasa seperti digigit semut sekalipun.
" Engga, makasih !" jawab Raina, Nino kembali mencium kening Raina lama, dan memeluk gadis itu.
"Aku minta kamu hati hati !" ucapnya sarat akan kekhawatiran, jika selama ini Raina selalu bersamanya, kali ini tak ada dirinya, Adry, Bunga, Tian ataupun Dika. Benar benar murni hanya dua gadis dengan kemampuan indigonya.
"Iya sayang, kamu kan masih jagain aku dari sini, aku masih merasa aman ko !" jawab Raina.
Raina keluar dari kamar yang sudah ada teman temannya. Begitupun Gea yang dipeluk Adry.
"Hati hati ! panggil saja aku kalau kamu dalam bahaya !" ucap Adry, diangguki Gea.
"Sudah siap Ge, ayo !" ucap Raina, gadis yang hanya memakai pakaian pasien dan berjaket ini jalan mendahului Gea.
"Rain !!" pekik Dika. Dika menyongsong Raina.
"Hati hati, jangan gegabah ! panggil aja ! gue pasti langsung datang !" bisik Dika memeluk Raina erat, gadis yang sudah mencuri hatinya beberapa bulan belakangan ini. Nino tersenyum getir.
"Iya kang, ahh.. kaya gue mau kemana aja !!" ucap Raina. Dika melepaskan pelukannya, namun dengan menoyor pelan kening Rain pelan, membuat Raina terkekeh.
"Bismillah !" Raina dan Gea berjalan.
__ADS_1
"Dimana loe liat dia pertama kali Ge?" tanya Raina.
"Di lorong sana Ra, " tunjuk Gea.
"Oke kita kesana !"
"Bubuy bulannn !!! bubuy bulan sangrai bentang...panon poe, panon poe disasate..." Rain bernyanyi salah satu lagu sunda, hanya lagu biasa tapi mampu membuat Gea merinding.
"Ra, bisa ga usah nyanyi ga?? takut gue, suara nyanyi loe ko nyeremin sih !!" jawab Gea, mengusap tengkuknya, dan mengeratkan pegangannya di lengan Rain.
"Suuttt, dia disini !!" bisik Raina.
Dan benar saja, suara roda meja alat alat medis di dorong.
Krekek...krekek..krekek...
Percayalah Gea sudah merasakan panas dingin di badannya. Sementara yang lain melihat keduanya dari kamera yang di bawa Raina dan Gea. Keduanya juga memakai microphone kecil yang dipasang di baju Raina dan Gea, hingga suara disana pasti terdengar jelas.
Raina menutup matanya menyamakan frekuensi energi dengan suster itu. Belum juga tenang, Gea sudah mengejutkannya, tiba tiba Gea tersungkur di tabrak roda meja,membuat Raina ikut tersentak.
"Brakk !!"
"Aawww !!"
Adry hampir saja berlari menuju Gea, namun di tahan Nino.
"Ge, loe ga apa apa ??!" tanya Raina menolong Gea.
"Ga apa apa Ra !" Gea menepuk nepuk lututnya yang kotor.
Suster itu hanya menunduk, ikut bersenandung.
"Bubuy bulan, bubuy bulan sangrai bentang....panon poe panon poe disasate !!" namun di akhir ia menambahkan tangisan yang memilukan.
"Apa yang kamu mau?" tanya Raina. Suster bernama Wita itu diam tak bergeming, tapi tak lama, ia memutar lehernya 180 derajat, membuat Raina dan Gea terkejut, Gea memegang Raina erat.
Benar, kepalanya gepeng, benar mata, hidung dan telinganya mengeluarkan da*rah, bahkan kini tangan dan kakinya patah dan terbalik. Bajunya pun kotor dan sobek di bagian bagian tertentu.
"Tidak ada yang mengingat hari kemarin, tidak ada yang mengingat hari ini !! hi hi hi hi....hiks...hiks...!" jawabnya memilukan setengah berbisik. Ia berjalan tertatih menuju Raina dan Gea yang memundurkan langkahnya.
Suster Wita mendongak,
"Astagfirullahaladzim !!!" pekik Gea, ingin berlari tapi gadis itu ditahan Raina.
Wajah dan keningnya memang gepeng, matanya saja sudah keluar dari kelopaknya.
"Tak ada yang menghargai saya !!!" Suster Wita merangkak menarik kaki Gea.
"Aaaa !!! Rain !!!"
"Gea !!!" Rain berlari mengejar..
.
.
.
.
__ADS_1