
Raina melompat seperti monkey, ia menempel di tembok kamarnya layaknya laba laba, lingkaran matanya hitam. Untung saja ia telah berganti dengan pakaian tidur panjang. Jangankan Nino, semua yang melihat pun terkejut dibuatnya. Dika sudah pergi sejak subuh tadi.
"Astagfirullah neng Rain !!!" pekik bibi.
"Astaga !!! Tri, bantu gue turunin Raina !!" pekik Romi.
"Itu bukan Rain, dia seorang perempuan..cukup berilmu ! tidak diterima bumi !" jawab Gea menatap serius ke arah Raina.
"Sopo kowe?" tanya Gea (siapa kamu).
Ia tertawa meringkik menggetarkan bulu kuduk siapapun yang mendengarnya. "Nama kulo Nyai Kembang Winasih !" jawabnya setengah berbisik dengan tatapan menyeramkan.
"Apa sing sampeyan tindakaken kanggo bocah wadon iki ?" (apa yang kamu lakukan pada anak perempuan ini), tanya Gea lagi.
"Kepingin mampir, kanjeng mas ku pengin, sing duwe selendangku pengin." (Hanya singgah, tuanku menginginkannya, yang memiliki selendangku menginginkannya).
"Sapa wae sing duwe selendangku...Lan nyeluk aku...banjur sapa sing dikarepake lawan jenise, mula aku ora pareng ngijabahi !!!" ( siapa saja yang memiliki selendangku, dan memanggilku, maka siapapun lawan jenis yang dia inginkan, maka pantang untukku tidak mengabulkannya ), ucapnya seram. Semua yang ada disana tak ada yang tak merinding. Sosok ini memiliki sima/ kharisma yang begitu kuat pada jamannya.
"Njirrr ! gilaaak, serem !" bisik Romi pada Fadly.
"Baru kali ini gue liat, kalo guna guna pelet bisa separah ini !" ucap Fadly.
"Itu tandanya ilmu yang digunakan tak main main !" jawab Tria.
Raina tertawa, Nino sudah ikut melompat dan menurunkan tubuh Raina, namun Raina berontak.
"Bi, mamang, guys ! gue minta kalian berjaga saja. Nino sedang berusaha membuat arwah itu untuk tidak macam macam !" jawab Gea. Pada akhirnya semua yang ada disini sudah tau siapa Nino, hanya saja mereka tak dapat melihat Nino, yang mereka lihat hanyalah tubuh Raina sedang melawan dan dilawan sesuatu seraya nemplok di atas tembok dan langit langit kamarnya.
"Honey, aku tau kamu masih disitu !! lawan honey !! lawan dia !!" ucap Nino berusaha memohon. Raina malah berjalan seperti laba laba ke atas langit langit kamarnya, membuat semua orang merasakan keadaan yang mencekam. Hampir kesemuanya melafadzkan ayat suci Al Qur'an.
Raina memutar kepalanya, hingga rambutnya menjuntai dan tertawa.
__ADS_1
"Astagfirullahaladzim !!" pekik bibi. Baru kali ini ia melihat kejadian semengerikan ini, dan mirisnya itu terjadi pada majikan tersayangnya.
"Sungguh bi@*dab yang melakukan semua ini !" ucap mang Nurdin.
"Punya salah apa kamu neng, sampai sampai, ia tega melakukan perbuatan menyekutukan Allah begini?!" bibi sesenggukan.
"Itulah manusia nekat, cinta ditolak guna guna dan pelet bertindak mang, bi. Salah Raina adalah memberikan pesonanya tapi enggan menerimanya, " jawab Romi.
"Lagian lakinya aja, emangnya Raina ngapain ?! dianya aja suka tapi ga ada usaha !" jawab Fadly.
"Blughhh !" Raina menjatuhkan dirinya. Namun, ia mendarat sempurna dengan kedua kakinya. Tubuh gadis ini tiba tiba melenggak lenggokkan leher dan tangannya sambil menggumamkan sebuah tembang, tangan kemayunya mengusap seluruh permukaan meja lalu bergerak mencari syal. Gerakan tangannya seperti sedang menari dengan luwes, menyetel kaset lagu gamelan.
"Neng, istighfar neng !" bi Kokom sudah menangis.
Raina mengambil syal dan mengarahkan pada Romi genit, seperti mengajak menari. Nino mengambil ancang ancang, menghempas tubuh Raina hingga terpental ke atas ranjang,
"Brukkk !"
Dengan segera mang Nurdin dan Fadly berlari mengambil tali, sedangkan Tria, Romi dan Gea menahan Raina yang berontak, begitupun bi Kokom.
"Bi, tolongin Rain bi !" rintih Raina, di tengah tengah cekalan mereka dari tangan dan kaki Raina.
"Neng ??!" ucap bibi terisak.
"Bi, dia pendusta...Raina masih belum ada sepenuhnya di raganya !" jawab Gea. Sesaat setelah Gea bicara seperti itu, Raina tertawa menyeramkan. Nino geram dengan pelaku dan arwah ini, rupanya mereka ingin bermain main. Ia berjanji, setelah Dika berhasil mendapatkan tusuk konde itu, maka ia akan mengobrak abrik Bagas sampai hancur, sehancur hancurnya.
"Astaga Raina !!" Romi tak habis pikir dengan arwah yang mengambil alih tubuh Raina, ia memang kuat. Dengan sekali hentakan keempat manusia ini terpental hingga terjatuh, belum sempat mang Nurdin dan Fadly memasangkan tali di tangan dan kaki Raina.
Nino mendekap tubuh Raina, "honey..aku mohon kembali ! lawan dia dari sana !" bisik Nino di telinga Raina. Raina berontak, mencoba melepaskan tangan Nino dari leher dan perutnya.
"Aku sayang kamu, please come back !" tapi rupanya, Raina terlalu dalam terjerat oleh pemikat nyai. Ia seperti berada dalam lembah kegelapan, hanya dipaksa menurut, seakan manusia di muka bumi hanya ada Bagas seorang.
__ADS_1
"Maaf, " gumam Nino, ia menekan titik saraf tubuh Raina dan mengunci pergerakan nyai kembang demi keselamatan Raina dan yang lainnya. Meskipun bisa berakibat fatal untuk tubuh Raina. Tapi apa boleh buat. Tubuh Raina terjengkat ke belakang, seperti membentuk gerakan patah. Tak lama matanya mulai menutup, dan tubuhnya terjatuh di kasur, tak berdaya. Gea membenarkan posisi Raina. Ia menyelimuti gadis itu sebatas perut.
"Astaga, No !!" pekik Gea.
"Gue terpaksa Ge, tapi gue bisa balikkin. Mungkin nanti setelah sadar, Raina akan merasakan sekujur badannya kesakitan."
Gea paham, dengan keputusan Nino.
"Neng, neng Rain !!!" bibi menghambur memeluk tubuh Raina, mengguncang guncang tubuh Raina.
"Bi, untuk sementara kita biarkan Raina tak sadar. Lagipula sebelum tusuk konde itu dibawa Dika, dia masih terikat dengan pemilik guna guna pelet ini !" jawab Gea.
Sosok nyai itu menampakkan wujudnya pada semua yang ada di ruangan ini. Dia begitu cantik, dengan kain kemben berwarna gold dan hijau, juga jarik coklat hitamnya bermotifkan batik lereng. Jangan lupa rambut kondean dan melati yang menjuntai dari kepala sampai ke dada. Semua mata, tersilap melihat sosok ayu ini. Tapi itu tak lama, saat ia membalikkan tubuh bagian kanannya.
"Astaga !!!!"
"Astagfirullah !!"
Sebelah wajahnya hancur, dengan bekas luka tusukan di perut dan dadanya. Bekas luka tusukan konde itu. Konde yang kini tengah dicari Dika.
Sosok itu mendekat....semakin mendekat ke arah mereka. Sontak saja ketiga pemuda ini berhamburan dari kamar Raina, terkecuali Gea, bi Kokom, mang Nurdin dan Nino.
Nino dengan segera menyerang nyai itu, tapi rupanya Nyai Kembang bukan orang sembarangan. Ia pandai membela diri. Tak lantas membuat Nino tak hilang akal. Untuk kali ini Nino berhasil mengalahkan nyai hingga membuat si nyai hilang bak ditelan kegelapan, kembali ke rumah tuannya.
.
.
"Dia kenapa bisa ga diterima bumi, Ge?" tanya Tria.
"Dia pemakai susuk, bagi orang orang dulu, apalagi seorang penari/ penghibur sudah hal lumrah, malahan seakan akan susuk dan pemikat adalah modal wajib para penari. Sampai akhir hayat, susuk dan ajian pemikat itu tidak dibersihkan dari badannya. Ditambah, ia meninggoy belum waktunya !" jelas Gea.
__ADS_1