Guardian Ghost

Guardian Ghost
Titik terang


__ADS_3

Matanya merah menatap sekumpulan orang mendatanginya membawa obor, pak ustadz berkali kali mengucap istighfar beserta ayat kursi, kang Dika mendekat begitupun Nino yang menyergap menahan si caw@t putih itu agar tidak kabur membawa Ve, kuku kuku panjang itu hampir melukai Nino. Namun, Nino mengelak dan bertarung dengannya. Nino bak superhero superhero di film. Ve yang di letakkan begitu saja di batang pohon terlihat lemas, Dika tidak menunggu lama, ia segera naik ke atas pohon membawa sukma Ve yang terpisah dari badannya, terlihat oleh Rain beberapa cakaran di badan Ve, semakin keras para bapak bapak membunyikan pentongan, sembari membantu membaca ayat ayat suci Al-Qur'an.


Tubuh Ve yang terpejam dibawa oleh Romi, Fadly dan Tria, lalu ditaruh di bawah pohon. Rain mendekat, ia melihat dengan jelas Dika membantu sukma Ve turun masuk kembali ke dalam tubuhnya lagi, Nino kembali dengan beberapa luka cakaran di tubuhnya, namun menghilang begitu saja. Si caw@t putih itu ikut kembali, tapi terlihat lemas. Itu berarti Nino yang sudah membuatnya menjadi lemah. Dika mengambil bubuk putih seperti garam dapur lalu melemparkan dan menebarnya pada si c@w@t putih diselingi ayat ayat suci, dari situ semua mata telanj@ng dapat melihat percikan api disana.


"Astaghfirullahaladzim !! subhanallah !!" seru bapak bapak yang menyaksikan kejadian itu.


Lambat laun mata Ve terbuka, ia shock lantas memeluk Dika,


"Ka, gue takut !!! makasih udah nolongin gue !!" histerisnya.


"Alhamdulillah, " pak ustadz memberi Ve air minum yang terbuat dari campuran seduhan daun bidara, madu, jinten dan habbatusauda.


"Diminum nak Ve, sebagai energi tambahan sekaligus membersihkan energi negatif yang melekat tadi, segeralah membersihkan diri," ucap pak ustadz. Ve mengangguk, ia meminum ramuan itu.


"Bapak bapak terimakasih banyak sudah membantu," ucap Raina.


Semua mulai kembali ke depan pintu gerbang diantar pak Sarif, karena hari sudah mulai subuh. Menyisakkan pak ustadz, dan keenam anak muda itu.


Dika, dan pak ustadz sedang membaca sekaligus menetralisir pohon dan beberapa tempat disini, berikut Rain yang mengekor bersama Nino. Sedangkan Ve bersama ketiga lainnya masih berada di dalam kantor Rain beristirahat. Hari ini pabrik sudah mulai dibuka kembali.


"Bu, jika masih belum memungkinkan. Ibu dan kawan kawan masih bisa beristirahat di rumah saya," tawar pak Sarif.


"Terimakasih pak, saya berhutang banyak pada bapak sekeluarga," jawab Rain.


Sepeninggal pak Sarif, tinggal Rain bersama Nino, sedangkan Dika dan pak ustadz masih berkeliling. Rain mendekat pada Nino, tangan Nino meraih pinggang Rain dan memeluknya merapatkan posisi keduanya, tangan Rain menyentuh luka luka bekas perkelahian Nino dengan si c@wat putih yang belum sepenuhnya menghilang.


"Hebatnya pacar gue, apa hantu bisa ngerasain sakit ?" tanya Rain. Nino menggeleng, lebih sakit menyadari jika dirinya dan Rain tak dapat bersatu.


"Lebih sakit kalo liat loe nangis honey, " Rain tertawa kecil, "gombal, pasti waktu masih hidup sering ngadalin cewek ya ?" tanya Rain.


"Sering ! tapi sayangnya ceweknya jutek !" jawab Nino. Mata mereka sangat dekat, hanya beberapa inci saja, Rain bisa melihat mata merah itu menatapnya lekat, sangat mempesona. Begitupun Nino melihat wajah menggemaskan Rain.


"Siapa?" hangatnya deru nafas Rain terasa oleh Nino, dan ini yang disukai Nino, mengetahui bahwa Rain masihlah bernafas, untuk menyongsong masa depannya, memiliki waktu untuknya menggapai cita citanya.


"Kamu !!" Nino menyenggolkan hidungnya di hidung milik Rain, hingga membuat gadis itu terpejam.


"No, mau janji?" tanya Rain.


"Apa?" tanya Nino, masih dengan posisi yang sama. Memeluk pinggang Rain, hingga kedua tangan gadis ini bebas bermain di dada Nino.


"Jangan tinggalin gue !" jawab Rain meminta, mendadak air mata Rain tak terbendung.


"Gue ga pernah minta apapun sama siapapun, baru kali ini gue minta, jangan pernah tinggalin gue, No !!" Rain menempelkan kepalanya di dada Nino, dadanya seketika sesak, tangan Nino sebelah mendekap kepala Rain mengusapnya lembut.


Inilah yang tak bisa Nino janjikan pada Rain, ini yang membuatnya sakit, membuat gadis ini menangis karena dirinya.


"Suttt !! jangan nangis kaya bocah, honey !" Nino mencoba menggoda Rain.

__ADS_1


"Apaan cewek jutek tapinya cengeng," Nino terkekeh.


"Gue ga cengeng !" ucap Rain di tengah tengah tangisannya. Nino tau gengsi Rain setinggi gunung Rinjani. Rain segera mengusap air matanya.


Nino menangkup kedua pipi Rain, mengarahkannya ke arah wajahnya.


"Selama gue masih di samping loe, gue ga akan pernah biarin loe kenapa napa, gue ga bjsa janji untuk terus ada bareng loe, tapi gue selalu ada disini !" tunjuk Nino ke dada Rain.


"Sekarang hapus air mata sama ingus loe, honey. Sebelum ada orang yang liat kalo bos pabrik teh tukang mewek !!" kelakar Nino berhasil membuat Rain melayangkan bogemannya di dada Nino.


"Gue bukan tukang mewek !!" dengus Rain.


"Ekhemmm !!" dari arah lain Dika berdehem, membuat keduanya menoleh.


"Kalo diliat orang lain, ntar loe disangka gil@ Rain ! untung aja gue bisa liat loe, No !" ucap Dika mendekati keduanya.


"Thanks bro !!" Dika mengulurkan tangannya pada Nino. Nino membalasnya, " gue juga makasih, karena loe dah mau bantu Rain !" jawab Nino.


"Rain udah gue anggap kaya adek gue, " Dika mengacak rambut Rain, membuat si empunya kesal.


"Dan mungkin project kita kedepannya bakal panjang, Rain..loe mau bergabung sama team gue ? gue bakal minta sama pak Juna buat mindahin loe ke divisi misteri !" jawab kang Dika.


Rain terlihat berfikir, ia melirik Nino, "asal ada Nino sama gue, gue siap !" jawab Rain tersenyum cerah, kini giliran Nino yang mengacak rambut Rain.


.


.


"Pak, mak Iting itu tinggal sendiri ya??" tanya Rain. Nino tak pernah lepas berada di samping Rain.


"Sluurrpp !!" hampir begitulah suara yang terdengar di ruangan tengah rumah pak Sarif,


"Iya bu, setelah suaminya si abah meningg@l pasca kecelakaan di tanjakan sana !" tunjuk pak Sarif, mungkin maksudnya tanjakan sebelum menuju pabrik.


"Kecelakaan pak?" tanya Tria yang asyik mengunyah makanan. Kopi dan gorengan memang duo yang nikmat.


"Iya, si abah tertabrak mobil, namun karena memiliki diabetes akut ditambah tidak adanya biaya lambat laun abah meningg@l, sempat dibawa mak Iting ke RS, tapi karena penyakitnya dibiarkan terlalu lama sudah terbilang cukup parah, jadi abah tidak terselamatkan," pak Sarif menyeruput kopinya.


"Lah, terus itu si penabrak gimana?" tanya Romi. Semuanya terhenyak mendengar cerita pak Sarif, layaknya acara curcol dan cerita misteri di tengah api unggun perkemahan, semua menyimak dengan serius.


"Sampai sekarang yang menabrak kabur, tidak tau identitasnya !" jawab pak Sarif.


"Beuhhh udah nabrak ga tanggung jawab lagi !" seru Fadly.


"Tapi kabarnya bu, mak Iting selalu bilang sama tetangga bahwa si abah masih ada !!" sambung bu Sari dari dapur membawa kembali gorengan.


"Beuhh love death si emak kali !!" kekeh Romi.

__ADS_1


"Susah move on guys !!" tambah Tria di tertawai yang lain.


"Ibu sama si aa nya liat ngga pas waktu kita datang ada nampan berisi kopi, pisang di bawah pohon di rumah mak Iting??" tanya bu Sari pada Rain dan Dika.


"Liat bu !!" jawab Rain dan Dika.


"Nah itu ! kata mak Iting suaminya sering minta itu tiap hari, makanya hampir tiap hari mak Iting simpen itu di depan pohon nangka yang ada di halaman rumahnya !" jawab bu Sari. Rain dan Dika saling melirik, jelas jelas mereka melihat seekor kera jejadian.


"Wah ini ga beres nih, sepertinya ada siluman atau jin yang menyerupai wujud abah dan menipu mak Iting !!" jawab Dika.


"Hah ??!!! seriusan ??" tanya Tria kaget, termasuk yang lainnya.


"Iya ka Tri, soalnya yang gue liat bukan kake kake !!" jawab Rain.


"Trus apaan??" tanya Fadly penasaran semakin lahap memakan centik manis.


"Mony3t !!" jawab Rain.


Tok..tok...tok....


Deg.....


"Kamvretttt !! kaget gue !!" Romi mengelus dadanya. Begitupun yang lain.


"Pak Sarif !!!" Pak Dayat memanggil panik.


Pak Sarif membuka pintu,


"Ada apa pak??"


Pak Dayat terkejut melihat ada Raina disitu, maka ia langsung saja, biar sekalian pikirnya.


"Maaf bu, pak Sarif. Di pabrik ada polisi, mencari pak Komar. Tapi sampai saat ini pak Komar tidak datang ke pabrik !!" jawab pak Dayat.


"Gue rasa pak Komar sudah curiga, kalau kita melaporkannya, dan kasus nyai Diah dibuka kembali !!" jawab Rain.


"Pak Sarif, Dika. Secepatnya kita harus menyusul ke rumahnya, sebelum dia kabur lebih jauh !!" Raina beranjak begitupun yang lain.


"Siap, bu !! " jawab pak Sarif.


"Pak Dayat, tolong bilang pada pihak berwajib ikuti saya !!" ucap Rain.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2