Guardian Ghost

Guardian Ghost
Keberanian Dika


__ADS_3

"Aku ingin menemui sosok penguasa disini, dan mengucapkan terimakasih sebelum kita pulang, honey !" ijin Nino.


"Siapa?" tanya Raina.


"Eyang Bhatara, " jawab Nino.


"Beliau siapa?"


"Beliau yang sudah mengijinkan ku dan Adry masuk ke wilayah kekuasaannya, beliau sangat baik, beliau pula lah yang membantu kita," jawab Nino. Hidup tentram damai berdampingan dua dunia dengan saling melengkapi dan menghormati, menjadikan kampung ini menjadi kampung favorit Raina. Gadis ini mengangguk, ia ikut berdiri. Sepertinya sudah cukup ia berjemur, memberikan vitamin pada kulit kulit pucatnya.


"Aku bantu sampai halaman depan," ucap Nino membantu Raina melewati bebatuan.


Raina berjalan mendekati nyai Murti yang sedang berada di halaman, bersama bunga bunga tanamannya.


"Darimana cah ayu?" tanya nyai.


"Dari sungai barusan ! disini enak ya nyai, masih asri. Rain betah, kalo ga inget tugas kampus, pengen lama lama disini !" jawabnya.


"Sering seringlah main kesini, nyai senang jika ada yang menjenguk !" jawab Nyai, entah kenapa wanita paruh baya ini begitu mudahnya menyayangi Raina, gadis ini memang sangat mudah disayangi, seperti memiliki daya magnet tersendiri.


"Insyaallah nyai, " jawab Raina mengambil punggung tangan nyai dan mengecupnya.


"Sebelum pulang Rain, pengen keliling kampung dulu deh, penasaran !" seru Raina.


"Kalau begitu, nak Dika bisa mengantar ia sudah pernah melakukannya, mungkin ia pun masih ingat dan hafal jalan jalannya," secara kebetulan Dika ada disana. Alhasil kini Raina sedang tur kampung bersama Dika, tapi tidak hanya berdua, yang lainnya pun ikut serta. Sekalian saja bersama pak Kades.


"Pak, kenapa ga diajuin jadi desa wisata aja sih pak ?! padahal recomended loh !! cuman ga ada sinyal aja, cocok tuh buat yang honeymoon an !" seru Raina disoraki Gea, Romi, Fadly, Ve dan Tria. Sedangkan Dika hanya terkekeh kecil.


"Cie !!! honeymoon sama siapa tuh Ra ?!" tanya Fadly.


"Yang jelas bukan sama loe ka Fad," jawab Raina. Semua tertawa tak terkecuali pak Kades.


"Rain, bisa bicara sebentar !" pinta Dika.


"Elah kang, ngomong mah ngomong aja !" jawab Raina seperti biasanya.


Di tengah tengah jalan setapak area pesawahan, dilukisi lattar area sawah yang hijau, gunung dan sungai menjadi pelengkap, di cuaca pagi hari dengan sorot srengenge yang menghangatkan bumi, Dika meraih tangan Raina. Sontak gadis itu mengerutkan dahinya.


"Ra, anggap gue melanggar janji gue, gue ga bisa simpen perasaan ini terlalu lama. Gue menunggu saat yang tepat, dan waktunya mungkin sekarang, saat Nino sudah memberikan lampu hijau buat gue," ucapnya, terlihat wajahnya yang berusaha menetralkan perasaan gugup. Lebih gugup jika harus menghadapi arwah seorang priyai.


"Gue sayang sama loe Ra, bukan sebagai seorang abang terhadap adeknya, tapi sebagai seorang laki laki terhadap perempuan, " akhirnya kata kata itu lolos dari bibir Dika.


Raina diam seribu bahasa, "gue ga maksa loe buat secepatnya membalas perasaan gue, gue tau dan cukup sadar diri. Loe cinta sama Nino, tapi please kasih gue kesempatan, Ra ?!" pintanya.

__ADS_1


"Loe tau kan gimana perasaan gue kang ?" tanya Raina buka suara.


"Gue tau Ra, gue ga minta loe buat lupain perasaan loe terhadap Nino, sorry dah lancang nguping pembicaraan loe sama Nino tadi. Tapi seperti yang Nino katakan tadi. Loe ga harus kubur perasaan loe sama dia, jadikan perasaan kalian sebagai kenangan. Dan sambut perasaan loe yang baru sama gue !" Dika sudah menggenggam kedua tangan Raina.


"Gue takut loe sakit hati kang, "


"It's oke, gue ngerti..gue paham kondisi loe, gue ga minta muluk muluk, buka hati loe buat gue..dan biarkan gue, yang buat loe jatuh cinta sama gue !" jawab Dika. Tatapannya mengharapkan jawaban iya yang akan Raina berikan. Dika malah semakin gugup, jantungnya bisa bisa berhenti berdetak saat ini juga, Raina malah menatap Dika lekat. Seperti sedang ada yang ia pikirkan.


"Kita coba ya kang," jawab Raina berusaha membuka hatinya untuk Dika.


Dika mengangkat kedua alisnya tak percaya, ia langsung memeluk gadis cantik di depannya ini, dan refleks mengangkat dan memutar Raina, yang sekarang statusnya adalah pacarnya.


"Eh..eh...kang..ini jarik gue melorot !!" seru Raina, mendengar teriakan Rain, manusia manusia di depan mereka menoleh ke belakang.


"Wah !!! roman romannya gue bakalan ditraktir makan abis balik dari sini !!" seru Romi.


"Ah gue mah mau voucher belanja gratis di distro Dika aja !" timpal Tria.


"Kalo itu, gue juga mau lah !" jawab Fadly.


Gea melirik Adry, ia tersenyum tapi getir. Adry tau, Nino sudah berlapang dada mengikhlaskan Raina, begitupun dengannya nanti, jika Gea harus bertemu dengan yang lain.


Raina sudah mengganti pakaiannya, yang sudah di cuci dan kering. Ia melihat foto sosok keluarga dengan beberapa selir itu. Ia juga menyentuh beberapa benda yang ada di aula, ia ingat dimana ia hampir saja kehilangan nyawanya disana. Ia pernah menari disini, pernah juga berebut raga dengan nyai kembang.


Raina melihat sosok lelaki Belanda bersama nyai Wulan di sana. Raina membungkuk hormat, karena keduanya pun memberikan salam penghormatan. Tak lupa pada Den Bagus Satrio yang sudah ikut menolongnya.


"Ga kang Dika, ga Nino, tau aja kalo aku lagi liatin yang seger seger !" gerutu Raina.


"Pasti taulah, kamu tuh gadis nakal !" Dika menjiwir hidung Raina, ia tak pernah merasa berkecil hati ataupun cemburu jika Raina menyebutkan nama Nino, karena Dika tau, ialah yang merebut Raina dari Nino, Dika pun tau jika hubungan Raina dan Nino sekarang bukanlah sepasang kekasih lagi. Meskipun ia sadar tak akan ada rasa sayang yang melebihi rasa sayang Nino pada Raina, sama seperti dirinya. Dan pada akhirnya, Raina hanya akan menjadi miliknya.


****************


"Ki, nyai...makasih banyak sekali lagi. Kalau bukan karena aki sama nyai, mungkin Rain udah tinggal dikafanin terus dikubur," ucap Raina terkekeh.


"Sami sami ndok, baik baik cah ayu, mainlah kemari lagi nanti !" Ki Nyawang mencium pucuk kepala Raina, begitupun nyai Murti.


"Sering seringlah main kesini ndok, " ucap nyai Murti.


"Insyaallah ki, nyai !" jawab Raina. Dika dan yang lain pamit pada pak Kades, dan juga warga kampung.


"Ki, nyai, pak Kades ini hanya ada sedikit tambahan untuk uang kas desa dan sanggar, memang tidak besar ! tapi jangan dilihat dari besarnya ya, " ucap Raina memberikan amplop coklat yang tadi ia ambil dengan menyuruh Gea ke pusat kota, untuk pergi ke atm.


"Alhamdulillah kami terima nak Raina, " ucap pak Kades. Semua sedang berpamitan. Mata Raina memicing pada seorang gadis kecil nan manis kira kira berusia 3 tahunan, memakai kemben dan jarik. Sangat lucu, ia hanya mengintip Raina dari balik rumah seorang warga. Raina berlari kecil mendekat.

__ADS_1


"Hai, ko ngumpet?" namun anak itu tak menjawab, ia hanya terlihat takut oleh orang baru.


"Kaka punya permen loh !! " Raina menunjukkan beberapa bungkus permen berbagai rasa buah, ditangannya.


Anak kecil perempuan itu berjalan perlahan mendekat dan mengambil permen permen dari tangan Raina.


"Siapa namanya?" tanya Raina.


"Arum," jawabnnya hampir tak terdengar.


Tak lama, sosok anak kecil itu lari ke arah sebuah pohon rindang seperti pohon beringin, belum Raina menangkapnya, karena takut terjatuh ke sungai. Ia menghentikan langkah kakinya, anak itu ditangkup wanita berbaju putih dengan rambut panjang dan wajah rusaknya, macam kunti*lanak.


"Jangan !!!" pekik Raina.


Tapi perempuan tadi membawa Arum terbang dan masuk ke dalam pohon beringin itu.


"Arummm !!!!" Raina memekik membuat mereka terkejut. Hampir semuanya berlari panik ke tempat Raina berada, Raina berusaha meraih raih dahan pohon, bahkan ia mencari cari sesuatu untuk menggali dan menghancurkan pohon besar itu.


"Rain !!"


"Itu !!! itu disana !!" tunjuk Raina panik.


"Hey, honey ada apa?" tanya Nino.


"Sayang, ada apa?" tanya Dika.


"Itu anak kecil perempuan dibawa kesini !!"


"Siapa anak kecil itu nak?" tanya pak Kades.


"Arum, " jawab Raina.


Deg....


Istri pak Kades menangis histeris.


"Matianak, " gumam Gea.


"Hah?" tanya Raina membeo.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2