Guardian Ghost

Guardian Ghost
Pencarian informasi


__ADS_3

Aliran darah Rain berdesir, tak tau kenapa yang ada di otaknya hanya berharap Nino ada untuknya. Ditengah keringat yang mengucur, suara itu kini tak terdengar lagi, ingin ia membuka selimutnya namun tak berani.


Rain berulang kali menarik nafas dan membuangnya agar menjaga ketenangannya. Dirasa sudah cukup aman, Rain membuka selimutnya sedikit demi sedikit. Nafasnya memburu, seperti dikejar sesuatu yang menakutkan.


"Hufttt !! alhamdulillah, " Tapi Rain merasa jika arwah lelaki itu mengikutinya sampai rumah, apa yang ia inginkan. Rain bangun dan duduk, kini matanya susah untuk terpejam, adzan subuh pun sudah berkumandang.


Gadis ini merasakan badannya lengket, ia segera bangkit menyambar handuk, menuju kamar mandi. Rain menanggalkan semua pakaiannya lalu menyalakan shower membasahi seluruh badannya, berharap semua masalah di pikirannya ikut terbawa dengan guyuran air. Ia memejamkan matanya sambil merasai segarnya air.


"Raaarrrrrr " suara itu kembali ada, Rain terjengkat kaget ia segera menyelesaikan ritual mandinya, mematikan shower, dan menyambar kimono handuknya. Rain tampak waspada, bagaimana pun ia harus segera menyelesaikan urusannya dengan si pria ini, agar ia tak diganggu terus menerus.


Ia memutar handle pintu kamar mandi,matanya membola melihat di pojokan kamarnya ada seseorang yang berdiri dengan siluet tubuh laki laki berjaket kulit hangus itu,


"Aaaaa !!!!" Rain berlari menuju pintu kamarnya, namun tiba tiba saja pintu kamarnya terkunci.


"Shitttt !!" umpatnya.


Sementara si pria itu semakin mendekat dan menampakkan wujudnya yang tampak menyeramkan dan hancur.


"Buka !!!" Rain menggedor gedor pintunya sambil berteriak, sontak Dika yang sedang mencoba memejamkan matanya terkejut, ia melompat dari ranjang segera menuju tangga menaikinya berlari mencoba mendobrak dobrak pintu kamar Rain, bersama bi Kokom dan mang Nurdin


"Rain !!!"


"Neng Rain !!!"


"Tolongin gue !!"


Rain menutup matanya saat tersudut menempel di pintu, pria itu memegang kaki Rain mencoba bangun,


"Aaaa !!! apa yang loe mau ???!!!"


"Cincin !!!" suaranya parau hampir tak terdengar, malah terdengar seperti orang yang tengah ngorok. Jangankan untuk melihat, saat siluet tubuh itu dari kejuhan saja Rain tak berani melihat wajahnya, bola matanya saja sudah keluar dari tempatnya. Bau hangus terbakar dan amis tercium sangat menyengat di hidung Rain.


Dika dan mang Nurdin mencoba mendobrak dobrak tapi belum berhasil, "ya allah neng, " bi Kokom sudah sangat panik.


Di tengah ketakutan Raina, secepat kilat pria yang memegangi kaki Rain hilang seperti ada yang menarik dan membawanya pergi. Rain masih berada di tempatnya, belum berani membuka matanya,tiba tiba ia merasa tubuhnya dipeluk seseorang, aroma tubuh ini Rain begitu hafal.


Raina sontak memeluk erat dan menenggelamkan kepalanya di dada Nino, ia membuka matanya dan mendongak sambil menangis, ia begitu menyesal dengan kejadian semalam, yang mengatakan jika ia membenci Nino.


"No, " Rain menangis dan memeluk Nino begitu erat.


"Maafin aku honey, tapi aku ga bisa buat jauhin kamu. Aku ga bisa ninggalin kamu, seperti permintaanmu ," ucapnya, Rain menggeleng kuat.


"Jangan ! jangan tinggalin gue !!" di tengah tengah tangisannya, Nino mengusap air mata Rain dengan kedua jempolnya.


"Brakkkk !!!" tiba tiba pintu di dobrak dan terbuka lebar, membuat Rain terjengkat kaget begitupun Nino. Dika yang terlihat jelas begitu khawatir ingin berlari memeluk Rain, namun langkah dan niatannya terhenti oleh kehadiran Nino, beda halnya dengan bi Kokom dan mang Nurdin yang segera menyongsong dan melihat setiap inci tubuh Rain. Memeriksa tubuh gadis cantik yang baru saja selesai mandi ini, bahkan rambutnya saja masih basah.


"Neng, neng Rain tidak apa apa? kenapa neng?" tanya bi Kokom dan mang Nurdin, Rain menggeleng, namun matanya berkata lain. Ia memeluk bi Kokom sambil menangis.


"Ya sudah neng, pake dulu bajunya, malu !" kekeh bi Kokom melihat ada Dika, Rain mengangguk.

__ADS_1


Setelah semua pergi Rain segera berganti pakaian, Nino kembali datang ke kamar, Rain langsung saja memeluknya.


"Jangan tinggalin aku lagi," pinta Rain memohon,


"Ga akan pernah !!" bisik Nino sambil mengecup rambut basah Rain.


"Kamu kemana?"


"Aku cuma nenangin diri, maafin aku yang telat," jawab Nino, Rain menggeleng.


"Aku sayang kamu, No !"


"Ga sebesar sayang aku ke kamu !" jawab Nino,


Dika yang tadinya hendak pamit untuk mengambil motor, mengurungkan niatnya saat tak sengaja mendengar obrolan Rain dan Nino dari balik pintu kamar Rain. Sebenarnya ada rasa panas dan sedih di hatinya, tapi ia cukup sadar diri Rain memang mencintai Nino, dan itu adanya.


Dika menggelengkan kepalanya, kenapa ia bisa sebodoh ini, sudah tau Rain memiliki dan mencintai orang lain, masih saja hatinya dengan lancang menyukai dan menyayangi Rain. Akhirnya Dika pergi saja dan berpamitan pada bi Kokom dan mang Nurdin.


"Siapa dia?" tanya Nino.


"Entah, waktu pulang dari pabrik dia tiba tiba gangguin aku dari jembatan," jawab Rain.


"Tapi kurasa dia mau minta tolong, cincinnya jatuh dan dibawa orang," Rain berdiri mengingat ingat dan mencoba memecahkan misteri.


"Cincin?" tanya Nino.


Rain teringat anak kecil yang berjualan koran di penglihatannya. Sepertinya Rain harus kembali ke tempat itu dan mencari tau.


"Kita harus balik lagi kesana, No!" jawab Rain segera, ia menyambar tas selempangnya dan jaket lalu kunci motor.


"Bi, Dika mana?" tanya Rain.


"Oh a Dika, barusan pamit neng, katanya mau ambil motor di tempat kemarin," jawab bibi.


"Ko ga pamit dulu sama Rain ?!" Rain segera mengambil helm.


"Takut ganggu neng lagi istirahat katanya, neng mau kemana?" tanya bi Kokom


"Rain keluar sebentar bi, " jawab Rain terburu buru.


"Tapi neng,...sarapan dulu !!!" bibi mengejar Rain ke depan.


"Buru buru bi, nanti aja sarapan di jalan !!" pekik Rain.


.


.


Rain segera menggeber laju motornya ke tempat kemarin, "masih pagi kayanya kalo yang jualan koran baru aja keluar," gumam Rain melihat jam ditangannya.

__ADS_1


Rain melihat jalanan yang ramai, wajar karena ini adalah jam masuk kantor. Ia celingukan harus mencari anak itu dari mana. Ia berkeliling seputaran persimpangan itu, tapi ia malah menemukan Dika yang sedang ada di warung kopi dan berbincang dengan si pemilik warung sambil menyantap gorengan.


"Kang !!!" pekik Rain, Dika sontak menoleh.


"Rain?"


Rain menggeser duduk Dika di bangku panjang yang tersedia di sana.


"Ko pergi ga bilang bilang," Rain merajuk, Dika semakin merutuki dirinya sendiri. Kenapa Rain terlihat begitu menggemaskan saat ini.


"Gue takut ganggu loe, Nino mana?" tanya Dika, tapi sedetik kemudian Dika mengedarkan pandangannya ke arah motor Rain dan Nino sedang duduk manis disana. Ia mengangguk pada Nino sebagai tanda sapaannya.


"Nagapain loe nyusul kesini?" tanya Dika.


"Tadi sih tujuannya mau cari info, sama mau cari anak kecil yang ngambil cincin si cowok !" jawab Rain sambil mengambil satu gorengan hangat di depannya.


"Gue mau balikkin motor ke pabrik, yang lain juga pasti lagi pada heboh nyariin kita !" jawab kang Dika. Baru saja di obrolkan mereka sudah menelfon, dan Dika menceritakan semuanya.


"Kang, " Rain cemberut, Dika tau Rain sudah kembali jadi Rain yang seperti biasanya.


"Apa ?"


"Gue laper kang !"


"Sama, gue juga !"


"Kang Dika maen pergi aja sii, bibi udah masak juga !!" omel Rain.


"Ya maaf, gue tadi buru buru..."


"Bu, maaf nanti kita balik lagi kesini, buat sambung cerita barusan, mau cari dulu sarapan. Ini uang kopi dan gorengannya," Dika menyerahkan selembar uang merah, dan memberikan sisanya pada si ibu.


"Kang, kita cari sarapan dimana, gue ga terlalu paham daerah Bandung. Belum lama ada disini,"


"Yuu ikutin aja gue !!" Dika memasang helmnya.


" Kang, tadi loe ngomongin apa sama ibunya?" tanya Rain.


"Gue nanya kecelekaan yang terjadi di jembatan sana !"


"Terus dapet?" tanya Rain.


"Dapet lah, banyak malah, tapi gue mengerucut sama kejadian yang baru baru ini !"


"Terus terus??"


"Terus kalo kita ngobrol terus, bisa tabrakan !! loe nya keburu dateng nyomot gorengan sama ngajak sarapan !!" sarkas Dika lalu tertawa kecil.


Dika pintar menyembunyikan perasaannya, tapi jangan sebut Nino, jika ia tak tau. Nino tersenyum melihat sikap Dika, tapi biarlah daripada Dika yang menjauh dan pergi dari Rain, setelah ini Nino akan berbicara dari hati ke hati pada Dika.

__ADS_1


__ADS_2