
"Astagfirullah !!" Dika menginjak rem yang untungnya masih sangat pakem.
"Calm down bruuh !" ucap Nino. Hampir saja seekor kucing berwarna hitam tertabrak mobil Dika, mata kucing itu menyala di tengah gelapnya malam, menyorot tajam ke arah mobil.
Pikirannya melayang memgkhawatirkan Raina dan juga Romi.
"Rom, loe masih oke kan?" tanya Dika.
"Oke !" Romi terbatuk batuk.
"Tahan brother, bentar lagi kita sampai !" jawab Dika.
Dengan tertatih Tria menggendong si nene, layaknya menggendong anak kecil, bersama Romi yang di bopong Dika. Terlihat Tria yang kepayahan. Temaram malam bak menelan mereka, suara binatang malam bercampur dengan suara dari alam lain.
Dinginnya malam menusuk kulit hingga ke tulang, hingga sampailah mereka di tempat, di mana Tria dan Romi berbicara obrolan yang selalu mereka ingat untuk selamanya, ucapan yang akan menjadi pelajaran di hidup mereka kelak, mungkin juga akan mereka bagikan untuk orang lain.
Seketika terasa seperti ada yang terbang ke arah rerumpunan bambu, pundak Tria pun sudah kembali terasa ringan. Romi dan Tria meminta maaf dengan penuh penyesalan, tak lupa ketiganya melafalkan do'a do'a untuk meringankan kepergian makhluk itu.
Badan Romi terasa lebih baik setelah kejadian itu.
"Sebaiknya kita cepat pulang Ka, gue rasa Raina dan Gea mulai di dekati beberapa makhluk di rumah sakit, meskipun gue masih tenang karena ada Adry, Tian dan Bunga disana !" ucap Nino, Dika mengangguk.
*****************
"Ge, sorry ya jadi ngerepotin loe," ujar Rain, bi Kokom dan mang Nurdin pun ikut menemani dan membiarkan rumah kosong malam ini.
"Ga apa apa Ra, it's oke. Loe kan bos gue sekarang, dan gue asisten pribadi loe sekarang !" jawab Gea, entah karena nasib mereka yang hampir sama, membuat mereka saling memiliki.
"Ya udah loe kalo mau istirahat, istirahat aja, gue mau cari suster dulu. Tuh cairan infusan loe dah mau abis !" tunjuk Gea. Raina mengangguk, ia lelah dan ingin tidur.
Gea membuka handle pintu, karena hari sudah larut, jadi hanya sedikit orang yang berlalu lalang, malah terkesan sepi. Suara beberapa binatang bertrakea menemani langkah Gea, ada rasa takut di hatinya. Padahal, hanya tinggal melewati dua lorong kelas saja, untuk sampai di tempat suster berkumpul.
Krekek...krekek...krekek.....suara decit roda mendorong meja obat dari balik badan Gea, Gea mengusap dadanya lega. Ia tak sendiri berjalan di tengah malam dan lorong sepi ini.
"Syukur deh, gue ga sendiri !!" suster itu berjalan hampir sejajar dengan Gea,
__ADS_1
"Sus, saya mau minta tolong. Pasien atas nama Raina Nistia Wiguna di ruang rawat kelas Mawar B cairan infusannya abis !" ucap Gea.
Tapi seakan tuli, suster itu tak bergeming dan hanya berjalan saja, sontak Gea berjalan menyamakan langkahnya. Rasanya ia berbicara begitu jelas dengan jarak yang dekat.
Gea meneliti suster yang usianya muda ini, terlihat dari name tag ia bernama Wita.
"Sus, jadi gimana?" tanya Gea. Gea berdecih, apa perlu ia memakai toa masjid sekalian biar gendang telinganya pecah. Baru saja otaknya mengeluarkan usul itu, dari suster itu tiba tiba terlihat mengucur da*rah segar dari telinganya. Sontak Gea terkejut, ia memundurkan posisinya.
"Suster, itu kuping suster berdarah !" tunjuk Gea menutup mulutnya. Suster itu berbalik dengan tatapan kosong pada Gea, namun naas bagi Gea, wujudnya seketika berubah.
Pakaian putihnya berubah kotor bernodakan tanah merah, kepalanya pun sedikit gepeng di bagian keningnya. Hidung, mata dan telinganya mengeluarkan cairan kental merah. Gea tergelonjak kaget, ia sontak berlari ke arah depan secepat mungkin.
"Astaga, aaaa !!!" pekiknya.
Untungnya ia tak sampai di kejar. Gea ngos ngosan sampai di tempat tujuannya, ia menetralkan dulu nafas dan detak nadinya, bahkan tangannya saja sudah bergetar.
"Si*@l ! gue pikir orang, taunya hantu !" gumam Gea.
"Kenapa mbak ?"
"Suster orang kan?" tanya Gea pada suster yang menepuk pundaknya.
"Hahaha, astaga ya iyalah mbak, saya orang !" jawabnya.
"Kirain... itu mbak saya mau...aduh apa ya ! gue jadi lupa mau ngapain !!" gumam Gea frustasi.
Suster tersebut tertawa, "minum dulu deh mbak !" suster tersebut memberikan segelas air putih.
"Makasih !" jawab Gea.
"Oh, ini sus..pasien atas nama Raina Nistia Wiguna ruang rawat Mawar B, cairan infusnya habis !" ucap Gea.
"Oh baik mbak, saya ke ruangan ya, " jawab si suster.
Gea menunggu suster tersebut, berniat ingin kembali ke kamar Rain, setidaknya ia tidak sendiri. Tapi sepertinya nasib baik belum berpihak pada Gea.
__ADS_1
"Fi ! pasien di kelas melati tadi udah di ganti cairan infus belum? tadi ibunya kesini !" tanya rekannya.
"Astaga iya ! ini sekalian deh !" jawabnya.
"Mbak duluan saja, saya ke ruang melati dulu !" Gea sudah menghela nafas pasrah, kalau bisa ia akan mengikuti dulu suster Fi ini, sebelum balik ke kamar. Tapi mana bisa. Terpaksa ia harus kembali ke kamar Raina sendiri.
"Sus, kalo mau ke kamar Mawar, selain lorong itu ada jalan lain ngga?" tanya Gea.
"Ada mbak, tapi memutar !" jawab si suster.
"Oh gitu, oke deh sus, makasih !" jawab Gea, tak ada salahnya ia mencoba dibanding harus bertemu si suster Wita.
Gea menuju arahan suster Fi, dan sampailah ia hanya tinggal 2 lorong lagi, namun apesnya suster Fi tidak mengatakan jika Gea harus melewati kamar mayat.
"Sue banget !!! ini mah sama aja !!" keluh Gea, belum apa apa ia sudah berkeringat. Jika siang tidak jadi masalah, ini malam hari, dimana keadaan sepi dan sunyi. Gea berjalan cepat. Apapun yang terjadi ia tak akan menengok kanan kiri, ia hanya akan memandang lurus ke depan. Jantungnya memompa da*rah begitu cepat, aliran da*rah sangat cepat dan berdesir.
Gea lega bisa melewati ruangan keramat satu itu, tapi rupanya bukan kamar itu yang menakutkan, di samping kamar keramat itu adalah ruang tindakan, dimana ruangan itu seringnya dimasuki dahulu oleh pasien calon calon penghuni kamar mayat. Ruangan terlihat biasa saja. Lampunya pun terkesan terang. Gea mengerjap, tiba tiba saja nadinya berhenti berdetak. Ia mengedarkan pandangannya,
Krekek...krekek...krekek.....
Decitan roda blangkar di dorong ke arahnya, Gea ingin berteriak. Namun, seakan pita suaranya tak berfungsi dan tubuhnya membeku menjadi patung.
Sebuah blangkar pasien tanpa siapapun yang mendorong ataupun pasien di atasnya mendekati Gea, melewati posisi Gea berada.
Blangkar itu masuk ke dalam ruangan tindakan itu dengan sendirinya. Tapi sedetik kemudian berbalik dan menubruk tubuh Gea, Gea terjatuh, ia sampai harus mengesod untuk menjauh, karena kini blangkar itu maju mendekatinya. Semakin Gea mempercepat memundurkan badannya semakin blangkar itu cepat mendekatinya.
"Brakkk !!"
Gea pingsan,
.
.
.
__ADS_1
.